
.
.
.
Alessya menaiki taksi setelah sesaat lalu diantar oleh supir pribadinya ke depan rumah Diana, berpura-pura berkunjung ke rumahnya. Berniat pergi ke rumah sakit secara sembunyi-sembunyi untuk memeriksakan kembali kondisi rahimnya. Berharap ada keajaiban baik yang kelak akan merubah jalan hidupnya dan nasib pernikahannya.
Berjalan menyusuri lorong koridor rumah sakit, langkahnya terhenti tepat di pintu Poly Obgyn. Walaupun rasa takut dan sesak kian menyiksa dadanya, memberanikan diri dia masuk ke sana dan berharap keajaiban itu ada.
Menemui dokter wanita yang pernah dia temui beberapa bulan lalu, langkahnya kaku dan bibirnya kelu, keraguan menyiksanya dan menggerogotinya. Bagaimanapun hasil hari ini adalah kunci masa depan pernikahannya. Dia sungguh tidak sanggup membayangkan kemungkinan buruk yang akan terjadi, tetapi hidup adalah realita dia harus menerimanya. Dan dia tidak boleh egois untuk itu.
Jantungnya berdetak kencang menunggu hasil pemeriksaan dokter wanita itu. Tapi , dia sudah bertekad untuk menerima kenyataan ini, hidup harus terus berjalan bukan ? Kebohongan yang terlalu lama hanya akan menjadi noktah dalam ikatan suci mereka. Dia harus jujur kepada suami dan mertuanya , sekalipun resiko menyakitkan yang akan dia dapatkan.
" Maafkan saya, Nyonya ... Hasilnya masih tetap sama. Hanya keajaiban dari Tuhan yang mampu merubahnya. Banyaklah berdoa ... " Ucapan dokter itu terdengar parau merasakan kesedihan yang terdalam sebagai sesama wanita. Keputusasaan sarat terdengar karena harapannya begitu tipis. Berserah pada takdir dan keajaiban Tuhan menjadi pilihan akhir kalimatnya untuk menguatkan hati pasiennya.
" Jagalah kesehatan Anda, Nyonya... " Lanjut dokter itu lagi setelah beberapa saat, karena pasiennya itu tak kunjung jua menjawab dan merespon apapun. Pandangannya terlihat kosong, hampa dan menyedihkan yang teramat luar biasa. Air matanya bahkan tak mengalir saking kosongnya fikirannya.
Berlalu pergi dalam diam, hanya satu kalimat yang sempat Alessya ucapkan.
" Terimakasih ... " Dengan sedikit terbata.
Berjalan menyusuri lorong yang sama dengan semangat yang berbeda, tiada harapan yang sama seperti tadi, saat dia berharap ada keajaiban nanti. Tanpa keinginan, angan dan cita-cita seakan semua mimpi indahnya sirna dan pupus dihapus gelombang takdir yang membawanya kepada nestapa. Tergantikan oleh kenyataan yang begitu pahit bak empedu.
Hanya kekecewaan yang terasa kian menyesakkan. Menyiksa hati dan jiwa yang meronta dan menjerit. Seakan jalan kehidupan ini kian lama kian berliku untuk didaki dan digapai karena dipenuhi dengan batu terjal.
Bugh !
Terlalu fokus dengan masalah yang berkemelut di hatinya, tanpa disengaja dalam perjalanan itu Alessya bertabrakan dengan seseorang yang dia kenal. Hingga membuat dia jatuh tersungkur dan berkas kesehatan yang sedari tadi dia pegang jatuh berserakan.
__ADS_1
" Alessya ... kau di sini ? " Ternyata dia adalah Dr. Edward.
Dokter Edward terhenyak, hanya karena jatuh Alessya menangis ?
Padahal air mata itu sudah sedari tadi Alessya tahan tapi karena jatuh, air mata pun menjadi tak tertahankan.
" Kau tidak apa-apa ? Maaf... apakah sakit ? " Dokter Edward merasa bersalah dengan reaksi berlebihan istri dari sahabatnya itu. Dia fikir jatuh seperti tadi tidak akan sesakit ini hingga menangis seperti sekarang ini.
Sembari tangannya sibuk membantu mengumpulkan berkas-berkas kesehatan milik Alessya yang berserakan tadi.
