
Jika dalam dongeng sepatu kaca dipakai oleh Cinderella ...
Dalam kisah ini sepatu kaca dipakai oleh seorang jagoan wanita ...
.
.
.
Alessya setengah tertidur di dalam mobil, sembari bersandar pada sandaran kursi belakang. Merasa jenuh karena Arselli tak kunjung datang mencari dan menyusulnya.
Sepertinya dia benar-benar marah dan sudah tidak membutuhkannya lagi, fikirnya.
Tiba-tiba ...
Brakk !!!
Alessya tersentak bangun lalu terduduk waspada.
" Buka pintunya !! " Teriakan suara pria terdengar garang memekakan telinganya. Alessya langsung menengokkan kepalanya mencari sumber suara.
Sepertinya suara pukulan yang keras tadi berasal dari sana juga. Karena tepat setelah Alessya menengokkan kepala ke arah belakang mobilnya, dia mendapati seorang pria tengah menggenggam sebongkah kayu cukup besar ke arah sebuah mobil yang berpenghuni seorang pria tua. Kaca mobil depannya tanpak pecah walaupun belum hancur sepenuhnya.
" Buka pintunya !!! " Teriak pria itu lagi. Kali ini bahkan lebih keras dan menakutkan. Dan Alessya terus mengamatinya dari dalam mobil, sembari tetap bersiaga khawatir terjadi sesuatu yang tidak diharapkan.
" Cepat !!! " Teriaknya lagi lebih keras.
Terlalu lama berdiam diri menjadi penonton menimbulkan rasa jengkel yang bergemuruh kencang di dadanya.
Braakkk !!! Braaakkkk !!!
Pria itu mulai memukuli lagi kaca mobil. Alessya yang melihatnya semakin terlihat panik dan tegang. Apalagi setelah melihat pria tua yang berada di dalam mobil itu, yang terlihat sangat ketakutan dan mengkhawatirkan.
Braaakkk !!!
Praakkk !!!
Kali ini suara kaca yang pecah terdengar cukup kencang.
" Apa yang kau inginkan ? " Ucap pria tua itu terlihat begitu tidak berdaya.
Supir Arselli yang akhirnya Alessya ketahui bernama Patrick, berbicara pelan.
" Nyonya ... Tunggulah di sini. Aku akan mencari bantuan. Bersembunyi dengan benar ... " Ucapnya panik setengah berbisik. Bibirnya terlihat bergetar kala itu. Alessya tersenyum kecut melihatnya, seorang pria yang terlihat begitu gagah namun memiliki nyali yang begitu kecil.
Alessya tersenyum. Dengan tenangnya dia berkata " Baiklah ! Aku akan menunggu di sini. "
Alessya menenangkan Patrick yang terlihat begitu panik sebelum pergi meninggalkannya di dalam mobil untuk mencari bantuan.
***
__ADS_1
" Kiyaaaaaa .... !!! "
Alessya berteriak cukup kencang untuk aba-aba tendangan pamungkasnya. Setelah tadi beberapa kali sempat melayangkan pukulan tepat di pipi, hidung dan bibir pria preman itu.
Bugh !!!!
Tepat satu tendangan terakhir itu mengenai punggung pria itu, hingga membuatnya jungkir balik dan akhirnya menggelepar pingsan dengan beberapa luka di wajahnya. Dan darah yang bercucuran menetes dari hidung dan sudut bibirnya.
***
Arselli segera berlari keluar dari pesta menuju tempat parkir yang begitu luas setelah baru saja mendapat telfon dari Patrick, supirnya.
" Dimana Nyonya ? " Tanya Arselli setengah berteriak dengan mode sangat panik.
" Nyonya baru saja dibawa ke kantor polisi, Tuan. " Jawabnya dengan suara bergetar.
" Apa ???!!!! " Teriak Arselli gusar.
" Apa itu ? " Kala melihat Patrick menyodorkan sesuatu padanya.
" Ini sepatu nyonya, Tuan. " Menyodorkan sebelah sepatu kaca milik istri majikannya karena yang satu lagi masih terpasang di kakinya tadi.
Arselli tertawa penuh dengan kegetiran. Menerimanya walau beribu rasa takut menghantuinya. Khawatir terjadi sesuatu pada istrinya dengan kemarahan yang datang bersamaan.
Dasar wanita gila !! Disaat memakai sepatu seperti inipun dia masih melakukan aksi gilanya itu ...
***
Asisten Henry datang menyambutnya setelah Arselli menelfon terlebih dahulu tadi dan memberitahukan masalah yang menimpa istrinya atau justru masalah yang dibuat istrinya. Dia masih belum mengerti.
Pasalnya Patrick hanya memberitahunya bahwa Alessya terlibat perkelahian dengan seorang pria dan akhirnya dibawa ke kantor polisi.
Ahh istrinya ini, benar-benar nakal sekali. Dia bahkan memijit pangkal hidungnya sampai beberapa kali. Tidak menyangka akan mengahadapi masalah ini dimana istrinya yang menjadi pelaku keonaran itu sendiri.
Apa kata orang - orang nanti !!
" Silahkan masuk , Tuan ! " Henry memberi jalan Bosnya untuk masuk ke dalam.
Mendapati Alessya yang tengah duduk tenang bersama seorang pria tua, Arselli terlihat kesal karenanya. Bukan karena melihatnya duduk di samping pria tua itu, hanya saja dengan perbuatannya yang sampai membuatnya dibawa ke kantor polisi.
