
Sebelum menyusul Omar yang membawa Aro ke dalam kamarnya, Ara menyempatkan masuk ke dalam kamar Atar. Beruntung pintu kamar anak itu tak dikunci. Ara segera membangunkan adiknya itu meski sedikit susah.
Atar mengerjapkan mata, kemudian duduk bersandar pada kepala tempat tidur.
"Kenapa, Teh? udah jam empat?" tanya Atar.
"Belum, tapi cepetan bangun bantuin Teteh mandiin Mas Ar," jawab Ara seraya menarik pergelangan tangan Atar.
Atar keheranan, ia dengan nyawa yang masih belum terkumpul seluruhnya terpaksa mengikuti langkah Ara menuju kamarnya.
Di kamar Ara, Omar sudah membaringkan tubuh Aro di atas tempat tidurnya.
"Buka jaket sama sepatunya, Dek. Buruan!" suruh Ara pada Atar yang masih kebingungan.
"Bantuin dong, Kak Omar!" sentak Ara saat melihat Omar hanya berdiri mematung.
"Sekalian celananya, dia pake celana pendek 'kan?"
Omar dan Atar berhasil melucuti pakaian luar Aro. Menyisakan kaos oblong dan celana pendek rumahan. Aro yang masih tak sadar hanya mampu melakukan pergerakan kecil seraya bergumam tak jelas.
"Bawa ke kamar mandi, nanti aku yang mandikan!"
Ara segera menuju kamar mandi, ia menyalakan shower dan bersiap memegang botol shampo.
Atar dan Omar memboyong tubuh jangkung Aro ke dalam kamar mandi. Keduanya sedikit kesusahan, sebab Aro sedikit melakukan pemberontakan dengan terus saja menepis tangan Atar dan Omar yang memeganginya.
"Cepet dudukin di bawah sini!" titah Ara seraya menunjuk ke bawah shower yang airnya sudah ia kucurkan sedari tadi.
Aro duduk di bawah shower, dia menggeleng pelan seraya terus menerus mengusap wajahnya. Matanya tertutup, namun bibirnya terus bergumam tak jelas.
Ara mendekatinya, dia berjongkok dihadapan Aro dan mulai menyapukan shampo ke atas kepala Aro.
"Mas tuh apa-apaan sih? kenapa ngelakuin hal kayak gini?" sungut Ara terus membuat pijatan kecil di kepala Aro.
"Matiin dulu airnya, Dek!" titahnya membuat Atar segera memutar kran.
Ara kembali memijat kepala Aro yang kini sudah berbusa. Sepertinya Aro merasa rilek, ia diam tak melakukan pergerakan meski bibirnya masih bergumam tak jelas. Tangannya sesekali bergerak, membuat Ara risih karena takut tersentuh oleh Aro.
__ADS_1
"Kak Omar siapin baju, kamu ambilin handuk, dek!" suruh Ara dengan nada tinggi sebab kesal dari tadi kedua manusia itu hanya diam berdiri menonton Ara memandikan Aro.
Dua orang itu kocar kacir menuruti oerintah Ara, sementara Ara sedikit berdiri untuk kembali menyalakan air. Tubuh Aro kembali diguyur air membuatnya kembali mengusap wajah berkali-kali. Ara beranjak menuju rak sabun di sudut kamar mandi. Mengambil sikat gigi yang masih baru dan segera menaruh odol di atasnya. Dengan sigap Ara kembali berjongkok di hadapan Aro yang kini kepalanya sudah bersih dari busa shampo.
Ara mematikan kembali air pada shower. Ia dengan perlahan memegangi rahang Aro dengan satu tangan.
"Buka mulutnya, Mas. Sikat gigi dulu," bisik Ara agar Aro menurutinya, namun bukan membuka mulut Aro malah membuka mata.
Mata merah itu menatap tajam ke dalam manik hitam milik Ara. Membuat Ara sedikit risih dan reflek melepaskan rengkuhannya pada rahang Aro. Ia memundurkan sedikit tubuhnya yang kini ikut basah.
"Lo kok cantik sih?" gumam Aro seraya mendekatkan wajahnya ke hadapan Ara.
"Mas, sadar, ini aku Upil, aku nggak cantik. Mas harus sikat gigi," ujar Ara seraya memperlihatkan sikat gigi di tangannya pada Aro.
"Lo tuh Salasika Arabella, gadis cantik kesayangan ayah bunda bahkan abang. Lo tuh udah bikin gue nggak di anggep sama orang tua gue," ujar Aro diakhiri cegukkan.
"Mas, bunda sama ayah tuh sayang sama kamu," ralat Ara membuat Aro terkekeh. Tangan Aro bergerak menarik pinggang Ara, membuat tubuh mereka berdekatan. Bahkan wajah keduanya hampir menempel. Ara merasakan jantungnya berdetak tak karuan, tubuhnya gemetar hingga sikat gigi yang dipegangnya jatuh begitu saja.
"Lo sayang nggak sama gue?" tanya Aro dibalas anggukan oleh Ara.
"Bohong! lo sayangnya sama Abang 'kan? tapi, sekarang malah mau nikah sama si kanebo kering, mau lo sebenernya apa?" suara Aro yang pelan justru terdengar menusuk di telingan Ara.
Ara kembali mengambil sikat gigi yang terjatuh dan mencucinya di wastafle. Ia kembali menaruh odol di atas sikat itu dan kembali berjongkok pada Aro.
"Mas, kali ini aja. Tolong dengerin aku, buka mulutnya. Kasihan bunda kalo tahu Mas kayak gini," bujuk Ara pada Aro yang kembali memejamkan mata.
