
"Makasih, Pil. Gue nggak akan lupain jasa lo malam ini," ucap Aro lirih tepat di telinga Ara yang terbungkus hijab kuning.
Ara segera menarik dirinya dari atas tubuh Aro, dia merasa dikerjai sebab Aro ternyata tidak tidur. Ara merapikan hijabnya yang sedikit berantakan. Dia berjalan ke arah Omar dan Atar yang ternyata tertidur di atas sofa yang di hadapannya terdapat meja kecil.
Ara mengabikan Aro yang setelah mengucapkan kalimat itu langsung tidur memeluk guling dengan sangat erat. Aroma wangi dari sprei dan sarung bantal serta guling memanjakan indra penciumannya.
Dengan nada mendesak Ara bertanya pada Omar, "Kak, kalian dari mana sih sampe Mas Ar mabok gitu?"
Omar meletakkan ponsel pada meja di hadapannya lalu menjawab pertanyaan Ara, "Dari pesta ulang tahun temen di puncak, Ra."
"Terus kenapa Mas Ar sampe bisa kayak gitu?" tanya Ara lagi seraya menoleh dan menunjuk tubuh Aro.
"Dia kebanyakan minum, Ra. Dia kesel soalnya hari ini takenya gagal terus," papar Omar membuat Ara berfikir sejenak.
"Aktingnya kan udah jago, kenapa bisa gagal?" selidik Ara.
"Adegan ranjang, Ra. Aro nggak mau," jelas Omar membuat Ara membulatkan matanya.
"Sejak kapan Mas Ar berani ambil adegan kayak gitu?"
"Ya makanya karena belum pernah, jadi dia kesulitan. Dikatain dong sama sutradara, syuting berantakan ujungnya kita ke pesta dan Aro mabok di sana," bertubi-tubi penjelasan Omar membuat darah Ara seketika mendidih.
Ara geram, rasanya ingin sekali menyerang Aro saat itu juga. Tak ingatkah Aro pada Akash dan Bumi saat menenggak minuman haram itu?
"Dia sering kayak gini?" tanya Ara, matanya terus tertuju pada Aro yang sudah terlelap.
"Sering, Ra. Tiap minggu pasti selalu minum. Cuma, kalo mabok gini ya baru beberapa kali, deh," sahut Aro kembali membuat Ara membulatkan mata.
"Kalau main cewek?" tanya Ara, dia ragu saat menanyakan hal itu.
"Ngesex?" Omar bertanya balik dan membuat Ara mengangguk patah-patah.
"Gue jamin Aro nggak pernah ngesex sama cewek manapun, walaupun ...." Omar mengehntikan kalimatnya.
"Walaupun apa?" desak Ara.
"Banyak artis cewek yang sengaja ngajak dia gituan, tapi Aro nggak pernah tergoda," jelas Omar membuat Ara merasa lega. Setidaknya Aro tidak terjerumus pada perzinahan.
Setelah mendapatkan informasi yang cukup menyesakkan dadanya itu, Ara pamit ke kamar Atar. Dia akan tidur di sana, sedangkan Atar sendiri tidur di kamarnya pada sofa panjang yang biasa Ara gunakan untuk bersantai membaca novel.
__ADS_1
Omar merebahkan tubuhnya di atas kasur, di samping Aro yang sudah merajut mimpinya sedari tadi. Dalam benak Omar merasa salut pada Ara, sebab gadis itu dengan telatennya mengurusi Aro yang bahkan tak pernah peduli padanya.
***
Setelah salat shubuh Ara segera ke dapur membuat air jahe untuk Aro. Sepanjang proses merebus minuman hangat itu, Ara sibuk merangkai kata apa yang pas untuk menjelaskan keadaan Aro pada Bumi.
Hingga minumannya siap dihidangkan, Ara tetap tak menemukan kalimat yang pas untuk ia katakan pada Bumi. Ara menuangkan minuman itu ke dalam gelas besar. Kepulan asap dengan aroma jahe yang khas membelai indra penciumannya.
Baru saja membalikkan badan, Bumi dengan hijab birunya datang.
"Sayang, kamu ngapain?" tanya Bumi seraya menguap.
"Bikin air jahe, Bun," jawab Ara seraya menunjuk dengan dagu ke arah gelas yang ia bawa menggunakan nampan.
"Buat siapa?" selidik Bumi.
"Mas Ar, Bun." sahut Ara.
"Mas Ar?"
"Iya, Mas Ar malem pulang sama kak Omar juga," jelas Ara membuat Bumi menganguk mengerti.
