
Hari semakin siang dengan matahari yang terik, tanpa menunggu kedatangan Aro, akhirnya Akash memutuskan untuk segera pergi ke makam bersama keluarganya.
Ara sedikit merasa bersalah, sebab sudah membuat Aro tak kunjung pulang. Dalam hatinya ada rasa khawatir akan keselamatan Aro. Sepanjang perjalanan menuju pemakaman, dirinya termenung dan tak begitu menyimak saat Bumi mengajaknya bicara.
Hingga sampai di tempat yang dituju, yang mana di sana sudah ada jidda dan juga Nadia serta keluarganya, Ara baru sadar. Dirinya berjalan paling belakang setelah Bumi. Tak ingin terlalu dekat dengan Zahra maupun putranya. Ara memilih menghindar dengan pura-pura tak melihat saat berpapasan dengan Miza.
Keluarga Akash yang lain ikut dengan keluarga Hafidz ke makam kakek Hafidz yang berada sedikit agak jauh dari tempat uti dan aki Bumi disemayamkan. Ara sedikit bernafas lega, sebab tak lagi harus berada di tempat yang sama dalam satu waktu dengan Miza.
Setelah semua keluarga berjongkok menempati posisi masing-masing, Ara tentu jongkok bersebelahan dengan Bumi, Akash mulai memimpin do'a. Dalam hati sempat berharap Aro segera datang.
Semuanya hanyut melantunkan ayat suci Al-qur'an, bahkan uti Ayas terlihat berkali-kali menengadahkan kepala agar air matanya tak tumpah. Bumi terlihat lebih tegar, Ara sendiri yang tak mengenal sosok uyutnya itu, begitu khusu mengikuti suara ayahnya yang memimpin pengajian tersebut.
Laut dan Ayesha berjongkok berdampingan diapit Akhza dan Rud. Sementara Atar, ia memilih ikut dengan Hafidz, sebab anak itu rupanya tertarik untuk mondok di pesantren milik orang tua Hafidz. Tapi, jelas Bumi melarangnya, rumah akan tambah sepi jika Atar benar-benar melakukan itu.
Sesekali Ara mengusap keringat yang mengucur di dahi, matahari sedang tinggi-tingginya. Begitu jumawa menampakan diri. Semakin lama teriknya semakin membuat kepala Ara pusing, entah karena memang kondisi tubuh yang tak baik-baik saja. Sedari malam tubuhnya terasa tak enak.
Ara sampai mengibaskan hijabnya berkali-kali ke wajah, sebab sudah merasa begitu kepanasan. Konsentrasinya mengikuti lantunan ayat suci mulai buyar. Penglihatannyapun mulai kabur. Ara hampir ingin pamit dan bangkit, namun tiba-tiba ia merasa teduh.
Langit di atasnya tiba-tiba menjadi sedikit gelap, ia bingung dan berpandangan dengan Bumi yang juga merasakan hal yang sama. Keduanya bersamaan menengok ke atas langit dan terkejut begitu mendapati Aro berdiri di belakang mereka dan membentangkan jaketnya menghalangi keduanya dari sinar matahari.
Dengan wajah datar, pria itu langsung ikut mengaji. Ia tak peduli dengan Ara dan bunda yang memandangnya dengan sorot tajam.
Hingga acara mengaji selesai dan Akash membacakan do'a, Aro tetap pada posisinya. Berdiri membentangkan jaket menghalangi dua wanita yang menjadi pusat cintanya, dari terik matahari.
Hati ibu mana yang tak mencelos mendapati anaknya bersikap manis seperti itu? Selesai menyirami pusara sang aki dengan air mawar dan menaburkan bunga di atasnya, Bumi segera berdiri dan memeluk putranya itu. Itulah sebabnya mengapa meski berkali-kali dikecewakan oleh Aro, hati Bumi selalu luluh oleh perlakuan manisnya.
"Kamu dari mana saja, Sayang?" tanya Bumi seraya melepas pelukannya.
"Nggak kemana-mana, Bun. Tadi tuh ...." Aro melambai pada seseorang yang berdiri tak jauh darinya.
Seorang anak lelaki berusia 9 tahun dengan pakaian lusuh dan plastik hitam kecil di tangannya. Anak itu mendekat ke arah Aro. Ia sedikit menunduk seolah enggan dan segan bertatapan dengan Bumi.
