
Polres JakPus meringkus seorang pengedar narkoba yang sering beroperasi di wilayah JakPus. Pelaku yang sebelumnya dijebak untuk dapat mengakui perbuatannya itu berinisial U alias RA yang merupakan seorang artis muda.
Begitu pelaku membeberkan bahwa dia adalah seorang pemakai sekaligus pengedar pada seseorang yang bertanggung jawab memancing dirinya untuk mengaku, saat itu juga satuan kepolisian beserta pihak BNN meringkus sang artis di kediamannya. Saat digeledah, petugas menemukan 978,6 gram nakoba jenis sabu, ekstasi sebanyak 18,9 gram, dan ganja sebanyak 19,1 gram di dalam kulkas dan lemari pakaian milik tersangka.
Dari tersangka U, dilakukan lagi pengembangan dan pihak berwajib berhasil menangkap RF dan CH. Kedua orang ini ditangkap pada rumah kos di kawasan JakBar.
RF ditangkap dengan barang bukti 10,30 gram sabu dan CH diamankan karena membawa 1,38 gram sabu. Begitu dites urine, ketiga tersangka ini juga positif menggunakan narkoba.
CH menyimpan 1,38 gram sabu ini di samping kaki kanannya, sedangkan RF menyimpan narkoba tersebut di dalam saku jaket yang sedang dipakainya.
Salah satu tersangka berinisial CH mengungkapkan, bahwa ia bisa meraup uang sebanyak Rp.15 juta dari hasil penjualan 1 kilogram sabu ini.
Atas perbuatannya, para tersangka dijerat dengan Pasal 114 subsider 112 dan 111 UU RI Nomor 35 tahun 2009 tentang narkotika. Dengan hukuman penjara 15 tahun. (Sumber : Sindonews.com)
Terdengar dari televisi berita penangkapan Rea menjadi topik teratas beberapa hari ini. Ara yang sedang menyiapkan sarapan bersama Sang Mami hanya mendesah pelan.
"Nu, tivinya matiin aja deh!" teriak Ara pada Sanu yang memang sedang menonton berita itu.
Sanu yang mendengar teriakan Ara langsung memijit tombol off pada remot tivi itu. Wanita yang tengah hamil itu kemudian menghampiri Ara.
"Gak mau lihat, Ra?" tebak Sanu menyelidik.
"Nggak baik terus-menerus membicarakan keburukan orang lain. Sebaik-baiknya manusia adalah yang mampu menjaga aib saudaranya," sahut Ara seraya menoleh pada Sanu.
"Dia udah jahatin Mas Ar loh, Ra!" Sanu mengingatkan.
"Nggak ada yang pantas membalas kesalahan seseorang selain Allah, Nu." Ara mendekat ke arah Sanu.
Gadis itu meletakan kedua tangannya di atas pundak Sanu, ia memandang lekat pada manik Sanu. "Titip mami, Nu. Aku pasti sibuk banget, kalian jangan lupa salat."
"Di Bogor juga padahal banyak Ra kampus yang bagus. Atau ke Jakun ajalah, Surabaya jauh." Sanu mengeluhkan keputusan Ara yang akan meneruskan study ke salah satu universitas di Surabaya.
Bukan atas keinginannya sendiri Ara mengambil keputusan itu, ia dibantu Bidan Army yang dulu juga study di Surabaya. Nanti saya titipkan kamu ke saudara saya. Begitu ucap Bidan Army.
"Aku nanti sering pulang deh," janji Ara.
"Eh nggak sering juga, deng," ralatnya kemudian.
"Do'ain ... do'ain ... do'ain!" serunya seraya menepuk pipi Sanu kemudian beralih pada Vanya yang sedang duduk dan menangis.
"Diih, nangis ...." Ara mencibir seraya mendekati Vanya.
"Ikhlasin, kasih rida, biar langkahku nggak berat. Biar dimudahkan segala urusanku." Ara tertawa, mengharapkan hal itu menular pada Vanya.
Alih-alih menular Vanya malah meraung memeluknya. Ara tetap menahan tangis, ia tertawa sambil menepuk punggung Vanya. "Cengeng ih, gak asyik deh!"
Kejadian serupa terulang di kediaman Bumi. Saat Ara berusaha tenang. Justru Bumi yang paling riweuh. Wanita yang memiliki tiga orang putra itu memeluk Ara seolah tak ingin melepasnya lagi.
