Langit Untuk Ara

Langit Untuk Ara
Jungkir Balik Dunia Abang


__ADS_3

Rea terpaku dengan sapaan salam seseorang yang mirip dengan Aro, tapi dalam versi lain. Rea mengerutkan kening, ditatapnya lekat-lekat wajah Akhza. Dalam penampilan tentu berbeda dengan Aro. Akhza selalu rapi dengan kemeja dan celana bahan. Hari itu, Akhza memakai kemeja berwarna abu-abu yang digulung hingga lengan dan celana bahan berwarna coklat muda.


"Kamu siapanya Aro?" celetuk Rea, bukannya menjawab salam gadis itu malah berjalan mengitari Akhza.


"Saya kembarannya, mirip 'kan?" Akhza berusaha tenang.


"Ada perlu apa?" tanya Rea, ia kini berhenti mengitari Akhza dan memilih berdiri dan bersandar pada mobilnya.


"Mau kenalan," sahut Akhza, kaku.


"Sama aku?" Rea menunjuk dirinya sendiri.


"Iya, boleh 'kan? Kalau nggak boleh saya balik lagi," celoteh Akhza seraya membalikan badan. Dia berfikir untuk membatalkan niatnya mendekati Rea. Takut melihat gadis itu yang benar-benar seperti Tarzan.


Rea serta-merta mencekal lengan Akhza dan mendekatkan tubuhnya ke arah Akhza.


"Iih masa segitu doang perjuangannya?" protes Rea seraya meletakan dagunya ke bahu Akhza. Benar-benar tak tahu malu.


"Kamu beruntung bisa langsung deket sama aku, nama kamu siapa?" sambung Rea tanpa melepaskan pegangannya pada lengan Rea.


"Nggak dapet Aro, ada sodaranya. Mirip banget," batin Rea.


"Saya Akhza, abangnya Aro," jelas Akhza berusaha menjauhkan diri dari Rea.


"Ada perlu apa mau kenalan sama aku?" selidik Rea, kali ini malah memeluk lengan Akhza. "Aku merasa kita udah deket. Apa karena kamu kembaran Aro?" imbuh Rea kali ini dengan menyenderkan kepala di bahu Aro.


Omar dari kejauhan cekikikan saja melihat tingkah Rea yang agresif dan Akhza yang ketakutan.


"Sebentar lagi keperawanan lo ilang, Bang," gumam Omar tertawa tanpa takut dosa.


Sementara Akhza berusaha melepaskan pegangan Rea pada lengannya. Ia menepis halus tangan Rea hingga akhirnya gadis itu menyerah juga untuk tak memegangi lagi lengan Akhza.


"Aku ada syuting, eh ... enaknya panggil apa sih?" Rea menyikut perut Akhza.


"Seenak kamu aja, apa aja." Akhza menjauhkan dirinya, benar-benar takut dan risih.


Di lingkungan keluarganya tak ada yang berpenampilan seperti Rea. Tubuh putih mulus hasil perawatan itu, hanya dibalut dress tanpa lengan dan menampakan kaki jenjang hingga pahanya. Sebutan Tarzan memang cocok disematkan padanya. Begitu pikir Akhza.


"Abang aja, boleh?"


"Terserah!"


Akhza menoleh ke arah Omar yang sedang mengacungkan jempol lalu menggerak-gerakan tangan, menyuruh Akhza kembali bicara. Akhza tak mengerti, lagipula mau bicara apa lagi? Akhza menggeleng seraya berkata apa tanpa suara. Omar menepuk-nepuk dadanya dan berkata aku tanpa suara. Akhza mengerti, dan mengikuti kata Omar, Aku. Lalu Omar berkata ikut berkali-kali, lagi-lagi tanpa suara. Akhza merespon dengan mengangguk, mengerti. Kemudian Omar berkata kamu, tanpa suara seraya menunjuk-nunjuk udara di sampingnya. Akhza merangakai semua yang telah diucapkan Omar.


"Aku ikut kamu," ucap Akhza tanpa sadar agak sedikit keras membuat Rea membulatkan mata. Baru pertama bertemu, dan Akhza langsung ingin ikut dengannya?


"Boleh, dong!" sahut Rea cepat kemudian gadis itu menyerahkan kontak mobil pada Akhza. "Kamu yang bawa ya, nanti aku kasih tahu alamatnya sambil jalan."


