
Lucas memeluk erat tubuh Alessya , melepaskan rasa sesak yang selama ini mengganjal di dadanya. Seolah dengan melakukannya , ada kelegaan yang dirasakan olehnya.
Mereka hanya berdua kali ini , Arselli tengah berbicara bersama Elliana , Asisten Henry menemani bosnya , dan Dokter Edward kembali ke ruangannya . Sedangkan Nyonya Rossie , sekarang dia sedang berada di apartemen Arselli karena ingin memberi kesempatan bagi pangantin baru itu untuk berdua .
" Aku senang , kau tetap hidup dan memutuskan untuk bahagia , kakak iparku ... "
Ucapnya dengan begitu tulus , setelah sebelumnya mengucapkan selamat atas pernikahannya.
Baginya, melihat Alessya hidup kembali merupakan kebahagiaan terbesarnya kali ini , walau kadang hatinya meringis membayangkan gadis yang pernah dia incar dulu , sekarang telah menjadi kakak iparnya.
Namun, mengingat betapa besar pengorbanan Alessya menyelamatkan nyawa kakaknya Arselli , dia berfikir Alessya sangatlah berhak untuk bahagia . Jasanya sangatlah besar bagi keluarganya , yang sayang beribu sayang masih tidak cukup untuk mengetuk hati Nyonya Alice , ibunya Arselli dan Lucas untuk bisa menerima Alessya sebagai menantu resmi di keluarga mereka .
" Kau senang , Lucas ? Tapi ... bagaimana bisa , kau baru datang melihatku hari ini ? " Seolah meragukan ucapan Lucas barusan , merasa tidak habis fikir temannya itu baru menengoknya hari ini.
" Kau menyelamatkan Clara ? " Melanjutkan pembicaraannya , setelah melihat Lucas yang hanya diam mematung di hadapannya.
Walaupun masih diselimuti dengan keraguan , Alessya memberanikan diri untuk bertanya.
" Apa kau mengetahuinya , Alessya ? " Lucas balik bertanya , setelah tadi merasa kaget ketika Alessya membahas Clara. Sekelebat bayangan penembakan Alessya yang dilakukan Clara mendadak muncul di fikirannya .
" Hmm ... walaupun dia memakai topeng saat itu , aku mengenalinya Lucas . " Jawabnya lirih menyesalinya , karena menyadari Lucas sangat menyayangi Clara. Bagaimanapun Clara adalah sahabat kecilnya , dan Lucas dulu pernah mencintainya juga . Sedikit banyak dia ketahui itu .
Lucas merasa bersalah mendengarnya , menyadari dirinya yang seolah melindungi seseorang yang telah hampir merenggut nyawa Kakaknya dan Alessya . Karena baik itu Alessya atau Arselli , keduanya mempunyai tempat sendiri di hatinya.
" Aku tahu , yang kau lakukan itu demi kebaikan kakakmu . Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan dilakukan olehnya jika dia masih ada di sini . " Seperti halnya Lucas yang memberi kesempatan Clara untuk melarikan diri karena khawatir Arselli akan melakukan hal yang akan disesalinya nanti , ternyata Alessya juga memahami akan hal itu . Lucas mengagumi sisi Alessya yang begitu mengerti akan dirinya , hati kecilnya mengakui betapa dia pantas untuk dicintai oleh kakaknya .
Namun ada sesuatu hal yang cukup menggelitik di fikirannya saat ini , rasa penasaran yang begitu membuncah . Entahlah , tidak terlalu lama tadi dia mengobrol dengan Alessya , namun cukup untuk dia memahami sesuatu .
Astaga ... Bukankah Alessya amnesia ?
Apa Dokter Edward salah diagnosa ?
Mungkinkah ... saat ini kau sedang pura - pura ?
dan saat ini kau sedang lupa kalau kau sedang amnesia , kakak iparku tercinta ...???
__ADS_1
" Alessya ... ! " Lucas menelan ludahnya sendiri , tenggorokannya mendadak terasa kering kala itu. Berusaha mengumpulkan keberaniannya untuk perlahan naik ke permukaan , mengemukakan pertanyaan yang bercokol di fikirannya.
" Hmm ? " Refleks menatap Lucas yang barusaja memanggil namanya .
" Apa kau benar - benar Amnesia ? " Tanya Lucas ,setelah berhasil mengumpulkan keberaniannya itu.