"Bun, Ara cuma ke Surabaya bukan ke medan perang," canda Ara justru semakin membuat Bumi menangis.
Atar, Akash dan Fadhan yang sama-sama ada di ruangan itu juga nampak sendu. Berat rasanya melepas kepergian Ara.
Meski dilepas dengan kesedihan oleh keluarga besarnya, Ara tetap pergi ke Surabaya. Menurut Bidan Army, keluarganya yang di sana juga memiliki pesantren. Ara bisa tetap konsisten mengikuti kajian keagamaan. Banyak poin plusnya deh kalau kamu lanjut study di sana. Ucap Bidan Army yang juga ikut mengantar Ara ke Surabaya.
***
Beberapa waktu sudah berlalu, Aro sudah bebas dan kembali menetap di kediaman orang tuanya. Ia melanjutkan kuliah di universitas yang sama dengan jurusan yang sama seperti sebelumnya. Seni tak bisa ia lepaskan dari dalam dirinya. Diam-diam, pria pemakan segala jenis makanan, -asal nggak bikin sakit perut dan nggak bikin sakit hati- itu sudah menekuni profesi sebagai penulis naskah selama 3 tahun terakhir. Meski posisinya sebagai gosht writer, naskah yang dibuat Aro selalu membuat kagum rumah produksi.
Sudah banyak sinetron bahkan film yang naskahnya ia tulis dan menjadi paling digemari. Tak heran dari mana kalimat-kalimat yang selama ini ia lontarkan pada Ara berasal. Nyatanya, ia memang pandai mengolah kata menjadi kesatuan yang dapat membuat hati siapa saja, terutama para wanita ambyar.
Aro menjual rumahnya yang berada di Jakarta itu. Ia masih belum mau menetapkan di mana akan kembali membeli hunian baru.
"Aku mau nunggu Ara dulu, Bun. Aku mau bikinin dia tempat praktek. Pokoknya harus satu bangunan deh sama tempat tinggal kita. Dia, nggak bakal aku biarin jauh-jauh lagi."
Kalimat yang Aro lontarkan sore itu membuat Bumi sangat rindu pada Ara. 2tahun berlalu, ia dan Ara hanya pernah bertemu 3 kali.
__ADS_1
"Bunda kangen banget sama Ara," adu Bumi membuat Aro juga kembali merasakan hal yang sama.
Tiap malam pria itu tidur di kamar Ara. Sengaja memakai minyak telon agar dapat membuat keberadaan Ara seolah ada di dekatnya. Hanya pashmina tempo hari yang Aro miliki sebagai pelipur rindunya.
Ara benar-benar membawa seluruh pakaiannya dari kamar yang ada di rumah Bumi. Satupun tak tersisa.
Nun jauh di sana Ara juga sering merasakan hal yang sama, namun ia menyibukan diri dengan mengikuti seminar dan pelatihan-pelatihan kebidanannya. Ia banyak mengenal dokter-dokter dan bidan senior di sana. Selain itu, Ara juga tak lepas terus belajar ilmu agama bersama keluarga Bidan Army yang memang memiliki pesantren.
Kegiatan Ara selalu padat setiap harinya, tak ada celah sedikitpun untuknya memikirkan Aro meski nama pria itu selalu ada pada lantunan do'anya.
***
Begitu lulus kuliah, Aro mulai melebarkan sayapnya di dunia bisnis. Pria itu membuka toko baju serta barber shop di kawasan jalan Padjajaran, Bogor. Toko dan barber shop memiliki nama yang sama, Arsky. Mungkin singkatan dari namanya dan Ara.
Aro dibantu Omar menjalankan bisnis itu dengan konsep yang begitu meminat para pelanggan. Tokonya memiliki beraneka ragam jenis pakaian. Terutama untuk anak muda. Ada beberapa pekerja di tokonya, semuanya lelaki. Aro tak ingin ada satupun wanita yang bekerja untuknya.
Ia juga selalu menyibukan diri setiap harinya, meski kebanyakan berlama-lama di depan layar laptop mengetik naskah. Selama ini, hanya Atar dan Omar yang mengetahui profesinya itu.
"Mas, mau lihat foto Teh Ara yang paling baru nggak?" sore itu Atar menemui Aro yang baru saja selesai mengetik.
