Langit Untuk Ara

Langit Untuk Ara
Bagaimana Bisa Bergandengan?


__ADS_3

Ara


Lipbalm ia sapukan pada bibir tipisnya. Hijab berwarna mustard begitu menyatu dengan wajahnya yang putih bersih. Gamis berwarna putih dengan renda pada bagian tangannya terkesan sederhana namun sangat menyempurnakan penampilannya. Ara membubuhkan beberapa tetes minyak telon pada telapak tangannya. Ia hirup dalam-dalam aromanya yang menenangkan itu.


Tak lama pintu diketuk dari luar bersamaan dengan Bumi yang memanggil namanya. Ara sekali lagi mematut diri pada cermin kemudian cepat membuka pintu.


"Waah, anak Bunda, cantiknya," ujar Bumi seraya mencium ujung hidungnya.


"Bunda lebih cantik," sahut Ara melingkarkan tangannya pada pinggang Bumi.


"Mereka udah dateng," beritahu Bumi membuat Ara sedikit meringis. Debaran dalam dadanya tak bisa ia sembunyikan. Walau ini artinya pertemuan ketiga kalinya dengan Sakaf, ia masih merasa belum mengenal sosok itu dengan baik.


"Jadi hari ini tunangan, gitu, Bun?" selidiknya membuat Bumi menganguk.


"Ara nikah, Bun?" tanyanya.


"Kamu ragu? bisa kamu sampaikan malam ini sebelum semua lebih jauh lagi."


"Enggak, Bun," elak Ara.


"Ya udah, ke bawah sekarang, yuk?" ajak Bumi dan diangguki Ara.


Keduanya berjalan bersisian saling berpegangan tangan. Bumi sesekali berbisik sesuatu pada Ara. Meminta anak gadisnya agar bersikap baik dan ramah terhadap calon mertuanya.


Hati Ara berdebar tak karuan saat mendapati calon suami bersama keluarganya duduk di ruang tamu. Adik Sakaf yang bernama Ainun terlihat cantik dalam balutan hijab berwarna moccha.


Memang definisi keluarga bahagia yang harmonis. Kedua orang tua yang masih terlihat tampan dan cantik meski tak lagi muda. Dan anak-anak yang memiliki paras rupawan.


"Assallamu'allaikum," sapa Ara. Dirinya segera menyalami Rain, calon ibu mertuanya.


Ara disambut hangat oleh Rain dan juga Raga. Tak lupa si cantik Ainun juga memberinya pelukan seperti biasa. Saat pandangnya bersitatap dengan Sakaf, hatinya bergemuruh hebat.


Ara mengatupkan kedua tangan seraya mengulum senyum, dibalas hal sama oleh Sakaf yang membuatnya sedikit salah tingkah. Ara duduk diapit Akash dan Bumi, saling berhadapan dengan keluarga calon suaminya.


"Apa kabar, Ra?" tanya Rain ramah. Guratan cantik pada wajahnya membuat Ara tak jemu memandang calon ibu mertuanya itu.

__ADS_1


"Allhamdullillah, Tante, baik," sahut Ara.


"Loh kok Tante? panggil Bunda saja, Sayang," ujar Rain membuat Ara tersipu malu.


"Iya, Teh, kan habis ini juga nikah, jangan malu-malu," imbuh Ainun seraya menyenggol lengan Sakaf yang diam tanpa ekspresi.


"Eh, tapi, kok ini sepi? mana si kembar sama si bungsu?" tanya Ragga.


Ketiga jagoan Bumi dan Akash memang belum ikut berkumpul, mereka masih berada di kamarnya masing-masing. Padahal sudah sedari tadi Bumi mengingatkan agar ketiganya ikut hadir dalam acara keluarga ini.


"Saya pamit panggil mereka dulu ya," ujar Bumi seraya beranjak dari duduknya.


Dalam hati ia sudah banyak mengomel. Kenapa tiga jagoannya itu suka sekali membuat Bumi naik darah? Bumi mengetuk pintu kamar Akhza, sang pemilik kamar segera membuka pintu. Jelas-jelas penampilan putra pertamanya itu sudah rapi. Memakai celana jeans biru dengan kemeja putih yang lengannya digulung. Rambutnya sudah disisir rapi. Calon dokter, penampilannya harus selalu sedap dipandang.


Bumi segera menyuruh Akhza untuk turun, tak lupa tatapan mengancam ia arahkan agar putranya itu menuruti perintahnya. Bumi juga meminta Akhza memanggil Atar agar segera turun.


