
.
.
.
Arselli samasekali tidak bisa tidur malam itu. Raganya begitu lelah, namun fikirannya masih mengembara kemana-mana. Memikirkan pernikahan mereka yang tengah diuji dengan cobaan yang cukup berat.
Tangannya mengelus rambut Alessya yang tergerai indah. Dia tengah bergelung manja dalam pelukan hangat suaminya. Tangannya melingkar erat memeluk tubuh Arselli. Sama-sama saling memberi kehangatan. Memberi kenyamanan hati dan jiwa.
" Berjanzilah Alessya ! "
Alessya yang saat itu hampir tertidur dalam pelukan Arselli terbangun seketika.
" Apa ? "
Alessya mendongakkan wajahnya ke arah suaminya. Menatap wajah tampan Arselli dengan mata yang menyipit karena menahan kantuk yang teramat sangat.
" Berjanzilah padaku! Apapun yang terjadi kau akan tetap di sampingku ! "
Alessya tersenyum mendengarnya. Tanpa dipintapun dia pasti akan melakukannya. Yang jadi masalah adalah 'apakah kau akan menerimaku apa adanya jika kau mengetahui keadaanku yang sebenarnya ?'
" Tentu saja ! Aku pasti akan tetap di sampingmu. Tapi- "
Alessya berfikir untuk sejenak.
Apakah ini saatnya ? Apakah ini waktu yang tepat untuk membicarakannya ?
" Russel ! "
Panggil Alessya dengan suara lirih. Dia sampai menelan ludah beberapa kali.
" Ada apa, hmm ? Katakanlah ! "
Walaupun Arselli takut mendengarnya, cepat atau lambat hal ini harus dilakukan juga. Membicarakan hal ini dengan kepala dingin dan terbuka.
" A-ku- ... " Alessya menelan ludahnya beberapa kali. Matanya mulai berkaca-kaca.
" Aku- , A-ku- ... tidak mungkin bisa hamil Russel. Rahimku mengalami kerusakan karena penembakan itu. "
Suara Alessya terdengar serak. Dia tengah menahan tangis saat itu. Tangis yang berusaha dia tahan selama ini di hadapan Arselli. Namun akhirnya meledak juga, dan mengalir tak tertahan lagi. Tangannya membekap mulutnya sendiri. Tak ingin tangisan itu semakin menjadi seolah menunjukkan kerapuhan diri dan hati.
" Maafkan aku. Aku- tidak bisa memberimu seorang anak. Hiks ... !!! "
Alessya mulai menangis tiada henti. Menjerit pelan melepaskan beban berat di hati. Menghapus kehampaan hati dan kekurangan diri. Dengan air mata serasa ringan beban hidupnya. Dengan terbuka berakhir sudah kebohongannya. Dia pasrah, dia menyerah. Jika Arselli tidak bisa menerimanya, dia akan pergi dengan cara baik, walaupun itu begitu menyakitkan hati dan jiwanya.
__ADS_1
" Maafkan aku, Russel. Aku tidak bisa menyempurnakan kebahagiaan dalam hidupmu. Maaf !! " ucapnya sembari menangis pilu.
" Aku akan pergi jika kau tidak bisa menerimaku. Aku menyadari kekuranganku sendiri, Russel a-ku- ... " Ucapannya terputus seketika.
Arselli merengkuh tubuhnya dengan begitu erat seolah ada kemarahan di sana, membayangkan Alessya akan pergi meninggalkannya.
" Apa maksudmu kau akan pergi ? !! " Melepas pelukannya, Arselli sedikit marah mendengarnya.
Sentak Arselli dengan suara yang cukup tinggi. Dia bangun dari tidurnya. Duduk bersandar di kepala ranjang mereka. Alessya beringsut mengikuti Arselli kemudian. Namun dia memilih duduk menghadap ke arah suaminya.
" Siapa bilang kau boleh pergi dari hidupku, Alessya ?!! " Sentaknya lagi dengan suara yang lebih tinggi.
" Tapi- aku tidak bisa memberimu seorang anak. " Suara Alessya terdengar begitu putus asa dan hampa.
" Aku tahu !!! Aku sudah tahu hal itu. " Jawab Arselli tegas. Sukses mengagetkan Alessya.
" Kau tahu ? Sejak kapan, Russel ? " Alessya bertanya setengah memaksa menanti jawaban atas pertanyaannya barusan.
" Sejak kapan Russel, katakan aku mohon ?!! "
" Beberapa hari lalu, Alessya. Aku mengetahui dari dr. Edward jika kau pergi ke sebuah rumah sakit. " Jawabnya sembari memalingkan wajahnya dari pandangan tajam istrinya.
" Apalagi yang kau ketahui ? "
Alessya berusaha mencari tahu apakah suaminya itu telah mengetahui mengenai pertemuannya dengan Ny. Alice.
