Lola And Loly

Lola And Loly
Menginginkanmu


__ADS_3

" Alessya ... ! "


" Alessya ... ! "


" Sayang ... ! "


Arselli memanggil istrinya. Dia baru saja kembali dari kantor malam itu. Padahal malam belum terlalu larut, namun Alessya tidak menyambutnya seperti biasa. Dia beringsut berjalan menuju kamarnya yang telah berpindah ke lantai satu. Demi keselamatan istrinya agar tidak turun naik tangga.


Sudah dua minggu ini Alessya kembali menghangatkan villanya. Menemani tidurnya dan menemani aktifitas ranjangnya. Walaupun tidak se-hot biasanya, Alessya tetap menjadi wanita terfavorit dalam hidupnya.


" Alessya ... ! "


" Sayang ... ! "


Panggil Arselli lagi. Sebelum dia mencapai pintu kamar yang mereka tinggali.


" Sepertinya Nyonya sudah tidur, Tuan. "


Robin yang menjawab kali ini, kala mendengar Arselli terus memanggil nama istrinya.


Arselli melihat ke arah jam tangannya.


" Baru jam tujuh malam. " Gumamnya pelan.


Arselli masuk ke kamarnya. Ternyata benar yang dikatakan Robin tadi. Alessya sudah tidur dengan begitu nyenyaknya. Sepertinya Alessya ketiduran tadi, bahkan dia terlupa memakai selimutnya.


Memakaikan selimut pada tubuh istrinya, tidak lupa dia mengecup kening Alessya terlebih dahulu sebelum Ia berlalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


" Kau sudah pulang ? "


Tanya Alessya pada Arselli yang malam itu terasa begitu segar dan wangi setelah mandi tadi. Dia langsung merebahkan tubuhnya di samping istrinya yang ternyata telah terbangun dari mimpi indahnya.


" Hmm ... "


Beringsut menyelipkan lengannya di bawah kepala istrinya. Menjadikan lengannya itu sebagai bantal bagi Alessya.


Alessya langsung menempelkan tubuhnya pada tubuh suaminya. Masuk ke dalam dekapan tangannya.


" Aku merindukanmu ... " Bisik Alessya pelan.


" Hmm ? Bukankah baru tadi siang kita bertemu. "


Seraya menatap wajah istrinya, Arselli merasa aneh, tiba-tiba Alessya mengatakan hal itu padanya. Walaupun dia sangat senang mendengarnya. Hanya saja, tidak seperti biasanya Alessya bersikap alay padanya. Mungkinkah hormon kehamilannya tengah bekerja, bereaksi pada tubuh dan otaknya.

__ADS_1


" Kau bosan padaku ya? Karena kehamilan ini aku jadi membosankan ya ? "


Alessya merajuk manja kala menyadari Arselli hanya merespon biasa saja ucapannya tadi.


Bahkan hampir satu minggu kau tidak menyentuhku ...


" Tidak, Sayang ... tidak seperti itu. Kitakan masih bersama siang tadi. " Jelas Arselli setelah beberapa lama.


Arselli membelai lembut rambut Alessya dengan menggunakan satu tangannya yang bebas.


" Maafkan aku, karena kehamilan ini aku jadi tidak bisa melayanimu seperti dulu. Kau pasti sering tidak merasa puas, ya-kan ? " Ucap Alessya dengan suara serak dan manja menggoda Arselli saja, apalagi pembahasannya masalah ranjang mereka. Walaupun ada nada sedih di sana. Satu minggu ini hidupnya terasa hampa, karena jarang dibelai rupanya.


" Tentu saja tidak Sayang. Kehadiranmu saja sudah menjadi kebahagiaan terbesar dalam hidupku. Apalagi setelah kehamilanmu yang begitu menakjubkan ini. Beberapa bulan bagiku untuk bertahan tidak bermain 'cantik ' denganmu bukanlah hal besar. Kesehatanmu menjadi prioritasku saat ini. " Mencoba meyakinkan istrinya.


" Aku hanya ingin mengatakan ini Alessya ... terimakasih, karena sudah mengandung anak-anakku. " Alessya terharu mendengarnya. Apalagi setelah Arselli mengecup keningnya sebagai penghargaan dan tanda cinta kasihnya.


" Tapi ... kenapa kau tidak menyentuhku beberapa hari ini ? " Tanya Alessya dengan begitu lirih.


" Apa kau sudah tidak menginginkanku lagi ? "


Perutku bahkan belum membesar saat ini, tapi kau sudah tak melihatku lagi, bagaimana dengan nanti, disaat tubuhku dan perutku semakin besar nanti ...


Dengan ragu dan malu dia mengutarakan isi hatinya itu. Belum lagi perasaan yang begitu membuncah di dalam dadanya dan hasrat yang terus berdenyut mengalir di tubuhnya.


Arselli kaget mendengarnya. Tidak menyangka Alessya berfikiran seperti itu padanya. Dia memang sengaja tidak menyentuh Alessya selama satu minggu ini, namun semata-mata demi kesehatan Alessya dan si jabang bayinya. Dia khawatir aktivitas malam itu berpengaruh pada kehamilannya nanti.


Alessya mencoba mengerti, walau fikiran buruk terus bergelayut di fikirannya. Fikiran yang mengira bahwa Arselli sudah tidak menginginkannya lagi.


Belum lagi keinginan yang kian membara. Entahlah, sepertinya hormon kehamilan itu mulai bekerja di tubuhnya. Yang membuat dia bertingkah dari biasanya. Keinginan bercinta yang lebih dari biasanya.


