Lola And Loly

Lola And Loly
Maafkan Aku


__ADS_3

Beberapa Minggu kemudian ...


Arselli kembali pulang ke villa. Setelah beberapa lama kemarin disibukkan atau lebih tepatnya menyibukkan diri dengan pekerjaannya. Demi melupakan permasalahan yang sampai saat ini masih begitu mengganjal di rongga dadanya.


Dapat disimpulkan dengan perginya Arselli selama beberapa minggu ini, dan dengan berhentinya dia membujuk Alessya, itu berarti dia sudah menerima dengan pasrah keputusan Alessya untuk terus melanjutkan kehamilannya itu, walaupun dengan resiko tinggi yang akan ditanggungnya nanti.


Apa daya, Arselli harus menerima. Batas waktu yang ditentukan dokter sudah lewat. Apapun keputusannya, Alessya tetap harus melanjutkan kehamilannya itu. Usia kandungannya semakin bertambah, malah sudah terlihat semakin buncit sekarang.


Arselli merebahkan kepalanya di pangkuan ibunya yang tengah duduk di sofa panjang di ruang kerjanya. Dia belum menemui Alessya karena merasa takut bertemu dengannya. Takut akan segala hal buruk yang akan muncul di benaknya. Yang membuatnya stress dan cemas tak terkira. Jadi dia lebih suka menghindar saja, tak menemuinya untuk beberapa lama.


" Apa dia akan baik-baik saja ? " Arselli bertanya pada ibunya yang dia ketahui begitu telaten merawat istrinya yang tengah hamil itu. Wajahnya masih saja kusut saat itu, entah karena lelah atau karena terlalu lama tidak menyentuh istrinya.


" Tenanglah ! Setiap kehamilan memiliki resiko. Kebetulan saja istrimu itu hamilnya tiga, kalau satu atau dua, dia akan baik-baik saja. " Jawab santai ibunya sembari mengelus-elus rambut putranya.


" Justru karena tiga, Bu. Jika hanya satu atau dua, dokter itu juga bilang tidak akan apa-apa ... " Berbicara dengan ibunya ini, dia malah semakin pusing saja. Ibunya terlihat santai sekali tak terlihat begitu mencemaskan Alessya.


" Santailah ! Kau fikir ibu tidak pernah mengalami hal ini ! " Arselli tersentak mendengarnya. Bergegas bangun, lalu duduk di samping ibunya. Tangan ibunya mendadak mengambang di udara, kala dia tak bisa mengelus lagi rambut wangi putra kesayangannya.


" Apa maksud ibu ? " Menatap dalam ibunya itu dari arah sampingnya.


" Memangnya kau fikir kenapa aku begitu menyayangimu dibandingkan dengan Lucas adikmu ? " Ny. Alice tersenyum pada putranya itu.


Dia lalu mulai bercerita mengenai kehamilan pertamanya dulu. Ceritanya tidak jauh berbeda dengan yang dialami Alessya saat ini. Penuh dengan masalah dan derita. Walau tak sepelik masalah Alessya saat ini, namun cukup membuat ayah Arselli khawatir saat itu. Hanya saja, Alessya langsung dianugerahi kembar tiga untuk pengalaman pertamanya.


Sekarang Arselli mengerti mengapa ibunya begitu menyayanginya. Ternyata sebesar itu pengorbanannya dulu. Hingga akhirnya dia bisa terlahir ke dunia ini. Kehamilannya begitu luar biasa, jauh berbeda dengan kehamilan keduanya. Dimana Lucas terlahir dengan begitu mudah tanpa tantangan berat di hadapannya.


" Ibu yakin Alessya akan melewatinya. Kau harus mendukungnya seperti yang ayahmu lakukan dulu. Dia menjadi penyemangatku dalam perjuanganku. Menjadi kekuatanku dalam kerapuhanku ... " Jelas Ny. Alice kemudian yang membuat Arselli tertegun mendengarnya. Dan menyesali sikapnya beberapa waktu terakhir ini terhadap istrinya.


***


Alessya menikmati pemandangan indah di depan matanya, sebuah taman bunga dengan bunga berwarna-warni menghiasinya.


Dia duduk di kursi kecil sore itu tepat di depan jendela kamarnya yang terbuka. Selain taman bunga, dia juga bisa menikmati pemandangan lainnya. Tidak jauh dari taman bunga itu, terdapat sebuah kolam renang yang cukup luas dengan air yang terlihat membiru. Menyejukkan pandangannya.


Sembari menikmati keindahan itu, dia merangkai bunga mawar putih yang berada di atas meja, tidak jauh dari tempatnya duduk kala itu. Dokter Edward menyarankan kegiatan ini untuk menghilangkan stres dan kegundahan dihati, tatkala menyadari Arselli tak kunjung kembali setelah kepergiannya beberapa minggu lalu.


Krieettt ...