Alessya tersenyum getir, menyadari sesuatu, bahwa tak ada lagi hal privacy dalam hidupnya. Semenjak menikah dengan Arselli hidupnya telah berubah, dia tak lagi bisa menyimpan rahasia karena slalu ada yang mengawasinya.
Walau tidak dipungkiri dia juga sangat ingin menceritakan mengenai pertemuannya dengan Ny. Alice. Hanya saja melihat sikap Arselli yang begitu tegang saat ini, membuatnya berfikir dua kali. Dan memikirkan waktu yang tepat nanti untuk membicarakannya lagi.
" Aku hanya meminta satu padamu, Alessya !Berjanzilah !! "
Tegas Arselli dengan nada yang memerintah. Dia sungguh tidak ingin Alessya menolak dan menyanggahnya.
" Berjanzilah untuk tetap berada di sampingku. Berjanzilah tidak akan pernah meninggalkanku. Itu saja Alessya. Apa kau bisa melakukannya ? "
Alessya terhenyak mendengarnya. Antara kaget, terharu, bahagia, dan sebagainya. Tapi, kondisi rahimnya yang rusak adalah suatu fakta. Apakah dia bisa seegois itu ? Membiarkan Arselli tidak memiliki seorang keturunan samasekali ?
Perdebatan terjadi cukup lama dan alot. Pada akhirnya Alessya menyerah, Arselli berhasil menaklukkan hati, jiwa dan raganya. Seikat Janzi telah terucap dari bibirnya. Untuk tetap setia menemani mendampingi suaminya apapun yang terjadi nanti.
" Baiklah aku berjanzi. "
" Berjanzi apa ? "
" Berjanzi untuk tetap berada di sampingmu walau apapun yang terjadi. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, sebelum kau sendiri yang meninggalkanku. " Ucapnya hampir menangis. Dia merasa bahagia, namun dia merasa egois karenanya.
__ADS_1
Ya Tuhan ... berikanlah keajaiban kepadaku ...
Arselli meraih Alessya dalam pelukannya. Mengecup keningnya dan membawanya untuk tidur kembali. Meraih mimpi dalam tidur nyenyak mereka.
" Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, Alessya. " Ucap Arselli lirih.
***
Pagi hari yang cerah ...
" Russel, bangunlah ! Kita harus mulai bersiap sekarang. Bukankah kita akan pulang nanti malam ? "
Alessya yang baru saja selesai mandi pagi terlihat lebih segar. Dengan tubuh harum, segar mewangi. Menggerak-gerakkan bahu suaminya untuk segera bangun dari tidurnya.
" Russel. Aww .... " Alessya menjerit ketika tangan Arselli tiba-tiba menariknya dengan cukup keras dan cepat. Membawa Alessya dalam pelukannya. Dengan gerakan cepat, Alessya sudah berada dalam rengkuhan suaminya. Dan kini, Alessya sudah di bawah tindihannya.
" A-apa yang kau lakukan, Russel ? Bukankah kita harus bersiap. " Ini bukan kali pertama baginya. Namun, pagi ini terasa begitu berbeda. Lebih lembut dan lebih bergelora. Tangan Arselli sudah mulai bermain nakal di tubuhnya. Membangkitkan hasrat terpendam di dalam dadanya.
" Olahraga pagi ... " Bisiknya dengan suara serak dan parau.
" Bu-bukankah ... "
" Ahh ... " Alessya mendesah sembari memejamkan kedua matanya, merasakan kenikmatan yang menjalar naik ke seluruh tubuhnya. Sebagai pembuka adegan panas yang mungkin akan berlanjut hingga siang nanti. Ucapannya mendadak terputus seketika. Seolah-olah otaknya buntu dan lidahnyapun menjadi kelu.
Arselli telah mengambil alih tubuhnya. Jiwa dan raganya pasrah bersamaan dengan gerakan Arselli yang membuat dirinya terlena. Hingga terbang melayang menuju ke nirwana. Membawa kenikmatan yang tiada tara, meraihnya bersama berdua dengan sentuhan eksotis yang menyentuh raga.
.
.
.
π Bersambung ... π
Jangan lupa like, rate dan koment ya ...
Pengumuman ya ...
Terimakasih untuk semua yang masih mendukung dan setia untuk membaca karyaku ini yang masih seperti butiran debu.
Terimakasih atas semua komentarnya yang mendukung dan membangun dan memberikan ide-ide segar di sana.
Namun, maaf ya ... jika aku jarang banget ngebalesin koment kalian. Selain karena sibuk di dunia nyata. Jadi, sekalinya ada waktu ya buat ngetik episode selanjutnya.
Selain itu, suka takut keceplosan spoiler juga dan aku sebagai penulis berusaha konsisten dengan alur dan konsep cerita yang sudah sedari awal dirancang dan disusun sedemikian rupa. Walaupun ya ... ceritanya gini-gini aza, gak terlalu bagus juga.
__ADS_1
Sesekali koment dan saran kalian aku masukin ya ... tanpa mengubah konsep ceritanya. Terimakasih semuanya ...πππππ