
Cici datang setelah 30 menit Ara menunggunya. Usia Cici memang 7 tahun lebih tua dari Ara, tapi gadis itu masih enggan melepas masa lajangnya. Entah apa sebabnya, yang pasti setiap kali ditanya dia hanya akan menjawab belum ditemukan oleh pangeran berkuda.
"Nggak apa-apa nih aku ke sini?" tanya Cici begitu duduk di samping Ara pada bangku plastik berwarna hijau.
"Nggak apa, Ci. Bidan Army tuh baik kok," jelas Ara.
"Kamu makin glowing aja sih mukanya," komentar Cici menyelisik ke wajah Ara.
"Masa' sih, Ci?" tanya Ara tak percaya seraya memegangi kedua pipinya.
"Skin carenya apa?" selidik Cici, kemudian masih katanya, "jangan jawab air wudu, aku nggak bisa niru soalnya."
Sama seperti Vanya, Cici adalah non muslim, mengikuti keluarga besarnya. Lain halnya dengan Ara yang memang dirawat dan dibesarkan oleh Bumi dan Akash sedari kecil.
"Kalau Cici mau nanti aku ajarin," sahut Ara.
"Aku lebih mau diajarin cara memikat pria, hebat nih diam-diam udah tunangan aja," celetuk Cici membuat wajah Ara merona.
Baru akan menanggapi celoteh Cici, datang seorang pasien ibu muda yang menggendong bayi. Dalam hati Ara sudah was-was, khawatir bila minta diimunisasi. Bidan Army belum datang, dan dirinya tak berani menyuntik bayi.
"Ada yang bisa dibantu, Teh?" tanya Ara setelah mempersilahkan pasiennya duduk.
"Mau beli pil KB, Bu," jawab pasien itu.
"Kartu berobatnya dibawa?" tanya Ara.
"Ini, Bu," sahut pasien itu seraya menyerahakan kartu kecil berwarna biru.
Ara membaca sejenak data sang pasien yang ternyata bernama Dwi Agusti. Usianya sama dengannya, masih muda dan masih cantik.
"Teteh udah biasa pakai pil KB ya?" selidik Ara membuat Dwi Agusti mengangguk.
"Dedeknya digendong sama tante saya dulu boleh, 'kan?" tanya Ara seraya beranjak dari duduk dan menatap Cici dengan senyum dikulum. Cici membulatkan mata, tak terima disebut tante oleh Ara.
Dwi Agusti beranjak dari duduknya dan mulai melepaskan gendongan kain yang digunakannya. Dia menyerahkan bayi laki-laki montok yang tengaj tertidur pada Ara.
"Lucu banget, sih ... berapa bulan, Teh?" tanya Ara seraya menyerahkan bayi itu pada Cici yang canggung menerimanya.
"11 bulan, Bu," sahut Dwi.
"Enaknya manggil Teh Dwi, atau Teh Agusti nih?" tanya Ara sebelum melakukan pemeriksaan.
"Dwi aja, Bu," sahut Dwi tersenyum simpul.
"Ok, Teh Dwi, saya juga nggak mau dipanggil Ibu, panggil aja, Ara. Ok, teh?" tanya Ara meminta persetujuan Dwi dan membuatnya mengangguk.
__ADS_1
Ara mulai memeriksa tekanan darah Dwi seraya menuliskan hasilnya pada kartu berobat Dwi lalu pada buku laporannya juga. Ara lanjut meminta Dwi naik ke atas timbangan, kemudian menuliskan kembali hasilnya pada kartu berobat dan juga buku laporannya.
Setelah itu, Ara memberikan pil KB yang diinginkan Dwi. Dwi memberikan swjumlah uang yang sudah disebutkan oleh Ara, kemudian ia kembali mengambil putranya dari gendongan Cici.
"Gila, pegel banget tangan aku gendong bayiknya," keluh Cici saat Dwi sudah pergi.
Ara terkekeh seraya berkata, "Latihan, Ci ... biar nanti udah nikah tahu gimana rasanya gendong bayik."
"Kamu juga, ngapain paggil aku tante?" sungut Cici memukul lengan Ara.
"Sakit, Cici ...," protes Ara.
"Gitu doang sakit," cibir Cici membuat Ara memberengut kesal.
