
Ara keluar dari kamar mandi dan langsung menuju meja rias. Ia tersenyum saat mendapati surat dan setangkai mawar dari Aro. Usia yang tak lagi muda, nyatanya bukan alasan Aro untuk tak bersikap manis seperti ini. Kalimat sederhana, siapa pun bisa mengucapkannya. Namun, jadi terasa indah saat Aro yang melakukannya.
Ara segera menaruh kertas dan bunga mawar putih itu ke dalam laci meja riasnya. Dia berniat membingkai kedua benda tersebut untuk tetap abadi seperti jalinan cintanya dengan Aro.
Wanita itu keluar dari kamar, teringat sang bayi yang berusia dua tahun. Sedang apa gerangan? Baru saja akan mencari keberadaan Kanya, bi Diah, asisten rumah tangga jida sedang menuruni tangga dengan Kanya dalam gendongannya.
Ara kaget dibuatnya, pasalnya bi Diah kini tak lagi muda. Ia bahkan terlihat kepayahan membawa Kanya dalam gendongannya.
"Aduh, Nenek ... kenapa digendong? Biar jalan aja." Ara meraih Kanya dalam gendongan Bi Diah.
"Kasihan, baru bangun tidur," terang Bi Diah.
"Ya udah, Nenek istirahat gih. Jangan kecapean." Ara mengingatkan Bi Diah. Wanita itu tentu menurut, ia pergi ke kamarnya.
"Mimi, Bu ... aus," pinta Kanya.
Baru Ara akan membawa Kanya ke dapur, Aro dari arah berlawanan datang membawa susu dalam botol. Tentu untuk Kanya.
"Eh, kok Bubu yang gendong?" Aro segera meraih Kanya dari gendongan Ara.
"Berat, Sayang. Jangan suka gendong dedek," tegur Aro seraya mengusap pipi Ara yang terasa dingin.
"Eh, dingin banget pipinya?" Sekali lagi menyentuh wajah Ara.
"Kamu nggak kenapa-napa 'kan?" Aro menyelisik ke wajah Ara yang sedikit pucat.
"Enggak, kelamaan di kamar mandi, Mas." Ara memberi alasan.
"Mimi, Papa ... mimi ...." Kanya tak sabaran segera meraih botol susu yang masih dipegang Aro.
"Mimi di kamar Bubu yuk?" ajak Ara.
"Mahuuuuu!" teriak Kanya bertepuk tangan.
Kanya kembali tertidur setelah menghabiskan susunya. Dahinya penuh peluh padahal Ara sudah menyalakan AC di ruangan itu. Saat akan beranjak, Ara merasakan sesuatu yang merembes keluar dari bagian bawah tubuhnya. Diikuti dengan rasa mulas di perut. Panas dari punggung hingga ke pinggang.
"Mas, kayaknya aku mau ngelahirin!" pekik Ara.
Aro yang baru saja akan terlelap, menjawab dengan santai. "Iya, Sayang."
Namun, sejurus kemudian pria itu terlonjak dan segera bangun mendekati istrinya.
"Ayo ke rumah sakit sekarang, aku telepon dokter kandungan kamu sambil kita jalan." Aro kebingungan apa yang harus ia lakukan.
Pria itu malah mondar-mandir di tempat. Ia lupa harus melakukan apa.
"Tas besar di samping meja rias, Mas." Ara menunjuk benda di samping meja rias.
Aro baru ingat, ia harus membawanya serta ke rumah sakit sebab isinya adalah perlengkapan calon bayi mereka juga barang-barang yang dibutuhkan oleh Ara.
"Mas, Ra ...."
Suara teriakan seseorang dari luar membuat Aro tersenyum senang. Ia memapah istrinya keluar kamar. Ara berusaha tenang, berusaha menikmati setiap mulas yang dirasakan perutnya. Berusaha menerima rasa panas yang kian menjalar dari punggung hingga pinggangnya.
"Bang, untuk pertama kalinya gue merasa beruntung dan bahagia dengan adanya elo di hadapan gue." Aro bicara dengan napas terengah-engah.
"Ada apa ini?" Akhza lebih tertarik bertanya pada Ara.
"Istri gue mau lahiran, cepet siapin mobil!" titah Aro dan segera dituruti oleh Akhza.
