
Akhza masih enggan pulang padahal keluarga yang lain sudah meninggalkannya.
“Nginep di rumah gue aja, Bang!” ajak Aro ketika menghampiri Akhza yang masih asyik di atap gedung itu.
“Dengerin suara tempat tidur elo berdecit gitu? sama suara rusuh Ara? males!” sahut Akhza.
“Masih inget aja kejadian di rumah bunda, kalo elo nginep gue mainnya pelan-pelan.” Aro terkekeh di akhir kalimatnya.
“Untung cuma gue yang denger, kalau Fadan atau Atar yang denger bisa nanya mereka suara apa itu?” ledek Akhza.
Beberapa waktu lalu saat menginap bersama di rumah orang tua mereka, suara rusuh Aro dan Ara tertangkap oleh Akhza yang sedang diam di balkon kamarnya yang terhubung dengan balkon kamar Ara. Akhza yang mendengar suara rusuh itu bukannya menjauh malah semakin mendekat ke arah pintu kamar Ara. Hasilnya, dia bergidig sendiri.
“Simulasi, Bang. Nanti elo praktekin,” ujar Aro meninju lengan kembarannya itu.
“Nanti gue nggak gitu,” sahut Akhza cepat.
“Kita lihat nanti,” balas Aro seraya menembak Akhza dengan gerakan tangan. “Ayo ah, balik. Atau elo di toko aja sama Omar. Di sini belum ada tempat tidur.”
“Males gue ke Omar,” adu Akhza, pasti pria itu akan meledek kejomloannya lagi.
“Terus mau gimana? Ara udah pengen pulang tuh,” keluh Aro berharap abangya juga cepat memberi keputusan.
“Gue balik ke rumah bunda aja.” Akhza beranjak seraya memakai jaket dan ranselnya.
Keduanya berjalan beriringan menuruni undakan tangga. Melewati ruangan besar yang masih kosong sebab barang-barang kebutuhan car wash dan lainnya baru akan ditata besok. Di teras Ara sudah menunggu dengan mata yang sudah lelah.
“Abang tuh bikin lama deh, aku ngantuk," omel Ara.
“Omelin Ra, omelin.” Aro mengompori Ara.
“Sejak kapan kamu jadi manja gitu, jangan-jangan isi tuh?” tebak Akhza seraya berjalan ke motornya.
“Duluan, kalau udah isi jangan keseringan. Kasihan ponakan gue!” pesan Akhza dengan wajah datar tapi nada bicara serius lalu melajukan motornya, motor Atar tepatnya.
“Iih sejak kapan dia jadi nyebelin gitu?” cibir Ara.
“Sejak kamu tinggal nikah,” sahut Aro.
“Mas, dia kakak kita. Enggak usah mikir enggak-enggak,” sungut Ara.
“Aku mikirin yang iya-iya aja, ya?” Aro menggandeng tangan wanita itu agar segera menuju mobil. Ia membukakan pintu untuk Ara seraya berkata, “Silahkan tuan putri, mari kita kembali ke khayangan!”
Jalanan malam itu sedikit lengang. Membuat Aro bisa leluasa mengemudikan mobilnya. Apa lagi dengan Ara yang tertidur, ia tak usah risih mendengar istrinya itu berkomentar.
***
Ara teringat akan perkataan Akhza malam tadi tentang dirinya yang sudah isi. Terlebih ia juga sudah seminggu telat datang bulan. Ara diam-diam mengecek urinenya dengan alat tes kehamilan pagi ini. Ketika hasilnya ternyata negatif, Ara mendesah kecewa.
“Kita coba nanti tiga hari lagi, deh.” Ara menghibur dirinya sendiri seraya keluar dari kamar mandi.
Pagi hari selalu jadi kegiatan yang sibuk. Ara selalu masak untuk bekal suaminya. Masakan sederhana sebab suaminya itu adalah pemakan segala jenis makanan.
Keduanya selalu berangkat bersama dari rumah, Aro tak pernah absen mengantar Ara terlebih dahulu hingga ke dalam kliniknya. Barulah ia pergi ke tokonya.
Aro masih saja sibuk mengurusi naskah, ia bahkan mencuri-curi waktu di sela-sela kegiatannya di toko untuk sekedar meneruskan tulisan dialog naskahnya.
“Ini Ara tahu nggak elo masih nulis aja?” selidik Omar saat melihat Aro bukannya cepat makan siang, malah sibuk mengedit naskah dan berbalas pesan dengan Davina.