Kali ini , Alessya yang menelan ludahnya , berkali - kali , dia seperti kebakaran jenggot saat itu , panik dan sangat terlihat jelas oleh Lucas. Lucas yang melihatnya terkekeh pelan .
" A-apa maksudmu , Lucas ? " Jawabnya dengan terbata .
" Kau ketahuan , Alessya ! " Lirihnya masih terkekeh sembari menatap Alessya yang menatapnya dengan mata yang berkaca - kaca dan memelas .
" Tenanglah , aku akan menyimpan rahasiamu ." Bisiknya pada telinga Alessya.
Aku tidak mungkin marah padamu , Alessya . Kau bebas melakukan apapun . Kau telah menyelamatkan nyawa kakakku .
" Bagaimana kau bisa mengetahuinya ? " Masih belum menyadari kesalahannya sendiri . Dia tidak menyadari sedari tadi dia berbicara seolah tidak amnesia sedikitpun.
" Aku bukan Arselli yang bodoh itu dan dibutakan oleh cinta ! " Tertawa cukup lebar kali ini , dengan penuh kepuasan dan kenikmatan yang luar biasa , karena berhasil membongkar sebuah kebohongan yang seperti lelucon itu.
Sementara Alessya , pikirannya melayang mengingat insiden penyekapan dan penembakan yang dia alami yang cukup banyak meninggalkan trauma yang cukup mendalam itu .
POV Alessya ...
Aku terhenyak mendapati diriku terkurung di gudang gelap itu . Kesedihan dan kebencian datang menjadi satu bergumul di dadaku . Aku terjebak dalam situasi yang begitu menakutkan , kepalaku sakit dan berdarah , tangan dan kakiku terikat , mulutku bahkan ditutupi lakban yang begitu melekat erat.
Andai saja aku tidak datang ke tempat ini . Andai saja aku tetap bersama Russel , mungkin aku tidak akan dalam situasi ini.
" Elliana..."
Nama itu begitu terngiang jelas di telingaku . Karena kedatangannya , kekasihku mengabaikanku hingga pada akhirnya aku mengambil keputusan untuk datang sendiri ke tempat ini.
Aku membenci Russel kala itu , walaupun hatiku memanggilnya berharap banyak dia akan datang untuk menolongku .
" Ben... "
__ADS_1
Dia datang begitu saja menghampiriku , menjambak rambutku dengan kasar dan menakutkan . Aku sungguh histeris saat itu , apalagi saat dia mencium dan ******* bibirku dengan begitu kasar , menggerayangi tubuhku dengan tangan kotornya itu .
Tapi ... syukurlah, saat dia hampir saja melepas pakaianku , mereka datang untuk menolongku . Aku senang melihat wajah kekasihku ada di diantara orang - orang itu , walaupun rasa benci yang sudah terlanjur tertanam di hatiku tidak seketika luntur dengan datangnya dia di hadapanku .
Aku merasa nyaman saat berada di pelukannya , namun aku melihat seseorang yang bertopeng datang dan mengarahkan pistolnya pada kekasihku . Sungguh , aku begitu takut , dengan begitu refleks aku mendorongnya hingga pada akhirnya peluru itu berakhir di tubuhku . Sepertinya sejenak tadi , aku melupakan keberadaan tubuhku ini . Aku tidak berfikir dengan mendorongnya , justru aku yang tertembak . Mungkin karena besarnya rasa cintaku padanya , aku pun tak menghargai diriku sendiri .
Aku mendengarnya berteriak dan menangis begitu kencang , pria itu terlihat begitu cengeng dan rapuh saat itu . Walaupun aku kehilangan kesadaranku , tapi pendengaranku begitu tajam saat itu . Saat setelah bangun, semua orang bilang dia begitu mengkhawatirkan aku , akupun percaya ... karena aku mendengarnya sendiri dengan telingaku dalam ketidaksadaranku.
Akhirnya , aku tersadar dari masa kritisku , aku mendapati pria itu begitu lemah , ringkih dan posesif dan tengah duduk di sampingku . Aku masih bingung dengan situasi yang kuhadapi kemarin , belum lagi rasa cemburu dan benci yang masih bercokol di dadaku . Nama Elliana masih terngiang jelas di telingaku . Sepertinya jika memang aku amnesia , dialah yang pertama ingin kuhilangkan dari ingatanku .
