Langit Untuk Ara

Langit Untuk Ara
Gara-gara Pukis


__ADS_3

Ara kembali melakukan perdebatan dengan maminya yang tak berniat menjual rumah dan pindah bersamanya. Tentu saja dengan catatan Vanya harus beralih menjadi muslim. Perdebatan itu belum menemukan titik terang, Vanya masih enggan menyetujui rencana Ara.


Ba'da isya, Ara memutuskan untuk pulang saja ke rumah bundanya. Ia sudah berkirim pesan dengan Atar. Menurut informasi Atar, mereka sudah kembali tadi sore.


Baru saja menutup gerbang tinggi yang warna catnya sudah pudar, Ara dikagetkan oleh kedatangan Atar yang mengendarai sepeda motor. Pemuda usia tanggung itu sengaja menjemput Ara.


"Ojek neng?" seloroh Atar.


"Ke gang senggol berapa, Mang?" balas Ara


"Goban deh, Neng."


"Nggak ada yang lebih mahal, Mang?" tawar Ara.


"Ah udah, ah Teteh. Ayo naik!" suruh Atar seraya menyerahkan helm pada Ara.


Atar mulai melajukan motornya, keluar dari komplek perumahan Vanya yang banyak terdapat anjing di dalamnya itu. Jalanan tak pernah sepi meski hari tak lagi terang. Langit malam tak jadi penghalang untuk tetap mengais rezeki. Sepanjang perjalanan tenda-tenda penjaja makanan terpasang rapi.


"Teh, mau jajan nggak?" teriak Atar agar suaranya dapat terdengar jelas.


"Pengen beli kue pukis dulu, kalau ada tukang martabak berhenti dulu," Ara balas berteriak agar Atar dapat mendengarnya.


Tak sampai lima menit, Atar sudah menemukan tukang martabak yang juga menjual kue pukis. Ia menepikan motornya dan Ara segera turun. Dari jauh Ara mengenal punggung seseorang yang juga sedang mengantri. Entah membeli pukis atau martabak.


"Kak Sakaf?" sapa Ara tak yakin sebab pria itu sedang menghadap penjual.


"Ara?" Sakaf balik bertanya, tak menyangka dapat bertemu di tukang martabak seperti ini.

__ADS_1


"Ngapain di sini? abis ke mana? mau kemana? sendirin aja?" rentetan pertanyaan Ara membuat Sakaf bingung menjawabnya.


Alih-alih menjawab, Sakaf malah melayangkan bungkusan kresek putih ke wajah Ara. " Beli pukis buat Salasika Arabella."


"Buat aku?" Ara menunjuk dirinya sendiri.


"Ayok pulang bareng!" ajak Sakaf berlalu begitu saja tanpa menunggu Ara yang masih merasa bingung. "Kamu duluan aja, kakakmu biar bersama saya," lanjut Sakaf pada Atar.


"Ra, ayok!" teriakan Sakaf membuat Ara tersadar dari lamunannya. Ia segera berbalik dan menuju Sakaf yang sudah membukakan pintu mobil untuknya. Sebelum naik, Ara sempat bicara pada Atar untuk segera pulang juga.


Sakaf segera melajukan mobilnya setelah Ara merapikan duduknya. "Kenapa? nggak suka pulang bareng saya?" tebak Sakaf demi menangkap kerisauan dalam wajah Ara.


Ara tersenyum, kemudian menggeleng. "Aku cuma kaget, Kakak susah banget dihubungin. Tiba-tiba nongol depan mata. Di tukang kue pukis lagi. Kok bisa tahu aku suka pukis?"


"Saya tanya ke orang tua kamu," jawab Sakaf singkat membuat Ara mencebikkan bibirnya.


Detik selanjutnya tak ada lagi pembicaraan di antara keduanya hingga monil Sakaf masuk ke pelataran Kafe yang masih ramai. Ara mengajak Sakaf untuk masuk lewat samping. Menuruni undakan tangga, yang pada pegangannya digantungi pot berisi tanaman strawberry. Sebagian ada yang berbuah dengan warna yang belum sempurna merah. Kalau sudah merah, tentu Ara akan memetiknya.


"Kenapa, Kak?" tanya Ara ikut menghentikan langkah.


"Kemarin kayaknya kolam ini belum ada," tunjuk Sakaf pada kolam yang berisi ikan koi kesayangan Akash.


