Langit Untuk Ara

Langit Untuk Ara
Tiada Arti


__ADS_3

Ara merapikan tempat tidur sebelum akhirnya dirinya merebahkan diri di sana.


Nggak boleh kayak gini Ra, kamu itu mau nikah. Kamu harus bisa lupain mas Ar.


Ara berbaring miring memeluk guling dengan dada yang kembali bergemuruh. Sosok Aro yang justru selalu menyakitinya sedari kecil justru membuatnya jatuh sedalam-dalamnya pada pesona pria yang bahkan sangat kasar terhadapnya itu.


Satu yang selalu Ara sadari, hatinya selalu bergetar bila Aro menyebutkan namanya. Pria itu susah sekali ditebak, kadang bersikap seolah suka juga. Kadang malah sangat jahat dan seolah tak memiliki hati.


Baru akan terlelap, dering ponsel kembali membuat matanya terbuka lebar. Ara meraih ponselnya dan langsung menjawab panggilan yang berasal dari Cici.


"Hallo, Cici. Ganggu nih, aku mau tidur tahu!"


"Mentang-mentang udah laku, jam segini mau tidur."


"Ada apa, Ci?"


"Kamu nginep rumah mami kamu dong, aku lagi di sini nih!"


"Mami kemarin masih di luar kota, Ci."


"Luar kota? Mami kamu nggak pernah ke luar kota, loh, Ra."


Ara sejenak terdiam, ia tidak tuli saat maminya bilang tak bisa hadir di acaranya bersama Sakaf sebab sedang berada di luar kota.


Cici memgakhiri panggilannya dengan berpesan sore ini Ara harus sudah sampai di kediaman maminya itu. Ara melirik jam pada layar ponselnya lalu kembali beranjak merapikan tempat tidur. Memeriksa tasnya dengan mengabsen seluruh barang-barang. Jangan sampai ada yang tertinggal. Ara harus cepat kembali ke rumah jidda sebelum benar-benar pulang ke rumah maminya.


***


"Nggak bisa ditarik, itu berita dibikin sengaja buat naikin rating serial lo sama Risa," jelas Omar membuat pria jangkung itu menendang tulang keringnya.


"Gue nggak pernah mau gunain cara-cara kayak gini!" sentak Aro dengan kedua tangan mengepal. "Lagian ngapain sih artis kardus macam Risa dipake jadi peran utama, pamor dia yang bikin serial kita susah naik rating."


"Man, paling seminggu juga berita ini redup. Lo jangan berlebihan," ujar Omar berusaha menekan amarah Aro.


"Gue punya keluarga, bunda pasti murka banget sama gue!" teriak Aro membuat langkah pelan Ara terhenti.


Ara memundurkan langkahnya, ia berdiri di balik guci besar yang tingginya hampir sama dengan tubuhnya.


"Keluarga lo, atau Ara?" tuding Omar.


"Kok bawa-bawa Upil, sih?"

__ADS_1


"Lo naksir Ara?"


"Sembarangan, ngapain gue naksir sama dia? Lo bacot tuh dijaga jangan bikin gosip!"


"Tadi katanya lo mau ngapa-ngapain dia, nggak mungkin ngapa-ngapain kalo nggak suka?"


"Emang buat ngapa-ngapain harus suka? Lagian pas gue lihat bentukan dia nafsu gue jadi ilang, kayak liat tukang sapu di lokasi syuting tahu, nggak?"


Sementara Ara yang sudah mendengar dengan jelas bahwa dirinya yang tengah dibicarakan oleh Aro dan Omar merasa seperti dihujam ribuan tombak tepat di hati dan jantungnya.


Perkataan Aro benar-benar menghancurkan dunianya. Ia remas dadanya berkali-kali dengan sesak sekaligus gemuruh yang tak berkesudahan.


Matanya terasa panas dengan penglihatan yang kabur. Ara bersandar, namun salah bukan pada tembok melainkan pada guci tempatnya bersembunyi.


Guci itu terjatuh, tidak pecah namun membuat persembunyiannya terbongkar. Aro dan Omar mendapatinya sedang menunduk dengan tangan meremas dada.


Ara tak berani menegakkan kepalanya, pipinya telah basah oleh bening kristal yang sudah tak bisa ia tahan untuk tak jatuh. Ara menangis tanpa suara, hatinya hancur. Rasanya lebur, bahkan sebelum sempat mulutnya bertutur.


"Ra, lo kenapa?" tanya Omar khawatir.


Aro yang menangkap kesedihan adiknya itu langsung merasa bersalah. Apa barusan perkataannya di dengar Ara? Bukankah selama ini saat Aro berkata kasar Ara tak pernah mempermasalahkannya? Aro tepis rasa bersalahnya itu. Ia kesampingkan rasa khawatir terhadap gadis itu.


