Langit Untuk Ara

Langit Untuk Ara
Ekanta Bimala (1)


__ADS_3

Aro menelepon Omar dan menyuruhnya segera datang ke rumah orang tuanya. Hampir magrib saat pria bertubuh tambun itu tiba.


“Hidup elo enggak bisa ya bikin gue tenang sebentar aja,” omel Omar begitu sampai dan Aro menyambutnya di bibir pintu.


“Ini bahaya, menyangkut ketenteraman hidup gue. Elo harus nolongin gue kali ini.” Aro merangkul bahu Omar dan mengajaknya ke ruang tamu.


Di atas meja segi empat itu sudah terhidang dua gelas jus strawberry dan keripik pisang dalam stoples besar. Stoples berwarna ungu yang akan membuat bunda marah bila tutupnya hilang. Seram.


“Mar, Davina nyuruh gue kantor Wisnu malam ini.” Aro langsung bicara pada inti permasalahan.


“Hubungannya sama gue apa?” Omar mulai membuka tutup stoples keripik pisang dan memeluk benda berbentuk bulat nan panjang itu dengan penuh sayang.


“Elo yang pergi deh, Ara nggak ngizinin gue,” adu Aro membuat Omar terbahak. Remahan keripik menyembur ke udara.


“Bang ke, jorok lo!” umpat Aro.


Omar terkekeh geli, “Elo golongan suami takut istri, Ar?”


“Gue bukan takut, Cuma enggak mau bikin dia kecewa,” jelas Aro seraya menendang dengkul Omar yang kembali asyik mengunyah keripik.


“Lagian ngapain jadi Davina yang nyuruh? Wisnu enggak ada ngomong apa-apa ke gue. Dia mesen kaos kalau elo mau tahu. Lo balik, dia nelpon,” papar Omar dengan mulut penuh.


“Davina minta gue jemput dia, terus bareng ke kantor Wisnu buat lihat anak-anak yang mau casting serial Langit dan Bintang,” ujar Aro menyebutkan judul serial yang naskahnya ia tulis sendiri.


Mau seterkenal apa pun film atau serial yang tayang dan beredar, tetap nama Davina yang muncul pada layar setelah drama usai. Aro, tetap hanya ada di belakang.


“Aneh, dia suka kali ke elo,” celetuk Omar membuat Aro berpikir.


Davina memang selalu perhatian padanya. Menceritakan banyak hal, tapi tak pernah Aro tanggapi.


“Jangan sembarangan, Mar. Ara denger bisa salah paham,” keluh Aro.


“Logikanya ya, Ar. Ngapain Davina ngajak elo dan minta dijemput kalau bukan suka?” Omar mengacung-acungkan telunjuknya.


“Man, Davina udah punya suami. Lebih kaya dari gue, apa lagi yang kurang?”


“Kejantanan. Suami Davina impoten. Bukan rahasia lagi, Ar. Makanya Davina haus belaian,” beri tahu Omar dengan suara rendah membuat Aro bergidig ngeri.


“Kok gue nggak tahu?” Aro menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


“Elo terlalu flat setelah keluar dari jeruji besi.” Omar menutup kembali stoples itu lalu menyesap jus strawbery yang masih segar.


Minuman dingin itu terasa sejuk membelai tenggorokan Omar. Membuatnya berucap, “ah mantap!”


“Gue sama Davina udah kerja sama enam tahun. Kenapa baru sekarang ini dia seolah deketin gue?” tuding Aro.


“Laki orang emang lebih menantang kali,” seloroh Omar kembali menyesap minumannya. Manis yang dirasakan, membuat Omar tak tahan untuk tak menghabiskan jus itu.


“Jadi gimana?”


“Enggak usah dateng, sekalian aja elo berenti nulis naskah. Ara juga pasti nggak setuju elo masih aja garap naskah-naskah itu,” saran Omar.