"Siapa ini?" tanya Bumi, namun belum sempat Aro menjawab, Akash sudah mengajak mereka pulang.
"Di rumah saja ngobrolnya!" perintah Akash seraya menarik lengan Bumi agar segera pergi dari pemakaman. Sorot matanya pada Aro jelas menyiratkan kecewa dan marah.
Satu persatu mereka semua pergi meninggalkan tempat itu. Akhza sepertinya kali ini tak mau mengalah, ia menarik lengan Ara dan mengajaknya pergi. Ara tak menolak, tapi ia sempat melirik pada Aro sekilas. Aro hanya tersenyum, jelas sekali semua keluarga kecewa padanya.
"Mereka keluarga Mas Ar?" tanya anak lelaki itu.
"Iya, kenapa?" balas Aro seraya memakai kembali jaketnya.
"Yang cewek tadi siapa?" tanya anak itu lagi.
"Namanya Ara, calon istriku," bisik Aro membuat anak itu mengacungkan jempolnya.
Setelahnya, Aro segera mengajak anak itu pergi dari pemakaman, karena tak ingin kehilangan jejak orang tuanya. Tadi saja saat pergi ke makam, dirinya diajak oleh anak itu menumpang mobil bak pengangkut bawang merah yang hendak dikirim ke kota.
Beruntung bagi Aro, tiba di parkiran, orang tuanya dan Ara masih menungguinya.
"Yah, Bun, Ra ... kenalin dulu, ini Fadan, temanku," ucap Aro.
Sebelum menjawab, Bumi dan Akash yang berdiri di samping mobil saling berpandangan. Sementara Ara, dia menyapa Fadan terlebih dulu.
"Hai ... kenalin, aku Ara," sapa Ara mengulurkan tangannya.
Fadan memindahkan plastik yang sedang dipegang tangan kanannya ke tangan kiri. Ia lap terlebih dahulu telapak tangannya pada kaos lusuh yang dikenakannya. Kemudian setelah itu, baru menjabat tangan Ara.
"Namaku, Fadan, Mbak," ujar Fadan, patah-patah, membuat Ara mengacak rambut anak lelaki itu.
Melihat respon Ara yang sangat baik pada Fadan, Akash dan Bumi ikut melakukan hal yang sama. Meski, masih keheranan mengapa Aro bisa sampai mengenal Fadan?
Setelah acara perkenalan itu, mereka semua segera naik ke mobil, kali ini Aro yang menyetir. Akash tentu duduk di bangku depan, menemani Aro. Bumi, Ara dan Fadan menempati kursi penumpang bagian tengah.
"Ini gimana ceritanya bisa sampai saling kenal?" tanya Bumi, tak sabar ingin mengetahui kejadian sebenarnya.
"Aku lagi nyetir, nih," sahut Aro seraya melirik sekilas, "nanti aja di rumah ceritanya," imbuhnya kembali fokus ke arah depan.
"Baiklah, maaf. Biasa, Bunda suka nggak sabar," aku Bumi seraya mencondongkan badan ke arah depan kemudian mengusap kepala putranya yang sedang menyetir. Sementara Akash, sedari tadi masih saja memandang Aro dengan tatapan kesal.
***
Tiba di rumah, Rud dan Akhza sedang asyik menikmati es cendol yang dijual oleh pedagang keliling, langganan uti Ayas. Bumi juga langsung saja memesan minuman bercita rasa manis dan gurih itu. Ara tak mau ketinggalan, ia juga memesan minuman itu tanpa isian cendolnya. Ia hanya meminta air gula dan santan serta dicampur es batu yang banyak.
__ADS_1
"Kapan mau gemuknya kalau makannya selalu seperti itu?" tegur Bumi, "itu namanya jadi es santan, bukan es cendol," lanjutnya seraya menyuapi Ara dengan cendol.
"Bunda ...," rengek Ara mengelap ujung bibirnya, "Ara kan nggak suka yang kenyal-kenyal," protesnya memasang wajah masam
Bumi tertawa, "Maaf, Bunda lupa," kilahnya sambil mengusap pipi Ara yang mengembung.
Selesai mereka menyantap minuman yang membuat rasa haus menguap, Bumi meminta Aro menceritakan bagaimana kejadiannya sampai bisa mengenal Fadan. Dia juga penasaran ke mana saja Aro pergi sampai membuat ayahnya kesal karena datang terlambat ke pemakaman.
