Lola And Loly

Lola And Loly
Rahasia yang Terungkap


__ADS_3

Pagi itu ...


Sudah satu minggu Alessya menemani suaminya di LA ...


Arselli melamun di ruangan kerjanya. Memikirkan Alessya yang berubah seketika. Dari yang enam bulan lalu terlihat dingin dan murung saja, namun akhir-akhir ini berubah agresif dan ceria kembali seperti dahulu.


Alessya kembali agresif dalam bercinta, seolah hal itu adalah saat terakhir mereka bersama. Menempel seperti prangko , bahkan untuk sekedar mandipun ingin slalu berdua. Walaupun Arselli sangat menyukai dan menikmati kebersamaan itu, namun rasa takut kian mendera perasaannya. Ada perasaan tidak enak, seolah suatu pertanda bahwa akan terjadi sesuatu pada mereka, pada hubungan mereka berdua.


Senyuman Alessya begitu lebar, hanya saja tatapan matanya terlihat begitu kosong dan hampa, membuatnya merasa curiga. Sebenarnya apa yang terjadi dengan istrinya ?


Arselli merasa bahwa Alessya tengah menyembunyikan sesuatu darinya. Seringkali dia menemukan istrinya tengah termenung sendiri, namun mendadak ceria ketika menyadari ada dirinya, seolah menutupi sesuatu darinya.


Tiba-tiba ...


Asisten Henry datang memberi kabar bahwa dr. Edward menelfonnya.


Mereka mengobrol cukup lama sekedar basa basi dan lain sebagainya. Kemudian Dr Edward mulai membahas pertemuan terakhirnya dengan Alessya. Sepertinya dia penasaran ingin tahu apakah Alessya telah berkata jujur atau tidak pada suaminya mengenai vonis dokter yang sempat dia baca beberapa hari lalu.


" Sebelum istrimu pergi menyusulmu aku- sempat bertemu dengannya di sebuah rumah sakit. Bukan rumah sakit milikmu melainkan rumah sakit lain. " Dokter Edward menyebutkan nama rumah sakit itu yang merupakan rumah sakit milik temannya juga.


" Emh ... benarkah ? " Merasa kaget, merasa tidak mendengar cerita itu dari Alessya.


" Dia- tidak mengatakan sesuatu padamu ? " Dokter Edward mulai meneliksik mencari tahu.


" Mengatakan apa ? " Arselli sedikit penasaran, dr. Edward seperti sedang main tebak-tebakan.


" Emh ... " Akhirnya mengerti bahwa sepasang suami istri itu belum saling bicara dan terbuka. Dan dia tidak bisa ataupun tidak ingin terlibat dalam masalah rumah tangga orang lain.


" Sepertinya dia hanya lupa bercerita padamu. Sepertinya aku masih kurang tampan untuk masuk dalam memory ingatannya. " dr. Edward sedikit bercanda untuk mencairkan suasana.


Arselli tertawa keras mendengarnya. Namun siapa sangka, dalam hati dia begitu bertanya-tanya apa yang terjadi sebenarnya.


Bersandar di kursi kebesarannya dia berfikir keras dan cukup lama. Mengingat ucapan dr Edward yang bertemu dengan istrinya satu hari tepat sebelum keberangkatannya. Mendadak teringat saat di bandara mata Alessya terlihat begitu sembab dan hitam. Apakah ada kaitannya ?


" Henry ... " Arselli memanggil asistennya lirih setelah pembicaraan dalam telfon itu berakhir.

__ADS_1


Asisten Henry sudah berdiri di hadapannya menunggu instruksi dari atasannya.


" Selidiki dan laporkan padaku apa yang dilakukan istriku satu hari sebelum berangkat ke sini. Lakukan secara mendetail ... " Sembari menjelaskan bahwa Alessya pergi ke satu rumah sakit dan bertemu dengan dr. Edward di sana.


" Baik, Tuan ... " Asisten menunduk hormat. Bersiap menjalankan tugasnya.


" Oh iya ... hari ini, sepertinya aku akan pulang cepat. Jika ada informasi hubungilah aku, jangan menundanya !! " Tegas Arselli kemudian, melanjutkan lagi mengecek laporan penting yang ada di hadapannya.


***


Siang itu ...


Sesaat sebelum pulang, Arselli terhenyak mendapatkan suatu fakta yang cukup menyakitkan hatinya. Kabar mengenai kesehatan rahim Alessya dengan mudah dikorek oleh anak buah asisten Henry. Apalagi dengan petunjuk dari dr. Edward mengenai rumah sakit yang sempat Alessya datangi.