“Gue nggak berniat bohongin dia. Yang penting waktu gue buat dia nggak berkurang. Gue tetep perhatiin dia.” Aro bicara tanpa memalingkan wajahnya dari layar laptop.
“Masalahnya kalau Ara tahu ....”
“Omar, Ari kamu kenapa nggak bales-bales pesan Teteh?” adalah suara Fenti yang khas berteriak pada Omar, padahal dirinya masih berada di bibir pintu masuk.
“Teteh gue kebiasaan banget kalau ngomong,” guman Omar tak sadar bahwa dirinya sendiri juga seperti itu.
“Hapeku di atas, Teh. Tadi banyak banget pelanggan.” Omar berkilah seraya mencium punggung tangan Fenti dengan takjim.
“Kapan kita balik? haol abah dua hari lagi,” beri tahu Fenti membuat Omar menepuk jidatnya.
“Besok pagi, deh.” Omar memberi saran.
“Ikut, nggak Ar?” tanya Fenti.
“Ke mana?” Aro balik bertanya.
“Ke Subang, haol abah. Elo kan sering ngerepotin gue, kali ini gue yang repotin elo. Elo harus ikut!” tegas Omar.
Awalnya Aro ingin menolak, namun tak enak sebab benar adanya, Omar sering ia repotkan.
__ADS_1
***
Setelah malamnya diskusi dengan Ara, Aro memutuskan untuk ikut ke Subang. Sedangkan, Ara tidak bisa ikut sebab sudah banyak pasien yang membuat janji dengannya.
“Ok, guys. Jadi, kita mau ke Subang dan suami istri lebay ini mau pisah dulu nih semalam doang tapi udah kayak mau pisah selamanya aja. Tuh lihat!” Omar yang sedang melakukan siaran langsung lewat akun media sosialnya mengarahkan kamera pada Aro yang sedang mencium kening Ara.
“Mar, gelo siah!” umpat Aro (Gila, Lo)
“Mas, ih bicaranya jangan kayak gitu deh,” omel Ara. “Nunduk dulu coba!” lanjut Ara.
Aro kemudian menunduk, sesuai yang diperintahkan istrinya. Ara tetap saja harus berjinjit sedikit saat akan mengecup dahi suaminya itu.
“Aku sayang banget sama kamu.” Seulas senyum mengakhiri kalimat Ara. “Hati-hati bawa mobilnya, Mas suka seenaknya.”
“Iya, Sayang. Kamu hati-hati juga di rumah,” balas Aro kembali memeluk Ara.
Maklum saja, ini kali pertama setelah sebulan lebih menikah Ara ditinggal jauh oleh suaminya.
“Lebay banget, sumpah. Cuma sehari Upiiiil!” ledek Omar.
Seperginya Aro, Ara segera pergi ke klinik demi membunuh rasa sepi yang tiba-tiba menyelinap dalam benak.
Sudah ada beberapa ibu hamil yang melakukan janji periksa hari itu. Ara sedikit tak konsen saat memeriksa.
“Duh, Ra. Profesional, dong!” gerutunya pada diri sendiri.
Hingga akhirnya ia tak tahan dan memilih mengirimi Aro pesan.
[Mas, sampe mana?]
[Udah sampe, Sayang. Kamu kalau capek, istirahat dulu]
Aro tahu betul, bila istrinya itu mengirim pesan saat dirinya tak ada, berarti dirinya sedang dalam keadaan tak baik.
[Sepi, Mas. Nggak ada kamu]
[Mau telepon?]
[Kalo telepon kangennya malah nambah, Mas ]
[Besok pagi langsung pulang, kok. Malem tidur sama Ceya aja, ya]
[Baik-baik ya, Sayang. Love you, Ara. My adore❤️]
Selesai berbalas pesan dengan Aro, Ara pamit pada Ceya untuk pulang. Janji dengan pasiennya, sudah terpenuhi semua. Ia merasa tubuhnya lemas dan merebahkan diri di atas kasur rasanya bisa jadi peluruh lelah.
“Tala nanti ke sini katanya, Ce. Nanti kamu ke rumah aja, ya. Terserah jam berapa.”
Ceya sendiri merupakan teman Tala, Ceya bisa bekerja di klinik Ara juga berkat Tala.
Setelah memastikan tak ada barangnya yang tertinggal, Ara segera meninggalkan klinik.
Waktu masih menunjukan pukul 14.00, namun langit sudah muram dihias awan yang menghitam. Sepertinya akan turun hujan. Sudah tiga hari hujan turun dengan derasnya mengguyur bumi bagian Bojong Gede di sore hari.