Pria itu segera berlari ke luar lebih dulu.
"Kak, titip anak-anak ...."
Belum sempat Aro menyelesaikan kalimat pada istri abangnya, ketiga putrinya terlebih dahulu datang ke hadapan mereka.
"Papa, kelinci Kakak enggak mau makan," adu Hika.
"Bubu kenapa?" Hening yang lebih dulu mendekat ke arah Ara.
"Bubu mau lahiran, Sayang. Kalian di rumah jaga dede, ya!" pinta Ara
Dari arah luar Akhza menyalakan klakson mobilnya tak sabaran.
"Kakak, Teteh, Mbak Nika ... Bubu minta maaf, ya udah sering marahin kalian ... kalian do'ain Bubu ya biar persalinan Bubu lancar ...." Ara menatap satu persatu ketiga putrinya.
Hal itu sontak membuat ketiga gadis kecil itu memeluk Ara, dengan derai air mata yang tak dapat mereka bendung.
Sekali lagi Akhza menyalakan klakson, kali ini bahkan lebih lama.
"Nitip anak-anak ya, Kak." Ara bicara pada kakak iparnya dengan tatapan penuh permohonan.
"Pasti, Ra ... kamu tenang aja. Jangan kebanyakan ngeden ya, Ra. Tetap tenang dan fokus. Zikir dan do'a dibanyakin," pesan istri abangnya itu.
Sementara Aro justru sudah merasakan lututnya semakin lemas, kedua telapak tangannya berkeringat dengan debaran dada tak karuan. Ia berusaha tenang memapah langkah Ara menuju mobil. Istri Akhza beserta Hika, Nika dan Hening ikut mengantar hingga Ara dan Aro masuk ke dalam mobil.
"Cepetan bawa mobilnya, ya, Bang!" pinta Aro seraya menepuk bahu abangnya yang siap melakukan mobil.
Akhza hanya berdecak sebal, pasalnya siapa yang membuat keberangkatan mereka jadi lambat. Bukankah dirinya?
***
__ADS_1
Ini sudah kali ke-lima Ara melahirkan, tapi gugup yang dialami Aro tetap sama saja rasanya. Bagaimana ia takut saat melihat istrinya kontraksi. Perasaan iba, cemas berkumpul jadi satu. Terlebih saat dokter berkata kali ini Ara harus melahirkan secara Caesar sebab nyatanya 20 jam sudah mereka menunggu, namun lambatnya penipisan leher rahim dan kondisi bayi yang terlalu besar membuat Ara pasrah saja untuk melakukan operasi di persalinan anak ke-limanya ini.
Setelah segala sesuatunya dipersiapkan, Ara langsung dibawa ke ruang operasi. Aro tentu sudah meminta izin ikut serta masuk ke ruang operasi.
"Santai aja, rileks ...." Akhza menghibur sebelum mereka masuk ke dalam ruangan.
Ayah dan bunda lebih memilih menunggui anak-anak di rumah. Mereka yakin, kehadiran Aro saja sudah sangat cukup bagi Ara. Sedangkan empat anak mereka rasanya lebih membutuhkan kehadiran engki dan eninnya.
Untuk membuat Ara merasa santai dan nyaman, dokter memutuskan menghalangi pandangan Ara dengan memasang sebuah tirai. Hal itu sangat disetujui Aro, ia bukannya tak ingin melihat hanya saja ngeri rasanya bila melihat istrinya penuh darah.
Selama proses operasi berlangsung, Aro terus mengajak Ara berzikir. Bahkan, kali ini ia berusaha setenang mungkin agar Ara juga merasakan hal yang sama.
"Makasih buat bunganya," ucap Ara saat Aro terus saja menciumi wajahnya.
"Aku sayang kamu," jawaban yang diberikan Aro membuat Ara memukul bahu pria itu.
"Terim kasih, sudah rela menjadi ibu dari anak-anakku yang banyak itu." Aro kembali menghujani wajah Ara dengan kecupan.
"Terima kasih sudah jadi bubu terbaik. Istri paling Soleha, dan wanita paling cantik di hadapanku selama ini."
"Setelah bunda tapinya," ralat Aro cepat membuat Ara hanya mampu tersenyum.
