
Aro nekad menyusul Ara dan Omar ke Bogor menggunakan taksi online. Beberapa waktu setelah Ara dan Omar sampai, ia juga sampai saat Omar sedang tertidur pulas di ruang tamu.
Aro dan Cici ternyata saling mengenal. Jelas saja, Cici adalah putri dari salah satu aktor terkenal pada masanya. Maminya juga seorang MUA yang hingga sekarang sering menjadi team yang aktif di lokasi syuting Aro.
"Upil mana?" tanya Aro setelah berbasa-basi dengan Cici.
"Hah? upil? di idung lo, lah!" jawab Cici.
"Maksud gue Arabella, mana dia?" Aro mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Ia melihat tas Ara tergeletak di lantai, ponselnya juga tersimpan rapi di atas meja. Di sampinya ada mangkuk kotor, tidak mungkin bekas Ara sebab adiknya itu sangat rapi dan disiplin.
"Lagi nemuin maminya di atas," jawab Cici segera beranjak membawa mangkuk kotor hendak ke dapur.
Tak puas dengan jawaban Cici, Aro ikut mengekori gadis berambut panjang dengan balutan pakaian minim itu.
"Tadi pas dateng dia kelihatan sedih nggak?" tanya Aro berdiri di samping Cici yang sedang mencuci mangkuk di depan wastafle.
"Biasa aja," jawab Cici sekenanya.
"Dia suka ceritain tentang gue nggak?" lagi-lagi Aro mengekori langkah Cici meninggalkan dapur.
Cici berjalan seraya mengikat rambut tinggi-tinggi menampakan sebuah tatto kupu-kupu pada lehernya. Dalam pandangan Aro, pergelangan tangan Cici juga diukir tatto kepala kucing kucing, kecil namun kontras dengan kulitnya yang putih. Sehingga tatto itu nyata terlihat. Perlu diakui, Cici memang memiliki postur tubuh sempurna, kecantikan paripurna. Perpaduan sempurna dari papi dan maminya yang cantik dan tampan.Tinggi semampai dengan kulit putih bersih.
Aro masih mengikuti langkah Cici. Ia baru berhenti saat Cici masuk ke dalam kamar mandi yang terletak di ruang tengah.
"Mau lihat punya gue? nanti lo pengen, gue nggak bisa kasih!" ketus Cici membanting pintu kamar mandi membuat Aro mengumpat kesal seraya melayangkan tinju ke udara.
Ia mengusap kasar wajahnya seraya melenggang kembali ke ruang tamu. Berharap Omar segera bangun atau setidaknya Ara sudah selesai bicara dengan maminya. Ia tak perlu bosan menunggu sendirian.
Aro kembali mendudukan diri di kursi ruang tamu. Pandangannya tertarik pada ponsel Ara yang terus bergetar. Menampakan nama Calon Suami pada layarnya. Aro ingin mengambil ponsel itu unyuk menjawab panggilannya, namun ia takut Ara bertambah kesal padanya.
Akhirnya ia memilih menjahili Omar. Aro ambil topi yang menutupi wajah Omar. Omar nampak menikmati tidurnya, mulutnya menganga dengan mata tertutup sempurna. Aro dengan sengaja mengorek lubang hidung Omar dengan kelingking Omar yang ia gerakan.
Merasa terganggu, Omar segera berteriak dan duduk seraya tanpa sadar meninju wajah Aro yang berada tepat di hadapannya. Aro tentu mengaduh kesakitan, tonjokan itu meninggalkan bekas nyeri yang tak berkesudahan.
"Shit!" umpatnya seraya balas meninju perut Omar. Omar tak terima, ia berdiri dan balas meninju lengan Aro. Aro semakin emosi, ia mendorong tubuh Omar dan membuat lelaki bertubuh gempal itu tersungkur ke lantai dengan posisi terlentang.
__ADS_1
Aro merasa di atas angin, ia mengambil ancang-ancang untuk menindih tubuh Omar, namun seseorang justru menahannya dengan menjewer telinganya.
"Mas Ar, dilarang ada kekerasan di rumah Tante!" suara teriakan Vanya terasa seperti petir tertangkap oleh indra pendengaran Aro. Vanya dan Ara baru saja turun dari lantai atas.
"Ampun, Tan!" Aro mengaduh seraya berusaha menyingkirkan tangan Vanya. Sementara Omar yang kesusahan berdiri, dibantu oleh Cici yang baru datang dengan rambut yang masih basah.
"Ci, pake bajunya nggak ada yang lebih kecil?" tegur Ara saat melihat Cici mengenakan tanktop yang menampakan sebagian perut ratanya. Rok mini yang Cici gunakan sangat cukup membuat kaki jenjangnya terekpose dengan sempurna. Bahkan tak sengaja mata Aro kembali mendapati tato tengkorak di sisi paha kiri Cici.
"Kamu bajunya nggak ada yang lebih gede?" balas Cici seraya berlalu dan duduk kembali di kursi ruang tamu.
"Udah ... udah, kok ributin baju sih," lerai Vanya seraya melepas telinga Aro. "Sana tunggu di ruang tamu! Mami bikinin makanan dulu."
