
.
.
.
" Aku pusing, sayang. " Keluh Alessya.
Alessya sedikit merajuk bersikap manja. Jemarinya memijit pelan pelipisnya. Olahraga pagi tadi berlangsung cukup lama dan menggairahkan. Menguras tenaga ekstra, hingga akhirnya kini Alessya begitu terlihat lemas karenanya.
" Apa kau bisa membantuku berkemas, sayang ? "
Lanjut Alessya lagi sembari membaringkan tubuhnya di atas sofa. Dia baru saja menyelesaikan mandinya tadi, dan kini bersantai di sofa sembari menunggu Robin mengantarkan makan pagi sekaligus siangnya yang tadi sempat tertunda.
" Tenanglah, Sayang. Pelayan akan mengurus semuanya termasuk oleh-oleh yang kau beli kemarin. Kau cukup membereskan barang pribadimu saja. " Jawab Arselli lugas.
Arselli tengah berpakaian setelah beberapa menit lalu menyelesaikan mandinya. Dia memperhatikan wajah Alessya yang terlihat pucat saat itu.
" Apa kau sakit ? Bagaimana kalau kita menunda kepulangan kita saja ? "
Tangannya terulur menyentuh kening sang istri. Ada rasa bersalah di hatinya. Jika berada di dekat Alessya, dia seolah kehilangan kontrol akan dirinya. Tidak bisa menahan diri untuk tidak menyentuhnya. Jantungnya berdetak cepat bila bersamanya, seolah adrenalinnya terpacu tertantang untuk menaklukannya.
Alessya menggelengkan kepalanya.
" Mungkin aku hanya lapar saja. Kau tidak memberiku waktu sarapan tadi ... " Jawabnya sembari merenggut lucu.
" Makanya, jangan suka menggodaku Alessya ... " Jawab Arselli sembari mengucek rambut istrinya.
" Siapa yang menggodamu. Aku hanya membangunkanmu tadi. " Alessya berkilah, dia memang tidak merasa menggoda suaminya. Entah bagian mana yang dianggap godaan itu.
" Kau memang tidak menggodaku, tapi kau menggoda adikku ... " Bisik Arselli pelan. Membuat pipi Alessya memerah setelah mendengarnya. Dia paham maksud adik suaminya yang diucapkan Arselli tadi 'yang galak dan buas bila memasuki sarangnya.'
Alessya berpura-pura tidak mengerti.
" Lucas maksudmu ? " Tanya Alessya pura-pura bertanya. Menatap Arselli dengan tatapan polosnya. Membuat Arselli semakin gemas saja untuk menerkamnya lagi.
Arselli terkekeh mendengarnya, tidak melanjutkan obrolan itu. Apalagi setelah beberapa saat kemudian Robin datang mengetuk pintu dan mengantarkan makanan mereka.
" Russel, suapi aku ! " Rajuk Alessya dengan manjanya. Alessya bangun lalu duduk di sofa itu. Menyandarkan tubuhnya yang lemas di sandaran sofa. Menarik tangan Arselli untuk duduk di sampingnya. Kemudian dia bersandar di bahu suaminya.
__ADS_1
Arselli yang melihat Alessya begitu lemas dan pucat, beringsut mengambil makanan yang tersaji di meja dorong yang diantarkan Robin tadi. Dan menyuapinya kemudian.
Ada kecemasan di matanya, di raut wajahnya. Alessya walaupun selama ini terlihat begitu ringkih dan lemah, tapi dia adalah wanita yang kuat. Dia sangat jarang sakit kecuali bila beban fikiran begitu berat menimpanya. Arselli berfikir, mungkin pengakuan semalam mengenai kondisi rahimnya begitu menyita fikirannya. Hingga kini Alessya menjadi begitu lemah karenanya.
Padahal ...
Sembari menikmati makanan yang dimasukkan Arselli ke mulutnya. Fikiran Alessya tengah mengembara jauh berkelana.
Hari ini adalah waktu yang ditentukan oleh Ny. Alice untuk Alessya pergi dari kehidupan putranya. Skenario yang sudah diatur sedemikian rupa oleh mertuanya itu, bersamaan tepat dengan hari dimana Arselli dan Alessya berencana pulang ke negaranya tercinta.
Ny. Alice memerintahkan Alessya untuk pergi meninggalkan Arselli saat di bandara nanti. Disaat Arselli lengah, Alessya harus pergi dengan dibantu oleh suruhan Ny. Alice yang akan mengurus kepergiannya nanti.
Yang jadi fikiran Alessya sekarang adalah, bagaimana jika Ny. Alice tahu bahwa dia tidak menuruti keinginannya. Bagaimana reaksinya nanti ? Dan untuk terbuka pada Arselli mengenai masalah ini, Alessya masih belum berani. Ada ketakutan di sana. Apalagi kondisi fisiknya mendadak drop lemah tidak berdaya.