Hati Ara kembali diliputi pilu. Efek dari ditinggal Aro. Entah berlebihan atau memang seperti itu, naluri seorang istri saat ditinggal suami yang biasanya selalu ada di rumah setiap hari.
Langkah Ara terasa berat sepanjang jalan. Paving block yang beradu dengan flat shoesnya menimbulkan suara srek srek saat Ara dengan gontai menyeret langkahnya.
Hingga tiba di depan gerbang rumah blok B no 5 di perumahan Bojong Gede hijau permai itu, kening Ara mengkerut. Pasalnya, tepat di depan rumahnya terparkir sebuah mobil box. Ketika melihat gerbang rumah yang terbuka Ara semakin kaget. Siapa yang datang kerumahnya?
Langkah yang sedari tadi diseret kini berubah menjadi setengah berlari. Hingga tiba di teras, dua orang lelaki memakai setelan seragam orange dan wanita memakai hijab abu sedang duduk di kursi santai.
Ara sedikit tak suka, tapi ia masih harus bersikap sopan.
“Maaf, kalian siapa ya?” sapa Ara, hanya berani menatap pada wanita yang memakai celana kulot hitam.
“Kami mau mengantar barang pesanan Mas Aro. Alamatnya tertulis di sini. Kami dari Bandung,” jelas wanita berhijab abu.
Ara hanya ber-oh ria. Ia pikir, orang-orang ini hanya salah paham. Pasti harusnya diantar ke toko saja.
“Harusnya diantar langsung ke outlet, Mbak.” Ara meluruskan kesalahan yang terjadi.
“Alamatnya tertera di sini, Mbak.” Wanita itu menunjukan ponselnya guna memberi tahu Ara tentang alamatnya yang memang sama persis dengan nama komplek perumahannya.
“Oh, iya sih. Ya sudah, dibawa ke dalam aja, Pak,” pinta Ara seraya melirik ke arah dua kardus besar yang menurut ketiga orang itu adalah barang-barang untuk kebutuhan car wash Aro.
Ketiga orang itu, masuk mengikuti langkah Ara. Ara sendiri langsung ke dapur berniat memberi tamunya minum seraya sedikit mengomel dalam hati sebab Aro tak mengabarinya lebih dulu akan datang barang ke rumah.
“Mbak, boleh ikut ke kamar mandi?” pinta salah seorang dari kedua pria itu.
__ADS_1
“Silahkan, kamar mandinya di sana.” Ara menunjuk ke arah pintu berwarna putih yang terbuat dari aluminium.
Kamar mandi itu menyatu dengan dapur, ukurannya tidak besar hanya 1,5 meter x 1,5 meter persegi. Dibuat di bawah tangga yang menghubungkan ke lantai dua.
Pria itu segera menuju ke tempat yang dituju, sedangkan Ara membawa tiga gelas sirup jeruk ke ruang tamu. Tak lama pria tadi kembali dari kamar mandi. Kini, giliran sang wanita yang meminta izin ke kamar mandi.
“Saya sebenernya gak biasa ke kamar mandi di tempat asing sendiri, boleh minta ditemani, Mbak?” pinta wanita itu membuat Ara dengan senang hati mengabulkan permintaannya.
Sementara sang wanita di kamar mandi, Ara menungguinya di depan pintu. Terdengar suara air yang mengalir dan suara kletek tanda kunci diputar. Tak lama wanita itu keluar dengan wajah yang lebih segar.
“Mbak, kok keran ainya nggak bisa ditutup ya?” Wanita itu menunjuk pada keran yang masih mengalir, sementara ember sudah penuh dengan air.
“Mungkin kalau Mbak yang tutup kayaknya bisa.” Wanita itu memberi saran.
Ara mengangguk, memang kadang seperti itu ‘kan? Sebuah barang hanya akan berfungsi dengan baik bila si pemilik yang menggunakannya.
Tanpa berpikir yang lain Ara segera masuk ke dalam kamar mandi untuk mematikan air.
Saat Ara menutup keran, dengan gerakan cepat si wanita itu menutup pintu dan menguncinya dari luar. Ara keheranan, kenapa tiba-tiba pintu ditutup dan dikunci?
Suara kletek tadi bukan hanya kunci yang diputar untuk membuka pintu, namun juga dicabut dari tempatnya.
Detik awal Ara berpikir mungkin wanita tadi sedang mengajaknya becanda. Hingga selanjutnya lampu yang menjadi pencahayaan satu-satunya ruangan yang dindingnya terbuat dari keramik putih besar itu, mati.
