Lola And Loly

Lola And Loly
Penawaran


__ADS_3

.


.


.


Di pagi hari yang cerah itu, di rumah Hana yang sekaligus berfungsi sebagai yayasan panti asuhan ...


Alessya, Hana dan Jemy sedang bersiap untuk menyambut acara makan siang nanti. Acara yang bermaksud sebagai acara tanda syukur atas kehamilan Alessya sekaligus perpisahan dengan anak-anak di sana. Karena Alessya akan kembali tinggal bersama suaminya di villa.


Alessya tengah duduk di kursi merangkai bunga yang ada di atas meja. Hana dan Jemi berada tidak jauh darinya. Mereka tengah berdiri di dekat tembok menghias dinding rumahnya dengan balon dan pita sehingga terlihat lebih meriah dan berwarna memikat hati anak-anak yang pasti menyukainya.


Arselli datang menghampiri istrinya. Setelah sesaat lalu menerima telfon penting yang masuk ke ponselnya. Dan kini dia telah bersiap pergi untuk menghadiri meeting bersama kolega bisnisnya.


Arselli menunduk, mengecup bibir Alessya, lalu ********** walau hanya sebentar saja. Menghisap rasa buah cherry yang menempel di bibir mungilnya itu, hingga bibir Arselli berubah warna mengikuti warna bibir istrinya.


" Mmuach ... !! "


Suara decakan bibir yang berpagutan mencemari udara sekitarnya.


" Bibirmu merah, Russel. "


Alessya tertawa renyah melihatnya. Tangannya terulur mengambil tissue di atas meja untuk mengelap bibir suaminya.


" Ck ... Belilah lipstick yang mahal. Yang tidak mudah luntur, sayang. Yang tetap menempel di bibir manismu saat aku menggigitmu. " Bisik Russel kemudian seraya menggoda. Merasakan kelembutan tangan istrinya kala menyeka bibirnya.


" Emh, aku sedang memakai lipstick endorse, Sayang. Sayang sekali jika tidak dipakai. Sepertinya kita harus merekam adegan tadi sebagai iklan. " Ujar Alessya bercanda, dengan telaten membersihkan noda lipstick itu.


" Baiklah. Sepertinya kita harus mengulangi adegan tadi. " Keisengan muncul di otaknya. Sepertinya sambil menyelam minum air, boleh juga


" Mmuach !! "


Arselli mencium lagi bibir istrinya. Persis sama seperti sebelumnya. Untung saja hanya ada Hana dan Jemy di sana. Anak-anak semuanya sedang tidak ada di rumah, karena sedang pergi ke sekolah.


Alessya merenggut senang mendapat perlakuan itu. Tidak dipungkiri, keisengan suaminya itu sangat dia rindukan selama dua bulan kemarin.


Melihat tontonan itu, Hana dan Jemy saling bersitatap dan bersikuan. Menarik nafas perlahan. Dan menghembuskannya pelan-pelan. Menggelengkan kepala dengan gerakan lambat dan pelan. Sembari menahan ujung bibir mereka yang sedari tadi tak henti berkedut-kedutan.


Tak tahan rasanya ingin memecahkan tawa mereka hingga membahana ke luar angkasa. Menertawakan sepasang insan yang tengah di mabuk cinta. Ah ... pipi Hana bahkan merona merah saat melihatnya. Sesekali membayangkan Jemy dengan setitik harap di sana, agar seromantis suami Alessya.


Ada sejumput iri di sana. Bagaimanapun Alessya dan Arselli adalah pasangan yang berbeda. Berbeda dari pasangan yang lainnya. Yang slalu menghangatkan pernikahan mereka dengan canda dan tawa.


Begitupun Hana dan Jemy. Sebenarnya mereka tidak kalah romantisnya. Namun kesibukan mereka dalam bekerja dan mengurus anak di panti asuhan ini membuat mereka kadang terlupa untuk sekedar menunjukkan rasa cinta diantara mereka berdua.

__ADS_1


Mereka melanjutkan persiapan untuk acara spesial nanti. Bersama anak-anak dan kolega terdekat.


" Aku akan segera kembali. " Ujar Arselli sesaat setelah ciumannya itu terlepas. Beringsut berlari karena telah dikejar waktu.


" Russel ! "


Alessya memanggil Arselli. Berlari kecil mengejar hingga mencapai pintu. Namun terlambat karena Arselli sudah terlanjur menaiki mobilnya.


Mencoba mengingatkan bahwa bibirnya kini berwarna merah, akibat ciuman terakhir kali. Alessya tidak sempat menghapusnya karena Arselli telah terlanjur pergi meninggalkannya.


Siang itu ...


Anak-anak telah berkumpul di sana. Ada sekitar tiga puluh anak duduk tenang sembari menikmati makanan yang tersaji di atas meja. Semuanya hampir menginjak usia sekolah, hanya beberapa saja yang masih balita dan dalam pengasuhan Hana dan beberapa pegawai di sana.


Anak-anak terlihat begitu bahagia. Melihat banyaknya makanan mewah dan enak di sana, belum lagi cemilan yang disukai anak-anak seumur mereka.


Arselli dan Alessya sengaja memanjakan anak-anak itu sebagai tanda syukur mereka karena telah dikaruniai kehamilan dan kebahagiaan yang melimpah.


