
Karena sampai kapanpun aku hanya mencintaimu. Dan aku, akan slalu setia padamu.
.
.
Alessya tengah terisak kala Arselli baru saja keluar dari kamar mandi. Masih hanya berbalut handuk yang menutupi setengah tubuhnya, Arselli bertanya-tanya apa yang telah terjadi pada istrinya.
" Sayang ... " Arselli menghampiri istrinya yang tengah duduk di tepian ranjang sembari memeluk kemeja suaminya yang terdapat noda lipstick itu.
" Apa yang terjadi padamu ? " Tanya Arselli pada istrinya.
Alessya hanya terdiam saat itu. Air mata sudah tak terbendung lagi, tidak berhenti menetes di pipinya. Memperhatikan lagi lebih dalam dan lebih lama noda lipstick itu. Dan dia pastikan berulang kali, bahwa itu bukanlah bibirnya. Bukan warna lipstick dari salah satu koleksi lipstick di meja riasnya.
Arselli memperhatikan objek yang sedari tadi diperhatikan istrinya.
" Sayang ... apa itu ? " Dengan polosnya Arselli bertanya. Sebenarnya dengan melihat sekilas saja dia tahu noda apa itu. Hanya saja, Arselli tidak tahu dari mana asalnya. Sempat berfikir mungkin Alessya yang membuatnya tadi, sembari iseng menunggu suaminya yang sedang mandi.
Alessya mendelik.
" Dasar Tuti kamu !! " Menghempas kasar kemeja itu ke pahanya. Walau begitu dia masih menggenggam erat bukti kuat itu.
" Tuti ? Apa itu ? " Arselli semakin tidak mengerti. Merasa aneh dengan tingkah istrinya. Sempat mengangkat sebelah alisnya, ketika bertanya tadi.
" Tukang Tipu ! " Sindir Alessya dengan suara yang cukup lantang, walaupun sedikit serak karena habis menangis tadi.
" Hmm ???? "
Arselli menggaruk kepalanya, merasa tidak paham. Ingin beranjak pergi untuk berpakaian namun tak berani, masalah belum selesai. Singa betina tidak akan melepaskan begitu saja dirinya, tak peduli kedinginan sudah menyerangnya.
" Apa ini Russel ? Kamu selingkuh ya ?!! " Alessya berdiri, tangannya bergetar kala itu. Menunjukkan kerah kemeja bernoda lipstick itu.
" Oh ... itu ? " Arselli mengernyitkan dahinya.
" Bukannya, kau yang membuatnya tadi ? "
Glek !
Alessya mendelik tajam. Ya.. kali, kurang kerjaan ??
Salah ya ... rupanya ... ??
__ADS_1
Arselli menggaruk - garuk kepalanya lagi. Berusaha mengingat-ngingat kejadian tadi.
Di pesta tadi dan setelahnya ...
" Arsell ... "
Elliana memanggil Arselli dengan nama panggilan yang sering dia gunakan dulu saat mereka masih berhubungan. Entah apa maksudnya ? Entah disengaja atau tidak , yang pasti Arselli terdengar tidak nyaman mendengarnya.
" Elliana ..? " Setelah Arselli berbalik badan saat itu.
Walau begitu, Arselli tidak terpancing untuk membalas memanggil nama sayang Elliana saat dulu. Jika dulu Arselli slalu memanggilnya Anna, untuk sekarang Arselli bertahan untuk memanggil namanya dengan ejaan yang baik dan benar saja. Sesuai dengan huruf yang tersedia, tak mengurangi apalagi menambahkan.
" Maaf Arselli, aku terburu-buru tadi. " Tidak sengaja memanggil nama sayangnya dulu, Elliana meminta maaf, karena sepertinya dia memang tidak berniat apa-apa.
" Apa kabarmu ? " Elliana mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan mantan kekasihnya itu.
" Baik. Kau sendiri ? " Membalas jabatan tangan itu. Walau ragu, dia lakukan. Merasa beruntung sapaan kali ini bukan berupa pelukan ataupun ciuman pipi kiri dan kanan.
Mengingat kejadian dulu, saat mereka tidak sengaja bertemu saat dirinya dan Alessya tengah berkencan di pantai. Dimana pertemuan itu memicu kecemburuan Alessya hingga akhirnya Alessya berakhir masuk dalam jebakan Ben dan Clara.
" Aku baik. Oh iya ... aku bermaksud untuk memberikan ini padamu. " Elliana mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Dan langsung memberikannya pada pria yang kini berdiri di hadapannya.
" Apa ini ? " Arselli melihat dan menatap benda itu, lalu tersenyum melihatnya.
" Hmm. " Elliana menganggukkan kepalanya.
" Aku akan menikah. Datanglah bersama Alessya. Aku dengar saat ini kalian tinggal di sini. " Mereka mulai terlibat obrolan santai saat itu.