"Makasih juga buat cinta yang begitu besar. Buat cemburu yang kadang enggak masuk akal, buat pemaksaan yang sering terjadi." Ara tertawa pelan setelah mengucapkan kata pemaksaan.
"Mungkin kali ini puasanya lebih lama?" tebak Aro.
"Bisa jadi," sahut Ara. Kemudian ia tiba-tiba merasa mual, pasti dokter sudah mulai mengangkat kepala bayinya.
Tangan Aro terus menggulirkan tasbih dan hati yang tiada henti berzikir. Di bawah sana Ara merasakan ada goyangan, bayinya mulai dikeluarkan dari perut.
Ara tak sadar menitikkan air mata, ia sungguh tidak sabar menatap wajah putranya. Pasti tampan dan rupawan.
Benar saja, tak lama dokter memperlihatkan bayi yang masih merah dengan tangisan yang memecah seluruh ruang operasi. Aro adalah yang paling antusias, bahagianya melebihi kelahiran ke-empat putrinya.
Setelah dibersihkan di beberapa bagian, juga setelah ditimbang dan diukur. Barulah dokter menyerahkan bayi mungil itu pada pelukan Ara.
Sementara di bawah sana perut Ara kembali dijahit.
"Siapa namanya, Mas?" bisik Ara karena tak ingin mengganggu bayinya yang sedang tenang dalam dekapannya. Sedang meronta menuju sumber kehidupannya.
"Muhamad Tsabit Qodami, semoga kelak menjadi laki-laki tangguh, kuat, pemberani dan konsisten terutama dalam beribadah." Aro menatap penuh sayang pada bayi laki-lakinya itu.
Ara mengangguk setuju, dalam hati mengamiinkan ucapan suaminya barusan.
***
Kehadiran Muhamad Tsabit Qodami tentu mengalihkan perhatian seluruh keluarga. Kelinci yang baru dibeli bahkan jadi tak menarik lagi bagi ke-empat putri Ara itu.
Tepat di usia tujuh hari anak ke-limanya itu, Aro menggelar acara akikah. Kali ini dia mengundang banyak tamu. Ara bahkan tak mengenali semua tamu yang datang.
Lepas asar para tamu mulai surut, tersisa keluarga saja yang masih berkumpul. Suasana semakin riuh dengan banyaknya anak kecil. Ara dan bayinya dikelilingi oleh bunda, mami yang kini sedang menggendong cucunya juga. Ayah tak mau ketinggalan, dia duduk paling dekat dengan bayi yang sedang tertidur itu.
"Naik lagi ya, Ra timbangannya?" tanya istri Akhza, memandang penuh sayang pada keponakannya.
"Makin embil gitu pipinya," timpal bunda.
"Kamu harus banyak makan, ya!" pesan mami.
Ara hanya tersenyum mengangguk menimpali perkataan keluarganya. Sementara anak-anak yang jumlahnya banyak itu sedang bermain di halaman belakang dan ditemani oleh Fadan juga uti dan Bu Yati yang sama-sama sudah semakin lanjut usia.
Fadan menjadi satu-satunya yang belum menikah di antara mereka. Meski usianya sudah dikatakan matang, ia sepertinya masih enggan untuk menikah.
Sementara di sudut lain ruangan para bapak sedang asyik mengobrol. Seperti nostalgia rasanya.
"Ini duda dua siapa yang bakal nikah duluan, nih?" ledek Aro menunjuk pada Omar dan Atar.
"Pasti Atar nih, dia kan lagi gebet janda muda yang jualan seblak Deket rumah ayah tuh!" tebak Akhza.
"Sialan, lo, Bang. Gosip tuh!" Atar melempar Akhza dengan daun bekas bungkus lemper.
"Ini dong, bapak paling diam-diam menghanyutkan," puji Aro pada Alka yang baru saja melambai pada istrinya yang sedang mengobrol dengan Zahra di sudut ruangan lain.
"Bisnisnya makin keren, ya!" pekik Omar.
"Dulu aja elo ngatain Alka, sekarang mepet mulu," sindir Aro.
"Kalau inget zaman dulu, rasanya nggak percaya kita berada di titik sekarang ya?" celetuk Alka yang lagi-lagi tersenyum ke arah istri cantiknya.