Kegaduhan keduanya terpangkas oleh kedatangan pasien lagi. Jadilah hari itu obrolan keduanya selalu menggantung akibat terganggu oleh kedatangan pasien. Cici berkali-kali harus rela menunggu Ara melayani pasiennya.
Hingga siang hari Cici setia menunggui Ara, ia tak berniat pulang walau banyaknya hanya terdiam menyaksikan Ara melaksanakan tugasnya.
"Pulang jam berapa sih, Ra?" tanya Cici selepas keduanya makan siang.
"Harusnya jam dua ini, tapi Ligar nggak bisa masuk. Bablas sampe jam delapan malem, deh," papar Ara seraya menatap layar ponselnya.
Selain membalas pesan Ligar, ia juga mengirim pesan pada Sakaf agar jangan menjemputnya.
"Beneran nih?"
"Iya, nanti giliran kamu main ke rumahku!"
Cici segera pergi dan Ara tak bisa mengantarnya ke depan karena kembali datang pasien. Ara sedikit gusar sebab Sakaf tak membalas pesannya padahal dia sudah membacanya.
***
Aro
Efek alkohol pada tubuhnya membuat pria itu terus saja merasa mengantuk. Dia bahkan tak tahu bila Omar pamit pulang. Bumi yang mengira Aro benar-benar sakit berkali-kali mengecek suhu putranya, namun tetap normal.
"Udah nggak usah khawatir, mungkin dia kecapean," ujar Akash saat lagi-lagi Bumi mengeluhkan kondisi putranya itu.
"Ini udah ashar loh, dia masih aja belum bangun. Tadi juga kayaknya nggak salat dzuhur," adu Bumi pada Akash.
Akash menghela napas panjang, risau dengan kelakuan anaknya itu, " Salah apa ya kita sampai diberikan ujian lewat Aro yang selalu dengan mudah meninggalkan salat?"
"Salahku mungkin, sebab dulu pernah seperti Mas Ar saat muda," sahut Bumi membuat Akash merengkuh bahunya.
"Hei, Sayang! jangan berpikiran seperti itu. Lebih baik kita do'akan semoga mas Ar bisa kembali ke jalan yang benar," hibur Akash membuat Bumi mengangguk.
__ADS_1
Bersamaan dengan itu, Aro turun dengan wajah yang lebih segar. Rambutnya yang basah pertanda bahwa ia baru saja selesai mandi.
"Bunda ... Bunda, laper!" serunya seraya duduk di samping Bumi dan menyundul lengan Bumi.
"Kebiasaan ini anak satu, udah gede masih suka sundul-sundul," Bumi mengusap surai lembut Aro yang hitam legam.
"Ayok, Bunda suapin!" rengeknya membuat Akash memutar bola mata, kesal dengan sikap manja putranya itu.
"Ya udah, Bunda ambil dulu," ucap Bumi seraya beranjak dari duduknya.
"Kamu nggak syuting?" tanya Akash saat Bumi sudah benar-benar pergi.
"Libur du deh, nggak enak badan," jawab Aro.
"Emang boleh libur gitu? biasanya juga nggak mau libur."
"Boleh, Yah. Kalau nggak boleh mana bisa aku sekarang di sini."
"Kamu abis minum, ya?" selidik Akash. Bagaimanapun ia bisa menangkap gelagat aneh putranya itu.
"Enggak, Yah. Mana berani aku," sahut Aro, aktingnya sangat bagus.
"Awas ya, Mas kalau berani menyentuh barang haram itu!" ancam Akash.
Baru Aro akan menjawab, Bumi sudah kembali membawa pirig berisi nasi dan lauk pauk yang sangat banyak.
"Kebanyakan ini, Bun," protes Aro.
"Iya kalai dimakan sendiri, kalau berdua pasti porsinya pas," sahut Bumi.
"Berdua gimana?" tanya Aro.
"Kamu sama ayah, Bunda suapi kalian berdua," jawab Bumi dan mulai menyuapi keduanya, Akash tak bisa menolak bisa marah Bumi jika itu terjadi.
"Upil sama Atar mana, Bun?" tanya Aro selesai makan.
"Atar ke rumah temennya dulu, kalo Ara belum pulang," jawab Bumi.
"Upil pulang jam berapa?" selidik Aro.
"Jam delapan katanya, kamu jemput dia, ya. Kasihan," ucap Bumi berharap Aro mengiyakannya.
"Iya, nanti aku jemput."
. Like dan komennya jangan lupa kakak.
__ADS_1