
Ara semangat sekali menyiapkan bingkisan bagi para ibu-ibu pengajian. Isinya berupa satu kotak kue-kue basah yang terdiri dari onde, lemper, pukis, risol, lontong isi daging cincang dan karoket. Satu kotak lagi berisi nasi dengan lauk pauk rendang daging sapi, capcay, sambal goreng kentang dan bihun goreng. Dilengkapi dengan kerupuk udang.
"Kesukaan abang, nih," celetuk Ara saat memasukan kerupuk yang dibungkus rapi dengan plastik bening ke dalam kotak nasi.
Tanpa Ara sadari, suaminya mendengar perkataannya itu. "Ngomong apa barusan?"
Ara melipat bibirnya, menahan senyum dan geli sebab Aro berusaha menggigit telinga Ara yang terbungkus hijab biru metalik.
"Tadi malam 'kan nggak jadi." Aro semalam hampir saja membuai Ara dalam sentuhannya namun bunda dan ayahnya tiba-tiba datang dan memutuskan menginap.
"Sekarang, yuk?" ajak Aro dan pasti tak ingin ada penolakan.
Ara tak lekas menjawab, tangannya masih sibuk memasukan kue-kue ke dalam kotak berwarna putih. Saat tiba-tiba Aro mengambil pukis yang hendak Ara taruh itu. Pria itu malah memakannya kemudian menarik tangan Ara untuk berdiri dan mengikuti langkahnya.
"Aku gosok gigi dulu," ucap Aro saat tiba di kamar sambil berlalu setelah sekilas mencium pipi Ara.
Ini sudah kesekian kalinya, bahkan sudah ada hasil di dalam perutnya. Tetap saja detak jantung Ara masih berpacu tak beraturan saat hendak memulai kegiatan yang selalu membuainya itu.
Aro keluar dari kamar mandi dengan wajah basah dan bertelanjang dada. "Kausnya basah jadi dibuka," beri tahunya pada Ara yang tengah berdiri di depan meja rias melepas hijabnya.
"Jangan suka sebut-sebut nama abang lagi," bisik Aro tepat di telinga istrinya yang langsung merasakan tubuhnya panas.
"Mas, abang 'kan kak ...."
"Kakak kita, tapi tetep dia pernah suka ke kamu." Aro menusuk-nusuk ujung hidungnya ke ceruk leher Ara.
"Kalau aku lagi ngomong jangan dipotong," protes Ara membalikan badan sehingga keduanya kini berhadapan. "Nggak sopan," lanjut Ara.
"Abang gak mungkin aneh-aneh." Ara menusuk-nusuk dada Aro dengan telunjuknya.
"Enggak ada yang gak mungkin," sanggah Aro seraya menangkap telunjuk yang masih menusuk-nusuk dadanya.
"Aku orang yang paling egois perihal mencintaimu." Kemudian berjalan mundur dan meraih tangan Ara agar maju mengikutinya hingga tumitnya terasa membentur tempat tidur.
"Udah mau punya anak masih aja ragu," cibir Ara seraya menarik kedua tangan yang digenggam Aro.
Ara bergeser sedikit ke sebelah kiri kemudian merangkak naik ke atas tempat tidur dan berbaring miring memunggungi Aro.
"Jangan suudzon berlebihan, Mas." Ara mengusap-usap perutnya.
"Eh jangan suudzon maksudku," ralat Ara diakhiri tawa kecil.
Aro tersenyum, ikut naik ke tempat tidur dan memeluk istrinya. Ia tumpukan telapak tangannya ke atas punggung tangan Ara yang sedang mengusap perut.
"Aku hanya sedang menjaga apa yang aku punya," bisiknya membuat Ara menggeliat dan merubah posisi jadi terlentang.
"Tapi nggak usah cemburu buta juga!" sindir Ara seraya melirik dengan ujung mata pria yang kini berbaring di sampingnya.
"Cinta itu butuh kepercayaan."
"Kalau kamu selalu ragu dan takut, sama aja nggak percaya." Ara menyentil ujung hidung suaminya.
"Aku percayanya cuma sama Allah," goda Aro.
"Iiiiiih susah banget sih ngomong sama bapak satu ini," geram Ara membuat Aro tertawa.