"Iya, gue kira Abang bakal jadi sad boy forever," ledek Aro kemudian tertawa dan tawanya menular.
"Kenyataannya gue bisa bahagia juga, dong?" Akhza melirik istrinya yang kini sedang menggendong Kanya.
"Anak lo nempel banget tuh sama istri gue," tunjuk Akhza dan mereka semua melihat ke arah yang ditunjuk oleh Akhza.
"Istri gue paling cantik dong!" seru Aro, istrinya sedang disuapi makan oleh bunda.
"Pesona bapak-bapak yang lagi gendong bayi, tuh. Siapa coba yang berani ngebantah maunya dia?" ujar Akhza, yang dimaksud adalah Akash.
"Anak gue diculik seminggu nggak dibalikin," lanjut Atar dengan berdecak sebal.
"Banyak cucu tapi adil gitu ya, Om Akash. Salut," puji Alka.
__ADS_1
"Anak lo juga cucu bokap gue, Ka!" Aro menepuk bahu Alka yang nampak sedih.
"Hati-hati aja nanti diculik nggak dibalikin, Bang!" Atar mengingatkan.
"Anak gue diculik tiga hari, gue udah panik seharian eh Om Akash baru bilang nggak sengaja kebawa katanya," kenang Omar.
"Emang dia itu perpaduan antara licik dan penuh trik. Ngalah deh gue ke ayah mah," ujar Aro pasrah. Sedari tadi ayahnya itu selalu mendekati putranya.
Suasana ramai itu berangsur sepi saat hari mulai malam. Ayah dan bunda membawa serta Hika dan Nika. Sementara Kanya ingin ikut bersama istri Akhza. Hanya Hening dan Tsabit yang tetap ada di rumah.
Hening sudah terlelap di samping Tsabit, ia begitu sayang pada adik laki-lakinya itu. Padahal tadi bunda sudah membujuknya untuk ikut. Tapi dengan halus gadis kecil itu menolak.
Ara kembali terjaga setelah beberapa waktu yang lalu ikut tidur selesai memberi ASI pada Tsabit. Ia tak mendapati suaminya di kamar. Ara memutuskan untuk beranjak dari tempat tidur, mencari keberadaan suaminya.
Rupanya, pria itu masih duduk di ruang tamu. Sendirian dengan secangkir kopi di hadapannya.
"Gimana bisa tidur kalau minumnya kopi," sindir Ara seraya duduk di sampingnya.
"Seharian nggak ngopi, penasaran," sahut Aro kemudian menyesap kopinya yang tinggal sedikit.
"Tidur, Mas. Kamu udah banyak begadang akhir-akhir ini." Ara menyandarkan kepalanya di bahu sang suami.
"Kamu kenapa bangun?" Aro mengusap pelan pundak istrinya.
"Nyari kamu, kangen," aku Ara.
Aro tertawa, sudah sepuluh hari padahal dirinya tak meninggalkan rumah. Tetap berada di dekat istrinya jelang kelahiran kemarin.
"Emang nggak boleh kangen?" Ara memeluk suaminya.
"Bolehlah, masa nggak boleh." Aro balas memeluk tubuh istrinya yang sedikit berisi itu.
"Pernah ngerasa lelah nggak sih ngurus anak-anak?" tanya Aro membuat Ara menggeleng cepat.
"Kok nanya gitu?" Ara memberengut kesal.
"Maaf ya, kalau anak-anakku bikin kamu repot," ungkap Aro.
"Mas, kok gitu sih ngomongnya?" Ara menarik diri dari dekapan suaminya.
"Terima kasih, buat semuanya." Aro berusaha mendekatkan dirinya, namun Ara malah mendorong dada suaminya itu.
"Mereka 'kan anakku juga!" sentak Ara memukul dada Aro.
"Aku nggak suka kalo Mas ngomongnya kayak gitu," imbuhnya dengan deru napas tak beraturan.
"Aku ikhlas, Mas. Bahkan bahagia punya mereka dan punya kamu juga," lanjut Ara dengan mata berkaca-kaca.
"Iya, makanya. Makasih, ya," ucap Aro lirih yang malah membuat Ara menangis.
Pasalnya ia tak pernah merasa lelah apalagi kewalahan mengurusi anak-anaknya. Merek tumbuh menjadi anak-anak manis yang hampir tak pernah merepotkan Ara. Kenapa suaminya malah bicara seperti itu?
