
Derap langkah sepatu terdengar berlarian bersahutan memecah kesunyian di lorong koridor rumah sakit.Merubah suasana hening di pagi buta itu menjadi lebih mencekam dan menegangkan. Sesosok tubuh tanpak terbaring lemah dengan bersimbah darah tengah digiring oleh beberapa perawat dan dokter di atas tempat tidur brankar menuju Emergency Room.
" Siapkan ruang operasi.. " Sayup - sayup terdengar instruksi dari salah satu dokter yang tengah menangani Alessya kini. Kepanikan merajai diantara mereka.
Seorang pria dengan keputusasaan dan kegundahan yang begitu lekat tergambar begitu jelas di wajahnya melangkah bersamaan mengikuti laju brankar yang membawa pasien dengan kondisi gawat darurat itu.
Aku mohon Alessya , bertahanlah...
Hingga akhirnya terpaksa berhenti tepat di ambang pintu ruangan khusus penanganan pasien dalam status gawat darurat itu untuk menjalankan operasi demi mengeluarkan peluru yang bersarang di tubuhnya.Dengan berat hati Arselli melepas Alessya masuk ke dalam ruangan itu , terjauh darinya dengan sejuta harapan Alessya akan keluar dari sana dalam keadaan baik - baik saja.
Mengusap rambutnya kasar , dia terlihat begitu putus asa hingga akhirnya memilih pasrah menyerahkan segala sesuatunya pada yang maha kuasa.
Aku mohon pada Mu dengan sangat ... selamatkan lah dia ...
Arselli bersandar di tembok di dekat pintu , seolah dengan berada di sana dia bisa mendampingi Alessya yang tengah sekarat itu. Dengan raut wajah bermuram durja , terbaca sudah segala kegundahan dan kegelisahan yang tengah dialaminya sekarang ini. Sampai dokter dan perawat pun ikut merasakan betapa khawatirnya dirinya.
Sementara di dalam ruang penanganan, dokter - dokter terbaik di rumah sakit ini mengerahkan segala kemampuan yang mereka miliki demi bisa menyelamatkan pasien yang tengah dalam kondisi kritis itu. Tanpa bermaksud memandang Arselli yang merupakan salah satu orang terkemuka yang mereka ketahui yang kini berstatus wali bagi pasien yang tengah mereka tangani itu. Tanggung jawab kemanusiaan dan harapan dari keluarga pasien menjadi motivasi utama segala proses penyelamatan itu.
Kepanikan mulai melanda mereka , ketika mesin pendeteksi detak jantung Vital Sign Monitor atau monitor ICU mulai menunjukkan bahwa Alessya benar - benar dalam kondisi kritis , dia mengalami henti jantung karena mengalami pendarahan yang cukup parah akibat dari luka tembaknya tadi. Belum lagi kondisi Alessya yang memang sudah sangat lemah saat dirinya tertembak tadi.
Segala upaya dilakukan dimulai dari CPR ( Cardiopulmonary Resuscitation ) atau Resusitasi Jantung - Paru. Dengan cara menekan tengah dada Alessya beberapa kali dengan diselingi pemberian nafas buatan. Dokter melakukannya berulang - ulang sesuai dengan ketentuan dalam melakukan pertolongan itu.
Peluh bercucuran di pelipis dokter yang menangani Alessya , tanggung jawabnya begitu tinggi tidak ingin pasrah begitu saja dengan kondisi Pasiennya , sekuat tenaga berkali kali memompa dada Alessya dan memberikan nafas buatan pada mulutnya , namun hasilnya nihil garis lurus terlanjur tergambar di layar monitor ICU itu.
Arselli yang sudah tampak begitu berantakan dan tidak karuan semakin panik bukan main. Apalagi setelah alarm darurat berbunyi menunjukkan bahwa pasien yang berada di dalam tengah dalam kondisi kritis dan membutuhkan penanganan berlebih. Detak jantung Arselli terasa begitu kencang melompat- lompat seperti hendak keluar dari dalam rongga dadanya , melihat perawat dan dokter hilir mudik silih berganti berlarian membawa beberapa alat dan kantung darah yang terlihat sangat dibutuhkan dengan segera.
Dengan memberanikan diri dia mencegat perawat yang baru saja keluar dari dalam ruangan dan menanyakan kondisi kekasihnya .
" Apa yang terjadi ? " Tanyanya mencengkeram bahu perawat wanita itu dengan begitu mengintimidasi hingga membuatnya kelabakan.
" Maaf Tuan , kami sedang mengusahakan yang terbaik . " Jawabnya dengan terbata , wajahnya terlihat pucat kala itu , membuat rasa takut semakin menjalar di rongga dadanya.
