Lola And Loly

Lola And Loly
Makan Siang


__ADS_3

.


.


.


Arselli tengah bermain golf dengan beberapa rekan bisnisnya. Ditemani asisten Henry yang slalu setia menemaninya. Berjalan perlahan menyusuri hamparan rumput berwarna hijau, menikmati sinar matahari pagi yang menghangatkan tubuh dan menyilaukan mata.


" Bagaimana dengan penyelidikanmu ? Apakah sudah ada hasil ? "


Tanya Arselli pada asisten Henry, menanyakan mengenai kelanjutan hasil penyelidikan terhadap istrinya, Alessya. Mengenai apa yang telah terjadi padanya selain dari kabar kondisi rahimnya yang begitu mengejutkannya beberapa hari lalu.


Dia sedikit khawatir istrinya itu memendam lagi masalah besar lainnya di hatinya yang akan mempengaruhi kesehatannya nanti. Mempengaruhi hubungan pernikahannya kelak karena cobaan yang bertubi-tubi.


" Sebenarnya sudah ada , Tuan. Hanya saja ... masih belum lengkap. Mungkin sebaiknya kami menyelidiki lebih akurat lagi. Jika kami melaporkan setengah-setengah, kami khawatir akan menimbulkan kesalahpahaman. " Jawab asisten Henry cukup tegas.


" Apakah itu begitu penting ? "


Arselli sedikit tegang karenanya. Membayangkan kabar baru yang lebih menegangkan dari hasil penyelidikan sebelumnya.


Membayangkan Alessya memendam kesedihannya hanya seorang diri. Ada rasa sesak dan sesal mendera perasaannya. Merasa dirinya tidak begitu berarti hingga istrinya sendiri samasekali tidak ingin berbagi duka sedikitpun padanya.


Kau begitu kuat memendam semua masalah itu sendiri , padahal ada diriku yang bisa berbagi. Bukankah menikah itu untuk berbagi duka juga, bukan hanya suka semata ...


***


Siang itu ...


" Aku ingin menonton. " Jawab Alessya ketika Arselli memberi pilihan kemana nanti malam mereka akan berkencan.


Mengingat hanya beberapa hari lagi mereka berada di negara ini. Arselli ingin mengajak Alessya berjalan-jalan di negara ini untuk mengisi kenangan dalam kisah cinta mereka berdua.


Siang ini, sepulang Arselli dari lapangan golf, mereka makan siang di ruangan makan. Sembari menikmati semua makanan yang tersaji di atas meja. Alessya begitu menikmati makanan yang tersaji di sana, mencoba satu persatu makanannya yang merupakan hasil karya koki handal yang bekerja di villa milik suaminya.


Arselli mengernyitkan dahinya.


" Kau serius ? "


Sembari menyuapkan satu sendok makanan ke mulutnya. Entah kenapa Arselli mengernyitkan dahinya, apakah karena mendengar permintaan Alessya tadi, atau karena rasa masakan yang terasa aneh di lidahnya, yang baru saja masuk ke mulutnya itu.


Dari beberapa menu makanan, hampir semua masakan terasa enak. Hanya satu yang menurutnya terasa aneh dan terlalu asam. Arselli tidak habis fikir, masakan seperti ini bisa lolos seleksi dari para koki handal yang bekerja di dapur villanya ini.


" Hmm. Aku serius ! Aku ingin berkencan di bioskop. Ah ... sepertinya aku baru tersadar sekarang, selama kita berpacaran dan menikah, kau belum pernah mengajakku menonton ke bioskop. Apakah mengajakku ke tempat umum begitu memalukan untukmu ? "

__ADS_1


Alessya meracau panjang lebar mencurahkan segala isi hatinya kepada sang suami tercinta. Entahlah, beberapa hari ini moodnya sering berubah-ubah secara drastis. Mendadak menginginkan sesuatu yang tidak pernah ia inginkan sebelumnya.


" Tidak ! Tentu saja tidak. Kenapa kau berfikir seperti itu. "


Jawab Arselli sembari menampilkan mimik aneh di wajahnya. Masih mencoba menerka-nerka apakah lidahnya yang bermasalah atau justru makanan itu yang bermasalah.


" Kau kenapa ? Apakah makanannya tidak enak ? " Tanya Alessya sedikit aneh. Memperhatikan dengan begitu lamat wajah tampan sang suami yang terlihat lucu di matanya.


Melihat suaminya hanya diam saja, dia berinisiatif sendiri untuk menyendok makanan yang tersaji di piring suaminya, lalu memasukkannya pada mulutnya sendiri untuk merasakannya dengan lidahnya sendiri. Dan komentarnya sungguh tidak terduga, berbeda jauh dengan pemikiran suaminya.


" Ennak .. ini sangat lezat, Russel. Lidahmu pasti sedang bermasalah. " Ucap Alessya kemudian. Tertawa dengan begitu senangnya. Lebih tepatnya menertawakan suaminya.


