Lola And Loly

Lola And Loly
Menjalankan Rencana


__ADS_3

Satu Minggu berlalu ...


Sepulang dari kantor, Arselli disambut senyuman hangat dari istrinya, Alessya. Kecupan hangat tidak lupa disematkan pada kening mulus istrinya itu. Kadang dengan jahilnya sembari mengecup, tangannya merambah kemana - mana mencari sensasi liar dalam kepenatannya. Dia slalu berusaha menghangatkan suasana pernikahan mereka yang baru di awal itu.


Kekakuan masih kental terasa dikala Alessya masih belum juga mengakhiri kebohongannya mengenai amnesianya itu. Entah malu atau bingung bagaimana mengakhirinya yang pasti mereka tetap menjalani rumah tangga dengan sebaik mungkin. Diselingi canda tawa dan adegan mesra dalam setiap sela - sela waktu senggangnya. Dan percintaan yang masih sebatas ciuman dan sentuhan liar yang begitu mereka nikmati namun lagi - lagi ditepis oleh mulut istrinya yang terlalu menjaga gengsinya itu. Seolah berusaha membentengi agar suaminya tidak kebablasan dikala dirinya masih belum melayani secara maksimal.


" Mandilah ! Aku sudah menyiapkan air hangatnya . " Dengan telaten dia mengurus suaminya itu yang tampak begitu kelelahan di matanya. Berujar lembut pada suaminya yang tengah terduduk lunglai di atas sofa sembari mendongakkan wajahnya menatap langit - langit apartemennya. Sebelah tangannya tampak memijit keningnya yang berkerut .


" Kau lelah ? Apa pekerjaannya begitu banyak ? Kau ingin aku memijatmu ? " Tanyanya bertubi, sembari duduk di samping suaminya itu.


Seperti mendapat angin segar Arselli langsung duduk tegak mendengarnya , menatap dengan tatapan menggoda pada istrinya itu .


" Baiklah , nanti pijat aku di atas ranjang Ok atau ... bagaimana kalau di kamar mandi ? " Terlihat begitu bersemangat sekali.


Alessya menelan ludah seketika , fikirannya liar kemana - mana . Pipinya bersemu merah mendengarnya.


" Ya , kau tidak ingat janzimu itu ? Bukankah tidak ada kontak fisik di antara kita. " Teriaknya sembari menahan malu yang menderanya.


Bukankah kau yang menawarkan barusan. Tidak ada kontak fisik apanya ? Kita bahkan berciuman setiap malam dan tanganku slalu bermain liar , kau menikmatinya saat itu ... Lain di mulut lain di hati. CK .. CK .. CK ..


Sembari menatap aneh istrinya yang telah berlalu pergi meninggalkannya.


Ya bagaimanapun sikap Alessya, samasekali tidak mengurangi rasa cintanya padanya , dia ingat betul bagaimana pengorbanan gadisnya itu dalam menyelamatkan nyawanya .


Hanya saja mengapa dia tidak juga jujur dengan amnesianya itu . Atau pura - pura mendadak sembuh dan ingat kembali padanya ? Dan tidak mengungkit perjanzian omong kosong itu.


***


Beberapa hari kemudian , di pagi hari yang cerah ...

__ADS_1


" Alessya ... Kau bisa mengambilkan handukku. Aku lupa membawanya tadi ! " Teriaknya dari balik pintu kamar mandi .


" Sebentar ...!! " Teriaknya juga , langsung menghambur walaupun dengan langkah yang lambat berusaha berhati - hati dengan bekas luka yang hampir sembuh, mengambil handuk lalu memberikannya pada suaminya .


" Ini ... " Menjulurkan handuk melalui celah pintu yang terbuka .


Dengan isengnya Arselli meraih tangan istrinya, lalu menariknya ke dalam kamar mandi .


Entah apa yang terjadi di dalam , atau entah apa yang dilihatnya di dalam ? Dengan setengah berlari Alessya keluar dari sana dengan pipi yang lagi - lagi bersemu merah.


" Ya .. Kau lupa janzimu ? " Teriaknya dari luar kamar mandi pada suaminya yang masih berada di dalam sana. Lagi - lagi dia mengungkit perjanzian omong kosong itu. Yang tidak disadarinya menoreh luka cukup dalam di hati suaminya , dan menimbulkan penyesalan di hatinya nanti. Mungkin karena terlalu lama dan sering , ada rasa kecewa dan jengah juga di hatinya ...


***


Satu bulan sudah mereka berumah tangga, namun satu minggu terakhir ini, hanya kehampaan yang terasa. Tiada lagi Russel yang hangat dan slalu menggodanya . Diam-diam memeluk dalam lelap tidurnya ataupun semangat untuk mencuri ciuman darinya .