Asisten Henry tidak bisa hadir di sana, karena harus pulang mengikuti perintah atasannya. Sebelum pergi dia sempat mambantu Alessya mempersiapkan hadiah untuk anak-anak di sana. Baik itu pakaian, mainan , tas , sepatu, peralatan sekolah dan berbagai benda yang lainnya.


Arselli sengaja mengajak beberapa teman dan koleganya. Bermaksud mengajak mereka untuk menjadi donatur di sana. Atau mungkin ada yang berminat untuk mengadopsi salah satu dari mereka. Hingga mereka mendapat penghidupan dan pendidikan yang lebih layak.


Arselli dan Alessya sudah mendaftar menjadi donatur tetap di sana. Untuk beberapa waktu ke depan sudah ada rencana untuk melakukan renovasi tempat sehingga rumah yayasan itu terlihat lebih besar dan layak.


" Terimakasih, Alessya. Kehadiranmu memberikan kebahagiaan yang begitu besar bagi kami semua. " Hana menggenggam tangan Alessya mengungkapkan rasa terimakasih padanya.


" Kau juga telah banyak membantuku. Disaat aku terpuruk dulu. Kau menolongku walaupun kau tidak mengenalku. Terimakasih, Hana , Jemy ... kalian sudah seperti kakak bagiku. " Alessya memeluk Hana , sebelum pergi meninggalkan rumah itu.


" Datanglah berkunjung Alessya, pintu rumah kami slalu terbuka untukmu. " Ucap Jemy.


" Tentu saja. Aku akan berkunjung untuk bertemu kalian. Kalian juga harus mengunjungiku nanti ! " Ucap Alessya dengan Isak tangis yang tertahan di sana.


" Aku akan menyambut dan menjamu kalian nanti, Ok ? " Alessya menangis di pelukan Hana.


Arselli setia menunggu Alessya yang tengah bercengkrama dengan Hana dan anak-anak.


" Jaga kesehatanmu, Alessya ... " Ucap Hana untuk terakhir kalinya.


Arselli menuntun Alessya berjalan menuju mobilnya. Kehamilan Alessya membuatnya lebih protective padanya. Tak ingin terjadi apa-apa pada istri dan buah hati mereka.


" Apa kita akan langsung pulang ? " Tanya Alessya pada suaminya yang kini telah duduk di sampingnya. Di kursi penumpang belakang. Sementara Patrick mengambil alih kemudinya. Setelah beberapa saat lalu mereka bertegur sapa. Karena dua bulan lamanya tak berjumpa.


" Kau ingin ke suatu tempat ? " Tanya Arselli pada Alessya. Sembari membawanya dalam pelukannya dan mengelus puncak kepalanya. Sesekali mengecup keningnya dengan begitu lembut dan hangat. Mencurahkan rasa kasih sayang dan cinta, rindu yang tertahan setelah sekian lama. Apalagi setelah mengetahui kehamilan istrinya yang luar biasa. Tidak ada alasan baginya untuk menahan diri mencurahkan kasih sayangnya.

__ADS_1


" Emh. Sebenarnya ... aku- ingin ke suatu tempat. " Alessya ragu mengutarakan keinginannya. Mengingat waktu sudah semakin sore, dan merekapun tampak sudah cukup kelelahan hari ini.


" Kemana ? Katakanlah ! Asal tidak berbahaya aku pasti akan mengajakmu ke sana. " Jawab Arselli memaklumi istrinya yang tengah hamil itu. Sesekali manja dan minta yang aneh-aneh padanya. Orang-orang bilang itu ngidam namanya.


" Aku- ingin melihat ' Hollywood ' bolehkah ? " Tanya Alessya dengan raut manja dan memelas terukir di wajahnya.


" Apakah harus hari ini ? " Arselli mengernyitkan dahinya. Memikirkan apakah tidak apa-apa menunda keinginan si ibu hamil ini.


" Apakah tempatnya jauh sekali ? " Alessya menengadah, menatap wajah suaminya.


" Aku hanya khawatir kau akan kelelahan, Alessya. " Percayalah Arselli akan melakukan apapun yang diinginkannya. Keliling dunia pun akan dia turuti, asalkan Alessya bahagia.Tapi, dia khawatir Alessya akan kelelahan mengingat kehamilannya itu.


" Bagaimana kalau besok saja ? "


" Boleh ! " Jawabnya dengan begitu singkat.


Mereka terdiam untuk beberapa saat.


" Russel ... " Panggilnya lirih.


" Hmm ? " Sembari memejamkan mata bersandar di sandaran kursi.


" Apa kau ingat pria tua yang pernah aku selamatkan dulu ? " Arselli menganggukkan kepalanya. Mengingat pria itu adalah seorang produser film yang cukup terkenal ternyata.


" Beberapa hari lalu dia menelfonku. " Lanjut Alessya menceritakan panggilan telfon yang pernah dia terima.


" Lalu ? Apa katanya ? " Arselli mulai penasaran.


" Dia- menawariku untuk bermain di filmnya. " Arselli kaget mendengarnya. Demi apapun yang ada di dunia ini ! Cukup sudah kepopuleran istrinya di dunia Maya dan periklanan. Sekarang mulai merambah di dunia film pula .


" Bagaimana menurutmu ? " Lanjut Alessya kemudian.


.


.


.


πŸ’ž Bersambung ... πŸ’ž


.


.

__ADS_1


Jangan lupa like,rate dan koment ya ...


__ADS_2