"Tidur di kamarku," sahut Ara.
"Apa? sekamar berdua?" tanya Bumi kaget.
"Enggak, Bun. Aku tidurnya di kama Atar," jelas Ara membuat Bumi bernapas lega.
"Terus buat apa air jahenya?" selidik Bumi membuat Ara was-was.
"Mas Ar kayaknya masuk angin, makanga aku buatkan air jahe," sahut Ara.
"Anak itu, bikin khawatir saja," gumam Bumi.
Setelah itu, Ara meminta izin untuk segera menuju kamarnya. Tiba di kamarnya, nampak Aro masih tertidur saling memunggungi dengan Omar.
Ara meletakkan nampan berisi air jahe itu di meja kecil yang terdapat di samping tempat tidur. Ia segera menuju Aro dan membangunkan kakaknya itu.
Ara menusuk-nusuk pipi Aro dengan telunjuknya, sambil berkata, "Mas, bangun! udah siang, salat dulu!"
__ADS_1
Tak beberpa lama, Aro terbangun. Ia mengerjapkan matanya. Menyipitkan mata sebelum akhirnya mata bulat itu terbuka sempurna.
"Bangun!" seru Ara sekali lagi.
Aro tak langsung duduk, ia memegangi kepalanya. Rasanya masih sangat pusing dan berat.
"Kenapa, Mas?" tanya Ara, khawatir.
"Pusing, Pil," jawab Aro.
Ara segera mengambil air jahe yang kini sudah hangat, seperti hatinya tiap kali bertatapan dengan seseorang.
"Minum dulu!" titah Ara seraya membantu Aro untuk duduk dan meneggakan badannya, Ara mendekatkan gelas ke bibir Aro.
Aroma jahe menguar memenuhi rongga hidung Aro. Sensasi hangatnya memberikan ketenangan. Aro menyesap minuman itu. Rasa manis bercampur hangat memenuhi rongga mulut, faring, hingga esofagus, dan kemudian terasa hangat di dalam perut Aro.
"Enak, Pil!" serunya kemudian dengan rakus menghabiskan minuman itu.
Ara tertawa seraya mengambilkan tisu yang ada di meja rias. Ia mengambil selembar benda tipis nan halus itu dan reflek tangannya terangkat untuk menyapukan benda itu ke ujung mulut Aro yang basah.
Aro menangkap tangan Ara yang tanpa sadar sedang menyentuh bibirnya. Ara terpaku, mata sipitnya membulat. Saling berpandang dengan mata bulat Aro. Keduanya saling menatap inten ke dalam manik masing-masing.
Kedua ujung bibir Aro terangkat, perlahan, sedikit, namun akhirnya melebar kemudian mengebanglah senyum itu. Senyum yang dibalut binar bahagia dari matanya.
"Jangan bikin gue tambah utang budi sama lo," ujar Aro membuat Ara menarik tangan dan membuang pandangannya.
"Aku tulus, nggak ngarepin apa-apa!" seru Ara salah tingkah. Ia yang tadinya sedikit membungkuk, berdiri tegak seraya pura-pura merapikan kerudungnya yang sudah rapi, dan membuat Aro terkekeh.
"Salat dulu, Mas!" seru Ara lagi memangkas kecanggungan dalam dirinya.
Aro mengangguk, ia beranjak meski masih merasakan pusing. Sementara Omar, masih asyik memintal benang mimpi. Entah sudah jadi kain, atau malah hancur seperti gulungan benang kusut yang tiada ujungnya.
Ara segera mengambilkan sajadah dan membentangkannya menghadap kiblat saat Aro mengambil air wudhu. Dirinya memberanikan diri membangunkan Omar, sebab tak ingin menanggung dosa Omar yang tak salat. Saat ini Omar berada di rumahnya, jangan sampai dosa tak salatnya Omar berdampak pula pada keluarganya.
Membangunkan Omar ternyata tak sulit, ia bangun setelah Ara menusuk-nusuk perut buncitnya. Omar langsung duduk dan bersandar pada kepala tempat tidur.
"Maaf, Kak. Siapapun yang berkunjung ke rumah kami wajib melaksanakan salat, jadi Kakak salat shubuh dulu!" seru Ara membuat Omar mengangguk takjub, meski ia sendiri lupa kapan terakhir kali salat.
Aro keluar dari kamar mandi, wajahnya terlihat lebih segar. Ara memutuskan untuk keluar kamar setelah kembali mengingatkan Omar untuk salat. Pria tambun itu kembali mengangguk meski bingung harus memulainya dengan cara apa.
__ADS_1