Langit Untuk Ara

Langit Untuk Ara
Masih Hari Kita


__ADS_3

Tepat pukul 15.30 acara resepsi selesai. Ara benar-benar merasa lelah sebab ia harus terus berdiri dan tersenyum menyambut kedatangan tamu yang bahkan banyak tak ia kenali.


"Capek, Sayang?" tanya Aro seraya berjongkok di hadapan Ara.


"Mas, malu ih. Jangan kayak gini," sela Ara seraya memandang ke sekelilingnya.


Orang-orang mulai sibuk membereskan alat-alat serta meja-meja yang digunakan untuk menyimpan hidangan. Ara menangkap sesuatu tak beres saat memandang pada spot foto untuk tamu undangan tadi.


Di sana terlihat Akhza sedang menunjuk-nunjuk Tala yang menunduk.


"Mas, itu abang kayaknya marahin Tala?" tebak Ara seraya menunjuk pada Akhza.


Aro menoleh dan memandang pada arah yang ditunjuk Ara. Ia memicingkan mata, pria itu sampai berdiri dan meminta izin kepada Ara untuk memastikan apa yang sedang kembarannya lakukan.


"Kamu tuh kan dari awal emang udah nggak bener kerjanya!" sentak Akhza pada Tala. "Bisa-bisanya kamera saya kamu satukan dengan baskom berisi piring dan gelas kotor?" sambungnya seraya mengusap kameranya.


"Aku nggak tahu, Abang. Aku kira karena ditaruh di kresek hitam jadi kupikir sampah," sahut Tala berkilah. Tala nampak cantik. Memakai kebaya brokat putih lengan pendek dan kain batik berwarna oranye. Rambut sebahunya yang hitam legam dibiarkan terurai.


"Kamu kan bisa lihat dulu!" sentak Akhza tak mau terima alasan Tala.


"Kenapa sih, Bang?" Aro yang baru datang membuat Akhza kaget.


"Kamera gue dia taro ke baskom yang isinya cucian piring kotor," adu Akhza seraya menunjukan kameranya yang tak lecet sedikit pun.


"Kameranya rusak, nggak?" tanya Aro.


"Enggak, karena gue cepet datang. Kalau enggak, bisa disiram air dah tuh sama dia," tuding Akhza seraya menunjuk dengan dagu ke arah Tala yang sedang menunduk dengan mata berembun.


"Tibang gitu doang, Bang?" sindir Aro seraya menepuk bahu Akhza, "lo marahin cewek?" lanjutnya penuh penekanan.


"Lo nggak usah ikut campur. Nih anak dari rumah sakit hingga kehidupan pribadi emang senengnya bikin gue marah," cerita Akhza, kali ini membuat air mata Tala menetes.


"Nangis tuh anak orang," bisik Aro.


"Tala, kamu Mama cariin tahunya di sini?" Suara Ayesha membuat Akhza yang tadinya ingin kembali bicara terhenti.


Tala berusaha menghapus air matanya, ia menghela napas kemudian mengangkat kepalanya.


"Ayok makan dulu, udah ditunggu abang di dalam!" ajak Ayesha kemudian pergi lebih dulu.


"Udah, gih ke dalam. Nggak usah dengerin Abang gue. Urus bang Rud aja, calon suami elo," cetus Aro membuat Tala mengangguk.


"Bang Za, maaf ya ...." Tala berkata tanpa berani memandang Akhza. Ia kemudian beranjak pergi meninggalkan si kembar.


"Keterlaluan lo, Bang!" geram Aro juga ikut berlalu meninggalkan Akhza dan kembali pada istrinya.


"Ada apa, Mas?" tanya Ara begitu Aro telah kembali.


"Nanti aja ceritanya, kita salat ashar dulu," sahut Akhza.


"Aku laper, Mas. Laper lagi." Ara menyeringai menampakan gigi depannya.


"Salat dulu, baru makan. Mau sama apa makannya?" Aro menggenggam tangan istrinya, "yuk jalan, nanti keburu sore," lanjutnya membuat Ara berdiri.