"Emang ada?" Aro penasaran dan langsung menoleh pada Atar.
"Ada, aku dapet dari Kak Sanu," sahut Atar.
Sebuah foto Atar tunjukan pada Aro. Dalam potret tersebut, Ara memakai seragam serba putih. Satu tangannya dimasukan ke dalam saku yang terdapat pada pinggiran rok. Tangan lainnya bergenggaman dengan teman di sampingnya.
Foto yang berlatar rumah sakit itu menampakan 10 orang pekerja rumah sakit, termasuk Ara di dalamnya. Dilihat dari seragamnya, dua orang adalah dokter dan sisanya mungkin perawat dan bidan seperti Ara.
"Dia kayaknya bahagia ya, Tar?" ujar Aro memperbesar foto Ara pada layar. "Senyumnya lebar, pipinya chubby. Cantik."
Kedua mata Aro mengeluarkan air. Dadanya sesak, debaran jantung yang tak karuan membuat badannya serasa panas dingin.
"Kamu kangen nggak sih ke aku, Ra?" batin Aro seraya mengembalikan ponsel pada Atar.
***
Ara sudah menyelesaikan studynya tepat waktu. Banyak ilmu yang ia dapat. Kini dirinya sudah pandai menangani pasien bayi. Sudah bisa menangani pasien melahirkan. Ara kembali ke Bogor, namun masih enggan menemui Aro. Dia benar-benar disibukan dengan segala kegiatan dan usahanya untuk mendapatkan izin praktek dari dinas. Gadis itu, banyak dibantu bidan Army juga senior yang lain dalam mengurus proses perizinan itu.
Sore itu, Ara sengaja mengajak Bumi bertemu di rumahnya. Setelah kepulanganya dua minggu yang lalu, baru kali ini Ara dapat bertemu dengan Bumi.
"Maaf ya, jadi harus Bunda yang nyamperin aku," ujar Ara yang sedang dipeluk oleh Bumi.
"Nggak apa, Sayang. Bahkan, saat kamu di Surabya Bunda pengen banget ke sana. Tapi. ayah selalu ngelarang. Takut bikin kamu nggak konsen," sahut Bumi panjang lebar seraya melerai pelukannya.
"Kamu sekarang makin cantik, makin dewasa," puji Bumi kembali menghujani wajah Ara dengan kecupan.
"Makasih, Bunda ... sebenernya aku mau minta tolong. Ke ayah sih, ke Bunda juga deh," ungkap Ara.
"Minta tolong apa, Sayang?" timpal Bumi.
"Aku mau minta carikan tempat yang strategis buat buka praktek. Di mana ya, Bun?" Ara meminta pendapat.
Bumi langsung ingat dengan perkataan Aro tempo hari tentang dirinya yang ingin membuatkan Ara tempat untuk membuka praktek.
"Daerah Bojong Gede, mau nggak?" usul Bumi
Ara mengerenyit, dia belum hafal daerah di sana. Tapi. Aro sudah membeli hunian di salah satu komplek perumahan di daerah itu. Terdapat banyak ruko di depan gerbang perumahan, Aro sudah membeli dua unit khusus untuk Ara membuka praktek. Bangunan itu nantinya bisa dijadikan dua lantai bila Ara mau.
"Udah ada?"
"Ada, kalau mau besok bisa dilihat. Di depan komplek perumahan gitu," jelas Bumi membuat Ara mengangguk senang.
"Nanti biar Bunda aja yang urus, Ara terima beres, ok?" tawar Bumi.
"Enggak, Bunda ... Ara punya kok tabungan," sanggah Ara seraya menggeleng.
__ADS_1
"Iya, Bunda bantu," sela Bumi seraya mengusap punggung tangan Ara.
"Tapi pakai tabungan Ara aja," kilah Ara mengembungkan pipinya. "Udah cukup selama di Surabaya ayah terus-menerus kirim Ara uang. Ara nggak enak, Bunda."
"Ya udah pakai uang Ara tapi Bunda yang nyiapin semuanya. Gimana?"
"Kalau itu baru cakep," sahut Ara mengangkat dua jempolnya.
