Lola And Loly

Lola And Loly
Sepertinya Merindukanku


__ADS_3

Disaat Arselli dan Alessya sedang sibuk berciuman, di belahan bumi sana ada yang sedang merajut hubungan, walaupun masih sekedar hubungan berstatus pekerjaan demi pelunasan sebuah utang piutang.


Di pagi hari yang cerah ...


Lucas membuka pintu apartemennya setelah sedari tadi bel berbunyi beberapa kali. Lucas yang baru keluar dari kamar mandi membukanya setelah mengetahui bahwa Meera yang sedang menunggunya di luar sana. Setelah mengintip dari lubang kecil pintu apartemennya.


Sedikit tercengang ketika mengetahui ternyata Meera yang memijit bel tadi.


" Kau datang ? "


Tanya Lucas seolah sedikit tidak mempercayainya. Memastikan lagi kedatangan Meera di sana.


Barangkali untuk menuntut sesuatu padanya ?


" Masuklah ! "


Ucap Lucas sedikit canggung ketika berhadapan dengan Meera yang dari tadi diam seribu bahasa dengan pipi merona, disaat akhirnya menyadari dirinya hanya memakai handuk saja saat itu.


Meera pun masuk dengan canggung, sembari menundukkan kepalanya. Ini kedua kalinya dia menginjakkan kakinya di apartemen ini, walaupun dengan misi yang berbeda.


Lucas mempersilahkan Meera untuk duduk. Sementara dia pergi ke kamarnya untuk berpakaian sekaligus menata detak jantungnya yang sedikit berantakan.


" Untuk berikutnya, aku akan memberikan kode pin apartemenku. Jadi kau bisa datang ke sini untuk mulai bekerja tanpa harus memijit bel terlebih dahulu. "


Lucas memulai pembicaraannya, setelah terlebih dahulu duduk di sofa tidak jauh dari Meera berada. Memilih dengan posisi berhadapan dengannya.


Menekankan kata bel dalam kalimatnya tadi. Mengasumsikan seolah bel yang berbunyi tadi cukup mengganggu dikala dia masih melakukan aktifitas pribadi yang tidak memungkinkan dia untuk membuka pintu.


Meera mengangguk kecil, mencoba tetap berinteraksi namun terlihat berusaha menghindar dari tatapan tajam pria yang kini duduk di hadapannya. Pria yang sudah membayarkan hutangnya kepada bos tempat dia bekerja terakhir kali, beberapa hari lalu. Karena mulai saat ini Meera bekerja pada Lucas, membantu Lucas membereskan apartemennya.


" Kau bisa datang ke sini lebih siang " ... agar saat itu aku sudah pergi.


" Dan kau bisa pulang lebih awal "... agar tidak bertemu saat pulang nanti. Lucas menjelaskan waktu kerjanya. Dan Meera hanya diam, sesekali mengangguk dengan tetap bertahan menundukkan kepala. Walaupun dia menatap ke depan, matanya tetap berusaha berpaling dari tatapan pria di hadapannya.


" Semua akan disesuaikan dengan jadwal kuliahku. Ponselmu harus stand by aktif, agar kita bisa tetap berkomunikasi. " Lucas melanjutkan lagi peraturan kerja yang ada di benaknya. Meera mengangguk mengerti.


" Dan jika aku tidak pergi keluar, maka kau bisa menikmati hari liburmu. " Lanjutnya lagi.


Sepertinya Lucas memilih untuk menghindari pertemuan dengan Meera.


" Upah kerjamu akan dibayar di muka kali ini, aku akan mentransfernya padamu. Kau bisa mengeceknya di rekeningmu nanti. Menurutku itu akan cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupmu dan melanjutkan kuliahmu. " Kalimat itu sukses membuat Meera terkejut. Menatap dalam mata Lucas kemudian, seolah bertanya ...


Sebesar itu ? Kenapa ?


" Dan kau bisa memakai ini untuk membeli semua kebutuhan di apartemen ini. Termasuk makanan dan yang lainnya. Kau bisa menggunakannya juga, jika kau kehabisan uang atau apapun itu ... " Ucapnya datar sembari memberikan sebuah kartu kredit unlimited pada Meera. Horang kaya mah bebas .. ibu-ibu ...

__ADS_1


Meera menelan ludah beberapa kali memilih untuk terdiam seribu bahasa. Seolah bingung dengan situasi yang ada di depan mata. Perasaannya begitu berwarna seperti ada pelangi di sana. Merah karena marah, biru karena sendu, kuning karena bahagia dan ada bingung juga di sana, pokoknya nano-nano rasanya ... dan Meera tak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata. Kenapa Lucas sebaik ini padanya.


***


____________________________________________


Arselli menatap dalam Alessya yang tengah tertidur di sampingnya di atas ranjangnya. Matanya tengah terpejam, dengan raut wajah gelisah yang begitu jelas terlihat. Keringat dingin bercucuran di pelipisnya. Sepertinya Alessya mengalami mimpi buruk.


Waktu sudah menunjukkan dini hari. Sejak kemarin sore tiba di negeri ini, Alessya langsung tertidur pulas saking lelahnya. Meninggalkan Arselli yang tersadar sendiri sembari menahan hasrat terpendam. Apalagi setelah ciuman terakhir kali di mobil yang begitu panas dan menggairahkan.