"Ada, Kak. Itu bahkan udah ada sejak aku lahir," jelas Ara sambil ikut menunjuk pada kolam.


Sakaf mengerutkan keningnya dalam, "Masak sih?" tanyanya seolah tak percaya.


"Makanya, jadi orang itu harus peka dan peduli terhadap apa yang dijumpai. Jangan-jangan kakak juga lupa siapa aku? atau mau bilang, kamu siapa, perasaan saya baru lihat," papar Ara seraya meniru cara bicara Sakaf di akhir kalimatnya.

__ADS_1


"Sama sekali tidak lucu, jangan suka becanda!" jawab Sakaf ketus seraya masuk terlebih dahulu ke dalam rumah dan terdengar suara Bumi yang menyambutnya.


"Sama sekali tidak lucu, jangan suka becanda," gumam Ara menirukan kalimat Sakaf. "Terlalu serius juga bikin urat tegang," lanjutnya seraya ikut masuk ke dalam rumah dan mendapati Sakaf yang sudah duduk di ruang tamu bersama kedua orang tuanya.


Setelah menyalami kedua orang tuanya, Ara segera ke dapur membawa bungkusan kue pukis untuk ia pindahkan ke piring. Ara juga membuat teh hangat tawar sebagai minumannya. Sengaja tak ia beri gula sebab kue pukis sudah manis. "Yang manis kalau ketemu yang manis rasanya jadi hambar," gumam Ara seraya menaruh piring berisi kue pukis serta empat cangkir air teh tawar di atas nampan dan segera membawanya ke ruang tamu.


Di ruang tamu, Ara meletakkan suguhannya itu ke atas meja dengan hati-hati. Ia yang terlatih sejak kecil mengerjakan hal-hal seperti itu, gerakannya sudah sangat apik dan rapi. Ara berhasil menaruh piring dan cangkir ke atas meja dengan suara samar yang hampir tak terdengar. Bumi sering mengingatkan, tak sopan bila saat menyuguhi tamu gelas ataupun piring yang kita taruh terlalu menimbulkan suara yang berisik. Ara selalu mengingat itu.


"Silahkan dinikmati," ujar Ara seraya menaruh nampan di bawah meja dan duduk di sofa single.


Bumi dan Akash duduk berdua di sofa panjang, dan Sakaf duduk sendiri di sofa single lainnya yang berhadapan dengan sofa yang Ara duduki.


"Gimana kabar orang tuamu?" tanya Akash memulai obrolan.


"Alhamdullillah, baik. Hanya enin yang tak baik," jawab Sakaf.


"Enin? tante Zein maksudnya?" tebak Akash.


"Iya, Om. Enin sedang sakit parah. Sebulan kemarin sudah dirawat di Rumah Sakit, belum ada hasil yang baik. Sekarang enin memaksa minta pulang. Hal itu membuat bunda terpaksa tinggal di Bandung untuk beberapa waktu hingga enin sembuh mungkin," jelas Sakaf dan membuat Ara ternganga sebab baru kali ini mendengar pria itu bicara panjang lebar.


"Om nggak tahu kalau enin kamu sakit, nanti Om ke sana untuk menengok," ucap Akash yang juga diangguki oleh Bumi.


Ara sendiri tidak begitu hafal siapa enin yang dimaksud. Ia memilih diam mendengarkan obrolan kedua orang tua dan calon suaminya itu. Matanya lebih tertarik pada kue pukis yang sangat menggoda. Ada rasa pandan dan vanila dengan varian topping coklat, keju dan kismis. Sudah terbayangkan betapa lembut dan manisnya saat kue yang sangat harum itu ketika dikunyah.


"Untuk itu juga saya menyampaikan, bahwa pernikahan saya dan Ara terpaksa diundur, Om, Tante," jelas Sakaf membuat Akash dan Bumi saling berpandangan. Sementara Ara yang memang tak begitu mendengarkan obrolan karena fokusnya hanya pada kue pukis sama sekali tidak mendengar apa yang diucapkan oleh Sakaf.


"Ra, gimana?" tegur Akash menoleh pada Ara yang lebih asyik memperhatikan kue pukis.

__ADS_1


"Pasti enak, Ayah. Aku mau sekarang aja boleh nggak sih?" ujar Ara tanpa tahu maksud pertanyaan ayahnya.


Jangan lupa like dan komennya kak


__ADS_2