Lola And Loly

Lola And Loly
Hampa


__ADS_3

.


.


.


Alessya duduk di atas ranjang menikmati kesendiriannya, sembari memeluk kedua lututnya. Hampir tiga hari ini Alessya terkurung di kamarnya, tanpa Arselli menemani hari-harinya.


Robin rutin mengantarkan makanannya secara berkala di setiap waktu makannya. Sekaligus memantau kondisi kesehatan istri kesayangan majikannya itu. Melaporkan secara rutin hasil pemantauannya kepada asisten Henry melalui telfon.


Sudah tiga hari ini Arselli tidak pulang ke villa. Dia menginap di hotel untuk menenangkan diri.


Setelah kejadian tempo hari, dia membatalkan rencana kepulangannya ke negara asalnya. Seolah khawatir Alessya akan lari darinya di bandara apabila ada celah darinya.


Bahkan dia sampai memerintahkan bodyguard untuk melakukan penjagaan di villanya. Khawatir istrinya itu akan mencoba pergi meninggalkan villa. Selain itu, ponsel dan dompetpun disita dari Alessya, agar tidak ada rencana lain yang dibuat secara rahasia bersama Ny. Alice.


Selain rasa paranoid berlebihan yang menyerang Arselli beberapa hari ini. Kepulangan ditunda karena urusan pekerjaan yang mendadak mengharuskan dia harus berada di negara ini beberapa hari lagi. Partner bisnis baru mengharuskan dia menghadiri pertemuan secara langsung untuk membicarakan perjanjian kerjasama diantara mereka.


" Hoekkk ... hoekkk ... !!! "


Pagi ini entah mengapa perut Alessya terasa begitu mual. Tubuhnya terasa lemas, tiada gairah dan semangat. Jika biasanya ada Arselli yang slalu memberi perhatian padanya, kini tidak lagi ada di sana.


Matanya terlihat sembab. Menangis sudah seperti minum obat saja baginya. Tiga kali sehari terkadang lebih. Antara sesak dan hampa begitu terasa di rongga dadanya. Dan semua itu begitu menyiksa. Entah ini rindu atau apalah, yang pasti hanya kehadiran Arselli di hadapannya yang akan menjadi obatnya.


" Hoekkk ... hoekkk ... !!! "


Alessya terus memuntahkan isi perutnya. Dia baru saja menghabiskan setengah porsi sarapannya setelah Robin beberapa kali merayunya untuk makan. Mengiming-imingi kehadiran Arselli nanti, jika Alessya bersikap baik dan menuruti perkataannya.


Robin yang belum kembali ke dapur walaupun sangat segan terpaksa harus membantu Alessya memijit pundaknya. Setelah sesaat lalu mengikuti langkah istri majikannya yang setengah berlari menuju wastafel di toilet kamar mandinya. Memberinya handuk kecil lalu memapahnya kembali ke arah ranjang.


" Aku hanya ingin bertemu dengannya, Robin. Tolong aku, aku mohon ... !! " Ucapnya sembari tersedu-sedu. Keputusasaan tersirat dalam sinar matanya yang meredup tak bersinar seperti biasanya


***


Arselli menghadiri pertemuan penting dengan partner bisnis baru mereka di sebuah restoran hotel tempat dia menginap selama tiga hari ini. Penampilannya tampak kacau dengan bau asap rokok dan alkohol sedikit menghiasi aroma tubuhnya. Raganya ada di sana, namun jiwanya melayang entah kemana. Tatapannya begitu kosong dan hampa.


" Ehem !! "

__ADS_1


Asisten Henry berkali-kali mengingatkan atasannya itu untuk tetap fokus dengan masalah pekerjaan yang sedang dibahas di hadapannya. Namun, tampaknya itu hanyalah sia-sia belaka. Pada akhirnya Asisten Henry yang menghandle semuanya. Atasannya itu saat ini hanya berperan sebagai pajangan atau maskot perusahaan semata.


Sudah beberapa hari ini Arselli tidak tidur. Keputusan yang dia buat untuk menghukum istrinya dengan menjauhi dan menghindarinya, malah menjadi bumerang bagi dirinya sendiri.


Arselli dilanda malarindu yang teramat besar. Tak kalah besar dengan keegoisan dan rasa gengsi yang teramat tinggi yang dia pertahankan dengan sekuat tenaga selama tiga hari ini. Resah dan gelisah tampak begitu jelas dari raut wajahnya, dari gestur tubuhnya dan dari gerak geriknya.


Asisten Henry mencoba mengingatkan dan berkali-kali mencoba melunakkan hati bosnya itu. Tak urung berhasil, egonya terlalu tinggi. Entah apa yang ada di fikirannya, sepertinya dia hanya ingin puas menghukum istrinya itu, agar jera dan tak sekalipun berniat lagi untuk meninggalkannya suatu saat nanti.