Ara masih pada posisinya, hanya kini ia sandarkan tubuhnya pada dinding.


"Piil ...."


Ara mengangkat tangannya seolah ingin berkata, "diamlah, jangan mendekat."


"Aku nggak apa-apa," ucap Ara setelah dirasa emosinya mulai sedikit bisa diatur.


Ara menghirup napas dalam, kemudian melepasnya perlahan. Berharap segala sesak dapat luruh bersama napas yang dihembus.


"Aku mau pulang ke rumah mami sekarang, Mas," ucap Ara seraya menegakan badannya. Ia pikir tak usah ke rumah jidda dulu. Ia akan segera ke Bogor.


"Gue anter, ya?" tawar Aro dan dihadiahi gelengan oleh Ara.


"Sama gue mau, Ra?" tawar Omar membuat Ara menatap Omar. Berusaha mencari ketulusan di mata Omar. Omar tesenyum hangat, menampakkan barisan giginya yang putih bersih.


Pria tambun yang mengenakan celana pendek dengan kaos hitam bergambar Tazmania itu kembali bertanya, "Gue yang anter?"


Ara mengangguk, ia tak ingin sendirian saat ini. Setidaknya ia ingin ada seseorang yang bisa diajak bicara. Apa saja, asal membuatnya lupa akan luka.

__ADS_1


"Kalau Omar yang anter, gue boleh ikut?" pinta Aro sedikit menuntut.


"Kalau Mas ikut, aku lebih baik naik taksi online aja," sahut Ara ketus. Ia sungguh ingin enyah dari hadapan Aro. Tak ingin melihat wajahnya, tak ingin mendengar suaranya, dan aah Ara tak ingin mencium aroma yang terasa segar sekaligus mematikan dari tubuh Aro.


"Udah, lo tunggu aja di sini. Adek lo aman sama gue," ujar Omar seraya menepuk dada Aro.


Aro kali ini mengalah, setidaknya ia tahu Ara akan ke mana dan bersama siapa.


Setelah itu Ara melangkah terlebih dahulu kemudian Omar mengikutinya. Aro menatap punggung adiknya dengan perasaan bersalah yang amat. Haruskah meminta maaf?


***


Akhza


Dirinya sudah jauh lebih merasa baik, perutnya tak lagi perih seperti semalam. Demamnya pun sudah benar-benar pergi, menyisakan lemah saja. Tinggal butuh istirahat yang banyak dan minum air putih sesuai porsi.


Akhza mengetukkan jarinya ke sandaran sofa menunggu Ara membalas pesannya. Hari sudah lewat duhur dan Ara masih tak memberi kabar. Padahal pada pesannya, Akhza meminta Ara memberitahukan keberadaannya.


Kamu lagi ngapain sih, Ra? Hatiku nggak pernah tenang kalau tahu kamu lagi sama mas Ar.


Akhza masih saja menatap langit yang siang itu birunya sangat indah. Ia lagi-lagi mengukir wajah cantik Ara di sana. Membuatnya seolah Ara sedang tersenyum untuknya. Hingga ketukan di pintu disusul dengan suara derap langkah yang semakin mendekat membuat Akhza mengalihkan pandangan ke arah sumber suara.


Adalah Bumi yang masuk ke dalam kamarnya, membawa segelas ramuan herbal yang tadi pagi dibuat oleh Ara


"Ara pulang ke rumah mainya," beritahu Bumi seolah hapal Akhza sedang memikirkan adiknya. "Tadi dia nitip pesen sama Bunda supaya Abang minum lagi ramuan kunyit ini."


Akhza tersenyum seraya berkata, "Ara tadi bawa kurma juga buat penawar kesatnya."


Bumi menunjukkan kurma yang dibungkus tisu yang di genggamannya, "Ara juga yang ingetin Bunda buat kasih Abang ini abis minum jamunya."


Akhza tertawa, ia segera meminum ramuan kunyit itu kemudian menghabiskan tujuh buah kurma seperti tadi pagi


***


Langit siang itu sangat indah, birunya dihias awan yang berarak. Panas tak terlalu terik, membuat jalanan sedikit padat. Ara sudah menyarankan Omar agar lewat tol saja supaya cepat sampai ke Bogor.


"Ra, lo suka sama Aro?" tanya Omar membuat Ara yang sedang melamun tersentak.


"Kebaca ya, Kak?" Ara balik bertanya sekaligus meminta pendapat Omar.


"Kebaca banget, Ra ...."

__ADS_1


"Perasaanku nggak ada artinya, mau nikah juga akunya," tutur Ara lagi-lagi seraya mengusap cincin di jarinya.


Omar tak lagi bicara, ia fokus menatap jalanan. Kini mereka sudah memasuki gerbang tol, membuat Omar bisa leluasa sedikit menancao gas agar cepat sampai ke Bogor sesuai keinginan Ara.


__ADS_2