
Sesampainya di villa ...
" Titik ! " Alessya berotoritas kali ini.
Cukup sudah perdebatan mereka malam itu. Kala si ibu hamil beralasan ngidam untuk menerima tawaran produser film itu. Dan sang suami yang bersikukuh dengan penolakannya, karena khawatir dengan kehamilan istrinya.
Hasilnya ... sama saja. Si singa betina slalu menang dalam pertarungannya.
" Baiklah ... kita lihat saja situasi nanti, Ok ?! " Arselli menenangkan si ibu hamil yang berambisi tinggi itu. Alessya mendelik mendengarnya.
Baiklah ... pura-pura saja menyetujuinya, toh tawaran itu juga baru rencana. Belum deal juga... jika deal-pun syutingnya baru akan dimulai dua tahun ke depan. Dan apakah Alessya akan tega juga meninggalkan ketiga anaknya nanti ...
Mengalah untuk menang, apa salahnya bukan ? Alessya pandai sekali memanfaatkan kehamilannya itu. Dengan alasan takut anaknya ngecesh nanti, akhirnya dia ingin menerima tawaran itu. Memangnya main film semudah itu ? Belum tahu saja dia, bagaimana susah dan lelahnya. Apalagi film yang ditawarkan itu film laga pula.
Berargumen bayaran yang diterimanya nanti begitu besar dan melimpah. Sepertinya Alessya terlupa memiliki suami milyuner yang tidak perlu dipertanyakan lagi berapa banyak aset yang dimilikinya, sudah dipastikan luar biasa dan tak terhitung pula.
Alessya tidak perlu resah dan bersusah payah lagi, cukup mengedipkan mata dan melebarkan kedua kakinya, memberikan pelayanan terbaiknya pada suaminya itu. Apapun yang dia inginkan pasti akan dikabulkan semudah menjentikkan jarinya.
" Jangan pura-pura, aku tahu isi fikiran kamu. "
Bola matanya berkaca-kaca. Sebegitu besarnya keinginannya kala itu menjadi aktris film laga. Entah hormon apa yang sedang menguasai tubuh dan fikirannya saat itu. Dan entah bayi yang mana pula yang menginginkan hal itu.
Arselli menggelengkan kepalanya, bertanya-tanya berulang kali apakah memang semua ibu hamil seperti ini ?
" Baiklah, Sayang. Yang penting ... kau menjaga kehamilanmu saat ini. Kau harus menjaga kesehatan dirimu, Ok ? "
Cukup !
Arselli sudah tidak ingin berdebat lagi. Kita lihat saja nanti, memangnya menjadi aktris film semudah itu ? Dan film laga mana pula yang mengajak ibu hamil untuk ikut serta di dalamnya. Padahal baru rencana untuk beberapa tahun ke depan, Alessya begitu antusias seperti itu.
***
Esok hari kemudian ...
Hollwood-pun terlupakan. Deretan hadiah melimpah yang tiba-tiba datang dengan attention Alessya tertulis jelas di sana. Membuyarkan keinginan sang ibu hamil yang sudah berencana dengan begitu matang sedari tadi malam untuk berkunjung melihat maskot film dunia tersebut.
Arsellipun tak merasa aneh melihat dan mendengarnya. Akan lebih bersyukur jika kejutan yang datang itu, bisa meredam ambisi si ibu hamil yang mendadak ingin menjadi aktris film laga. Cukup bersabar saja, mungkin keajaiban akan datang menderanya.
Toh kehamilan yang luar biasapun didapatkan oleh istrinya, dimana vonis dokter yang sempat mengatakan ketidakmungkinannya. Berharap keajaiban datang lagi nanti, agar dia tidak berdebat lagi dengan sang istri. Dan ambisi menjadi aktris film pun terkubur dengan pasti.
" Ini dari Ibu, Russel. "
Membaca nama pengirim yang tertulis di kertas yang ada di genggamannya kini. Ini adalah hadiah pertama dari ibu mertuanya setelah dua tahun lebih pernikahan mereka.
__ADS_1
Suara Alessya terdengar serak kala itu. Terharu bercampur bahagia kala sang mertua mengirimkan banyak hadiah untuknya. Dan semuanya bisa ditebak harganya menjulang tinggi, selangit dengan kualitas yang begitu tinggi dan luar biasa.
Apa saja itu ??
Deretan set perhiasan emas putih dan berlian dengan kadar karat yang begitu tinggi, terset rapi dalam beberapa kotak perhiasan. Pakaian mewah yang kekinian beserta sepatu dan tas yang sudah pasti branded dan limited edition. Hanya beberapa orang di dunia yang memilikinya. Dan Alessya beruntung menjadi salah satu dari mereka.
" Russel ... Ini berlebihan. " Ucap Alessya begitu terpana.
