
Ara
"Kunyitnya ditaruh di mana, Bi?" tanya Ara pada asisten rumah tangga jidda yang bernama Diah.
"Itu, Neng di keranjang bambu dekat magicom," sahut Diah yang sedang melumuri ayam dengan garam dan cuka.
Ara mencari ke tempat yang dimaksud Diah, senyumnya mengembang saat mendapati kunyit yang dicarinya.
Diah mencuci ayam yang selesai ia lumuri garam itu, kemudian meniriskannya lalu mendekati Ara yang sedang memarut kunyit. "Buat apa sih, Neng?" tanya Diah penasaran.
"Buat diminum Abang, kasihan perutnya lagi sakit," sahut Ara sambil terus memarut kunyit tak khawatir tangannya menjadi kuning.
"Biar Bibi aja sini," tawar Diah menyentuh tangan Ara. "Sayang tangannya nanti kuning," imbuh Diah membuat Ara tertawa.
"Kuning doang, Bi. Nggak sakit, udah biar aku aja. Bibi bikin sarapan aja. Atar biasa makan pagi loh, Bi. Nanti Bibi repot sendiri kalau masakan belum jadi, Atar udah minta makan," papar Ara panjang lebar membuat Diah teringat belum memasak nasi. Wanita tambun itu tentu saja segera bergerak cepat.
Selesai memarut kunyit itu, Ara segera memerasnya menggunakan kain tipis untuk mengambil sarinya yang akan dia godog bersama daun bandotan. Beruntung di halaman belakang rumah jidda ada beberapa tangkai tanaman bandotan, Ara tak bingung lagi mencarinya.
"Sayang, lagi apa?" tanya Bumi yang tiba-tiba datang seraya merangkulnya dari samping kanan.
Ara yang sedang mengaduk racikan obat herbalnya menoleh seraya berkata, "Ara lagi buat godogan kunyit sama daun bandotan buat abang, Bun."
Bumi memicingkan matanya, "Masya Allah, Bunda aja nggak kepikiran loh kalo daun bandotan itu salah satu obat penyembuh asam lambung, ya."
"Iya, Bunda. Makanya aku buat untuk abang supaya cepet sembuh. Kasihan semalam kesakitan banget kayaknya," jelas Ara membayangkan tampang Akhza yang semalam menahan sakit.
"Malam Ara tidur di mana?" tanya Bumi, dia semalam lupa tak mengatur tempat tidur untuk anak-anaknya.
"Di kamar ammah, tapi ...."
"Tapi?" selidik Bumi penasaran.
Baru akan menjawab, suara Aro berisik sekali memanggil nama bundanya.
"Bubun ... dada ... Bundaaa ...!" teriaknya padahal Bumi sudah ada di hadapannya.
"Berisik ih, kebiasaan ini anak satu," omel Bumi mencubit lengan Aro yang melingkar di perutnya.
"Jangan ngomel-ngomel, cantik. Nanti cepet keriput," ledek Aro seraya mengecup pipi kiri Bumi. "Dicariin sama Paduka Raja, minta kopi katanya," beritahu Aro.
__ADS_1
"Ya udah awas tangannya, Bunda buat kopi dulu. Kamu mau nggak?" tawar Bumi pada Aro, namun pria itu menggeleng membuat Bumi segera saja melenggang meninggalkannya bersama Ara.
"Mas, aku mau tanya. Jawab yang jujur," ujar Ara sambil tangannya terus mengaduk air rebusan kunyit dan daun bandotan yang sebentar lagi hampir mendidih.
"Mas malem mindahin aku ya ke kamar ammah?" selidik Ara membuat Aro terbahak.
"Pede banget lo, Pil. Ogah banget harus mindahin badan lo yang bau. Elo masuk sendiri ke kamar ammah," ungkap Aro berbohong.
"Serius, Mas?" todong Ara seraya mematikan kompor dan menatap netra indah Aro mencari kebenaran, namun Aro tak berani menatap balik netra Ara.
"Mas, serius aku masuk sendiri?" desak Ara dan diangguki Aro.
"Syukurlah, aku takutnya Mas yang gendong. Pasti tubuh suciku ternoda karena dipegang-pegang sama Mas," ledek Ara membuat Aro melayangkan pukulannya ke kepala Ara.
"Lagak lo, lagian nafsu juga enggak gue sama lo. Badan kurus aja disembunyiin pake kain lebar-lebar gitu. Mana ada bikin gue pengen," papar Aro seraya berlalu dari hadapan Ara membuat Ara mendengus kesal.
***
Setelah siap dengan air godogan kunyit beserta daun bandotan, Ara membawanya ke kamar Akhza agar segera bisa diminum olehnya sebelum sarapan. Saat Ara masuk, Akhza sedang duduk di sofa menatap langit pagi yang masih sedikit gelap.