"Jadi tadi tuh gini ceritanya," ujar Aro sekilas memandang Ara yang duduk di hadapannya.
Hanya Ara dan Bunda yang mendengarkan ceritanya. Akash dan yang lain memilih masuk ke dalam rumah. Kecewa jelas masih memupuk di benak Akash terhadap putranya itu.
***
Setelah kepergian Ara, Aro sempat ingin mengejar. Namun, tiba-tiba saja ia ditabrak oleh seorang anak kecil yang membawa bungkusan plastik besar berwarna hitam.
"Maaf, Mas ...," tutur anak itu seraya berdiri dari jatuhnya dan mengamati plastik hitam besar yang dibawanya, takut jika isinya berjatuhan.
"Nggak apa-apa," sahut Aro seraya memperhatikan anak itu, "kamu nggak apa-apa?" sambungnya kembali menatap anak itu dari ujung kaki hingga ujung rambut.
"Enggak, Mas. Aku baik-baik aja, cuma kaget. Soalnya lagi buru-buru," jelas anak itu.
Aro memperhatikan lebih dalam anak lelaki itu, tidak memakai sandal, kaos yang dipakainya lusuh dengan bagian kerah yang sudah banyak bolongnya. Ditambah celananya yang tadi sekilas Aro lihat ditalikan menggunakan rapia, mungkin sudah kendor atau kancingnya terlepas. Sungguh tak layak pakai.
"Kamu mau ke mana?" tanya Aro, hatinya berdenyut nyeri melihat keadaan si bocah.
"Aku mau jualan ke sekolah, lari-lari karena takut keburu pada masuk siswanya," terang sang bocah menundukkan kepala sebab Aro terus saja memperhatikannya dalam-dalam.
"Loh, kamu harusnya sekolah bukan jualan. Kamu masih kecil!" seru Aro seraya merebut plastik hitam itu dan melihat isinya, "Apa ini?" tambahnya seraya mengambil salah satu isi dari dalam plastik yang merupakan bungkusan kecil. Seperti cilok bumbu kacang.
"Itu cilok buatan ibuku," jawab si bocah merebut kembali barang dagangannya, "aku harus cepat pergi sebelum anak-anak itu masuk!" lanjutnya seraya bersiap pergi, namun tangan Aro menahan lengannya.
"Namaku Aro, nama kamu siapa?" tanya Aro seraya melepas sandalnya, "pakai ini, mungkin sedikit besar, tapi bisa melindungi kakimu," sambungnya menggeser dengan pinggir kaki sendal jepit itu, mendekatkannga pada kaki si bocah.
"Namaku Fadan," jawabnya cepat, "aku dilarang merepotkan orang lain oleh ibuku," sanggahnya seraya menggeser kembali sandal Aro dengan kakinya.
"Sekarang kita berteman, jadi aku bukan orang lain," balas Aro seraya berjongkok. Tanpa risih sang artis papan atas itu menarik salah satu kaki milik Fadan dan memaksanya agar mau mengenakan sandalnya.
"Pakailah! menolak rezeki itu sama aja dengan menolak rahmat Allah," kata Aro seraya mendongakan kepala agar dapat menatap Fadan. "Kamu mengaji kan?" tanyanya kemudian.
"Aku antar kamu berjualan," tawar Aro seraya mengacak rambut Fadan, "sekarang kita teman," tambahnya seraya merangkul leher Fadan. Tinggi anak itu hanya sebatas perut Aro.
Setelah berjalan kurang lebih 100 meter, tibalah mereka di sebuah gedung Sekolah Dasar. Fadan tak berani masuk, sebab ia malu karena harus putus sekolah. Datang ke tempat itu hanya untuk berjualan, bukan menuntut ilmu.
Menyaksikan keberadaan Aro, para ibu yang mengantar putra-putri mereka sekolah, tentu saja histeris. Dalam sekejap dagangan Fadan laku keras, Aro dengan bakat aktingnya mampu menjajakan cilok milik Fadan dengan baik.
Fadan tentu bahagia, ia belum pernah berjualan semudah ini. Biasanya tiap hari selalu saja ada dagangannya yang tak habis.