Arselli senang melihatnya, melihat hadiah itu sudah dipastikan bahwa ibunya perlahan sudah menerima Alessya sebagai menantunya. Menerima pernikahan mereka.
" Kau memang pantas mendapatkannya. " Ucapnya merasa bahagia dan terharu juga.
Euforia kebahagiaan begitu jelas di wajah mereka. Terutama mata yang terlihat begitu berbinar bersamaan dengan air mata di pelupuk matanya.
Satu ide tercetus di benaknya.
" Jika kau bersikukuh menerima tawaran itu, aku khawatir ibu akan marah karena mencemaskan ketiga calon cucunya. " Bisik Arselli kemudian.
" Bisa-bisa ... dia menolak kita lagi, Sayang .. "
Klise sekali Arselli. Ha...ha ...Jauh di dalam hati, dia sangat takut bila istrinya menjadi aktris film nanti, cintanya akan memudar bersamaan dengan popularitas yang mengelilinginya.
Percayalah setelah Alessya terkenal di dunia maya dan periklanan saja, sudah membuatnya cemas setengah mati. Cinta Alessya seperti terbagi, dia seperti berpolyandri. Dan Arselli seperti dinomor duakan oleh istrinya.
" Kau benar sayang. Restu dari ibumu lebih berharga dari apapun. " Ucap Alessya.
Arselli terlihat senang setelah mendengarnya. Namun urung setelah mendengar kelanjutan kalimatnya ..
" Sepertinya ... aku harus mengurungkan keinginanku itu untuk sementara waktu ... "
Lanjutnya dengan begitu datar, tanpa rasa bersalah sedikitpun.
Sementara waktu ???
Arselli memijat pangkal hidungnya yang berkerut beberapa kali. Apalagi setelah Alessya berkata ...
" Aku akan bernegosiasi dengan Ibu. Barangkali setelah melahirkan nanti, ibu mau menjaga semua anak kita. Dan aku bisa syuting. Ya kan sayang ?? "
Nyonya Alice pasti senang sekali. Dia memang sangat ingin merawat putra Arselli nanti. Bagaimana jadinya nanti ? Kita lihat saja nanti, sejauh mana ngidam Alessya yang satu ini. Apakah berlanjut atau hanya untuk sementara ini ?
Arselli lalu menyuruh Robin dan pelayan yang lainnya untuk membereskan semua hadiah itu. Berdebat dengan ibu hamil membuatnya lelah saja. Bisa-bisa dia stress atau darah tinggi karenanya. Macam kakek-kakek pula.
Alessya berjalan menghampiri Arselli yang terlihat pusing itu. Memeluknya kemudian dengan begitu hangat dan mesra. Bergelayut di lengannya kemudian. Mengobrolkan hal absurd diantara mereka berdua. Yang mendengarnya pasti terkikik geli karenanya.
__ADS_1
" Terimakasih, Sayang. " Ucapnya manja.
" Kenapa ? Untuk apa ? " Arselli menatap aneh istrinya. Mengangkat kedua alis matanya yang tebal dan hitam itu.
" Terimakasih karena sudah menghamiliku. " Setengah berbisik. Bercanda sembari merenggut lucu.
Arselli terkekeh mendengarnya.
Ada-ada saja ...
" Bukannya kau yang memperkosaku. Hampir tiap malam kau meniduriku. " Jawabnya bercanda pula.
" Emh ... tapi kadang kau yang terus menerus menggodaku. " Pukul Alessya pelan di bahu suaminya itu. Melepaskan pegangannya pada lengan suaminya itu.
" Sudahlah ... yang pentingkan kau hamil sayang. Itukan yang selama ini kau impikan, kau cita-citakan ? " jawab Arselli kemudian. Berjalan ke ruang kerjanya.
" Memangnya kau tidak menginginkannya ? " Mengikuti langkah Arselli kemudian. Masuk ke ruangan kerja suaminya itu.
" Tentu saja, aku menginginkannya. Bagiku kehadiranmu sudah cukup bagiku, dengan adanya mereka ... lebih sempurna hidupku. " Alessya tersipu mendengarnya.
" Kau ini, semakin pandai menggombal saja sekarang. " Ucap Alessya kemudian.
" Tentu saja. Aku belajar darimu. " Jawab Arselli santai.
" Bukannya setiap malam kau merayuku untuk menindihmu. Bahkan, kadang kau sendiri yang tiba-tiba menaiki tubuhku dan membuka semua bajuku. " Tersenyum geli mengucapkannya. Teringat ketika Alessya dulu sering mengajaknya bercinta lebih dulu.
" Aww ... " Arselli tiba-tiba meringis ketika sebuah cubitan kecil mendarat di perutnya. Alessya merasa malu sendiri setelah mengingatnya kembali. Karena itu memang nyata pernah terjadi.
.
.
.
π Bersambung ... π
.
.
.
Jangan lupa like, rate dan koment ya ...
__ADS_1