Ara menurut, ia melangkah terlebih dahulu dan diikuti Omar dan Aro yang kembali saling mengumpat. Kali ini tanpa penyerangan, sebab tak ingin mengundang kegaduhan.
Cici sedang sibuk dengan ponselnya saat Ara kembali ke ruang tamu. Ara duduk menghempaskan tubuhnya di sebelah Cici. Aro dan Omar tak lama datang. keduanya duduk di kursi lainnya, saling berdampingan.
"Ci, Cici tahu masalah mami?" tanya Ara membuat Aro dengan seksama mendengarkan apa yang akan Ara sampaikan.
"Mami kamu terlilit hutang?" tebak Cici tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.
Ara mengangguk, "Cici kenapa nggak cerita sama aku? pantesan aku inget terus ke mami, aku sampe pengen nangis terus gara-gara inget mami. Padahal mami lagi ngalamin hal sulit kayak gini," keluh Ara.
"Ba***e! sodara gue punya nama, bisa nggak panggil dia dengan sebutan yang bener?" teriak Cici seraya melempar Aro dengan bantal kursi.
"Keren!" tepuk tangan Omar, "gue suka gaya lo, Ci ...."
"Monyong!" kesal Aro seraya mwngusap wajahnya yang terkena lemparan bantal kursi. "Pantes lo jomlo terus, kelakuan lo kasar banget!"
"Aduuuuh!" pekik Ara, "Mas, Ci, bisa nggak apa-apa itu jangan pakai emosi?" lerai Ara mengabsen kedua orang di hadapannya itu.
"Ara, aku kan belain kamu. Jangan mau dipanggil upil, muka kamu cantik, nama kamu bagus, kelakuan kamu waras. Mau-maunya dibilang upil sama artis songong itu!" tegas Cici seraya menunjuk Aro dengan dagunya.
"Eh, mau tahu nggak artinya upil apa?" seloroh Omar, tak ada yang menjawab. "U buat you, pil buat person i love. Kamu adalah orang yang kucinta ...."
"Maksa!" teriak Ara dan Cici berbarengan membuat Omar menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
__ADS_1
"Eh serius, Pil. Kenapa nyokap lo?" tanya Aro tak peduli dengan candaan Omar.
"Gue aja yang ceritain," ucap Cici seraya melirik Ara meminta persetujuan. Ara mengangguk, ia pikir tak ada salahnya Aro tahu. Bukan untuk mengumbar aib, hanya saja siapa tahu Aro bisa membantunya lewat do'a. Sehingga masalah ini cepat selesai.
Cerita bergulir dari bibir Cici, persis seperti apa yang diceritakan Vanya terhadap Ara. Aro tanpa seksama mendengarkan, sesekali ia mengangguk, meringis, membuat kerutan dalam pada dahi dan melirik Ara penuh rasa kasihan.
"Gue bantuin, Pil," ucapnya selesai Cici bercerita.
"Nggak usah, aku bisa sendiri," tolak Ara ketus.
"Kamu udah punya solusi?" selidik Cici.
"Aku sama mami sepakat buat jual rumah ini. Koh Budi, yang rumahnya deket pos udah tawar 350juta rumah ini. Mami nggak punya pilihan lain selain jual rumah," jelas Ara membuat Cici terperanjat kaget.
"Kalo rumah dijual, tante mau tinggal di mana? uang segitu paling cuma cukup bayar hutang doang, beli rumah lagi mana cukup?" cecaran kerisauan Cici mendapat anggukan dari Aro.
"Tinggal sama aku, ada kok rumah bu Zenab mau dijual dengan harga murah. Tempatnya di deket klinik aku kerja, emang kecil dan nggak sebagus rumah ini," ungkap Ara seraya mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan rumah besar maminya itu.
"Maksud lo, Pil?" Aro bertanya ingin memastikan.
"Aku mau pindah dari rumah bunda, kurasa aku emang nggak baik terus-terusan ada di antara kalian, Mas," papar Ara.
Aro menggeleng, "Pil. bunda mana kasih izin. Bunda sayang banget sama lo, bunda mana mau jauh dari lo!"
"Mami lebih butuh aku, Mas. Bunda pasti ngerti."
"Ra, Aro bener. Kamu nggak akan baik-baik aja tinggal berdua tante. Kita sama-sama tahu seperti apa kelakuan mami kamu," Cici ikut khawatir.
"Aku sama mami udah se ...."
Kalimat Ara terpotong sebab Cici mendapat panggilan telepon dari seseorang. Tanpa ragu ia menjawab panggilan itu tanpa berpindah tempat. Ara ikut meraih ponselnya yang masih tergeletak di atas meja.
Sedikit merasa bersalah sebab Sakaf sudah melakukan panggilan terhadapnya berkali-kali. Ara coba menghubungi kembali nomor Sakaf, namun nyatanya nomor Sakaf sedang sibuk.
Ia kembali meletakan ponsel ke atas meja. Wajahnya tampak menyiratkan kerisauan yang amat dalam. Ara mengusap wajahnya perlahan dengan kedua telapak tangan.
__ADS_1
Aro terus saja memperhatikannya, ada rasa kasihan dalam diri Aro melihat tampang Ara yang begitu kelelahan.
"Salasika Arabella, ngobrol berdua, yuk!" ajak Aro.