Selesai berjualan, barulah Aro teringat bahwa dirinya harus seger pulang untuk ikut pergi nyekar bersama ayah dan bundanya.
Ia sendiri lupa di mana letak pemakaman uyutnya itu, namun Fadan ternyata tahu. Akhirnya dengan menumpang mobil bak, mereka bisa sampai ke tempat yang dituju walaupun sedikit terlambat.
***
Ada sedikit rasa bersalah pada diri Akash saat mendengar kembali kejadian kenapa Aro sampai terlambat datang ke pemakaman. Ia merasa sudah menuduhkan hal yang tidak-tidak pada Aro.
"Kenapa dia membuatku merasa sangat bangga, tapi juga sangat merasa gagal di lain kesempatan?" tanya Akash pada istrinya.
Bumi tertawa, ia sandarkan kepalanya di bahu Akash. "Mungkin Allah sedang menguji kita lewat anak-anak, seberapa besar kita dapat sabar dan terus mengingatkan mereka untuk tetap berada pada garis ketaqwaan."
"Kamu kenapa begitu lebih dewasa dari aku, Sayang?" Akash menarik kepala istrinya agar bersandar di dadanya.
"Mungkin karena aku terlalu takut kehilanganmu, aku hanya berusaha jadi pelengkap yang baik dalam hidupmu. Agar kamu tak berpaling, apalagi pergi dariku," jawab Bumi membuat Akash mendekapnya erat.
Sementara itu, Fadan pamit pulang karena merasa sudah terlalu lama berada di rumah uti Ayas. Ara sempat bertanya pada Fadan, resep seperti apa yang dibuat ibunya sampai Fadan sendiri bilang jika dagangannya sering tak habis sebab cepat basi dan terkadang menjadi keras saat sudah semakin siang.
"Aku ikut ke rumahmu, boleh?" tawar Ara saat Fadan dan Aro sudah bersiap untuk pulang. Aro akan mengantar anak itu hingga ke rumahnya.
"Kamu mau ikut antar Fadan atau pengen deket-deket sama aku?" tuding Aro, membuat Ara memukul lengannya.
"Mas, nggak usah becanda!" pekiknya memutar bola mata.
"Biasa aja matanya, nanti copot, nggak bisa lihat lagi cowok ganteng kayak aku," goda Aro membuat wajah Ara merona. Siapa bilang ganteng?
__ADS_1
"Boleh kan, Fadan?" Ara mengulang pertanyaannya tanpa peduli pada Aro. Fadan tentu mengangguk.
Ara kemudian kembali ke dalam rumah, pamit pada ayah dan bunda juga mengambil dompet dan ponsel di kamar uti Ayas.
Setelah itu, ketiganya pergi dengan Aro yang menyetir dan duduk sendiri di balik kursi kemudi. Sempat protes sebab merasa jadi seperti seorang driver taksi online, namun Ara tak menghiraukannya.
Sebelum benar-benar sampai di rumah Fadan, Ara meminta Aro untuk berhenti di salah satu agen sembako. Ia turun dari mobil dan melarang Aro untuk ikut. Bukan apa, dirinya malas jadi juru kamera bila ada yang ingin meminta foto bersama Aro.
Sedikit lama Ara kembali ke mobil, sebab setelah selesai belanja di agen, ia ke toko sebelah untuk membeli kentang dan beberapa bumbu dapur.
Seorang penjaga toko membantu Ara memasukan belanjaannya ke bagasi mobil. Berupa satu karung tepung tapioka bekualitas bagus dengan 5 kilogram tepung terigu protein sedang juga 5 kilogram kacang tanah berkualitas super. Setelah mengucap terima kasih pada penjaga toko dan memberinya beberapa lembar uang lima ribuan, Ara kembali masuk ke dalam mobil.
Aro sempat bertanya untuk apa Ara membeli semua bahan itu? Ara enggan menjelaskannya, ia masih malas bicara dengan Aro.
Sesampainya di rumah Fadan, tak layak disebut rumah, sebab bangunan yang terbuat dari bilik bambu dan kayu itu sudah sangat reyot dan lapuk.
Ara meminta Aro membawakan karung tapioka sementara dirinya sendiri menjinjing terigu dan juga belanjaan lainnya. Ara melakukannya secara bergantian, sebab tak kuasa bila harus membawanya bersamaan.