" Russel ... " Sapa Alessya lirih. Sedikit tersenyum dan sekejap melambaikan tangannya. Dia sepertinya tahu Suaminya tengah marah padanya. Setelah melihat sorot tajam matanya yang menusuk tepat ke jantung hatinya, membuatnya berdebar saja.
Arselli bahkan tidak tersenyum samasekali, menatap Alessya yang cukup berantakan dengan hanya sebelah sepatu yang dipakainya sedikit banyak membuatnya kesal tidak karuan.
Berjalan mendekati istrinya, lalu berjongkok dan memasangkan sebelah sepatunya yang dia terima dari Patrick tadi. Walaupun dengan begitu kasar.
" Russel ... " Ada nada sesal di sana, merasakan kemarahan Arselli yang tidak seperti biasanya.
" Silahkan Duduk. Anda siapa ? " Tanya polisi itu yang tidak tahu bahwa Arselli adalah orang yang cukup terkenal di kalangan atas, bahkan di kalangan selebriti sekalipun.
Arselli duduk, dengan sikap dinginnya yang masih merajai. Sesekali melirik ke arah samping dimana Alessya tengah duduk gusar juga.
__ADS_1
" Ini adalah suami dari Nona Alessya ... " Jawab Asisten Henry setelah menyadari bosnya itu samasekali tidak berniat untuk menjawab pertanyaan tadi.
" Oh ternyata anda suaminya. Hebat sekali !! " Ucap polisi itu sembari tersenyum ke arah Alessya yang langsung dibalas senyuman manis nan tipis dari Alessya.
" Anda harus bangga memiliki istri seperti dirinya. " Ucapan itu sukses membuat Arselli mengernyitkan dahinya, semakin bertanya-tanya sebenarnya apa yang telah terjadi tadi, hingga Alessya dibawa ke kantor polisi.
Setelah mendapat penjelasan dari polisi itu dan asisten Henry, akhirnya Arselli tahu bahwa Alessya telah menyelamatkan seorang pria tua yang terlihat begitu tidak berdaya. Dari ancaman dan perampokan seorang preman yang kini telah meringkuk di dalam penjara.
Disaat semua orang tersenyum bangga menatap Alessya sang Jagoan Wanita, Arselli justru bersikap sebaliknya. Begitu dingin dengan aura yang sulit untuk digambarkan. Apalagi setelah melihat rekaman CCTv ketika istrinya beraksi, semakin membuat emosinya membludak dengan kecemasan yang begitu pasti.
***
Arselli membawa Alessya dalam pelukannya. Mengajak Alessya berjalan perlahan keluar dari kantor polisi sembari berusaha menghindari kerumunan wartawan yang terus mengejar istrinya dengan dibantu asisten Henry.
Dengan langkah tertatih Alessya mengikuti langkah kaki sang suami yang telah menjauh darinya terlebih dahulu menuju mobil. Setelah wartawan berhenti mengikuti mereka, karena asisten Henry berhasil mengecohkan mereka.
" Russel ... " Dengan terjingkat-jingkat Alessya berjalan. Sebelah kakinya sedikit terluka, karena sepatunya terlepas ketika beraksi tadi. Walaupun sepatunya kini sudah kembali, rasa sakit masih menderanya.
" Tunggu aku ... " Alessya memanggil suaminya yang terus berjalan cepat meninggalkannya.
Bergegas menyusul, Alessya memutuskan melepaskan kedua sepatunya itu lalu menjinjingnya. Dalam situasi genting seperti itu, dia masih ingat betapa mahalnya harga sepatu pemberian suaminya itu. Kalau tidak salah mencapai ratusan juta.
Arselli samasekali tidak menggubris panggilan istrinya itu. Rasa kesal dan kecewa terlanjur menguasai hatinya. Arselli duduk di dalam mobil di kursi kemudi setelah menyuruh Patrick untuk pulang bersama asisten Henry.
Alessya berjalan perlahan, lalu duduk di dalam mobil. Dia duduk di kursi belakang karena pintu depan sudah Arselli kunci dari dalam. Dengan tidak lupa menyimpan baik sepatu senilai rumah itu tepat di sampingnya.
Entahlah, sepertinya adegan saat Arselli memakaikan sepatu pada sebelah kakinya tadi, begitu terpatri di hati dan fikirannya. Menjadi kenangan tersendiri di dalam memory ingatannya.
" Maaf ... Aku telah membuatmu malu. " Ucap Alessya kemudian, memecah keheningan yang mereka ciptakan, tepatnya Arselli ciptakan.
Alessya benar-benar ingin menangis namun berusaha dia tahan. Dia bingung harus bagaimana menjelaskan situasi tadi. Dia sungguh tidak tega hanya berdiam diri melihat kekerasan yang mampu untuk dia akhiri.
" Maafkan aku, Russel ... " Ucapnya sekali lagi dengan begitu lirih dan sedih. Menyesali situasi tadi, tanpa bermaksud menyesali perbuatannya yang telah menolong pria tua tadi. Mengabaikan rasa perih di kaki yang semakin menjadi.
.
.
.
π Bersambung ... π
.
.
Jangan lupa like , rate dan koment yang banyak ya ...
Terus baca kisahnya walaupun banyak bawang merah, cabe, merica di sana.
Badai pasti berlalu ...
__ADS_1