Pertemuan dengan ibunya kemarin menyisakan kekecewaan yang besar di rongga dadanya. Ibunya yang berhasil dia ketahui ternyata ada di negara ini, tengah memantau rencana kepergian Alessya kemarin ( Niat banget 🀦🀦 ). Berawal dari niat untuk memantau langsung perginya Alessya dari sisi putranya. Namun terpaksa gagal, kala asisten Henry berhasil membongkar semuanya.


Belum lagi rasa kecewa yang mendera hatinya, atas diri Alessya yang hampir saja menyetujui keinginan ibunya itu. Membuatnya kecewa berkali-kali lipat. Dan merasa dikhianati, bak ditikam dari belakang dengan belati tajam.


Alkohol dan rokok menjadi teman pelipur lara di malam-malam sepinya. Jika biasanya ada Alessya di sampingnya, namun egonya menolaknya untuk menemuinya.


" Kondisi kesehatannya sedikit memburuk, Tuan. "


Asisten Henry melaporkan kondisi Alessya kepada Arselli sesuai dengan laporan dari Robin terakhir kali. Setelah rapat itu baru saja usai beberapa menit lalu, setelah kemudian Arselli memutuskan untuk kembali ke kamar hotelnya.


Arselli memijit pangkal hidungnya beberapa kali.


" Apa kau sudah memanggilkan dokter untuknya ? "


" Dokter wanita yang terakhir datang ke villa sedang pergi ke luar negeri. Jika harus ditangani dengan segera, sebaiknya anda mengantar nyonya muda ke rumah sakit untuk memeriksakan kondisi kesehatannya. Sepertinya kehadiran Anda adalah obat terbaik baginya. "


Asisten Henry memberikan saran kepada atasannya dengan begitu bijaksana. Memberikan saran terbaik demi kebahagiaan sepasang suami istri yang tengah bertengkar cukup hebat itu. Yang sebenarnya adalah sebuah pertengkaran di satu sisi, karena hanya bosnya yang terlihat begitu emosi dan marah. Sedangkan Alessya dengan kesedihannya yang tiada kentara.


" Tidak ! Kau saja ! " Jawabnya dengan begitu seenaknya. Berpura-pura tidak mau padahal hati jelas-jelas menginginkannya.


" Nyonya muda merindukan Anda, Tuan. Bukan saya ! " Sergah asisten Henry.


" Kau tidak melihat penampilanku sekarang ? Berantakan sekali. " Dia bersikap seperti remaja yang tengah minder ketika akan bertemu dengan pacarnya.


" Informasi dari Robin. Nyonya muda bahkan tidak mandi dan berganti pakaian selama tiga hari ini. "


Membayangkannya pasti bau sekali.


Asisten Henry bahkan sedikit mengernyitkan dahi. Dia seperti Mak comblang yang berusaha meng-akurkan sepasang kekasih yang tengah bertengkar.

__ADS_1


Arselli mulai cemas mendengarnya.


" Apakah dia makan dengan baik ? "


" Tidak, Tuan ! Bahkan tadi pagi dia memuntahkan semua makanan yang berhasil masuk ke mulutnya. "


Ada nada khawatir di sana. Bagaimanapun juga pola fikirnya menolaknya, kenyataan dan hampir sebuah fakta bahwa sebagian jiwa majikannya telah bersarang di tubuh istrinya, begitupun sebaliknya.


Jika salah satunya terluka ataupun sakit, sudah bisa dipastikan pasangannya juga akan ikut merasakannya. Seperti kembar identik saja. Atau mungkin karena saking besarnya cinta mereka, menjadikan adanya ikatan batin diantara mereka semacam kesatuan jiwa.


Dan yang lebih utama dari masalah yang mereka alami tiga hari ini. Tidak ada komunikasi yang baik diantara mereka. Sang suami dengan ego tingginya bertahan kuat dengan kemarahannya. Untuk tidak menemui istrinya yang sebenarnya sangat dia rindukan itu.


Kesatuan tubuh yang biasanya rutin dilakukan hampir tiap hari, tak dapat dilakukan. Menjadikan gairah tak tersalurkan hingga akhirnya stress kemudian. Padahal hal itu adalah obat terbaik dikala masalah rumah tangga tengah mendera dengan keterbukaan hati untuk saling memaafkan dengan hati lapang dan terbuka.


.


.


.


πŸ’ž Bersambung ... πŸ’ž


.


.


.


Jangan lupa like, rate ⭐⭐⭐⭐⭐


dan koment yang banyak ...


Oh iya ... bantu promo ya ...


Asli ✌️aku gak ada waktu buat promo


Sekalinya ada waktu ya, buat mikir dan ngetik episode selanjutnya ...

__ADS_1


Terimakasih karena masih setia membaca


__ADS_2