Ara mulai panik. Ia menggedor pintu. Berteriak minta dikeluarkan dari ruangan pengap tanpa ventilasi udara itu. Dengan lampu yang mati otomatis exhaust fan, satu-satunya alat yang mengatur sirkulasi udara dalam ruangan itu pun mati.
Ruangan pengap itu menjadi panas, membuat rasa gerah menyerang Ara. Ara mulai panik, ketakukan mulai melingkupi dirinya.
“Mas, kamu ngerjain aku?” rintih Ara, berpikir ini hanya candaan Aro.
“Mas, cukup. Aku kepanasan Mas!” teriak Ara berharap Aro adalah biang dari kejadian ini
“Mas, ulang tahunku masih lama. Jangan kasih aku kejutan kayak gini. Aku takut gelap, Mas!”
Ara terus menggedor pintu dari dalam seraya memutar kenopnya berharap bisa merusaknya.
Setelah beberapa lama memutar kenop pintu, Ara semakin kepanasan dengan tenggorokan kering yang sangat perih.
Fokus Ara teralih pada air dalam ember. Tenggorokannya semakin kering dengan haus yang menjalar. Ara berjongkok dan terpaksa harus meminum air mentah itu menggunakan gayung. Ia tak ingin dehidrasi akibat panas yang makin terasa menyiksa.
“Ya Rabb, tolong hamba,” jerit Ara dalam hati dengan air mata yang mulai meleleh.
Siapa sebenarnya orang-orang tadi? Apa maksudnya semua ini? Kenapa Ara harus dikurung di kamar mandi pengap tanpa ventilasi udara dengan lampu dimatikan?
Benak Ara terus saling bersahutan bertanya. Ia masih berjongkok seraya kembali menenggak air menggunakan gayung.
Setelah lama hanya berjongkok, Ara mengusap linangan air matanya, lalu kembali berdiri dengan lutut yang terasa lemas. Ia memutuskan untuk wudu. Berharap basuhan air dapat memberinya ketenangan.
Selesai wudu, ia melantunkan do’a memohon diberi kemudahan.
“Allahumma laa sahla illa maa ja’altahu sahlaa, wa anta taj’alul hazna idza syi’ta sahlaa”
Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali yang Engkau buat mudah. Dan engkau menjadikan kesedihan (kesulitan), jika Engkau kehendaki pasti akan menjadi mudah.
Daripada terus berteriak dan menggedor-gedor pintu yang tak kunjung dibuka, Ara memilih duduk di atas kloset dengan hati yang terus melantunkan zikir.
“Aku berserah pada-Mu atas hidupku ya, Rabb. Aku yakin, tak akan Engkau memberiku kesulitan di luar kuasaku.”
“Ceya cepet datang, Ce.”
Atap terdengar bergemuruh oleh air hujan. Ara yakin hujan besar kembali mengguyur kotanya. Wanita itu dalam hati kembali melantunkan do’a.
”Allahumma shoyyiban nafi’an”
Ya Allah turunkanlah pada kami hujan yang bermanfaat.
Hawa panas semakin menyiksa Ara. Ia berusaha tenang saja, sesekali terus minum agar tak kekurangan cairan. Napasnya mulai pengap dengan kepala yang mulai terasa pusing. Keringat sudah membasahi seluruh tubuhnya, terutama di bagian dahi. Ara membuka kaus kaki dan juga jarum pentul yang tersemat pada hijabnya. Wanita itu juga melepaskan inner yang menutup kepalanya. Berharap sedikit memberinya kesejukan.
"Ceya, cepet datang. Ya Allah, tolong hamba," rintih Ara. Ia semakin merasakan tubuhnya tak lagi seimbang.
.
.
Story pada bab ini bersumber dari artikel berita kompas.com pada Kamis, 29 Desember 2016 pukul 06.16 (Kejadian di Pulomas, pada Selasa 27 Desember 2016)
Do'a diberi kemudahan dan do'a ketika turun hujan dikutip dari Rumaysho.com
Ini gambaran pintu kamar mandi. Beruntung pintu di kamar mandiku enggak sebagus dan kuncinya udah rusak juga hehehe. Mas Ar sih bikin pintu kamar mandi aja pake yang ginian. Udah gitu kenapa taruh kunci di pintunya 😭😭😭. Ya udahlah, gimana lagi. Namanya musibah kan yaa. Semoga bisa lebih baik lagi jagain Ara ya, Mas. Ngeri aja Abang Za nanti marah kalau sampe Ara kenapa-napa.
__ADS_1