Namun , tidak dipungkiri kejadian kemarin begitu membuatku syok dan trauma , hati kecilku berkata kaulah penyebabnya . Sedikit egois memang , aku menyalahkan pengalaman yang begitu mengerikan itu pada dirinya . Tidak peduli betapa besarnya cintanya padaku , kecemasannya padaku saat kematian menghampiriku . Sungguh ... aku membencinya dengan segenap hati dan keinginan untuk membalas rasa sakitku terhadapnya.
Entahlah .. saat perawat dan dokter tengah berbicara berdua dalam tidur setengah sadarku , kata " Amnesia " terdengar di telingaku . Mungkinkah aku mencobanya saja ? Membuat pria itu menyesali perbuatannya padaku dengan mantan kekasihnya itu dengan pura - pura melupakannya .
Dan kau Russel kekasihku... sungguh tak sedikitpun aku melupakanmu . Bagaimana mungkin aku bisa melupakan pria setampan itu dari ingatanku , dia bahkan sangat mencintaiku , aku sangat beruntung karena dicintai olehnya .
Sungguh , aku bukanlah pembohong yang baik . Disaat tekadku sudah bulat untuk berpura - pura amnesia sesuai diagnosa dokter itu , aku hanya mampu berbohong padanya dan akhirnya pada wanita yang bernama Eliana itu juga .
Walaupun kebohongan itu kusesali dikala aku harus memutuskan untuk menerima pinangan pernikahannya . Sungguh membingungkan bukan ? Aku yang tidak mengingatnya , tapi menerima lamarannya . OMG !!! Tapi ... tidak mungkin jugakan aku menolaknya , bisa - bisa Elliana akan langsung mengambilnya dariku . Percayalah , jika aku benar - benar amnesia aku tidak akan melewatkan kesempatan untuk menikah dengan pria setampan itu.
Jadilah aku terjebak dalam lingkaran setan yang kubuat sendiri , terjebak dengan kebohonganku sendiri yang bingung untuk ku akhiri bagaimana caranya . Hingga pada akhirnya aku membuat persyaratan pranikah , aku semakin menggila saja , demi menutupi kebohonganku yang lain aku membuat kebohongan lagi. Begitulah seterusnya .
Gila bukan ? Pria mana yang mau menikahi wanita yang tidak ingin disentuhnya . Tapi tak disangka dia bersedia , kekasih kesayanganku menerima persyaratan itu . Ya .. aku tidak heran sedikitpun karena dia adalah Arselli Russel kekasihku, pujaanku .. apa sih yang tidak bisa dia lakukan.
Tak kusangka sama sekali setelah beberapa lama , wanita yang bernama Elliana itu berani muncul di hadapanku . Sungguh menyebalkan .
Tapi... tak kusangka juga , pria itu yang kadang aku cintai dan kadang aku benci itu , membuktikan cintanya padaku .Mengumumkan rencana pernikahan dan menciumku di depan rivalku . Sungguh aku bahagia bercampur kaget kala itu , di depan orang banyak dengan tidak tahu malunya dia mencium bibirku dengan begitu hangat bercampur bahagia yang tiada terkira . Dan aku begitu menikmatinya walaupun perjanzian itu teringat jelas dalam ingatanku . Aku sungguh tidak peduli .
Namun ada satu hal yang cukup menyayat hatiku , tanpa kusengaja aku mendengar pembicaraannya dengan dokter itu , yang mengatakan bahwa dia pernah melakukan hubungan yang sangat intim dengan mantan kekasihnya dulu . Hubungan yang belum pernah kami lakukan , bahkan mungkin tidak akan dilakukan sementara waktu ini karena kesembronoanku membuat perjanzian untuk tidak menyentuhku .
Ya , untuk pertama kalinya aku sangat menyesal dengan kebohonganku ini , berfikir keras untuk mengakhiri kebohonganku demi menjaga pria yang sangat aku cintai itu.
Sekarang aku sudah resmi menjadi istrinya , akan kulakukan segala cara untuk menjaganya agar tetap di sampingku , walaupun aku masih didera kebingungan dengan kebohongan amnesiaku ini . Bagaimana caraku mengakhirinya , terlepas dari belenggu yang satu ini ?
Jangan lupa like , rate ⭐⭐⭐⭐⭐ , dan vote.
__ADS_1
Tinggalkan jejak berupa koment juga ya ... biar makin semangat nulisnya ...