Beberapa lama sebelumnya keromantisan itu tetap terasa. Namun setelahnya dia seperti berubah 180Β° dan tidak berputar lagi pada porosnya. Arselli yang sekarang sungguh bertolak belakang dari sikapnya yang biasa. Acuh, cuek dan dingin kepadanya.


" Kau sudah bisa menggarap kebunmu dengan bebas , Tuan Russel . " Ujarnya dengan kalimat ambigu terkekeh pada sahabatnya itu.


Alessya saja paham dengan maksud kalimat itu , bahkan saat itu pipinya sempat bersemu merah didera malu kala mendengarnya.


Tapi, sungguh tak disangka sang suami tercinta yang diam-diam dia rindukan dan inginkan itu bersikap seolah tak mengerti , acuh saja bahkan terasa semakin menjauh darinya dengan alasan pekerjaan yang bejibun tengah dipikulnya. Ayolah bukankah kau bos di perusahaanmu sendiri ?


Akh ... sedikit rasa sesal menderanya kala saat itu sebelum suaminya berubah padanya. Dia telah menyia - nyiakan moment - moment penting bersama suaminya. Walaupun sebenarnya alasan utama dari penolakan itu adalah karena kondisi fisik Alessya yang masih belum pulih benar.


Dan Arselli pun sangat tahu pasti , hanya dia sedikit kesal karena istrinya terus saja berbohong mengenai amnesianya itu dan terus mengungkit masalah perjanzian tidak ada kontak fisik diantara mereka . Mungkin , sesekali sedikit memberi pelajaran pada istrinya untuk lebih mengakui perasaannya sendiri dan lebih menghargai pasangannya meski dilakukan padanya.


Mungkin dia ingin memastikan , setelah dokter menyatakan dia bebas untuk melakukan apapun pada istrinya , tidak ada lagi penolakan dan kebohongan diantara mereka lagi. Mereka akan bebas melakukan apapun yang mereka inginkan dengan cinta dan keterbukaan diantara mereka . Bukankah akan sangat indah melakukan hal itu dengan cinta dan sebuah kerelaan untuk saling melayani dan memuaskan satu sama lain ?

__ADS_1


***


Suatu sore yang temaram ...


Ponsel Arselli berbunyi kala dia baru saja tiba di apartemennya setelah seharian tadi menghabiskan waktu untuk bekerja di kantornya. Lelah dan penat terasa kala itu , namun gugur berjatuhan kala mengingat sebuah rencana yang akan dimainkannya beberapa saat lagi.


" Ya , Hallo .. !! " Arselli menjawab cukup kencang memecah keheningan suasana apartemen di sore hari. Rupanya Dokter Edward yang menelfon, setelah sebelumnya berkoordinasi untuk bermain sandiwara di depan Alessya demi membongkar kebohongannya dan membuatnya membuka isi hatinya pada suaminya.


" Bagaimana ? Kita akan memulainya ? " Tanya dokter Edward pada sahabatnya itu , tampaknya mereka akan melanjutkan rencana yang sempat mereka rencanakan beberapa minggu lalu.


" Baiklah ...kita akan memulainya sekarang ." Arselli setengah berbisik bersikap seolah menyembunyikan sesuatu , sembari melirik istrinya yang tengah berdiri tidak jauh darinya.


Telinga Alessya begitu peka tadi , kala ponsel suaminya berbunyi dia langsung pasang mata dan telinga untuk mengawasi. Ujung bibir Arselli tersungging senang , kegirangan melihat betapa posesive istrinya terhadap dirinya berbanding terbalik dengan penolakan yang selalu dilakukannya selama ini.


" Apa yang terjadi ? " Arselli berpura - pura mengobrol dengan lawan bicaranya yang tengah tersenyum sendiri kala bermain sandiwara dengan sahabatnya itu.


" Baiklah ... Elliana . Tunggu aku di sana ! " Ucap Arselli yang langsung dibalas kekehan tawa dari dokter Edward dari balik telfonnya. Dan delikan tajam dari mata istrinya Alessya tertangkap dengan begitu jelas memancarkan amarah kecemburuan dari manik matanya.


Kaki Alessya bergetar terasa lunglai menopang tubuhnya . Dengan jantung yang berdenyut cepat dan dada yang begitu sesak.


Setelah sekian lama, akhirnya nama itu terucap lagi dari mulutmu . Ada apa ini , Russel ? Apa yang akan kau lakukan ?


πŸ’ž


πŸ’ž


πŸ’ž


Jangan lupa like , rate dan vote ya ...

__ADS_1


Jangan lupa koment untuk menambah semangat author berimajinasi lagi ...


__ADS_2