" Sejak kapan ? Apakah ada informasi tentang ini ? " Arselli bertanya dengan lebih mendetail.


" Enam bulan lalu, Tuan ... Beberapa minggu setelah meninggalnya ibu mertua Anda. " Jelas asisten Henry mengenai kapan pertama kali Alessya memeriksakan kondisi rahimnya.


Arselli terdiam dan merenung. Ada kesedihan di matanya. Namun berusaha dia tutupi dari asistennya. Mengetahui kesedihan istrinya enam bulan ini adalah karena masalah ini. Bersamaan dengan kesedihan karena kehilangan ibunya yang sangat dia sayangi.


Walaupun selama ini dia tidak terlalu menunjukkan keantusiasannya untuk memiliki anak, namun di hati yang paling dalam layaknya pria normal biasanya dia juga ingin memilikinya dan merasakannya. Namun apa mau dikata jika takdir menuntunnya ke jalan ini.


" Apa ada lagi ? " Tanya Arselli kemudian, memecah keheningan diantara mereka.


" Masih ada Tuan. Hanya saja- kami masih menyelidikinya. Jika sudah pasti saya akan melaporkannya dengan segera. " Ucapnya kemudian sedikit ragu dan terbata. Sepertinya hal ini masalahnya cukup besar dan dia harus memastikan terlebih dahulu kebenarannya.


***


" Kau sudah pulang ? " Alessya menyambut kedatangan suaminya.


Alessya yang saat itu baru selesai mandi, keluar dari kamar mandi hanya dengan memakai bathrobe saja. Rambutnya basah menetes ke bahunya. Wanginya segar dan menggoda.


" Ehm, aku pulang ... " Jawab Arselli lirih. Tiada semangat dan gairah, matanya terlihat sedih dan kosong.


Berjalan menghampiri Alessya lalu memeluknya dengan begitu erat seolah tak ingin terlepas darinya.

__ADS_1


" Ada apa ? " Ketika merasakan pelukan suaminya terasa begitu erat bahkan semakin erat. Bukan pelukan seperti biasanya, pelukan mesra dan menggoda yang bermakna ' aku ingin bercinta ' melainkan pelukan posesif yang penuh dengan ketakutan akan kehilangan.


" Apakah aku pernah mengatakan ini ? " Tanya Arselli melepaskan pelukannya. Berjalan menuju ranjang untuk duduk dan menuntun istrinya, membawanya duduk di pangkuannya.


" Apa ? " Alessya memeluk leher Arselli, sesekali jarinya mengelus rambut wangi beraroma maskulin sang suami.


" Aku sangat tidak suka dengan anak-anak. " Jawab Arselli. Berhasil membuat mata Alessya berbinar dan Arselli menangkap binar itu dengan begitu jelas.


" Benarkah ? " Alessya berusaha menutupi ekspresinya. Mendengar ucapan dari suaminya itu sedikit memberikan harapan baginya.


" Bisakah jika kau ingin bercinta denganku, hanya karena menginginkanku saja. Bukan karena menginginkan anak-anak yang akan menganggu kita jika kita bercinta nanti ? " Ujar Arselli dengan begitu manja.


Alessya sampai tergelak mendengarnya. Tawa yang terlihat begitu hampa dan getir.


" Kau bercanda Russel . "


Mengingat kembali betapa Nyonya Alice menuntutnya untuk memberinya seorang cucu. Hingga dia begitu tertekan dengan kenyataan yang ternyata lebih menyakitkan.


Ya Tuhan ... mengapa Kau memberi ujian seperti ini kepada Kami ? Arselli menatap dalam mata Alessya yang kini slalu berpaling dan menghindar dari tatapan tajamnya.


" Bagaimana kalau kita mencobanya ? " Tanya Arselli terdengar ambigu.


" Mencoba apa ? " Mata Alessya mengerjap beberapa kali, mencerna ucapan sang suami yang penuh teka teki.


" Mencoba untuk berhenti memikirkan anak diantara kita. Aku tidak menyukainya. Cukup hanya aku dan dirimu saja. " Ucapnya membuat Alessya melayang. Andai Nyonya Alice seperti ini ...


Arselli lalu menurunkan jubah yang dipakai istrinya sehingga tampaklah bahu indah miliknya. Mengecup bahu dan lehernya memberi sensasi luar biasa.


Mendorong tubuh istrinya hingga berbaring di atas ranjangnya.


Alessya terdiam. Perlakuan Arselli hari ini tidak seperti biasanya. Lebih lembut, hangat dan menyentuh hatinya ...


.


.

__ADS_1


πŸ’ž Bersambung ... πŸ’ž


Jangan lupa like dan koment.


__ADS_2