"Jalannya susah, Mas," rengek Ara.


Aro tertawa, ia menyapukan pandangan dan mendapati Fadan yang sedang bicara dengan Akhza di spot foto tadi.


"Dan, Fadan!" panggil Aro seraya melambai membuat Fadan segera menghampirinya.


"Ada apa, Mas?" tanya bocah yang kini sudah memiliki suara berat itu.


"Angkatin baju Teteh, biar gampang jalannya," pinta Aro dan diiyakan oleh Fadan.


Kemudian Ara berjalan digandeng oleh suaminya, baju bagian belakangnya Fadan yang angkat. Tiba di kamar, Fadan langsung pamit kembali. Ia sedang asyik bicara dengan Akhza tadi.


Aro mengambil wudhu terlebih dahulu, sedangkan Ara kesulitan membuka gaunnya. Hingga Aro kembali dan telah berganti pakaian hanya mengenakan kaus dan celana selutut, Ara baru dapat menanggalkan gaunnya.


Ara secepat kilat berlari menuju kamar mandi, ia hanya mengenakan kaos singlet dan legging. Ara tak ingin Aro menggodanya.


"Ara ... Ara," geleng Aro seraya cepat menyiapkan sajadah untuknya dan Ara.


Ashar pertama bagi Ara dan Aro untuk salat berjama'ah. Ara mencium tangan Aro penuh khidmat. Entah kenapa, ia berhamburan ke pelukan Aro yang masih duduk di atas sajadahnya.


"Ini mimpi bukan sih, Mas? kok indah banget," tutur Ara menyandarkan kepalanya di dada suaminya. Telunjuknya membuat pola bulat berulang-ulang di sana.


Aro mencubit pipinya, keras. Membuat istrinya itu mengaduh. "Berarti bukan mimpi," cetus Aro seraya mengusap bekas cubitannya.


"Yuk, makan dulu, biar ada tenaga," bisiknya seraya mengankat tubuh Ara agar berdiri.


Keduanya meninggalkan kamar, bergabung bersama keluarga lain di ruang tamu. Seluruh keluarga tak henti menggoda pengantin baru itu.


"Jangan dibobol dulu, kasihan masih capek," pesan Laut.


"Hajar, Mas. Nggak ada kata capek," timpal Miza.


"Tutorial cuci sprei dulu ke ayah tuh," sindir Hafidz.


Dan Semua candaan itu terpangkas oleh waktu maghrib. Mereka pergi ke masjid bersama, sementara para wanita salat berjamaah di rumah.

__ADS_1


Tala masih nampak di antara mereka semua, gadis itu terlihat diam saja. Ara banyak mengajaknya bicara, barulah Tala mulai membuka suara, dan banyak membahas seputar kegiatannya di rumah sakit. Kepada keluarga besar, Tala dikenalkan oleh Ayesha sebagai calon istri Rud.


"Bunda sebenernya suka sama Tala," bisik Bumi pada Ara.


"Hah?" Ara tak mengerti.


"Bunda mau juga Tala jadi mantu Bunda," jelas Bumi.


"Telat dong," tanggap Ara membuat Bumi mengangguk.


Setelah para pria pulang dari masjid kehebohan kembali tercipta. Keluarga besar itu memang senangnya berkumpul, bercengkrama apa saja yang membuat mereka bahagia.


"Jika seorang pria mengajak istrinya ke ranjang, lantas si istri enggan memenuhinya, maka malaikat akan melaknatnya hingga waktu Shubuh.” © Jida bicara serius pada Ara


"Ara ngerti maksud Jida?" Pertanyaan jida membuat Ara mengangguk. Ia paham, sudah banyak ulasan yang ia baca tentang kewajiban seorang istri pada suaminya.


"Bahkan puasa sunah saja Ara harus minta izin dulu sama mas Ar," lanjut jida. Kemudian katanya lagi, "tidaklah halal bagi seorang wanita untuk berpuasa sedangkan suaminya ada (tidak berpergian) kecuali dengan izin suaminya." ©


"Ara paham maksudnya karena apa?"