" Benarkah ? " Jawab Arselli sembari terkekeh. Meragukan lidah sang istri yang dia ketahui tidak terlalu pandai memasak itu.


Menatap aneh istrinya yang masih melanjutkan makannya tanpa merasakan keanehan apapun pada lidahnya.


" Robin !!! " Teriak kencang Arselli pada salah satu koki yang bekerja di dapurnya. Sembari menengadahkan wajahnya ke arah dimana dapur berada.


" Bisakah kau kemari ? " Teriaknya lagi ketika melihat kepala Robin keluar dari pintu dapurnya.


Alessya kaget ketika mendengar Arselli berteriak memanggil koki dari dapurnya itu, dengan nada suara tinggi dan terdengar meluap marah dan emosi.


Bukankah makanannya sangat enak ... Kenapa dia terlihat begitu emosi... Anneh !!


Robin yang mendengar panggilan majikannya itu, segera berlari ke arah dimana majikannya berada. Lalu berdiri tepat di samping meja.


" Benar, Tuan. "


Robin menundukkan kepalanya. Alessya yang melihatnya merasa kasihan karena suaminya terlihat semena-mena padanya. Padahal Robin adalah koki yang sangat baik dan sopan menurutnya.


" Ada apa, Tuan ? " Tanya Robin kemudian. Menatap wajah sang majikan.


" Bagaimana masakan ini bisa lolos dan dihidangkan di sini ? "


Tanya Arselli sembari menunjuk makanan yang tadi terasa aneh dan asam itu.


Alessya melotot melihatnya, ketika Arselli menunjuk-nunjuk salah satu makanan yang tersaji di atas meja.


" Itu .... itu .... " Jawab Robin terbata-bata.


Robin terlihat bingung menjawab apa. Menatap sekilas istri majikannya yang kini juga terlihat begitu salah tingkah sembari menggigit ujung sendoknya.


" Itu apa ? Kau ingin aku pecat ? Bagaimana mungkin makanan yang tidak layak ini bisa lolos seleksimu. Bukankah kau sudah lama menjadi seorang koki. Kau pasti tahu mana makanan yang layak dan mana yang tidak. "

__ADS_1


Arselli terdengar begitu emosi. Wajahnya sampai memerah. Membuat Alessya meringis dan menelan ludah kala melihatnya.


Belum sempat Robin menjawab, Alessya segera berdiri, bangun dari duduknya.


" Aku ke toilet dulu ... "


Izinnya pada sang suami, setengah berbisik dengan wajah yang memerah. Bergegas pergi dengan langkah cepat menaiki tangga.


Arselli langsung menganggukkan kepalanya kepada istrinya itu. Pertanda setuju. Menatap mata istrinya seolah minta maaf akan kesalahan kokinya yang telah menyiapkan makanan yang tidak layak untuk mereka makan siang ini.


" Itu apa ? Coba jelaskan ! Bagaimana kalau kami sakit, Alessya keracunan apakah kau mau bertanggung ja- ... "


Belum tuntas kalimatnya, Robin sudah terlanjur menjawab. Memotong pembicaraan majikannya yang tengah dilanda emosi.


" Itu ... itu ... masakan Nyonya, Tuan ! " Jawabnya sembari menunduk.


" Saya ... tidak berani untuk menolaknya tadi. " Lanjutnya lagi kemudian.


Trannnkk !!


Suara sendok yang jatuh ke lantai terdengar begitu nyaring. Menggambarkan detak jantung Arselli yang tak kalah berisik, dengan degub jantung yang mendadak terdengar begitu keras.


" Apa katamu tadi ? " Memastikan kebenaran jawaban tadi. Dia khawatir, telinganya sedikit bermasalah. Dan kokinya, langsung menjelaskan kebenaran ucapannya tadi.


Arselli belum menyadari Alessya masih berdiri di atas tangga mendengar pembicaraannya sembari meremas pagar besi yang berada di hadapannya. Mendengarkan komentar suaminya mengenai masakan yang telah dibuatnya. Masakan yang dibuat dengan tulus hati dan suci. Yang ternyata, sungguh tidak berarti di mata sang suami.


Dan tepat saat Arselli menatap ke arahnya, Alessya mendelik tajam padanya, bak busur panah melesat tepat di jantungnya.


***


Alessya menghempaskan punggungnya pada sofa di ruangan Home Theatre yang berada di lantai dua villa suaminya.


Menghadap layar televisi raksasa yang kini berada di depan matanya.


" Menyebalkan ! " Omelnya pelan. Tidak menyangka usahanya tadi untuk menyenangkan suami malah mendapatkan rasa sakit di dalam hati.


Dan Arselli hanya berdiri di depan pintu ruangan itu. Menstabilkan detak jantungnya, mengumpulkan tenaga, mempersiapkan jiwa raganya terlebih dahulu untuk menyambut kemarahan istrinya yang bila marah seperti Singa Betina.


.


.


.

__ADS_1


πŸ’ž Bersambung ... πŸ’ž


Jangan lupa like, rate dan koment ya ...


__ADS_2