Vanya yang melihat interaksi keduanya hanya tersenyum getir. Ia sadar betul dengan kesalahannya dulu yang sempat ingin membuang Ara. Takdir Allah lain, Ara ternyata memiliki waktu untuk hidup. Gadis itu bahkan kuat sedari dalam janin. Vanya memegangi dadanya sendiri yang merasakan denyut nyeri. Ingatan bagaimana dulu dia memakan segala jenis obat penggugur kandungan untuk melenyapkan janin Ara, memenuhi benaknya.
***
Semua yang Ara cita-citakan akhirnya tercapai. Ia memiliki tempat praktek sendiri dengan fasilitas yang bisa dibilang lengkap. Tempat yang strategis dan aman membuat Ara tambah semangat menjalankan tugasnya. Pasiennya selalu ramai selama tiga bulan terakhir ini.
Dibantu oleh Teh Fenti yang Aro datangkan khusus dari Subang, serta seorang Bidan yang masih baru lulus, Ara mengelola tempat prakteknya. Aro diam-diam selama beberapa waktu ini sudah berani melihat Ara walau dari kejauhan. Dia diam-diam sering mendatangi warung kopi yang berada di seberang tempat praktek Ara hanya untuk melihat Ara keluar dari bangunan berlantai dua itu.
Bahkan Aro sempat melakukan aksi nekad, tengah malam ia datangi tempat itu dan memandangi Ara yang sedang tertidur lelap di kamar yang berada di lantai dua.
"Itulah gunanya Teh Fenti gue taro di tempat Ara," begitu ucap Aro saat pulang dari tempat praktek Ara malam itu.
"Lo kapan sih mau berhenti nyusahin gue?" sindir Omar yang selalu setia, mungkin terpaksa, membantu Aro melakukan aksi-aksi jahilnya.
"Selama gue hidup, pasti gue ngeribetin elo terus, Mar!" timpal Aro dengan tawa dan disambut decak kesal dari Omar.
Di lain kesempatan bahkan pria itu pernah pura-pura jadi pasien dengan memakai pakaian wanita muslimah lengkap dengan niqob yang hanya memperlihatkan mata saja. Ara sempat curiga karena mendapati pasien yang tak bisa bicara. Ia sampai bingung apa yang diderita pasiennya yang ternyata adalah Aro itu.
"Sumpah, Ar. Gue nggak mau lagi dah terlibat akal bulus lo. Gue takut Ara tahu. Bisa marah dia," keluh Omar yang lagi-lagi bertugas sebagai supir.
Aro tertawa membuka niqob dan kerudung yang dipakainya. Ia dengan gerakan kasar melepas sarung tangan dan kaos kaki yang dikenakannya.
"Sumpah, Mar, Dia makin cantik. Gue deg deg an banget pas dia tadi raba-raba dada gue. Mata gue disentuh. Untung gue bisa ngelak pas dia maksa buka niqob, Mar."
"Gila ... gila ... Cinta dan bego emang beda tipis," ledek Omar membuat Aro melemparnya dengan hijab yang tadi ia kenakan.
***
Tiga tahun yang ditunggu Aro akhirnya tiba. Ia sudah tak sabar sedari pukul 06.00 sudah bersiap di depan cermin meneliti tampilannya.
"Gue ngomong apa nih pas ketemu dia?"
"Ra, sehat?"
"Enggak, enggak!"
"Apa kabar, Ra?"
"Aduh, biasa banget!"
Aro bermonolog menyiapkan diri untuk bertemu Ara. Ia mondar-mandir sendiri dalam kamar. Sneaker hitam kesayangannya telah sempurna membungkus kakinya yang berukuran lebar. Jeans hitan dengan hoddie merah marun sudah membalut tubuhnya sedari tadi. Tampilannya sudah siap.
"Ah udah ah, ntar aja spontan gue ngomongnya. Gue peluk sekalian, biar dia tahu gue kangen banget sama dia."
Lelaki dengan tubuh tinggi menjulang itu keluar dari kamar. Bersenandung kecil sambil menuruni undakan tangga. Ia pamit pada bundanya yang sedang di dapur memasak sesuatu.
"Bubur kacang hijau?" tebak Aro, karena mencium aroma jahe dan pandan.
"Buat Ara," sahut Bumi seraya tertawa riang gembira.
"Aku pergi. Do'ain biar lancar. Aku pastikan kali ini dia nggak akan pergi lagi," ucap Aro dab membuat Bumi mengaangguk senang. Ia tak sabar kembali bertemu Ara.
.
.
.
__ADS_1