Obrolan keduanya terpangkas oleh azan Magrib. Aro beserta Akash, Atar dan Fadan pergi ke masjid sedangkan Omar salat di rumah dan meminta izin segera kembali ke toko.


Setelah Isya, Aro baru berani kembali ke kamar. Ia mendapati Ara sedang melantunkan ayat suci Al-Qur’an. Pria itu menunggu sambil membaringkan tubuhnya di tepian tempat tidur.


Hingga Ara selesai mengaji, dan melepas mukena serta menyimpan kembali Qur’annya ke atas nakas, barulah Aro beranjak untuk duduk.


“Ara, main yuk!” goda Aro bicara dengan nada selayaknya anak kecil.


Ara menyimpulkan senyum, ia sebenarnya masih jengkel, tapi Aro membuat hatinya menghangat.


“Upil, sini pil,” panggil Aro seraya melambaikan tangan.

__ADS_1


“Enggak jadi pergi?” Ara mendekat dan duduk di samping suaminya itu.


“Enggak, kamu nggak suka ‘kan?” Aro merangkul bahu Ara.


“Cuma enggak mau Mas balik ke hal-hal yang salah. Mas tuh orangnya suka nggak enakan. Dan, maaf, aku kurang percaya sama temen-temen Mas itu. Setelah apa yang terjadi beberapa tahun lalu.” Ara menyandarkan kepalanya di dada Aro.


“Bukan aku mau so’ ngatur, Mas. Tapi itu lah gunanya kita menikah, saling mengingatkan. Dan ....” Ara menggantung kalimatnya kemudian menjauhkan diri sedikit dari Aro.


Tangan Aro sampai lepas merangkul bahu istrinya itu.


“Berhenti nulis yang bikin waktu istirahat keganggu. Menulis itu harus bikin Mas bahagia. Bukan malah sebaliknya. Aku udah baca naskah yang Mas buat, bagus. Tapi, kalau sampe bikin malam-malam Mas begadang apa lagi minum kopi tanpa aturan, itu nggak baik. Aku nggak mau loh jadi janda muda,” seloroh Ara setelah bicara panjang lebar.


“Siapa juga yang rela ninggalin istri secantik ini,” balas Aro.


“Dan satu lagi, aku nggak suka kalau Mas terlibat lagi di dunia hiburan. Awalnya nyoba, nanti malah nyaman sampe lupa kalau yang di rumah lebih menawan,” sindir Ara.


Definisi dari mencintai diri sendiri. Memuji diri sendiri, meski baru pertama kali ini ia lakukan.


"Enggak bakal, kamu tenang aja." Aro kembali menarik tubuh Ara kembali ke dalam pelukan.


"Besok kita pulang. Aku mau buka klinik ya, Mas," pinta Ara tak langsung diangguki Aro.


Mereka baru menikah beberapa hari, Aro rasanya belum ikhlas kalau harus melihat istrinya kembali bekerja.


"Mas, boleh nggak?" desak Ara saat suaminya tak memberi jawaban.


"Iya, boleh. Tapi aku ikut," pinta Aro dan diangguki saja oleh Ara. Tak mau ambil pusing.


Sekembali dari rumah bunda, setelah fakta tentang ayah terungkap, dan klinik buka kembali hari-hari Ara semakin sibuk. Aro juga sudah mulai sering pergi ke toko, ia tetap melanjutkan naskah, dan kini menambah usaha dengan membuka car wash di samping barber shopnya.


"Otak lo isinya cuma bikin gue ribet ya," sindir Omar saat melaksanakan syukuran pengajian pembukaan usaha Aro yang baru itu.


Aro hanya menanggapinya dengan terkekeh. Ara yang mendengarnya juga hanya menggeleng. Suasana ramai, hampir seluruh keluarga datang. Kecuali jidda, uti, dan Yati yang sudah kembali ke kampung.


"Ini namanya sayur ranjau," celoteh Akhza saat hendak menyendok sayur ase buatan Fenti yang menjadi menu favorit Ara beberapa hari ini. Sayur yang isinya dominan cabai hijau besar. Sungguh segar dan pedas.