"Gue lemes, Pil," sahut Aro membuat Ara tersenyum. Aro sudah memanggilnya Upil itu artinya ia sudah sedikit sadar.
"Aku bantu, Mas buka mulutnya. Nanti aku yang gosok," suruh Ara dan Aro menurut.
Dengan gerakkan perlahan, Ara menggosok gigi Aro. Untuk memudahkan kegiatannya, Ara merengkuh rahang Aro dengan sebelah tangannya.
"Kalo sakit bilang ya, Mas," ujar Ara, namun tak ditanggapi Aro.
Dirasa cukup menyikat gigi kakaknya itu, Ara beranjak mengambil gayung yang selalu ia simpan di dalam bathub. Gayung berwarna pink itu ia isi dengan air hingga penuh dan kembali membawanya pada Aro.
"Kumur dulu, Mas!" titahnya seraya mendekatkan gayung pada mulut Aro. Aro membuka mulut dan memasukkan air ke dalamnya.
__ADS_1
Ia berkumur sebentar lalu tanpa permisi membuangnya ke hadapan Ara. Sedikitpun Ara tak merasa jijik, ia kembali mendekatkan gayung pada mulut Aro dan Aro melakukan hal sama seperti sebelumnya.
"Bilas sekali lagi, ya, Mas?" tanya Ara dan diangguki Aro.
Ara segera menyalakan shower, ia kembali memberikan pijatan pada kepala Aro. Pelan, membuat Aro rileks bahkan saat Ara menyudahinya, Aro kembali meraih tangan Ara agar kembali memijat kepalanya.
"Udah Mas, nanti kamu kedinginan," tolak Ara saat lagi-lagi Aro meraih tangannya. Aro menurut, ia mengangguk disertai Ara yang kembali mematikan air.
Ara beranjak untuk mengambil handuk seraya bersungut, sebab Atar dan Omar tak kunjung kembali.
Keluar dari kamar mandi, emosi Ara memuncak sebab ternyata Atar dan Omar malah asyik bermain ponsel. Duduk berdampingan seraya sesekali memperlihatkam layar ponsel masing-masing.
"Kalian malah asyik maen hape, cepetan urus Mas Ar. Kasih handuk terus keringin badannya, dan ...." Ara menggantung kalimatnya.
"Dan apa?" desak Omar segera meletakkan ponsel pada meja kecil di hadapannya.
"Buka bajunya, nggak mungkin aku yang buka!" sentak Ara membuat Atar dan Omar segera beranjak dan menurut pada Ara.
Ara mengibaskan ujung hijabnya yang basah, lengan kaos dan celana kulot bagian bawahnya pun tak luput dari percikan air saat memandikan Aro.
Atar dan Omar kembali dari kamar mandi memboyong Aro yang hanya mengenakan handuk. Ara membuang pandangannya, ia memilih mengambil baju dan hijab dari dalam lemari untuknya ganti.
"Pakein bajunya, Dek. Aku ganti baju dulu," titah Ara pada Atar tanpa menoleh. Ia langsung masuk ke dalam kamar mandi dengan oerasaan berkecamuk.
Ara tak mengerti lagi mengapa Aro bisa sejauh itu dalam melakukan hal yang dapat merugikan dirinya sendiri? Ara yang sudah berganti mengenakan piyama berwarna putih dengan corak bunga-bunga mematut diri di depan cermin. Ia menyelisik wajahnya sendiri. Tak sedikitpun ada kemiripan dengan Bumi ataupun Akash.
Hatinya tiba-tiba merasa pilu, salahkan dirinya bila masih tetap tinggal bersama Bumi dan Akash serta berada di tengah-tengan Aro, Akhza dan Atar?
Tak ingin memupuk prasangka lebih jauh, Ara kembali keluar dari kamar mandi. Pandangannya langsung tertuju pada Aro yang kini telah memakai baju. Atar dan Omar kembali sibuk dengan ponsel.
Ara mendekat ke arah Aro yang sedang berbaring dengan mata terturup rapat. Entah tertidur atau hanya terpejam? Ara berbalik arah menuju meja rias. Ia mengambil minyak telon dan kembali mendekati Aro.
Ara menyibak kaos Aro, membubuhkan beberapa tetes minyak telon pada perut Aro. Menggosok perut Aro dengan gerakkan perlahan. Hatinya sakit mendapati kelakuan Aro seperti ini.
Tangannya beralih ke dahi Aro, memijat pelan di sana seraya menekan-nekan pelipis Aro. Kemudian berpindah ke kaki Aro, menggosok telapak kaki besar itu dengan minyak telon. Ara merasakan dingin yang amat saat menyentuh telapak kaki nan lembut itu. Ia mengamati kuku-kuku Aro yang bersih terawat. Bibirnya menyunggingkan senyum, kakaknya pasti sering perawatan. Begitu pikirnya.
Selesai dengan telapak kaki, Ara meraih tangan kanan Aro, melakukan hal sama pada telapak tangan itu, membubuhkan minyak telon dan menggosoknya perlahan. Kemudian, beralih pada telapak tangan sebelah kiri lalu melakukan hal yang sama.
__ADS_1
Dirasa cukup dengan kegiatannya yang bertujuan membuat rilek badan Aro, Ara beranjak. Saat tubuhnya mulai menjauh, pergelangan tangannya ditarik oleh Aro. Ara berbalik menatap Aro yang masih terpejam. Aro menarik paksa lengan Ara hingga membuat tubuhnya jatuh ke atas tubuh Aro.
"Makasih, Pil. Gue nggak akan lupain jasa lo malam ini," ucap Aro lirih tepat di telinga Ara yang terbungkus hijab kuning.