" Bagaimana, kau sudah merasa enakan sekarang ? "
Sudah hampir dua porsi makanan yang masuk ke mulut dan perut istrinya. Arselli penasaran, apakah dia sudah merasa kenyang sekarang ? Apakah pusingnya sudah hilang ?
" Sedikit. " Jawab Alessya dengan begitu singkat. Dia terlihat begitu sibuk mencoba satu persatu makanan yang tersaji di atas meja dorong itu. Selain menikmati makanan yang disuapkan oleh Arselli padanya, secara bersamaan dia menikmati makanan yang dia pilih sendiri olehnya.
" Benarkah ? " Arselli tersenyum melihatnya. Bukan hal baru baginya melihat Alessya yang slalu makan melebihi porsi seorang wanita biasanya.
" A' .... " Bujuk Alessya sembari mengulurkan satu sendok makanan ke depan mulut suaminya itu.
" A'm ... anak ba-ik. " Menepuk nepuk bahu Arselli yang kini tengah terkikik geli di sampingnya sembari mengunyah makanannya itu. Alessya memperlakukan suaminya itu seperti seorang bayi saja.
" Pengen mi-mi ... " Ucap Arselli lucu sembari berbicara layaknya seorang balita. Mulutnya bergerak lucu seperti bayi yang sedang mimi pada ibunya.
" Ha ... " Alessya tertawa melihatnya sembari mencubit perut suaminya.
" Awas ya ... jangan nakal ! " Menghempas tangan Arselli yang bergerak nakal di dadanya. Dan Mereka pun tertawa bersama kemudian. Menikmati kebersamaan mereka berdua, mengisinya dengan kehangatan dan kasih sayang.
" Aku mencintaimu, Alessya ... " Ucap Arselli sembari menatap mata indah Alessya. Merangkum wajah wanita itu dengan sebelah tangannya untuk menatap lebih lekat dirinya.
" Aku juga mencintaimu. Terimakasih karena sudah menerimaku dengan segala kekuranganku. " Balas Alessya kemudian. Dia mendekatkan bibirnya pada bibir tipis suaminya itu.
Mengecupnya lembut dan menyesapnya cukup lama. Memagutnya kemudian dengan begitu mesra. Dengan balasan yang tidak kalah serupa. Arselli membalas ciuman itu dengan lebih panas. Mendominasinya dalam setiap sesapan hasrat mereka. Hingga begitu hangat terasa, menggelora antara dua hati, menjadi kesatuan cinta.
Tok ... tok ... tok ...
__ADS_1
Suara ketukan pintu terdengar. Untunglah ciuman panas mereka sudah berakhir. Tidak ada yang merasa terganggu ataupun merasa hasratnya terbendung seketika.
Asisten Henry datang dengan wajah yang begitu tegang.
" Bagaimana Henry, apakah semuanya sudah siap ? " Tanya Arselli saat itu,ketika melihat asisten Henry berdiri di depan pintu.
" Tuan, ada masalah lain yang perlu kita bicarakan. Ini sangat penting. " Ucapnya dengan begitu serius. Arselli sampai terperangah melihatnya. Melihat Henry seserius itu, pastilah yang dibicarakan bukanlah hal yang biasa.
" Baiklah. Tunggu aku di ruang kerja. " Jawabnya kemudian. Sembari merapikan kemejanya yang sedikit berantakan akibat adegan yang cukup panas tadi.
***
Meera sudah mulai aktif berkuliah. Keberuntungan baginya, disaat mendapat bantuan dari Lucas, tepat tahun ajaran baru saat itu. Sehingga dia bisa langsung mendaftar ke universitas yang dia inginkan.
" Kau Meera ? "
Diana yang saat itu datang ke universitas Meera bermaksud menjemput adiknya Daffa yang ternyata berkuliah di sana juga, tidak sengaja melihat Meera yang cukup dia kenali sebagai sahabat Alessya dulu, saat mereka masih bekerja di kafe.
" Ya. Kau Diana ? " Meera tampak kaget saat itu. Tidak menyangka akan bertemu Diana di sana. Meera memeluk Diana kemudian.
Mereka mengobrol cukup lama berbagi kabar dan cerita. Mengenai Alessya dan hal yang lainnya.
" Oh iya Meera, kau bisa mengantarku ? " Tanya Diana pada Meera. Dia ingin berkunjung ke apartemen temannya yang ternyata seorang pria. Untuk mengambil barang yang penting darinya. Tadinya Diana ingin mengajak Daffa, tapi ternyata Daffa baru saja menghubunginya dan berkata tidak bisa mengantarnya.
" Baiklah ... " Jawab Meera kemudian. Tidak tega melihat wajah Diana yang sedikit memelas padanya. Lagipula hari ini dia tidak bekerja, karena Lucas sedang libur dan seharian ini ada di apartemennya. Selain itu, jam kuliahnya juga sudah selesai beberapa saat lalu.
.
.
.
π Bersambung ... π
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa like, rate dan koment ya ...