"Malah ketawa," omel Ara mencubit perut suaminya.
"Sakit, tahu!" desah Aro.
Tangan Aro menyelinap masuk ke dalam blus pink yang Ara gunakan. Mengusap perut kencang Ara beberapa kali. Memberikan rasa nyaman pada wanita itu hingga membuatnya terpejam.
Kemudian tangan Aro berpindah ke punggung lembut istrinya dan otomatis wanita itu berbaring menghadapnya. Memberikan ruang yang leluasa pada Aro untuk terus mengusap punggungnya. Aro melakukannya sedikit lama membuat Ara mulai terbuai dengan sesekali menggeliat dan mengepalkan tangan.
"Napas, Ra," bisik Aro menggoda istrinya yang sedang terbuai.
Tanpa membuka mata Ara meninju dada telanjang suaminya hingga pria itu mengaduh.
"Nyebelin ... jail!" sungut Ara seraya berpindah menjawil telinga Aro. "Kamu kebanyakan makan apa sih sampe keras kepala dan susah banget diomongin gini?" Ini masih soal Aro yang selalu curiga terhadap Akhza.
Aro malah tertawa kemudian menenggelamkan wajahnya pada wajah Ara saat wanita itu kembali bersungut.
"Maaf, sekali lagi aku bilang aku egois perihal mencintaimu."
Aro tidak memberi Ara kesempatan untuk bicara sebab ia kembali membungkam mulut Ara dengan gerakan yang lebih dalam dan menuntut.
Ara bisa apa selain menerima setiap perlakuan Aro yang selalu membuainya hingga titik di mana Ara akhirnya tumbang dan memilih untuk tidur dari pada kembali beraktifitas. Melelahkan.
Aro sedang memakai baju saat Ara kembali dari kamar mandi dengan handuk kimono warna krem kesayangannya. Rambut Ara masih basah bahkan mengucurkan air saat wanita itu kembali ke tempat tidur yang seprainya sudah diganti oleh suaminya.
"Salat dulu, Ra. Hampir Zuhur," cegah Aro saat Ara hendak membaringkan tubuhnya.
"Keringin dulu rambutnya," lanjut Aro seraya mengelap rambut panjang istrinya dengan handuk kecil.
"Salat, makan, baru tidur," ucap Aro membuat Ara memberengut.
"Masih kenyang, aku pengen tidur!" sanggah Ara.
"Iya boleh, sekarang ganti bajunya terus salat. Aku mau makan terus ke masjid."
Aro kemudian beranjak meninggalkan tempat tidur dan mengambil sarung serta koko dalam lemari lalu pergi meninggalkan kamar setelah memastikan Ara memakai baju.
__ADS_1
Di dapur kesibukan masih tercipta. Terdengar suar cess dari wajan yang sedang dipakai menggoreng ayam serundeng favorit keluarga itu. Aroma khas kelapa membelai indra penciuman Aro dan membuatnya mengambil piring dalam rak serta meminta masi pada bundanya yang memang sedang membungkus si putih pulen untuk dikemas ke dalam kotak.
"Ara mana?" tanya Bumi seraya sekilas melirik rambut basah putranya dan menggeleng. Bisa-bisanya dia enak-enakkan sedangkan orang lain sibuk mengurusi acara empat bulanan calon anaknya.
"Di kamar, jangan diganggu. Dia malem tidur jam dua. Jam empat udah bangun lagi," jelas Aro kemudian mengambil piring yang disodorkan oleh bundanya.
"Dan sempet-sempetnya keramas jam segini?" sindir Bumi.
Aro tertawa, tentu saja rambut basahnya mengundang perhatian bundanya. "Dia kalau nggak digituin pasti ikut-ikutan sibuk. Aku nggak mau dia kecapen. Jadi, biarin dia tidur."
Dalam hati Bumi membenarkan kelakuan Aro. Terlepas keramas di siang hari tentunya.
***
Bada Asar acara pengajian babak ke satu bersama ibu-ibu dan anak yatim dimulai. Selesai hingga hampir magrib dengan membagikan bingkisan pada para jemaah dan santunan terhadap anak-anak berwajah polos itu.