Dengan ragu Akhza mengambil kontak mobil Rea dan mengikuti gadis itu masuk ke dalam mobil. Rea memberitahukan alamat yang akan mereka tuju. Rea akan live talkshow di studio salah satu televisi swasta, Begitu papar Rea.


Tak banyak kata antara keduanya dalam perjalanan menuju studio. Akhza tak banyak bicara seperti Aro. Dia hanya mengangguk dan menggeleng saat Rea bertanya. Hal itu membuat Rea lama-lama memilih diam pula.


"Beda banget sama Aro," ucap Rea dalam hati.


Baru saja keduanya tiba di pelataran gedung yang menjulang tinggi itu, ponsel Akhza berdering. Dia mendapat telepon dari rekannya dan menyuruhnya untuk segera datang.


"Bawa mobilku aja," ucap Rea saat menangkap kerisauan di wajah Akhza ketika membicarakan harus segera pergi.


"Bawa mobilku aja." ulang Rea seraya menyentuh pundak Akhza. "Nanti kamu bisa anter lagi ke sini atau aku yang nyamperin ke Rumah Sakit," lanjut Rea meyakinkan.


Akhza berfikir sejenak. Ada benarnya juga, ia tak punya banyak waktu untuk segera sampai di Rumah Sakit. Dengan menyetujui saran Rea, Akhza segera pergi saat itu juga. Saat akan membuka pintu mobil, Rea menyentuh punggung tangannya.


"Hati-hati, Abang," ucap Rea membuat Akhza mengangguk.


Adalah Nauna yang menelpon Akhza memberi tahu bahwa ayahnya, Dokter Guntur, akan segera datang ke Rumah Sakit. Akhza sebenarnya merupakan koas penanggung jawab atas pasien yang Dokter Guntur tangani. Pasien tersebut bernama Lela, seorang wanita berusia 40 tahun. Penderita penyakit demam berdarah.

__ADS_1


Biasanya Dokter Guntur akan datang mengecek pasien pada sore hari. Maka dari itu Akhza berani pergi dari Rumah Sakit dan menemui Omar untuk mendekati Rea. Akhza berfikir bila pergi sebentar tidak akan masalah, terakhir saat sore kemarin trombosit Sang Pasien masih dalam batas normal. Sialnya, sebelum pergi, Akhza lupa tidak menitipkan pasien pada rekannya yang lain. Bahkan Akhza juga lalai untuk mengecek tensi dan suhu pasien. Padahal dua hal itu yang akan Dokter Guntur tanyakan saat kunjungan dan bimbingan pada koas.


Dunia masih berpihak padanya, jarak dari stasiun televisi ke Rumah sakit tak terlalu jauh. Hingga saat tiba di Rumah Sakit Akhza langsung menuju ruangan pasien Lela dirawat.


Di koridor ia bertemu dengan Dokter Guntur, dua orang perawat senior, rekan koasnya, Nauna, Lavi serta dua orang perawat magang. Mereka menghentikan langkah demi kedatangan Akhza.


"Udah selesai makan siangnya?" tanya Dokter Guntur dengan nada menyindir.


Akhza bingung, namun mengangguk juga. Pasti ada seseorang yang berkata dirinya sedang makan siang.


"Pasti Nauna," batin Akhza seraya melirik Nauna yang hari itu terlihat cantik dengan jepit rambut pink pada rambutnya. Nauna tersenyum manis membuat Akhza memutar bola mata. Ia tak suka dengan si manja itu.


"Tadi kata perawat magang kamu lagi makan," ungkap Dokter Guntur seraya menunjuk dengan dagu pada salah satu dari dua perawat magang yang ada di sana.


"Seenaknya aja ninggalin ruangan, harusnya tadi pasien kamu dulu yang saya periksa."


"Jadi bukan Nauna." Lagi-lagi Akhza membatin.


"Iya, Dok. Maaf, saya salah. Kita masuk sekarang?" tawar Akhza membuat Dokter Guntur kembali melangkah lebih dulu disusul Nauna, Lavi, dan dua perawat senior. Namun, Akhza masih berdiri di tempatnya seraya bernafas lega. Hal itu membuat dua perawat magang melakukan hal sama.