__ADS_1
Kian lama , tubuhnya yang sedari tadi berdiri tegak perlahan menunduk jongkok hingga duduk di lantai seolah kaki yang sedari tadi dia gunakan untuk menopang tubuhnya sudah terasa begitu lemas tidak mampu menahan beban yang kian bertambah merayap di tubuh dan fikirannya.
***
Arselli duduk di kursi yang terletak di lorong koridor rumah sakit itu tengah meremas rambutnya dengan begitu kasar , ditemani Romeo dan asisten Henry.Seperti halnya Arselli, mereka juga terlihat sama khawatirnya dengan kondisi Alessya yang belum juga keluar dari ruang operasi.
Arselli terlihat begitu lusuh dan tegang , aura wajahnya sangat sulit untuk ditebak. Setelah mendapat dukungan dari Romeo dan asisten Henry perlahan dia mulai terlihat lebih tenang .
" Dimana Lucas ? " Tanya Arselli memecah keheningan itu.
" Tadi... " Asisten Henry terlihat ragu untuk menjawabnya.
" Apa dia berhasil menangkapnya ? " Tanya Arselli lagi menanyakan apakah Lucas telah berhasil menangkap orang yang telah menembak Alessya ,menyebabkan kekasihnya berjuang dalam maut kini. Asisten Henry terlihat menelan ludahnya beberapa kali, dia terlihat sangat bingung hendak melaporkan informasi yang telah dia dapat dari orang kepercayaannya.
" Kenapa kau hanya diam ? " Tanyanya mengintimidasi mulai mencurigai sesuatu .Mencurigai bahwa asisten Henry dan Lucas tengah menyembunyikan sesuatu.
Karena demi apapun , Arselli tidak akan pernah membiarkan orang yang menembak Alessya melenggang bebas begitu saja menikmati kehidupannya. Dia harus membayar perbuatannya bahkan oleh nyawanya sendiri.Arselli akan mencarinya sampai ke ujung dunia bila perlu, apabila pelakunya tidak jua berhasil ditangkap dan mendapat hukuman yang setimpal.
Derap langkah sepatu kembali terdengar , kali ini Diana dan Reynald yang datang ke tempat itu menghampiri mereka yang tengah dirundung rindu. Rindu mengharapkan kehadiran Alessya yang sehat , ceria dan hidup itu yang lebih utama dari apapun juga bukan ? Bahkan Arselli sampai berjanzi akan melakukan apapun asal Alessya kembali hidup berada diantara mereka semua.
Hening masih kental terasa. " Bagaimana keadaannya ? " Reynald memberanikan diri bertanya pada para lelaki yang terlihat begitu tegang itu.
Asisten Henri hanya menggeleng - gelengkan kepalanya pertanda belum ada informasi berarti dari dokter yang menangani Alessya.
Diana terlihat menangis sesenggukan , merogoh ponsel dari dalam tasnya hendak menelfon seseorang.
" Ayah... "
" Alessya dalam kondisi kritis sekarang ..."
***
__ADS_1
Ceklek...
Pintu ruang darurat itu terbuka , seorang dokter keluar dari dalam , memberi kabar mengenai kondisi Alessya sekarang.
" Tuan Arselli.."
Arselli yang merasa namanya disebut , dan merasa bahwa dirinyalah yang terdaftar sebagai wali dari Alessya langsung bangkit dari duduknya beringsut mendekati dokter yang terlihat begitu pucat dan kelelahan itu.
Dokter itu membuka kaca mata yang dia gunakan , sembari mengelap peluh yang bercucuran di pelipisnya.
" Mohon maaf..." Dengan menunduk dan nafas terengah tak beraturan dokter laki - laki yang masih terlihat muda itu berucap.
Deg
Baru dua kata yang terlontar dari mulut dokter itu , seketika itu juga kaki Arselli terasa begitu lemas , tubuhnya limbung, dadanya terasa begitu sesak dan menyesakkan jiwa. Membayangkan kabar terburuk yang kemungkinan akan dia dengar walaupun berusaha dia tepis dengan penuh harap bahwa Alessya akan hidup dan baik - baik saja untuk merajut mimpi hidup bersama dengan dirinya meraih kebahagiaan dalam kisah cinta mereka.
~
~
~
Mohon maaf apabila ada kesalahan penyebutan dan penulisan untuk beberapa istilah kesehatan / medis dan prosedural kesehatan yang tidak sesuai dengan istilah dalam dunia nyata.
Sedikit terinspirasi dari drama Korea Descendants of The Sun , ketika dr. Kang Mo Hyeon menyelamatkan kekasihnya Kapten Yoo Shi Jin saat terkena tembakan.
~ Alay alay pecinta Drakor ternyata ~
Jangan lupa like , rate dan vote.
Kritik dan saran ditunggu.
__ADS_1