"Minta doanya ya semua semoga istri saya selalu sehat dan dalam lindungan Allah," ucap Aro pada para ibu dan anak yatim.
Ara yang memakai kaftan warna putih dengan pashmina warna senada nampak cantik dan berseri. Memandangi kepergian ibu-ibu dan anak yatim dengan senyuman.
"Makan dulu, Ra!" Aro menghampiri istrinya yang masih duduk di atas karpet. Tak beranjak sedari selesai mengaji.
Baru akan bertanya mau makan dengan apa, mami Ara keburu datang membawa sepiring nasi beserta lauk pauk dan segelas air putih hangat.
"Aku suapin?" tawar Aro sedangkan mami Ara kembali ke dapur karena masih mengemasi bingkisan untuk para bapak yang akan pengajian bada Isya nanti.
"Ish aku bisa sendiri," tolak Ara. "Udah sana bantuin ayah bersihin sampah di depan," lanjut Ara seraya menunjuk dengan dagu pada Ayah yang sedang memunguti sampah bekas air mineral dan kertas pembungkus kue.
"Maunya nemenin tuan putri," sanggah Aro membuat mata Ara mendelik dan Aro segera bangkit dari duduk kemudian berlari menuju ayahnya.
Pengajian kedua dilakukan bada Isya'. Ruang tamu serta teras penuh diisi oleh para jemaah. Namun, di antara keramaian itu, tak tampak Akhza. Pria itu berjanji akan datang paling telat pukul 20.00. Tapi hingga hampir pukul 21.00 belum juga tiba.
"Abang ke mana ya, Ra? kok belum datang?" Bunda mulai gusar.
"Tala juga belum datang, dia janjinya mau ke sini loh." Mama Eca ikut menimpali.
"Kejebak macet mungkin," tebak Ara mulai ikut panik.
"Udah coba ditelepon?" tanya mami pada bunda
"Nggak diangkat," sahut bunda cepat seraya kembali membuka ponselnya.
"Hape Tala malah mati," keluh Mama Eca
Hingga pengajian usai dan para tamu pulang, Akhza masih saja belum terlihat batang hidungnya. Aro mulai ikut panik, dia yang baru menggulung karpet bersama Omar berkali-kali menoleh ke arah gerbang berharap Akhza segera datang dan berniat akan segera memarahi kembarannya itu karena melewatkan acara pengajian calon keponakannya sendiri.
Fadan dari arah dalam berlari-lari seraya membawa ponsel di tangannya menghampiri Aro.
Saat bicara, bukan suara Akhza yang terdengar. Melainkan suara Tala yang meminta Aro segera datang ke klinik Ara karena Akhza mengalami kecelakaan.
Walau kaget, Aro tetap berusaha santai dan tenang. Segera menyuruh Fadan menemui Ceya dan meminta gadis itu membawakan kunci klinik.
"Suruh cepet ke klinik tapi jangan sampe ada yang tahu terutama Teh Ara," pesan Aro kemudian dirinya ditemani Omar langsung pergi ke klinik.
Sementara itu di klinik, Tala sudah merasa kesal sebab Aro atau pun Ceya belum ada yang datang.
“Tahan ya, Bang.” Tala mengusap punggung Akhza yang membungkuk, dengan bokong menempel pada pintu kaca.
Tala pindah berjongkok di bawah Akhza seraya menarik tangan kanan Akhza yang ia balut menggunakan pashmina.
“Pusing, Bang?” Tala menekan kembali telapak tangan yang terus saja mengeluarkan darah.
Pashmina putih Tala sudah basah dan merah oleh darah.
“Nanti gue ganti kerudungnya,” bisik Akhza membuat Tala menggeleng.
“Abang kayak gini gegara aku,” sela Tala.
“Nggak apa aku korban kerudung doang, ya walopun itu adalah kerudung pertamaku,” tawa Tala, terdengar lirih oleh Akhza.
“Kenapa, Tal?” ucap Ceya yang datang bersama Omar dan Aro.
“Elo kenapa, Bang?” Aro segera meraih tangan Akhza yang sedang dipegang Tala.
Tala sedikit menyingkir untuk memberi ruang pada Aro sedangkan Ceya lekas membuka pintu.