"Ada yang pantau pasien Lela nggak?" tanya Akhza tanpa menoleh pada kedua perawat magang yang berdiri di belakangnya.


"Aku ada catatan medisnya kak. Suhunya 38 derajat, tensi 111/75. Trombositnya 146000. Tapi, beliau mengalami pendarahan gusi, Kak," papar seorang perawat magang berperawakan mungil, tingginya hanya 156 cm mungkin. Dagunya bulat dengan wajah sedikit chubby.


"Ini berkasnya," perawat magang itu menyerahkan berkas pasien Lela pada Akhza.


Demi mendapatkan apa yang akan menyelamatkan harinya dari kemarahan Dokter Guntur, Akhza akhirnya menoleh pada perawat itu.


"Terima kasih," ucapnya tanpa senyum dan kembali menatap lurus ke depan, masuk ke dalam ruangan pasien Lela dirawat. Peduli apa pada anak magang?


"Ini pasti kerjaan Mama," batin Akhza sambil menatap pada berkas yang di pegangnya.


***


Akhza segera berjalan menuju kursi di mana Ayesha duduk.


"Mama ..."


"Heh, Mama ... Mama ... Panggil Ibu, ini Rumah Sakit. Ingat, harus pakai etikanya!" sela Ayesha seraya melempar Akhza dengan tisu basah bekas ia mengelap tangannya.


"Galak banget kalau lagi kerja," gumam Akhza seraya duduk.


"Makasih ya Ma, maksudku Ibu karena udah memeriksa keadaan pasien aku. Lengkap dengan catatannya lagi," ungkap Akhza seraya menunjukan berkas pasiennya.


Ayesha mengerenyitkan dahi, pasalnya ia sama sekali tidak merasa membuat catatan itu. Tapi, ia tahu siapa pelakunya. Sebab, tadi sekitar pukul 10 dua orang perawat magang yang bekerja di bawah bimbingannya berkata akan melihat keadaan pasien Lela yang Ayesha tahu adalah Akhza penanggung jawabnya.


"Bukan saya yang buat, tuh Tala," ralat Ayesha seraya menunjuk dengan ujung mata pada perawat magang bernama Tala.


"Namanya, Tala? aneh," batin Akhza seraya beranjak dari duduknya lalu menghampiri Tala dan temannya yang sedang duduk di kursi tunggu pasien.


"Yang mana yang namanya Tala?" todong Akhza pada kedua gadis itu.


"Saya, Kak," sahut perawat magang yang tadi menyerahkan berkas pada Akhza.


"Terima kasih," ucap Akhza seraya berlalu, namun sebelumnya ia sempat berpamitan pada Ayesha kemudian pergi meninggalkan ruangan itu.


***


Ara jauh lebih baik dari beberapa hari yang lalu. Ia terlihat lebih ikhlas dan menerima kenyataan tentang calon suaminya. Hari-hari terakhir bulan Ramadhan membuatnya sibuk menyiapkan lebih banyak bukaan, selain untuk ke masjid ia juga membuat untuk orang-orang yang beritikaf di masjid.


Seperti sore itu, beberapa hari menjelang hari raya. Ara bersama Sanu sedang berkutat di dapur membuat batagor.


"Jangan terlalu kecil potong pangsitnya, Nu," komentar Ara saat satu memotong menjadi empat bagian satu lembar pangsit di tangannya.


"Bagi dua aja gitu?" tanya Sanu membuat Ara yang sedang memasak sambal kacang mengangguk. Aroma daun jeruk berpadu wangi khas kacang tanah menyeruak di dapur kecil itu.

__ADS_1


"Ra, kamu nggak mau nengok Mas Ar?" tanya Sanu.


"Jangan ngomongin dia, Nu," sela Ara seraya mematikan kompor, dirasa sambal kacang sudah berada pada tingkat kematangan sempurna. Warnanya kemerahan, sangat cantik dan menggugah selera.


"Nanti juga kalau udah waktunya ketemu, ya ketemu," sambung Ara kemudian menuangkan tepung kanji ke dalam baskom berukuran sedang.


"Hai, apa kabar, dek?" sapanya seraya mengusap perut Sanu yang sudah semakin buncit.


"Makanan dijaga, Nu. Jangan kebanyakan makan mie instan," pesan Ara.