"Abang, jangan banyak-banyak itu pedes!" Bumi mengingatkan anaknya.


Keluarga besar itu memang selalu ramai jika berkumpul. Apa lagi dengan kehadiran Fatimah yang tak mau diam. Hingga Fadan yang bertugas menjaga anak itu -sebab Sanu sedang makan- kewalahan dibuatnya.


Di kursi pada pojok ruangan, Akhza dan Alisha duduk bersama. Mengobrol banyak hal, termasuk saling meledek dengan status mereka yang masih jomlo. Awalnya tenang, sebelum akhirnya Omar datang dan membuat huru-hara.


"Gue jomlo wajar. Nggak ganteng dan bukan bos. Laah kalian jomlo, nggak wajar. Yang satu dokter ganteng pula. Yang satu owner butik pakaian muslimah, cakep juga," ledek Omar pada Akhza dan Alisha.


"Tuh tuh lihat, suami istri terlebay," tunjuk Omar pada Ara yang sedang membersihkan mulut suaminya dengan tisu basah.


"Mas, sengaja banget kalau makan dibelepotin biar aku elapin 'kan?" sungut Ara membuat Aro terkekeh.


"Atau tuh adek lo, ca." Omar menunjuk Miza dan Sanu yang sedang makan. Sanu sabar menyuapi Miza yang sedang menggendong Fatimah yang akhirnya tertidur.


"Dia kalau tidur cantiknya kebangetan, persis maminya," puji Miza menatap penuh cinta pada Sanu yang tersipu.


"Atau itu, Bang. Rud sama Tala, calon pengantin." Omar kali ini menunjuk pada Rud dan Tala serta Ayesha dan Laut.


"Iih enggak, Ma. Abang bohong, aku enggak se bar bar itu sampe ngejar penyanyinya. Abang fitnah," protes Tala saat Rud berkata beberapa waktu lalu Tala mengejar salah satu penyanyi favoritnya ketika mereka datang ke acara Jakarta fair.


"Aku ke sana cuma pengen lihat standnya temenku yang jualan kaos. Nanti ke sana lagi yuk, Bang!" ajak Tala yang nampak cantik dengan dress selutut warna broken white dipadu cardigan krem yang lembut. Rambutnya tergerai indah dengan jepit kupu-kupu di sebelah kiri kepalanya.


"Iya, Sayang." Singkat Rud menjawab, namun ditambah gerakan menyelipkan rambut Tala ke belakang telinga. Membuat Akhza membuang pandangannya. Muak.


"Kenapa langsung buang muka?" tanya Omar.


Suara tinggi Tala kembali menyita perhatiannya.

__ADS_1


"Iih, enggak. Abang kerjaannya fitnah aku terus. Aku cuma makan baksonya tiga, Mama. Abang ih!" omel Tala seraya memukul lengan Rud yang sedang tertawa.


"Abang, aku ngambek ah!" sungut Tala memberengut kesal membuat Rud jadi gemas mencubit kedua pipinya.


"Hih dasar berisik. Dia di rumah sakit juga selalu berisik. Kerjaannya nyanyi-nyanyi gak jelas sambil main tik tok. Kadang mukbang, sampe sering lari-lari dengan rambut basah kalo kebagian jadwal pagi. Aneh, apa yang bikin Rud suka ke dia?" cibir Akhza.


"Sama pasien tuh bawel, segala ditanyain. Sengaja caper kali, paling males kalau udah ketemu dia di ruangan pasien. Kerjaannya ngajakin ketawa pasien, nggak ada seriusnya. Tuh lihat, sengaja banget ketemu Rud pake baju begitu. Nggak mikir apa kita di sini pengajian bukan lagi mantai." Akhza selanjutnya bicara tentang Tala seolah dia paling tahu keseharian gadis itu.