Terdengar suara pintu terbuka. Alessya tidak merasa aneh mendengarnya. Mengira kalau bukan Robin atau dr. Edward pastilah Ny. Alice ibu mertuanya. Yang akhir-akhir tampak begitu baik padanya.

__ADS_1


Derap langkah sepatu terdengar begitu tenang. Dan Alessya seperti mengenalinya. Terdiam ketika menyadari suara itu kian mendekat ke arahnya, dan berhenti tepat di belakangnya.


Ragu ...


Alessya menolehkan kepalanya. Dan tepat saat itu, bertatapan matanya dengan mata ...


" Russell ... " Ucapnya lirih. Ada kaget bersamaan dengan rasa bahagia yang dirasakan olehnya. Lelaki yang dia rindukan selama beberapa minggu ini, akhirnya hadir di hadapannya.


Hening ...


Mereka terdiam untuk beberapa saat dan lama. Alessya lalu bangun dari duduknya. Berdiri menghadap ke arah suaminya.


Satu detik .. dua detik .. tiga detik .. Waktu terus melaju dengan cepatnya dan mereka masih terdiam saja.


Dalam hitungan menit,


Arselli berjalan ke arah Alessya, dia langsung meraih tengkuk dan pinggang istrinya. Memagut kuat bibir merah menyala yang terlihat begitu menggoda, setelah beberapa lama tak disentuh olehnya.


" Apakah kita sudah boleh melakukannya ? " Tanya Alessya dengan terengah, yang kini tengah duduk di pangkuan suaminya. Tangannya melingkar erat di leher suaminya.


" Tidak ! " Jawab Arselli sembari menyugar rambutnya. Dia bahkan tertawa saat itu, karena telah berhasil menggoda istrinya.


" Lalu kenapa kau menggodaku ? " Memukul dada suaminya yang kancing kemejanya sudah terbuka karena ulahnya. Bibirnya terlihat merenggut lucu saat itu.


Berat badannya bertambah drastis, bahkan buah dadanya semakin terlihat mekar, menggoda dan menggiurkan mata yang kini tengah memandang lekat ke arahnya.


" Kita bahkan tidak bisa menuntaskannya. Tapi kau masih melakukannya juga ... " Jerit Alessya saking kesalnya.


" Jangan-jangan kau .. " Menuntaskannya dengan wanita lain ..


" Tidak !! " Tegas Arselli.


" Kau jangan berfikiran macam-macam. " Alessya lega mendengarnya. Beringsut bangun dari pangkuan suaminya itu, namun urung, karena ditahan oleh lengan kokoh suaminya.


" Jangan kemana-mana ! Aku ingin menyapa mereka. " Ucapnya tersenyum, ada udang di balik batu rupanya. Alessya menurut, mendengar suaminya yang ingin menyapa bayi yang tengah dikandungnya.


Arselli mengelus lembut perut istrinya dengan penuh kehangatan dan kasih sayang. Lalu ... mengecup dada istrinya yang sedikit terbuka.


" Russel .. " Kecupan itu terasa begitu lama, Arselli malah bersandar di sana seolah merasa nyaman karenanya.

__ADS_1


" Hmm ? " Arselli menatap istrinya.


" Siapa yang sedang kau sapa ? " Arselli terdiam, lalu tersenyum.


" Kelima anakku ... " Bisik Arselli mesra, lalu mengecup pipi Alessya, membuat pipi yang mendengarnya merah merona.


Alessya tegelak setelah mendengar ucapannya.


***


" Maafkan aku ... " Ucap Arselli lirih.


Mereka berbicara dengan lebih serius sekarang. Alessya sedang memakan buah potong yang baru saja diantarkan Robin ke kamarnya. Dengan lahapnya Alessya memakannya, tak ingin berbagi dengan Arselli yang kini tengah duduk di hadapannya.


" Hmm ? "


" Maafkan sikapku beberapa waktu terakhir. Kau pasti mengerti bukan ? " Arselli menatap dengan serius ke arah istrinya.


" Aku mengerti. Kadang aku juga merasa takut. Tapi aku sangat yakin kita bisa melewati semua ini. "


Ada kesedihan di sana, walaupun Alessya mengaku baik-baik saja, jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, kecemasan tengah menguasainya. Namun, dia sembunyikan dengan senyum tawa yang terus berkembang di bibirnya.


Arselli jelas tahu kecemasan itu, ketakutan itu. Dia paling tahu isi hati istrinya saat ini. Berusaha terlihat bahagia dan tegar padahal ketakutan dan kerapuhan kian menggerogotinya dari dalam.


Bertahanlah Alessya ... kau pasti bisa.


Arselli meraih wajah Alessya, mengecup kening istrinya dengan begitu lembut dan mesra. " Aku mencintaimu ... " Bisiknya.


.


.


.


πŸ’ž Bersambung ... πŸ’ž


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa like, rate dan vote ...


__ADS_2