"Iya, Ra ... makasih, Ra," lirih Sanu membuat Ara menoleh ke arah wanita itu.


"E-eeh kok nangis?" Ara segera mendekati Sanu yang sedang duduk di salah satu kursi yang menghadap meja makan itu.


"Kamu sama mami baik banget sama aku, keluarga aku aja nggak ada yang nyari aku," keluh Sanu, terisak.


"Nggak boleh berprasangka buruk, Nu. Kami baru beberapa saat baik sama kamu. Sedangkan keluargamu, pasti sudah banyak melakukan kebaikan buatmu. Hanya soal waktu kamu bisa kembali diterima oleh mereka," papar Ara seraya merangkul bahu Sanu.


"Kadang aku kangen sama mama kalau lihat bunda dan mami baik ke kamu," adu Sanu seraya mengusap air mata yang mengalir.


"Lebaran kita samperin mama kamu, gimana?" tawar Ara.


"Aku takut," sela Sanu.


"Insya Allah nggak akan kenapa-napa," timpal Ara.


"Kita coba ya, Ra," sahut Sanu membuat Ara mengangguk kemudian kembali meneruskan membuat isian batagor yang terbuat dari tepung tapioka, tepung terigu dan dicampur dengan ikan tenggiri.


***


Menjalani hari-hari sebagai koas memang seperti menaiki wahana roller coaster. Akhza harus siap dengan segala perintah dokter senior. Beruntung berkat ramuan kunyit dan daun bandotan yang ia minum tempo hari, kini lambungnya dalam kondisi baik. Mengingat kunyit, ia kembali mengingat Ara.


Dari dalam ruangan, ia berdiri di depan jendela memperhatikan lalu-lalang orang-orang di pelataran Rumah Sakit. Mereka terlihat kecil seperti sebuah miniatur.


Pandangannya tertuju pada seorang gadis yang sepertinya ia kenali meski dari kejauhan. Gadis itu sedang bicara dengan Satpam.


"Tarzan?" gumam Akhza seraya menyipitkan matanya. Ia segera beranjak dari tempatnya berdiri.


Akhza berfikir harus segera menemui Rea sebelum gadis Tarzan itu masuk ke dalam Rumah Sakit dan menanyakan keberadaannya. Akhza berlari kencang setelah keluar dari lift di lantai satu. Ia bahkan tak menghiraukan sapaan Nauna yang baru saja ia lewati di pintu masuk.


Akhza terus berlari hingga akhirnya bisa sampai di hadapan Rea. Gadis itu tersenyum mengulurkan tangan, entah mengapa Akhza reflek menyambutnya? Rea masih saja mengenakan pakaian minim, walau kali ini bahunya tertutup. Hanya bahu, jangan lupakan dada. Ia memakai kemeja tapi kancing tiga teratasnya sengaja dibuka, maksudnya apa?


"Kamu mau pulang sekarang?" tanya Rea.


"Aku belum bisa balik sekarang," beri tahu Akhza seraya mengambil kontak mobil Rea dari saku celananya.


"Lalu?"


"Terima kasih untuk mobilnya. Kamu bisa pulang, mobilnya di sana," ungkap Akhza menunjuk ke arah mobil yang terparkir tak jauh dari tempat mereka berdiri.


"Yaa, boleh aku ikut ke dalam?" pinta Rea dengan raut kecewa.


"Ini Rumah Sakit, bukan Hotel. Kamu nggak boleh masuk!" tegas Akhza.


"Oh, jadi kalau ke Hotel boleh ikut masuk?" goda Rea seraya mengerlingkan mata.


Akhza gelagapan, ia mengusap tengkuknya dan bingung harus menjawab apa.


"Gak mau ngajak ngopi dulu?" tawar Rea.


"Enggak!" sanggah Akhza membuat Rea tertawa.


Gadis itu kemudian pamit dan beranjak. Baru dua langkah berjalan, ia kembali mundur lalu berbisik pada Akhza, "Sampai ketemu lagi, Abang."


Tangan Rea mengusap pipi Akhza yang diam tak bergeming. Rea tertawa melihat ekspresi Akhza, puas. Jadi siapa yang akan masuk perangkap? Akhza benar-benar menyesal mengikuti permainan Omar.

__ADS_1


__ADS_2