"Karena suami berhak meminta haknya kapanpun, entah itu siang atau sepanjang hari. Dan sebaik-baiknya istri adalah yang taat pada suaminya, termasuk melayaninya." Ara mantap menjawab pertanyaan jida.


"Semoga bisa Ara terapkan," harap jida membuat Ara mengacungkan dua jempolnya.


Aro mengajaknya ke kamar setelah terlihat jida tak lagi bicara. Setelah tiba di kamar, pria itu izin kembali untuk turun.


"Aku bicara dulu sama abang, bentar aja," izin Aro saat Ara bertanya mau apa turun lagi?


"Kamu istirahat duluan," bujuknya seraya mengusap pipi Ara.


Akhza sedang menikmati lemon tea sambil memotret ikan-ikan di kolam halaman rumah saat Aro menemuinya.


"Sampe kapan abang nyimpen terus perasaan ke Ara?" keluh Aro.


"Apaan sih?" Akhza mendelik.


"Ara udah jadi istri gue, Bang. Abang bisa mulai buka hati buat yang lain. Gue tahu, Abang marah ke Tala bukan cuma karena perkara kamera," ungkap Aro.


"Sotoy," tukas Akhza seraya membidik ikan yang sedang muncul ke permukaan.


"Maaf, Bang. Gue pengen bahagia sama Ara," lirih Aro.


Akhza menghela napas, ia meletakan kameranya pada meja bundar itu.


"Gue, bahagia liat elo berdua. Jangan mikir macem-macem," bisik Akhza.


"Semoga lo bisa dapetin cewek sesuai yang lo mau," harap Aro.


"Cepetan, bikinin gue ponakan," goda Akhza lalu menyeruput lemon teanya hingga tandas kemudian pergi.


Di kamar, Ara sudah berganti pakaian. Setelah bingung memutuskan apakah akan memakai lingeri pemberian Sanu, akhirnya ia memutuskan untuk memakai piyama saja. Rasanya terlihat aneh saat dirinya mengenakan pakaian tipis nan terbuka itu.


Ara berguling-guling mengganti posisi berbaringnya. Dia kesal sebab Aro tak kunjung datang. Hingga akhirnya derap langkah mulai terdengar dan suara pintu dibuka, Ara cepat-cepat menaikan selimutnya hingga dagu.


Aro rupanya langsung merangkak naik ke atas tempat tidur. Ara mendapati dirinya dipeluk dari belakang oleh suaminya itu. Awalnya ia diam saja, hingga akhirnya, jemari Aro menyelinap lembut pada surai hitamnya. Kemudian mengusap telinga Ara dengan gerakan perlahan. Membuat Ara tak tahan lagi dengan aktingnya.


"Mas," desah Ara seraya membalikan badannya.


Aro tersenyum dengan posisi tangan menyangga kepala.


"Jahil!" sungut Ara menarik tangan Aro yang menyangga kepalanya sehingga membuat pria itu akhirnya berbaring.


"Kamu yang jahil, pura-pura tidur," cibir Aro sambil mencubit pipi Ara.


Ara sudah sangat gugup. Ia harus berbuat apa saat suaminya menyentuhnya nanti.


"Tidur, Ra. Besok pagi kita pindah," beri tahu Aro.


"Pindah?" ulang Ara.


Alih-alih menjawab, Aro malah menarik kepala Ara dan meletakkannya pada lengannya.


"Tidur, Sayang. Aku nggak mau bikin kamu kelelahan. Tidur!" Pria itu memeluk istrinya sambil mengusap kepalanya penuh sayang. Ara yang dalam posisi menghadap suaminya terpaksa terpejam dengan tangan melingkar di perut Aro.


Hingga suara dengkuran halus dari sang istri terdengar, Aro membuka mata dan menciumi kening Ara.


"Kalau kamu gak tidur, aku nggak jamin nggak bikin kamu capek," gumamnya mengeratkan pelukan, merasakan hembusan nafas Ara yang terasa hangat di lehernya.


