Lola And Loly

Lola And Loly
Dukungan


__ADS_3

Lama berdebat tak membuat Alessya menyerah. Begitupun Arselli masih bersikukuh dengan pendapatnya. Pantang mundur dari hal yang sudah dia putuskan beberapa hari lalu. Dengan segenap hati dan keyakinan, bahwa dia memilih Alessya untuk dia pertahankan.


" Aku mohon, Alessya ... " Untuk pertama kali dalam hidupnya, seorang Arselli Russel memohon kepada seseorang. Saat itu dia duduk berlutut di hadapan Alessya. Menundukkan kepalanya dengan berderai air mata.


Wajah dan matanya memerah kala itu. Selama dua tahun menikah Alessya tidak pernah melihat sisi lain suaminya yang serapuh itu.


Berwibawa, angkuh, perfeksionis dan sombong. Sikap ini yang terkenal dan disandangnya di dunia bisnisnya. Hingga dia begitu disegani oleh para rekan bisnis atau koleganya.


Bahkan dihadapan ibunya maupun adiknyapun dia tetap menjaga sikap dan wibawanya itu.


Namun, malam ini dia menurunkan semua harga dirinya. Segala yang dia jaga selama ini dengan segala keteguhan hati. Dia tangguhkan tak dia pedulikan lagi. Meluruh mencair bak es batu yang terkena panas atau sinar matahari. Dan semuanya itu semata-mata demi keselamatan istrinya Alessya.


" Russel ... " Suara Alessya tercekat.


" Kenapa kau melakukan sampai sejauh ini, Russell. Mereka anakmu, buah hati kita, buah cinta kita ... " Alessya menangis, menjerit sejadi-jadinya.


" Tak bisakah kau mendukungku kali ini. Russell, aku mohon dengan sangat ... dukung aku. Aku sangat membutuhkanmu saat ini. Jangan tinggalkan aku seorang diri menjalani semua ini. Aku mohon ... "


Kali ini Alessya yang duduk bersimpuh di hadapan suaminya. Memohon Arselli untuk mendukungnya, memberinya semangat, disaat dirinya sendiripun merasa tidak yakin dengan keputusannya itu. Lagi-lagi dengan suara yang tercekat dan banjir air mata.


Arselli bangun berdiri dengan kemarahan di ubun-ubunya.


" Aku sangat mengkhawatirkanmu, Alessya. Kau harus tahu itu. "


" Russel .. mengapa kau tidak bisa mengerti perasaanku ? " Terbawa emosi Alessya terbangun.


Namun Arselli berusaha menahan diri untuk tidak terpancing, mengingat kondisi Alessya yang tengah hamil kala itu. Apalagi setelah mendengar kabar tadi yang mengejutkannya. Arselli semakin bertambah khawatir dengan kondisi istrinya itu.


" Maafkan aku, Alessya. Bukan itu maksudku. Aku hanya mengkhawatirkanmu. Itu saja. Aku tidak bisa hidup tanpamu. Dapatkah kau memahaminya ? "


Arselli melembut, namun bukan berarti dia menyerah. Dia akan tetap berusaha meyakinkan Alessya.


Alessya yang saat itu duduk di lantai. Mendadak merasa pusing. Mungkin karena terlalu lelah dengan kenyataan hidup yang begitu menyakitkan ini. Tiba-tiba dia kehilangan kesadarannya seketika ...

__ADS_1


Namun sayang, tepat saat dia pingsan Arselli sudah terlanjur pergi dari hadapannya, karena tidak ingin berdebat terlalu lama dengan istrinya itu.


Tekanan batin yang Alessya alami saat ini sangatlah berat. Keputusan yang dia ambil bertentangan dengan suami dan keluarganya. Membuat dirinya merasa sendiri berjuang mengarungi badai di samudera kehidupannya.


***


Keesokan harinya ...


Alessya tersadar dari tidurnya. Mendapati dr. Edward dan Ny. Alice di hadapannya.


" Kau sudah bangun ? Baguslah ! "


dr. Edward membantu Alessya untuk duduk bersandar di kepala ranjang. Dengan bantal yang menyangga punggung dan kepalanya.


" Dimana dia ? "


Alessya menanyakan keberadaan Arselli. Setelah sempat mengedarkan pandangannya mengelilingi kamar yang dia tinggali itu. Ada sejumput kecewa disana, kala menyadari Arselli tak ada di sana menemaninya.


" Dia .... "


" Dia sedang mengurus pekerjaannya terlebih dahulu. Kau tidak perlu mengkhawatirkannya. Ada asisten Henry yang menemaninya. " Jawab Ny. Alice berusaha menenangkan Alessya yang saat itu terlihat gusar.


dr. Edward menelan ludahnya kala mendengar kebohongan yang terucap dari mulut ibu sahabatnya itu. Setenang itu dia mengucapkannya. Padahal dia tahu pasti bagaimana kondisi Arselli semalam tadi.


Walau kebohongannya itu tidaklah seratus persen. Karena benar adanya, bahwa asisten Henry yang kemarin satu pesawat dengannya kini ikut menghilang juga menemani bosnya itu. Lebih tepatnya mengawasinya, Ny. Alice khawatir terjadi sesuatu pada putra kesayangannya itu.


Alessya menatap Ny. Alice yang menatap hangat pada dirinya. Serasa mimpi dan ada rasa tidak percaya di sana. Alessya menelan ludahnya beberapa kali apalagi setelah melihat Ny. Alice mulai bergerak untuk mengurusi dirinya.


" Makanlah ! Aku membuat makanan ini sendiri. Spesial untukmu yang kini tengah mengandung ketiga calon cucuku. Generasi Russel yang begitu berharga. Yang kelak akan menjadi penerus keluarga kami. " Ny. Alice menyodorkan beberapa makanan yang dia tata di atas sebuah meja kecil.


Dia menyiapkan makanan itu sedari tadi pagi. Padahal dia baru saja tiba tadi malam. Bersama asisten Henry dan dr. Edward yang sengaja dia ajak ke sini untuk menjaga Alessya secara intensif. Sekaligus mendampingi Arselli putranya yang dia ketahui pasti sedikit kacau setelah menerima masalah ini dalam hidupnya.


Ny. Alice mengetahui kondisi Alessya dari mata-matanya yang slalu memantau dan melaporkan hasil penyelidikannya itu. Merasa sangat khawatir dengan kondisi menantunya itu, dia berusaha menunjukkan perhatiannya.

__ADS_1


Namun, ada perih di hati Alessya. Kasih sayang ini, perlakuan ini hanyalah karena bayi yang tengah dikandungnya. Jika dia tidak hamil, Ny. Alice akan tetap berlaku buruk kepadanya. Itu yang ada di fikirannya saat ini.


Alessya hanya terdiam. Setidaknya ada seseorang yang akan mendukung kehamilannya dengan kekuasaan besarnya itu. Walau tidak dengan sepenuh hati, Alessya cukup merasa senang dan terlindungi.


***


" Kami akan pulang, Alessya. " Diana berpamitan bersama Reynald, Ayah dan Dafa.


" Jaga kandunganmu. Kami sudah memutuskan untuk mendukung semua keputusanmu, apapun hasilnya nanti kami akan siap dengan segenap hati kami. Semoga saja keajaiban datang dan kau akan baik-baik saja, Alessya. " Alessya sangat senang mendengarnya.


" Bersemangatlah !! " Reynald menepuk bahu sahabat yang sudah dia anggap sebagai adik itu.


" Ayah akan slalu mendo'akanmu. " