Langit Untuk Ara

Langit Untuk Ara
Mami Vanya


__ADS_3

Sebelum sore, Omar dan Ara sudah sampai di rumah Vanya. Sebuah rumah yang terletak di komplek perumahan yang rata-rata di huni oleh orang-orang non muslim.


"Iih banyak temennya si Aro," celetuk Omar saat keluar dari mobil.


"Hah? kok temennya mas Ar? siapa kak?" tanya Ara yang mendengar celetukan Omar.


Dari kejauhan terdengar suara gonggongan anjing yang saling bersahutan. "Nah, tuh suara temennya si Ar, denger nggak?"


"Kak Omaaaar!" pekik Ara seraya memukul tubuh pria tambun itu dengan tasnya. "Masa masnya aku disamain ama guguk, jahat ih!" keluh Ara kemudian berjalan terlebih dahulu ke arah pintu masuk.


Omar tertawa seraya mengikuti langkah Ara yang memberengut kesal. Saat memencet bel rumah, ia bahkan sedikit menggerutu entah apa, Omar tak bisa mendengarnya.


"Cie, yang marah pujaan hatinya disamain ama dogi," Omar menyenggol lengan Ara.


"Kak Omar jangan lemes dong mulutnya, aku nggak mau cerita lagi ah sama Kakak," sungut Ara kembali memencet bel sebab belum juga ada yang membukakan pintu.


"Iya, jadi yang kita obrolin di mobil tadi er ha es, siip!"


"Kalau ada yang tahu pelakunya pasti Kakak, aku nggak akan cari siapa-siapa buat cakar orang," Ara memelototkan mata pada Omar seraya kedua tangan membuat gerakan seolah akan mencakar Omar.


"Manis banget sih lo, sayang udah mau nikah. Kalau belum ...."


Suara pintu dibuka dari dalam membuat kalimat Omar menggantung. Cici dengan tangan memegang mangkuk menyambut kedatangan Ara.


"Cici lama banget buka pintunya, ah!" sentak Ara seraya masuk sambil menghentakan kaki ke lantai.


"Haduh, sorry ... aku pikir datengnya sore," ungkapnya merasa bersalah sambil menyuruh Omar masuk.


Ara duduk di kursi ruang tamu, meletakan tasnya begitu saja di lantai. Ia sebenarnya sangat enggan masuk ke dalam rumah besar dengan bangunan yang sudah tua ini. Terasa asing dan dingin. Ara bahkan tak pernah lebih dari satu malam menginap di rumah yang catnya mulai banyak mengelupas itu.


Entah kapan rumah yang memiliki 2 lantai ini terakhir kali dapat sentuhan perbaikan. Seingat Ara, warna catnya tetap itu-itu saja sedari ia kecil. Putih yang terkesan kusam.


"Mami mana, Ci?" tanya Ara setelah Cici ikut duduk di sampingnya.


Omar nampak langsung mengambil posisi enak dengan merebahkan tubuh di kursi panjang, ia terlihat lelah. Terbukti dengan menghembuskan napas berkali-kali.


"Tante di kamarnya, sedari aku dateng nggak mau ngomong. Cuma bukain pintu terus masuk lagi ke kamar," adu Cici membuat Ara semakin penasaran.

__ADS_1


"Aku ke mami dulu, deh," Ara mengangkat bokongnya hendak bangkit, namun Cici mencekal lengannya.


"Urus dulu tamu kamu, bikinin dia minum!"


"Cici aja ya yang bikinin, aku udah pengen ketemu mami nih, ya?" pinta Ara seraya memasang wajah memelas dan menyendokan mie dari mangkuk yang Cici pegang ke dalam mulutnya.


"Kak Omar mau ngopi, atau apa?" tanya Ara seraya menegakan badan, menyelisik ke dalam wajah Omar yang ia tutup menggunakan topinya.


Bukannya jawaban yang Ara dapat, melainkan suara dengkuran yang menyambut tanyanya. Ara menggeleng seraya pura-pura ingin mencakar Omar.


"Biarin deh, Ci. Orangnya juga tidur. Dia biasanya sih ngopi item," beri tahu Ara seraya melangkah menuju lantai atas ingin segera menemui maminya.


Ara berlari-lari kecil menaiki undakan tangga, langkahnya hampir oleng sebab menginjak gamisnya sendiri. Ia terpaksa harus berhenti sejenak dan mengangkat gamisnya agar kaki yang tebungkus sneaker putih itu dapat leluasa melangkah.


Tiba di depan pintu bercat putih, Ara mengetuk pintu seraya memanggil sang mami. "Mami, ini Neng, Mi. Buka pintu dooong!"


Tak lama Vanya membuka pintu, ia rindu dengan putrinya yang selalu bisa membuatnya tertawa itu. Vanya langsung memeluk tubuh putrinya yang sempat ingin ia buang saat bayi itu. Ara balas memeluk, erat, erat dan semakin erat. Meluapkan segala rindu setelah beberapa waktu tak bertemu.


"Masuk, yuk!" ajak Vanya seraya melepaskan pelukannya. Ia menggandeng tangan Ara untuk masuk ke kamar dan duduk di atas karpet pada sudut ruangan kamar yang berukuran besar itu. Vanya membuka gorden, kemudian dibukanya pula selot jendela agar ada hawa yang masuk pada kamarnya yang terasa pengap.


Ara mengedarkan pandangan ke seluruh kamar. Tempat tidur bersprei abu yang berantakan. Tisu bekas berserakan di lantai, beberapa gelas dan piring kotor nampak menumpuk pada sebuah baskom pada nakas di samping tempat tidur.


"Mami nggak sempet beres-beres, Neng," aku vanya dengan wajah tertunduk seperti menyembunyikan sesuatu.


Ara menghela napas dalam, ia tahu maminya berbohong. Ara yang duduk berhadapan dengan Vanya, mengusap punggung tangan maminya itu.


"Mami nggak mau cerita ke Neng?" selidik Ara, tangannya tergerak untuk menggenggam wanita dengan rambut sebahu berwarna burgundy itu.


Vanya tiba-tiba menangis, air matanya luruh begitu saja. Dalam sekejap tangis itu berubah sedu sedan. Menyiratkan ketakutan yang sedang dialami oleh dirinya. "Mami takut, Neng."


Menangkap ada yang tak baik dalam kata takut yang Vanya ucapkan, membuat Ara segera menarik tubuh mungil sang mami ke dalam pelukannya. "Mami harusnya cerita ke Neng, nggak boleh pendam sendirian. Kita cuma berdua, Mi. Apa yang Mami alami Neng harus tahu."


"Mami terlilit hutang, Sayang. Mami takut," adu Vanya membuat Ara mendorong perlahan bahu maminya itu. Ara mencoba memandang ke dalam manik bersoflent hijau emerald itu. Ah, mami, bahkan Ara tak pernah memakai hal yang seperti itu untuk mempercantik diri.


"Hutang apa, Mi?" Ara sedikit mengguncang bahu Vanya. "Jelasin ke Neng, hutang apa?" desak Ara.


"Pinjaman online sama hutang ke papinya Cici. Mami kena tipu investasi online juga, Neng," ungkap Vanya membuat Ara menggeleng tak mengerti.

__ADS_1


"Neng nggak ngerti, mami ceritain secara detail, deh," pinta Ara seraya melepaskan bahu Vanya.


Sebelum Vanya melanjutkan bicara, Ara beranjak menuju kulkas yang terdapat di dekat pintu masuk. Vanya memang sengaja menyimpan kulkas di kamarnya untuk memudahkan mengambil minuman serta camilan. Hidup sendirian membuatnya berlaku seperti anak kost.


Ara mengambil air mineral, matanya menangkap minuman beralkohol pada pintu kulkas. "Mami, kapan mau berubah?" gumam Ara dengan hati berdenyit nyeri.


Ara kembali pada maminya dengan memberikan botol yang sudah ia buka tutupnya itu. "Mami minum dulu, biar jelas ceritanya!" suruh Ara membuat Vanya mengangguk dan segera menenggak minumannya.


"Mami ceritakan sedetail mungkin agar Neng ngerti dan In Sya Allah bisa bantu."


"Toko udah sebulan ini nggak berjalan, Neng. Mami bangkrut karena kena tipu investasi bodong," Vanya mulai bercerita.


Ara ingin menyela, tapi urung. Ia biarkan maminya selesai hingga akhir cerita.


"Mami punya hutang ke papi Cici 25 juta, ke pinjaman online 13 juta dan ke koh Cevin 100 juta," Vanya mengabsen data hutangnya dengan perasaan malu.


"Mami ... itu koh Cevin kok bisa gede banget gitu?" Ara tak percaya, ia sampai menelan salivanya mendengar jumlah yang disebut Vanya.


"Uangnya Mami pake buat ikut investasi online, awalnya bener. Selama beberapa bulan Mami dapet pemasukan, tapi udah tiga bulan ini jadi macet. Bukan Mami aja yang kena tipu, papi Cici juga. Termasuk koh Cevin sendiri."


"Terus kenapa toko bangrut Mami nggak bilang ke Neng?"


"Mami malu sama ayah dan bunda kamu, Neng."


"Kalau mami cerita, ayah pasti mau bantu, mi."


Vanya tak dapat lagi berkata-kata. Kehancuran ini awalnya bermula dari dirinya yang sering ikut permainan judi online. Beberapa kali menang membuatnya ketagihan, namun dalam beberapa kesempatan ia kalah dan mengakibatkan harus meminjam dana online.


Selanjutnya ia sampai membuat toko bangkrut, kemudian melakukan pinjaman pada papi Cici tapi usahanya tak berjalan normal malah kembali terpaksa toko ikan asin itu harus gulung tikar.


Ketidakmampuan Vanya menangani toko disebabkan dirinya yang lebih banyak main saat masih ada kedua orang tuanya. Padahal Bumi waktu itu sudah mengingatkannya agar menata masa depan sebaik-baiknya.


Vanya tidak menurut, ia yang sempat bertengkar dengan Celyn pasca melahirkan Ara, memilih keluar dari grup Celyn. Vanya kembali pada dunia kelamnya. Ia bahkan tak menamatkan kuliahnya. Dampaknya terasa di masa sekarang. Orang tuanya meninggal dan dirinya kehilangan toko yang menjadi usaha satu-satunya itu.


.


. Like dan komen akak jangan lupa. Sembunyiin dulu Mas Arnya yaa.

__ADS_1


Oh iya, jalan-jalan gih ke akunnya kak ErKa. Ada cerpen Syaesha di sana. Di nomor 18, judulnya Merindu Asa. Sok dibaca atuh dalam judul novel antologi cerpen pembaca. Sambil nunggu up selanjutnya. Makasih, laf laf kalian. Big hug 🥰🥰🥰🥰


__ADS_2