***


Dibekali berbagai masakan termasuk ayam serundeng, pagi sekali pengantin baru itu pergi meninggalkan rumah ayah dan bunda. Bumi sempat melarang, tapi Aro tetap ingin segera memperlihatkan rumah barunya pada sang istri.


"Loh, kok ke klinik?" Ara heran saat mobil Aro hampir tiba di kliniknya.


Pertanyaan Ara selanjutnya terjawab saat mobil itu memasuki gerbang komplek perumahan.


"Sejak kapan Mas beli rumah di sini?" desak Ara.


"Suka nggak?" Aro malah bertanya saat keduanya sudah sampai di depan rumah bercat hijau dengan gerbang warna putih.

__ADS_1


"Mas, jangan-jangan klinik itu ...."


"Aku cuma ingin melakukan yang terbaik buat kamu, Ra." Aro membawa istrinya masuk ke dalam rumah yang memiliki lantai dua itu.


"Jadi klinik itu?" desak Ara.


"Aku sama abang yang siapkan. Ra, aku udah banyak bikin kamu sedih. Jadi di masa sekarang biarin aku bikin kamu bahagia."


"Tapi," sela Ara.


"Aku ingin menjadi satu-satunya orang yang paling kamu butuhkan," tegas Aro membuat Ara mengangguk.


"Janji, mulai sekarang apapun yang kamu rasakan aku harus tahu. Meskipun itu hanya semut yang menggigitmu, walaupun itu hanya duri yang menusukmu. Aku harus jadi yang paling tahu tentang keadaanmu."


"Mas, makasih." Ara memeluk suaminya, kemudian berjinjit mencium pipi pria itu.


"Aku sebenernya udah pengen dari malem, tapi nggak mau bikin kamu kelelahan. Aku boleh minta sekarang?" pinta Aro.


Ara mengulum senyum dengan pipi merona merah seraya mengangguk.


"Kita salat dulu!" ajak Aro membawa Ara ke kamar utama rumah itu.


Kamar yang akan menjadi saksi cinta mereka berdua. Tempat yang akan menemani keduanya menyulam cinta dan cita.


Hinga selesai salat dan Aro membaca niat yang ia gumamkan tanpa Ara bisa mendengarnya dengan jelas. Pria itu mulai kembali menyusuri setiap keindahan yang Allah pahat menjadi rupa Salasika Arabella.


Ara tentu tunduk, ia terima setiap apapun yang dilakukan suaminya. Ia biarkan ketika helai demi helai kain yang membungkus tubuhnya lepas dari tempatnya.


Tangan lembut yang mengusap dengan halus tiap inci permukaan kulitnya membuat Ara melipat bibirnya ke dalam. Ia terlalu malu untuk bersuara saat gelenyar aneh itu kembali menghampirinya.


"Napas, Ra," bisik Aro mengingatkan, membuat Ara akhirnya bersuara. ******* lembut yang membuat Aro semakin terpacu.


"Gitu dong." Aro tersenyum jahil saat Ara yang sedari tadi terpejam mulai membuka matanya.


"Boleh sekarang, Ra?" pintanya yang sedari tadi memang hanya menyentuh dengan usapan lembut.


Ara mengangguk, meski masih malu karena kini dia sudah tak mengenakan apapun selain selimut yang hanya menutupi setengah badannya. Sementara Aro masih lengkap mengenakan pakaian.


Aro mendekatkan wajahnya ke wajah Ara. Ia kembali memanjakan si ranum yang hari itu tetap dihias lipmatte pink nude. Ara reflek memejamkan matanya.


Aro merenggangkan wajahnya, memberi Ara waktu untuk bernapas. Tak lama, ia kembali memperdalam serangannya hingga rasanya Ara sudah berada pada dimensi lain. Aro melepaskannya sebentar hanya untuk menanggalkan kaus dari tubuhnya. Ia segera kembali, kali ini pindah ke tempat lain yang kemarin belum selesai ia jelajahi.