“Siapin alat-alat buat ngejahit luka Dokter Akhza ya, Ce,” pinta Tala diangguki Ceya sebagai tanda mengerti.
Ceya masuk diikuti Omar di belakangnya. Pria tambun itu mulai tertarik pada Ceya. Manis, pikirnya.
“Aku cuci tangan dulu ya, Bang.” Tala mengangkat kedua telapak tangannya yang berlumur darah kering.
“Gue nggak mau dijahit,” sahut Akhza menahan langkah Tala yang hampir beranjak.
“Abang, please. Jangan nyusahin, jangan ngajak aku gelut di saat kayak gini. Sekali-sekali nggak usah keukeuh!” sentak Tala kemudian berlalu dengan hati dongkol.
"Gue nggak mau!" sanggah Akhza, lagi-lagi.
"Badan kamu udah payah gitu masih aja gengsi nerima pertolongan dari aku?" tuding Tala tanpa menoleh seraya mengepalkan tangan.
"Jangan remehin kemampuanku, aku udah biasa jahit luka. Atau sekalian mau mulut kamu aku jahit biar kalo ngomong nggak nyakitin?" desak Tala dengan ujung mata panas, pipinya juga.
__ADS_1
"Ajak masuk ke ruang tindakan, Mas si triplek kusut itu." Tala akhirnya melangkah lebih dulu hendak mencuci tangan dan berganti pakaian.
“Ayok, masuk!” Aro meninju lengan Akhza dan membuat pria itu meringis.
“Eh, sakit, Bang?” tanya Aro seraya mengusap lengan abangnya yang tadi ia tinju.
“Kagak, udah masuk ayok!” bohong Akhza, tentu saja sakit. Tubuhnya tadi dikeroyok dan berkali-kali membentur aspal.
Aro menuntun langkah abangnya ke ruang tindakan. Di sana sudah tersedia alat yang komplit untuk menjahit luka. Selang berapa menit, Tala kembali dengan wajah lebih segar. Baju gamisnya sudah ia ganti dengan skiny jeans dan kaus putih yang sangat pas membungkus tubuhnya.
"Aku nggak mau diliatin pas jahit tangan Abang. Mas Aro boleh ke luar aja,” pinta Tala.
Pria itu segera melangkah, tapi kembali menoleh. Ia Menatap Akhza dengan sorot iba demi melihat kembarannya itu sangat pucat dengan wajah yang sesekali meringis.
“Aku nggak bakal suntik mati Abang kok, Mas,” sindir Tala mulai membuka pashmina yang membalut tangan Akhza.
“Pintunya jangan lupa ditutup, Mas!” teriak Tala membuat Aro melakukan apa yang diperintahkan gadis itu.
"Buka dulu kemejanya, bisa?" tanya Tala membuat Akhza mengangguk.
Tala diam saja saat Akhza mulai membuka kancing kemeja dengan tangan kiri yang sebenarnya juga perih dengan luka goresan.
"Bisa minta tolong kali, Bang kalau susah," sindir Tala.
"Ya peka aja, deh!" balas Akhza membuat Tala tertawa.
"Udah menderita gini, masih aja sombong!" cibir Tala kemudian membuka kancing kemeja putih yang Akhza gunakan dan sudah memiliki banyak noda darah.
Tala salah tingkah sendiri saat melihat dada Akhza yang lebar dan putih, sepertinya akan nyaman bila dipakai bersandar. Bersihkan pikiran kotormu, Tala. Umpat Tala dalam hati pada dirinya sendiri.
Selesai membuka kancing, perlahan Tala membantu Akhza membuka kemeja pada bagian tangannya. Setelah terlepas sempurna kemeja itu dari tubuh Akhza, Tala bisa melihat berapa luka memar dan baret pria itu di bagian bahu, punggung dan lengan.
"Ini pasti sakit banget ya, Bang?" Tala mengusap pundak Akhza yang kebiruan. Ini pasti gegara tadi abang diinjek preman itu. Gumam Tala.
"Jadi jahit nggak, Tal?" Akhza kesal dari tadi gerakan Tala sangat lamban.
"Jadi ... jadi. Sekalian juga bibir kamu mau aku jahit daripada nggak ada gunanya," sindir Tala.
Semenjak kejadian di rumah Aro tempo hari, hubungan keduanya memang sedikit mencair. Meski jadi sering bertengkar. Akhza yang tak banyak bicara, dihadapkan dengan Tala yang aktif.
Tala lanjut melepaskan hijabnya yang membungkus luka Akhza pada telapak tangan.
"Jalan ke wastafel deh," pinta Tala seraya membantu Akhza untuk berdiri menuju tempat tujuan yang berada di pojok ruangan itu.
"Aku bersihin darahnya, Abang tahan sakitnya," bujuk Tala.
"Nggak bakal sakit!" kelit Akhza.
"Hih, sombong!" cibir Tala seraya mengusap pinggiran telapak tangan Akhza hingga bersih.
Untuk bagian lengan yang terkena tusukan, Tala melakukannya dengan cara mengelap menggunakan saputangan basah.
Setelah dipastikan telapak tangan Akhza sudah bersih dari darah mengering, Akhza kembali Tala bawa menuju tempat tidur.
pria itu duduk bersandar pada head board tempat tidur dengan kaki bersila. Untuk meminimalisir rasa sakit saat menjahit , Tala memberikan suntikan anastesi pada Akhza.
"Nggak usah jadi jagoan!" ledek Tala membuat Akhza diam tak mau menanggapi gadis itu.
Selama proses menjahit luka berlangsung, Akhza seolah terisihir dengan mata indah Tala. Gadis itu mengenakan masker bedah, namun lupa mengucir rambutnya. Sehingga yang terjadi adalah rambut yang seringkali jatuh menutupi muka Tala saat kegiatan menjahit luka berlangsung.
"Makanya pake kerudung, biar rambut nggak bikin ribet." Akhza menyelipkan rambut Tala ke balik telinga gadis itu.
Tala berusaha tetap tenang, hingga proses jahit menjahit telapak tangan dan lengan Akhza selesai. Tak henti di situ, Tala kini mengabsen setiap memar dan baret bagian bahu dan pundak. Tala kembali meringis mengingat dengan bengisnya orang-orang berpakaian hitam tadi mengeroyok dirinya dan Akhza.
"Abang, siapa ya orang-orang tadi?" Tala merendahkan suara saat bertanya.
"Begal," jawab Akhza singkat.
"Beruntung tadi ada mobil lewat, ya." Tala bernapas lega setelah seluruh luka pada tubuh Akhza sudah ia bersihkan dan diberi salep.
"Ya," sahut Akhza kemudian mulai merebahkan diri. Mengantuk.
Tala kemudian tak bicara lagi, ia kesal dijawab singkat oleh Akhza. Gadis itu memilih merapikan kembali alat-alat bekas menjahit luka dan pergi meninggalkan ruangan itu.
Tala sempat istirahat sebentar di ruang tunggu klinik bersama Ceya, menikmati teh hangat beserta pukis yang dibawakan oleh Atar.
"Atar, anterin aku ke stasiun ya. Aku mau pulang," pinta Tala setelah membalas pesan Rud.
[Aku nggak bisa datang, salam buat Ara. Bilang maaf ya ke mama.]
Atar tentu tak menolak, diam-diam pemuda tanggung itu menyukai Tala. Entah sungguhan atau hanya memuji, yang pasti Atar selalu menyukai gadis yang usianya lebih matang darinya. Itu seleranya.
Tala kembali ke kamar Akhza sebelum pergi untuk mengambil sling bagnya. Akhza terdengar mendengkur, membuat Tala mendekatinya. Dada telanjang Akhza berkilat-kilat terkena sinar lampu. Entah setan dari mana yang menghampiri Tala.
Gadis itu, naik merangkak ke atas kasur Akhza. Memandangi dengan lekat si pemilik alis tebal nan hitam itu. Tala menciumi alis itu bergantian. Kemudian berpindah ke kedua mata Akhza. Dan, terakhir kedua pipi Akhza menjadi sasarannya.
"Cepet sembuh," bisiknya lirih seraya turun dari tempat tidur dan keluar meninggalkan ruangan itu.
.
.
__ADS_1
.Aku mau tanya, nama abang akhza itu memang susah disebutin ya? 🤗🤗🤗🤗