Malam semakin larut, mereka belum juga tidur. Rasa dingin merangkak naik hingga menusuk ke sendi-sendi di tubuh mereka.


" Russel, Aku menginginkanmu- "


Bisik Alessya pada suaminya seraya menggigit telinganya hingga berubah menjadi merah. Suaranya begitu serak dan merintih kala itu. Pandangannya meremang, hasrat telah melingkupi seluruh jiwa raganya.


Dia mengecup pipi suaminya, telinga dan menggigit lehernya dengan penuh hasrat. Jujur saja, Arselli pun mulai tergoda ...


Sembari tangannya mulai bermain nakal menggerayangi tubuh suaminya. Tangannya terhenti tepat di bagian yang pasti disukai Arselli untuk Alessya mainkan dengan gerakan yang menggoda.


Dan ... Arselli terdengar melenguh karenanya. Kalau sebesar ini godaannya, dia tidak sanggup lagi menahan diri.


" Kau nakal ya, Alessya ! " Arselli terbangun dari tidurnya memposisikan tubuhnya bersiap untuk menerkam istrinya itu. Mengungkungnya dengan tatapan mata tajam karena hasrat kini telah menguasainya juga.

__ADS_1


Dengan lihai Alessya membuka satu persatu kancing piyama suaminya bersamaan disaat Arselli memagut lembut bibirnya.


Kala pagutan itu terlepas, berganti dengan kecupan dan sesapan yang merangkak turun dari bibir, leher, dan bahu istrinya. Berganti pula gerakan tangan istrinya yang kini bergerak cepat membuka pakaian bagian bawah suaminya itu.


Sangat mudah bagi Arselli menyusuri tubuh atas istrinya, apalagi saat itu Alessya sedang memakai dress tidur yang minim dan seksi. Nyaman digunakan olehnya yang sering merasakan kepanasan karena kehamilannya itu.


Pun tak jauh berbeda dengan Alessya melepaskan pakaian suaminya itu, vakum selama dua bulan kemarin tak menjadikan kelihaian dia dalam menggoda suaminya surut seketika. Justru perpisahan itu semakin membuatnya terlihat begitu lihai bersamaan dengan perasaan yang membuncah di dalam dadanya.


Tarikan nafas terdengar cukup kencang, berburu dan saling berkejaran. Dengan peluh keringat yang bercucuran. Kehamilan tak membuatnya surut, justru semakin membuatnya terlihat luar biasa. Walau kadang itu hanya sesekali saja, karena selebihnya kadang kepayahan terlanjur menguasai tubuhnya.


Desahan atas kenikmatan memecah keheningan malam itu. Arselli memang slalu luar biasa, membuat wanita yang berada di bawah kungkungannya melenguh nikmat tak berdaya.


" Besok kita harus ke dokter, Alessya. " Ucap Arselli setelah aktifitas itu beberapa saat lalu terhenti.


Perasaan cemas kian menggelayutinya. Aktifitas tadi sungguh menguras keringat tubuhnya dan Alessya tentunya. Sepertinya dia begitu khawatir dengan kehamilan istrinya itu.


Dia menyelimuti tubuh polos istrinya. Berbaring di belakang tubuh istrinya dan memeluknya.


" Kenapa ? " Alessya sedikit terkejut mendengarnya. Apalagi mengingat baru beberapa hari lalu dia pergi ke dokter bersama Hana. Ada perasaan tidak enak di hatinya, mengingat dia yang memulai percintaan tadi.


" Aku ingin memeriksakan kesehatanmu dan kandunganmu. Aku baru saja mendapat rekomendasi dokter kandungan dari seorang teman. Katanya dia dokter kandungan terbaik di negara ini. " Jelas Arselli benar-benar tidak ingin ada kesalahpahaman diantara mereka.


Sebenarnya dia sangat ingin menanyakan informasi mengenai bolehkah melakukan hubungan suami istri dengan kondisi kehamilan Alessya yang diketahui ternyata kembar tiga. Dia sangat khawatir aktifitas itu akan berdampak buruk bagi kehamilan dan kesehatan ibu dan calon bayinya.


Mengingat kehamilan itu adalah kehamilan yang sangat mereka inginkan dan mereka dambakan. Sepertinya berkonsultasi sedari awal agar tidak terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan akan lebih bijaksana. Terutama kesehatan Alessya juga yang menjadi prioritasnya. Dia sangat tidak ingin terjadi sesuatu pada istrinya yang sangat dia cintai itu. Entah apa yang terjadi pada dirinya bila terjadi sesuatu pada Alessya.


" Benarkah ? " Mencoba mengerti.


Begitupun Alessya menginginkan yang terbaik untuk dirinya dan calon bayinya itu. Demi menyambut kesempurnaan pernikahan mereka. Bertekad untuk mengandung dan melahirkan secara sehat dan selamat. Dengan bantuan tim medis terbaik tentunya, dukungan dari keluarga terutama suami tercinta, dan tentu saja berharap pada Tuhan Yang Maha Esa untuk slalu memberinya keselamatan dimanapun dia berada.


" Hmm. Besok aku akan mengajakmu ke sana. Bersiaplah besok, kita harus menjaga kehamilanmu, kesehatanmu dan keselamatanmu tentunya. "


Dengan penuh harap dan do'a. Dia sangat menginginkan yang terbaik untuk istri dan calon buah hatinya itu.


.


.


.


πŸ’ž Bersambung ... πŸ’ž


.

__ADS_1


.


Jangan lupa like, rate dan koment ya ...


__ADS_2