Setelah itu, ia beranjak menuju kamar Aro. Lama sekali Aro membukakan pintu untuknya. Hingga akhirnya Bumi membuka sensiri pintu kamar Aro. Bumi mendapati Aro sedang tengkurap seraya asyik mendengarkan musik menggunakan ear phone. Pantas ketukkan pintunya diabaikan.


"Mas, inget kata Bunda nggak sih?" Bumi menarik ear phone dari daun telingan putranya itu.


"Apa, Bun?" Aro balik bertanya.


"Oh, iya. Si Upil kan mau tunangan," ujar Aro menepuk jidatnya. "Ayok, Bun, aku udah siap," imbuhnya seraya beranjak duduk.


"Yakin mau pakai baju seperti itu?" Bumi menyelisik ke arah Aro. Anaknya itu hanya mengenakan celana pendek berwarna hitam dengan kaos putih sebagai atasan.


"Artis mah gini doang udah bikin klepek-klepek, Bun," ujar Aro seraya mencium pipi Bumi.


Bumi mengacak rambut putranya itu, tapi kembali merapikannya. Ditangkupnya kedua pipi sang idola banyak kaum hawa itu. Guratan wajah Akash memang melekat jelas di sana.


"Kamu tuh ganteng, lebih ganteng dari yang buatnya," celetuk Bumi membuat Aro tertawa seraya melingkarkan kedua tangannya di pinggang sang Bunda.


"Aku janji nanti cari istri yang baiknya kayak Bunda," ucap Aro.


"Cari yang seperti Ara, sebetulnya Bunda berat banget lepasin dia buat orang lain." sesal Bumi sedih.

__ADS_1


"Kalau berat, kenapa nggak direstuin aja Abang sama si Upil?" tanya Aro. Bumi sudah sering menyuruh Aro mengubah panggilannya terhadap Ara, tapi anak itu tetap tak menurut.


"Jidda sama umma Zha itu agak susah dibujuk, sejak awal mereka emang yang paling kurang suka Bunda adopsi Ara."


Raut sedih jelas terpancar dari wajah Bumi. Aro menggenggam erat tangan Bundanya. Ia dapat merasakan betapa bundanya itu sedang berada dalam fase kesedihan namun, berusaha menyembunyikan.


"Ngelepas anak perawan nikah tuh emang berat, ya, Bun?" tanya Aro yang diangguki Bumi.


"Ya udah, ayok kita turun. Tadi Bunda yang nyuruh aku cepet-cepet," ajak Aro.


Keduanya beranjak dari tempat tidur, berjalan saling bersisian. Aro masih erat menggenggam tangan Bumi. Hingga keduanya keluar dari kamar, Akhza dan Atar masih berdiri di depan kamar Akhza.


"Loh, kok belum ke bawah?" tanya Bumi.


"Bareng Bunda dong," sahut Atar.


"Ya udah, ayok bareng. Udah besar masih harus sama Bunda."


Atar segera bergelayut manja di lengan kanan Bumi, sementara Aro mengenggam tangan kiri Bumi. Ketiganya berjalan beriringan dengan Akhza mengekor di belakang mereka.


Ara


Ia merasa canggung padahal ada Akash yang menemaninya. Pembicaraan didominasi Ragga dan Akash seputar bisnis mereka. Saling membicarakan perkembangan usaha masing-masing. Rain sesekali menyahuti, sementara Sakaf hanya tersenyum saat Akash sesekali memujinya.


Ara sendiri tak berani membuka suara, meski tak jarang Akash terang-terangan sering memujinya. Mengabsen beberapa masakkan yang sering Ara masak dan rasanya lezat.


"Waah nanti bisa betah di rumah ini Kakak kalau istrinya seperti ini, sudah cantik pintar masak pula." Rain memuji Ara dan lagi-lagi membuat Ara tersipu.


"Ayah terlalu berlebihan, Tan. Aku nggak semahir itu, cuma bantuin Bunda doang," sanggah Ara.


"Eeeh kok panggilnya Tante lagi sih? Bunda dong," ralat Rain.


"Iya, Bunda ...," sahut Ara ragu-ragu.


Pandangan Ara tertuju pada Sakaf. Pria itu datar sekali, bicara hanya seperlunya. Guratan wajahnya sangat serius. Definisi pria dingin yang menakutkan. Bisakah dirinya hidup berdampingan dengan pria seperti itu?

__ADS_1


Belum sempat Ara memalingkan pandangan, Sakaf menangkap basah tatapannya. Keduanya bertatapan, Ara berusaha tersenyum, namun Sakaf malah membuang pandangan membuat Ara menghela nafas.


Jika senyum untukku saja enggan, bagaimana bisa kita bergandengan?


__ADS_2