Sekilas melihat berkas itu, Dokter Edward tahu Alessya baru saja dari poly kandungan.
" Tidak !! Aku tidak apa-apa. " Jawabnya singkat, sembari jarinya tidak henti menghapus airmata yang tidak berhenti mengalir dari mata indahnya itu. Menyisakan mata sembab dan merah kemudian.
" Apa kau sakit ? " Sembari menyerahkan berkas yang sudah dibereskan tadi kepada pemiliknya. Disambut cepat oleh Alessya yang merasa khawatir Dokter Edward akan membacanya.
" Tidak ! Aku tidak sakit. Aku- baru saja menengok seorang teman tadi- ... " Dengan terbata, kikuk dan salah tingkah dia mencoba menghindari pertanyaan Dokter yang dia ketahui sahabat suaminya itu.
Ya ... walaupun pada akhirnya, suatu saat nanti Alessya akan jujur pada suaminya tapi bukan saat ini dan bukan dengan cara seperti ini.
" Tidak. Aku tidak perlu bekerja di sini. Rumah sakit milik suamimu sudah cukup membuatku seolah bekerja di lima rumah sakit sekaligus. " Sedikit sarkastik dokter Edward terkekeh. Bermaksud sedikit bercanda pada istri sahabatnya itu, sekaligus mencairkan suasana yang sedikit canggung dan kaku.
" Aku juga sedang mengunjungi seorang teman di sini. " Jawab Dokter Edward yang sesungguhnya.
Akhirnya setelah beberapa lama mereka mengakhiri obrolan mereka, Alessya terlihat begitu terburu-buru untuk pergi. Lebih tepatnya menghindari dokter muda itu. Dan walaupun sedikit aneh dokter Edward hanya menurutinya saja.
Namun ...
Sesaat Alessya sudah tidak terlihat lagi di ujung lorong. Satu lembar dari berkas milik Alessya yang jatuh tadi, masih ada yang tertinggal dan berserak begitu saja di atas lantai. Dokter Edward mengambilnya berniat untuk memberikan kepada Alessya suatu saat nanti. Karena jika menyusulnya akan sedikit tidak mungkin, mengingat Alessya sudah lama berlalu pergi, dan sepertinya dia juga sudah pergi jauh sekali.
__ADS_1
Dan ...
Tanpa disengaja atau disengaja, akhirnya ... dokter Edward membacanya dengan raut wajah kaget terlihat. Setelah mengetahui kenyataan yang begitu pahit itu.
***
Berjalan menyusuri jalan sepi sembari menunggu taksi, langkah Alessya terhenti ketika sebuah mobil mewah berhenti tepat di depannya. Seorang pria tua dengan berpakaian jas rapi keluar dari sana dan berjalan menghampirinya.
" Nyonya muda ... Nyonya besar meminta anda untuk ikut dengan kami. Ada hal penting yang harus dibicarakan. " Ucap pria itu dengan begitu sopan dan formal.
" Nyonya besar ? " Sedikit bingung , Siapa maksudnya ?
" Nyonya Alice ... Ibu mertua Anda . " Jawab pak tua itu menjelaskan.
Walaupun ragu dan berat hati Alessya hanya menurut saja, karena hanya itu pilihannya. Tidak ada opsi pilihan menolak permintaan itu. Gerakan dan cara bicara pak tua itu begitu mengintimidasi, tidak jauh dengan nyonya majikannya. Alessya tidak punya nyali untuk menolaknya.
Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, kabar buruk dari dokter tadi bahkan belum dicerna dengan baik. Hatinya belum tertata rapi, tapi situasi memaksanya harus menghadapi keadaan ini.
Ada apa ? Tidak seperti biasanya mertuanya itu memanggil dan menjemputnya. Seolah itu adalah hal yang sangat penting dan tidak bisa ditunda lagi.
" Silahkan Nyonya ... ! " Ucap pria itu mempersilahkan Alessya untuk masuk ke kursi penumpang di bagian belakang sedangkan dia duduk di kursi penumpang di samping supir.
.
.
.
π Bersambung ...π
__ADS_1
Jangan lupa like dan koment ya ...
Pokoknya tinggalkan jejak ...