"Kamu ke mana saja?" suara tinggi seseorang dari arah dalam membuat Aro dan Ara yang masih berada di teras rumah saling berpandangan.
"Aku habis jualan, lalu bertemu orang baik," terdengar Fadan menjawab perkataan wanita itu.
"Ibu harus belanja untuk jualan besok, kamu malah baru pulang saat sore begini," kembali suara penuh amarah wanita yang ternyata ibunya Fadan itu membuat Ara dan Aro berpandangan.
Aro mengusap wajah Ara dengan telapak gangannya, "Mukanya biasa aja, nggak usah dicantik-cantikin gitu juga aku udah suka," godanya membuat Ara menginjak kakinya.
Terdengar dari dalam, Fadan membujuk ibunya itu untuk keluar dan berkenalan dengan Ara juga Aro.
Tak lama, keluarlah Fadan bersama ibunya. Wanita sekitar 30 tahun memakai daster lusuh dan juga hijab instan berwarn merah yang memudar, ia tersenyum hangat pada Ara dan Aro.
Ara balas tersenyum, tangannya terulur, tanpa ragu menyalami ibu Fadan. Aro hanya tersenyum dan mengangguk sopan.
"Jadi ini ada apa?" tanya ibu Fadan menunjuk pada belanjaan di hadapannya.
Ara menceritakan maksud dan tujuannya. Ia ingin memberikan resep membuat cilok agar bumbunya tidak cepat basi dan juga ciloknga tidak mudah keras.
Niat Ara tentu disambut baik ibu Fadan, langsung saja mereka membawa bahan-bahan itu ke dalam rumah yang ternyata sangat rapi pada bagian dalamnya.
Meski dapur masih berlantaikan tanah dengan tungku yang menjadi pengganti kompor sebagai media memasak, tempatnya sangat bersih dan nyaman.
"Ibu biasanya seperti apa membuat adonan ciloknya?" tanya Ara, dia menuangkan tepung tapioka dengan perbandingan 2 banding 1 antara tapioka dan terigu.
"Nggak ditakar, dikira-kira saja," jawab ibu Fadan.
"Harus ditakar. Pakai gelas nggak apa-apa. Nih, bila tapiokanya dua gelas, berarti tepung terigunya satu gelas," jelas Ara membuat ibu Fadan mengangguk.
"Dan ini," ujar Ara memperlihatkan kentang, " Kentang ini kita kukus ya, Ibu bisa tolong kukus?" pintanya dengan sopan santun membuat ibu Fadan mengangguk seraya cepat berdiri dan melakukan apa yang Ara pinta.
Aro dari kejauhan memandang penuh cinta pada Ara. Dia tiba-tiba merasa jadi manusia paling kerdil melihat betapa Ara begitu baik dan santun bicara pada ibu Fadan. Bahkan, ia rela mengeluarkan uang untuk membelanjakan dagangan ibu Fadan.
"Hati kamu terbuat dari apa sih, Ra?" gumam Aro.
"Kamu buat aku bertambah cinta, tapi juga luka dalam waktu bersamaan."
"Bisakah aku menggapaimu dengan segala keburukanku ini?"
"Aku harus sesempurna apa agar bisa mendampingimu?"
Sementata Ara dengan senyum kecil masih mengaduk tepung dan tapioka, ia jadi teringat saat dulu pertama kali diajarkan cara membuat cilok oleh ayah dan bundanya, dirinya sering memakan adonan mentah cilok itu.
"Ayah, Bunda, terima kasih sudah menjadi orang tua yang baik," gumamnya yang sedang diperhatikan oleh Aro.
.
.
Thor, konfliknya kok gak mulai-mulai? malah bahas resep cilok bumbu kacang? ini novel thor, bukan buku panduan memasak.
Tenang dulu, aku lagi puasa. Jangan bikin emosi, hilalnya udah keliatan. Sabar dulu, nanti Mas Arnya ngilang lagi susah nyarinya.
Thor, bosen thor lambat banget. Kapan nikahnya thor?
Berisik! tanya tuh para langit, bosen nggak?
__ADS_1
Hai geng, akhirnya mas Ar balik lagi yaa ... semoga masih setia menemani mas Ar. Aku sayang kalian para langit. Para Langit sebutan yang pas buat kalian yang selalu berbaik hati like dan komen. Aku selalu tunggu like dan komennya yaa ...