Melewati kepenatan diri dan dinginnya malam tanpa buaian, Arselli menyibukkan diri mengisi kekosongan dengan menatap wajah sang kekasih hati yang beberapa Minggu terakhir ini begitu dia rindukan.


" Kau tidak tidur ? "


Alessya yang saat itu tertidur miring menghadap suaminya, perlahan membuka matanya. Disaat rasa kantuk masih begitu terasa. Hanya saja rasa penasaran akan gerakan lembut seseorang yang kini ada di hadapannya itu terasa begitu kentara, hingga membuatnya tersadar juga.


" Aku sedang menunggumu ? "


Jawab Arselli gombal. Sebenarnya dia sempat tidur tadi, walau hanya sekejap dan tak nyenyak sama sekali. Terbangun kemudian tatkala menyadari tidurnya sudah tidak sendiri lagi. Seolah tak ingin melewatkan waktu dengan sia-sia.


" Aku sedikit lapar.Apakah ada makanan ?"


Perutnya terasa sedikit perih , saat di pesawat dia hanya melamun saja beberapa kali melewatkan makanannya. Setelah bertemu Arselli hatinya lega, mood nya pun perlahan kembali normal secara otomatis mengembalikan selera makannya.


Arselli beringsut bangun dan berdiri.


Diikuti Alessya yang membuka selimutnya dan berdiri di samping ranjang.


" Russel !! " Pekiknya pelan sedikit tersenyum walaupun terlihat aneh.


Dengan aura kaget di wajahnya. Sedikit terlihat lucu di mata suaminya.


" Ada apa ? " Menatap istrinya yang begitu tegang.


" Kenapa aku tidak memakai celana ? " Terkekeh menyadari pasti ulah suaminya.


Menggaruk kepalanya, sembari mengingat-ngingat kejadian sebelumnya. Seingatku kita hanya berciuman saja, tidak lebih ... Merasa ini hanya mimpi. Apakah ada yang terlupakan dari ingatanku. Terlihat cukup bingung saat itu.


Arselli tertawa melihat mimik wajah istrinya.


" Kau langsung tertidur tadi, aku fikir sangat tidak nyaman tidur memakai celana jeans, Alessya . Jadi aku membukanya untukmu. "


Benarkah ... untukku ? Tersenyum kecut.


" Emh ... " Alessya mengangguk, mencoba percaya saja. Lagipula Arselli suaminya. Walaupun terjadi apa-apa sudah menjadi haknya. Alessya berpositif thinking.

__ADS_1


" Bolehkah aku meminjam t-shirt mu. Aku merasa tidak nyaman dengan pakaianku. Aku juga belum membereskan koperku. "


Ucap Alessya setelah tiba-tiba tubuhnya merasakan ketidaknyamanan dengan pakaian yang belum dia ganti sejak perjalanan yang panjang kemarin. Karena saat tiba tadi, dia langsung tertidur saja. Celanapun bahkan Arselli yang membukakannya. Kopernya pun entah ada di mana. Tapi tenanglah Arselli pasti sudah mengurusnya.


Alessya bergerak, segera membuka t-shirt ketat yang menempel di tubuhnya. Tak memperdulikan Arselli yang terlihat ketar ketir melihatnya. Memancing mancing saja.


Masih berdiri di depannya, belum beranjak pergi untuk mengambil t-shirt permintaan istrinya tadi.


" Ada apa ? "


Tanya Alessya, ketika melihat senyum di bibir suaminya. Yang tengah berjalan perlahan ke arahnya sembari menatap ....


" Russel ... " Sediki risih dengan tatapan suaminya itu.


Alessya menyilangkan kedua tangannya di dadanya.


" Sebentar saja ... Alessya ... "


Ucap Arselli sembari mendudukkan istrinya menurunkan tangan istrinya. Dengan sedikit memelas berharap Alessya untuk diam saja. Dan dia berjongkok di hadapannya.


" Sebentar apa ? Bukankah kita akan makan ?" Jawab Alessya manja mencoba melawan.


" Sudah lama aku tidak menyapa mereka ... Sepertinya mereka merindukanku. "


Jawabnya sembari mengulum senyum. Mendekatkan wajahnya ke dada istrinya yang hanya tertutup kain kecil itu lalu mengecupnya.


Alessya langsung tergelak mendengarnya. Apalagi dengan pergerakan Arselli selanjutnya. Menggoda imannya saja.


" Kau gila ... " Terkekeh sembari menahan geli yang menjalar di tubuhnya.


Dan adegan itu terputus begitu saja, tatkala tangan Arselli mulai menjalar ke mana-mana.


" Aku lapar ... " Keluh Alessya manja. Meraih tangan sang suami agar berhenti merabanya. Bahkan saat itu tangannya sudah hampir berada di area sensitifnya.


" Nanti dilanjut lagi , Ok ? " Bisiknya lembut dan mesra.


" Sepertinya ... dia juga merindukanku. " Mengarahkan senyuman dan tatapan nakal ke arah adik suaminya yang sudah dua Minggu tidak bertemu.


Dan Arselli tergelak kencang mendengarnya. Sembari mengecup dan menggelitik perut istrinya.


.


.


.

__ADS_1


πŸ’ž Bersambung ... πŸ’ž


Jangan lupa like dan koment ...


__ADS_2