"Apa lagi kalau udah jualan rujak mangga, berasa buatan dia paling enak."


"Tunggu, lo kok hapal banget ya kelakuan Tala. Sedetail itu sampe rujak mangga lo perhatiin," ledek Omar.


"Bahaya nih, Mar. Bisa patah hati untuk kedua kalinya ini orang," sindir Alisha.


"Iih Abang, enggak ya. Mana ada aku jarang mandi, jarang keramas. Mama, Abang bohong," rengek Tala seraya memeluk lengan Ayesha sedangkan Rud dan Laut hanya tertawa.


"Tuh, manja juga 'kan? semenye-menye itu sikapnya. Bikin gerah!" Akhza berdiri membawa serta kameranya. "Gue cari angin dulu deh ke atap," pamitnya.


Atap bangunan yang dibuat sedemikian rupa menarik agar nyaman untuk dijadikan tempat bersantai. Dengan ujung mata yang masih memperhatikan gerak gerik Tala, Akhza menaiki undakan tangga yang terbuat dari besi.


Tala yang sesungguhnya dari tadi memperhatikan Akhza pun, mengekori dengan ujung mata ke mana langkah pria itu pergi. Hingga akhirnya ia pamit pada Ayesha untuk ke toilet padahal mengikuti langkah Akhza.


Di atap, Akhza duduk pada kursi yang menghadap meja bulat.


"Kenapa harus dia, sih?" gumamnya kemudian kembali beranjak sebab tertarik oleh beberapa kaktus yang berada pada pot putih berukuran kecil.


"Ara emang serba bisa. Apa pun yang dia urus pake tangannya selalu cantik. Kayak mas Ar yang kelihatannya tambah bahagia," monolog Akhza seraya memotret kaktus itu.


Saat hendak ingin kembali membidik gambar, sebuah tangan tiba-tiba menghalangi pandangannya.


Akhza terpaku ketika melihat yang di hadapannya adalah Tala. Gadis itu tersenyum. Aroma parfum Tala yang lembut, membelai indra penciuman Akhza. Diam-diam, Akhza terbuai.


"Abang, boleh ngobrol bentar?" pinta Tala membuat Akhza meninggalkannya untuk kembali duduk.


"Abang, sebentar," ulang Tala.


"Ayo ngomong, jangan lama-lama!" ketus Akhza tanpa menoleh pada lawan bicaranya yang kini berdiri tepat di belakangnya.


"Abang kenapa sekarang jadi selalu kasar lagi ke aku?" Tala menumpukan kedua tangannya pada sandaran kursi kayu yang Akhza duduki. Jarak keduanya sangat dekat. Akhza dapat mendengar embusan napas Tala. Dia benci, tapi suka.


"Gue emang gini orangnya," sela Akhza.


"Enggak, Abang orang baik!" sanggah Tala.


"Jangan sok tahu!" tegas Akhza.


Tala tak serta-merta menimpali, ia malah memeluk bahu Akhza. Sedikit membungkukkan badan dan meletakan dagunya pada pundak Akhza. "Andai aku bisa milih dengan siapa aku akan hidup, Bang."


Akhza membeku, ia ingin melepaskan diri tapi embusan napas Tala membuatnya menikmati keadaan itu.


"Semoga hubungan kita bisa lebih baik. Aku pasti senang kalau kita bisa berteman." Tala melepaskan pelukannya. Ia merasa lega telah mengungkapkan perasaannya.


Gadis itu kembali turun, tak ingin membuat Rud menunggunya terlalu lama.


Andai aku bisa memilih dengan siapa aku akan hidup. Kalimat Tala terngiang-ngiang di telinga Akhza. Apa yang sebenarnya terjadi? benak Akhza memupuk tanya. Kenapa ada nada getir saat Tala mengucapkan kalimat itu. Bukankah dia terlihat bahagia bersama Rud?


.


.


.


Semoga siang bisa up lagi hehe

__ADS_1


__ADS_2