"Kamu jahat ah, bikin aku sedih," keluh Ara kembali memukul dada suaminya.
"Iya, maaf. Aro yang menjadi langit untuk Ara ini tak selamanya cerah. Kadang malah panas, mendung bahkan hujan. Tapi, terima kasih tetap mau bernaung di bawahnya." Kali ini Aro berhasil meraih Ara kembali dalam pelukannya.
"Terima kasih sudah membersamai amarahku, egoku, air mataku, dan juga tawaku. Tetaplah menjadi Ara kami. Tetaplah di sampingku, Ara." Aro mengeratkan pelukannya hingga sebuah suara lembut menegur mereka.
"Bubu, dedenya bangun. Nggak nangis tapi pipi aku ditonjok-tonjok." Adalah suara Hening yang membuat Ara dan Aro berpandangan kemudian saling melempar tawa.
Aro meraih tubuh putrinya itu, berjalan menggenggam tangan Ara kembali menuju kamar. Di sana si bayi tampan sedang membuka mata lebar-lebar dengan kepala tak mau diam. Pasti mencari sumber kehidupannya.
Ara segera meraih si pipi embil itu ke dalam pangkuan dan mengeluarkan bagian tubuhnya yang menjadi kesenangan bagi bayi itu.
"Bismillah dulu, dedek," protes Hening.
"Udah diwakilin sama Bubu, Teh," sahut Ara.
Hening tertawa malu, menyembunyikan wajahnya ke balik punggung papanya.
Aro tersenyum kecil, ia meraih tubuh Hening dan mendudukkan tubuhnya di pangkuannya.
"Jangan suka sembunyi, Hening ini cantik. Boleh merasa malu, tapi jangan merasa enggak percaya diri. Semua anak Papa istimewa, termasuk Syakia Hening Tasmirah ini. Ok!" bisik Aro pada Hening membuat Hening mengangguk, kemudian mengecup kedua pipi papanya itu.
"Bubu juga dong," pinta Ara menunjukkan pipinya pada Hening. Hening tentu melakukannya, bahkan ia juga menciumi adiknya yang sedang nen dengan penuh minat.
Setelah selesai Tsabit minum ASI, bayi itu kembali terlelap. Hening bahkan sudah lebih dulu tidur. Ara kembali merebahkan diri, disusul suaminya yang juga berbaring di sampingnya.
"Jangan bilang makasih dan maaf mulu, ah!" Ara mencubit lengan Aro yang melingkar di perutnya.
Aro tertawa, kemudian berbisik "Aku mencintaimu ... selalu."
Ara mengangguk dan balas berbisik. "Aku juga, sangat, sangat, sangat mencintaimu." Ara membalikkan badannya, memeluk erat suaminya. Ia nyaman dalam dekapan hangat itu. Berharap semua ini akan terus berlanjut hingga hanya maut yang memisahkan.
End.
Assalamualaikum, apa kabar teman-teman tersayang? semoga selalu dalam lindungan Allah, Aamiin. Terima kasih sebelumnya sudah setia membersamai kisah Ara hingga akhir. Buat segala bentuk dukungan yang diberikan. Buat merelakan waktunya untuk membaca kisah ini. Terima kasih pada teman-teman yang sudah ikut terlibat di dalam cerita ini. Aku nggak bisa sebutin satu-satu namanya tapi aku selalu ingat kalian semua. Yang dari awal aku nulis sampe akhirnya di titik ini masih tetap menemani, terima kasih.
Sampai jumpa di story' selanjutnya. Semoga masih berkenan membersamai. Doakan aku lancar nulisnya. Akan ada kisah Alka dan juga Akhza untuk next story'. Semoga temen-temen semua masih mau menemaniku yaaa.
Jaga kesehatan ya semuanya. Yang sedang sakit dan tengah mendapati musibah semoga diberi kesabaran dan keikhlasan. Sekali lagi, terima kasih.
__ADS_1
Sayang banyak-banyak buat semuanya. Salam dari Ara, Aro, Hika, Nika, Hening, Kanya dan Tsabit. Salam sayang penuh cinta dan kasih. Terima kasih ❤️❤️❤️❤️