Ara masih merasakan bibirnya tebal dan panas, namun di tempat lain Aro menggila dan membuat Ara terus mengeluarkan suara yang membuat Aro sesekali bertanya.


"Sakit?"


Ara menggeleng, sehingga membuat pria itu dengan leluasa meneruskan aksinya. Ia tak puas sebentar, saat Ara menyuruhnya berhenti, baru ia berhenti dan kembali melakukannya di tempat lain. Hingga akhirnya ia tiba di bagian yang sedari tadi terus saja menggodanya. Demi tak membuat Ara kaget, ia melakukannya perlahan.


"Kalau sakit bilang," bisiknya kemudian mulai menyentuh bagian itu. Bagian yang sejak kemarin telah menyita dunianya namun kehadiran bunda mengagalkan aksinya.


Awalnya ia hanya menyentuh, perlahan kemudian berani mulai menyerang saat Ara dengan anggukan memberinya izin. Ternyata itu lebih menyenangkan daripada roko yang selama ini sempat ia hisap. Ara menenggelamkan jemarinya disela-sela rambut Aro saat pria itu mulai menggila kembali.


Aro melepaskannya ketika Ara mulai mengaduh dan ternyata bekasnya di sana memang nyata terlihat.


"Maaf," lirih Aro namun Ara seolah mengizinkannya melakukan terhadap tempat lain yang belum suaminya jamah. Di sana masih belum berantakan, masih seputih kapas belum ternoda. Masih pink kemerahan membuat Aro tentu dengan senang hati melakukannya.


Awalnya tentu hanya usapan, kemudian sentuhan yang mulai membuat Ara kembali mengeluarkan suara. Pria itu lagi-lagi menggila dengan menenggelamkan wajah hingga Ara kembali meremas rambutnya.


"Masih kuat?"


Kali ini Ara menggeleng, sungguh rasanya tak bisa dijelaskan lagi sebab semua terasa panas dan saat dilihat. Mengerikan.


Aro kembali bergerak, kali ini akan tiba pada apa yang ingin dicapainya. Ara sempat berteriak saat Aro baru menyentuhnya dengan telunjuk.


"Mas, aku takut," desah Ara.


"Belum siap?" tanya Aro, namun Ara menggeleng. Ia tak ingin membuat suaminya kecewa.


"Mas, baca do'anya ya nanti pas itu tuh. Biar saat Allah menakdirkan usaha kita menumbuhkan zuriatmu dalam rahimku, kita dikaruniai anak yang soleh dan soleha."


"Iya, aku tahu," tukas Aro. "Boleh lanjut?"


Hanya anggukan kecil yang Ara berikan, namun sudah cukup membuat Aro kembali memulainya. Dari awal. dari atas hingga ke tengah lalu tiba di tempat yang menjadi tujuannya. Di sana, ternyata sudah sangat bagus. Pemanasan yang Aro lakukan ternyata berhasil.


Ia yakin Ara sangat menikmatinya juga, sebab saat dirinya mulai masuk ke sana Ara hanya memejamkan mata seraya menenggelamkan kuku-kukunya pada punggungnya.


Meski ternyata sedikit sulit ketika melewatinya, dan membuat Ara menjeritkan namanya dengan kedua mata berair. Akhirnya ia mampu menembus bagian terpenting itu. Ara terus menceracau, mendesahkan nama suaminya berulang-ulang. Yang terus-menerus disebut namanya hanya tersenyum puas. Hingga akhirnya ia berhenti sejenak menggumamkan do'a yang dimaksud Ara kemudian kembali mengajak Ara mengawang, dan selesai.


"Makasih, Sayang," bisiknya mencium kening Ara kemudian memeluknya di balik selimut. Ara mengangguk pelan dengan mata masih terpejam, ia rasanya kehilangan seluruh tulang dalam tubuhnya.


.


.


.


Ehm, maaf diup pagi-pagi. Biasanya kalau malam banyak sekali tugas.


Sumber https://rumaysho.com/2205-kewajiban-istri-1.html

__ADS_1


(HR. Bukhari no. 5193 dan Muslim no. 1436).


__ADS_2