" Benar. Untuk sementara kami tinggal di sini, sampai kelahiran anak kami nanti. " Ada nada sedih di sana, lebih tepatnya kecemasan terhadap istrinya.
" Oh iya, aku dengar anak kalian kembar tiga. " Elliana turut bahagia setelah mendengar kabar itu, beberapa waktu lalu dari calon suaminya.
" Kau mengerahuinya ? " Arselli mengernyitkan dahinya, bertanya-tanya dalam hati darimana Elliana tahu kabar ini.
" Aku mengetahuinya dari calon suamiku, beberapa waktu lalu. Sepertinya dia memang cukup dekat dengan istrimu. " Jawab Elliana sembari tersenyum.
Arselli langsung membuka kartu undangan itu. Merasa penasaran siapa yang akan menjadi calon suaminya itu, yang ternyata cukup dekat dengan istrinya sampai mengetahui kabar kehamilannya yang kembar tiga.
Arselli tersenyum setelahnya, membaca nama pengantin pria yang terpampang di sana. Dia ingin segera pulang dan bercerita pada istrinya, karena memang benar Alessya mengenal pria yang tertulis di sana.
Arselli lalu berpisah dengan Elliana tanpa pelukan dan tanpa ciuman pipi kiri dan kanan. Hanya berjabat tangan sebagai tanda perpisahan dan ucapan selamat, serta janzi untuk menghadiri acara pernikahan.
__ADS_1
Namun ...
Setelah perpisahan itu terjadi, tiba-tiba seorang wanita yang sedang dalam kondisi mabuk menabraknya dari arah depan tubuhnya. Entah dia siapa, Arselli samasekali tidak mengenalnya. Hanya sekedar kata maaf yang sempat diucapkan olehnya bersama teman prianya yang menyusul kemudian setelah beberapa lama.
" Maafkan kami ! " Kata pria itu berulang kali.
Arselli masuk ke dalam mobil setelahnya. Bergegas pulang menemui istrinya yang dia rindukan sedari tadi.
***
" Jadi, Elliana akan menikah ? " Tanya Alessya dengan mata yang berbinar-binar. Tak ada lagi mata sendu di sana, dia terlihat begitu bahagia sekali. Pesaingnya akhirnya menikah. Dan tak ada kemungkinan baginya untuk CLBK bersama suaminya nanti.
" Dengan Romeo !! " Kali ini Arselli yang begitu semangat. Mengetahui pesaingnya akan menikah walaupun dengan mantan kekasihnya. Sudahlah, lagipula dia sudah tidak memiliki perasaan apapun pada Elliana. Ya, hanya sekedar menghargai masa lalunya. Karena, bagaimanapun juga, Elliana sempat bertahta di hatinya. Mengisi hari-harinya. Dan tidak bisa dipungkiri juga sempat menghangatkan ranjangnya saat dulu kala. Walaupun hanya beberapa kali saja.
" Tapi ... bekas bibir itu. Jangan-jangan ... " Alessya menatap tajam suaminya. Tidak langsung percaya saja dengan penjelasan suaminya tadi. Khawatir mereka melakukan ciuman terakhir sebagai perpisahan.
" Jangan-jangan apa ? " Arselli meraih tangan Alessya, menariknya untuk duduk di pangkuannya. Mencium telinganya dengan mesra, dan ...
" Russell, geli .. aahhh ... " Manjanya Alessya saat tangan suaminya mulai bermain nakal di dadanya. Belum lagi bibirnya yang sudah mencapai bahu mulusnya.
Arselli berhenti.
" Bisakah kau lebih mempercayaiku ? " Arselli mulai serius saat itu. Menyadari bahwa istrinya sudah terlalu sering cemburu padanya. Tak ingin hal itu terulang kembali di masa depan nanti. Apalagi disaat mereka sudah punya anak, dimana kesibukan akan sedikit mengganggu kemesraan mereka nantinya.
" Kau juga, slalu cemburu tidak jelas pada Romeo. " Alessya tidak ingin kalah dengan suaminya. Karena memang itu kenyataannya. Padahal, dia samasekali tidak pernah memiliki hubungan spesial dengan Romeo, maupun lelaki lainnya.
Arselli terdiam saja, seolah mengakui kesalahannya. Memang itu fakta, dia slalu cemburu bila melihat Alessya bersama Romeo, apalagi tatkala melihat tatapan Romeo yang penuh cinta pada istrinya.
" Tapi Russel ... kehamilanku masih lama, apa kau akan bertahan ? Kau yakin tidak akan kelayapan ? " Tanya Alessya dengan begitu polosnya.
.
.
.
π Bersambung ... π
.
Maaf ya ... sudah membuat para reader suudzoon ... π€π€ Harusnya tadi up nya langsung dua episode ... Apa daya tangan tak sampai, dunia nyata harus dikejar ...
__ADS_1
.