"Bang!" sapa Ara membuat Akhza menoleh pada Ara yang tersenyum manis. Wajah cantiknya nampak teduh dalam balutan hijab lebar berwarna merah bata.
Akhza menerima gelas itu, mencium aromanya, kemudian berkata, " Baunya nggak enak, Ra."
Ara tertawa seraya menepuk-nepuk sandaran sofa, " Kan namanya juga obat, pasti nggak enak."
"Mesti diminum?" tanya Akhza tak yakin.
"Aku sendiri loh yang buat," beritahu Ara agar Akhza dapat menghargai usahanya. "Tutup aja hidungnya biar nggak kerasa bau," saran Ara dan dituruti oleh Akhza.
Akhza menutup hidungnya seraya mulai menenggak ramuan buatan Ara tersebut. Rasa pahit dan kesat bercampur jadi satu memenuhi mulut hingga kerongkongannya. Membuat Akhza meringis dan bergidig.
"Nih, makan yang manis sebagai penawarnya," ujar Ara menyodorkan tujuh buah kurma yang ia bungkus menggunakan tisu dan sedari tadi ia genggam di tangannya.
Akhza mengambil sekaligus dua dan memasukkannya ke dalam mulut.
"Bijinya buang dulu atuh, Bang!" protes Ara, namun tak diindahkan oleh Akhza. Dirinya malah kembali mengambil dua buah kurma dan langsung melahapnya setelah mengeluarkan dua biji kurma dari dalam mulutnya.
Ara menggeleng melihat kelakuan kakaknya itu, kurma tujuh buah habis ia makan sendiri.
__ADS_1
" Ke bawah, yuk!" ajak Ara setelah Akhza selesai menelan kurmanya.
"Ngapain? du sini aja dulu!" tolak Akhza.
"Abang sarapan dulu, aku udah buatkan bubur," jelas Ara seraya berdiri, "tadi mau aku bawa ke sini, kata jidda gak boleh makan di kamar," imbuhnya seraya mengulurkan tangan.
Akhza berdiri dari duduknya dan hendak meraih tangan Ara, namun Ara malah menarik tangannya kembali dan berlari seraya menjukurkan lidah meledek Akhza.
"Sekali-sekali becanda, Abang. Biar nggak cepet tua mukanya," seloroh Ara seraya berlari kecil membuat Akhza tersenyum dan semangat mengejarnya.
"Kalau aku berhasil ngejar berarti aku menang, ya Ra?" tanyanya, namun tak ditanggapi Ara.
Keduanya berlarian dengan Akhza yang mengejar Ara hingga tiba di ruang makan. Di sana semua anggota sudah berkumpul, saling menghadap meja dan makanan masing-masing. Ara segera berhamburan ke arah Bumi dan menyembunyikan wajahnya ke leher bundanya itu.
"Eeh kenapa ini?" tanya Bumi keheranan.
"Yaa, curang. Perisainya bunda," keluh Akhza yang baru datang dengan nafas tersengal.
Ara kembali berdiri tegak dengan senyum jahil meledek Akhza, "Yang kalah harus dihukum," ucapnya.
"Apa hukumannya?" tantang Akhza.
"Traktir jajan sepuasnya," sahut Ara.
"Siapa takut," terima Akhza mengulurkan tangan, namun ditepis oleh Ara.
"Nggak usah salaman, kayak lagi main kuis aja."
Interaksi keduanya ternyata mendapat pandangan tak suka dari Aro. Ia yang sedang nikmat menyantap sarapannya tiba-tiba kehilangan selera makan. Aro pamit lebih dulu tanpa menghabiskan makanan dan berdalih harus segera pergi syuting.
"Udah, kalian sarapan dulu!" titah Bumi pada kedua anaknya yang masih berdiri termangu menatap kepergian Aro.
Tanpa mandi dan berganti pakaian Aro pergi setelah sebelumnya naik ke kamar Nadia dan membawa semua barang-barang Ara.
Biar tahu rasa lo, Pil. Gue tunggu lo di rumah gue!
Batin Aro berkecamuk berlari menuruni undakan tangga dengan seringai jahil menenteng tas Ara. Ara dan yang lainnya tak melihat aksi Aro tersebut. Mereka lebih memilih percaya pada Aro yang akan syuting dan dengan santai menikmati sarapan masing-masing.
Sementara setelah ini, Ara pasti kebingunan sebab barang-barangnya hilang dari kamar Nadia. Aro tak pernah puas menjahili adiknya itu.
__ADS_1
Yang tekan like ketik komentar juga doong. Makasih sayang-sayangnya aku laf laf kalian.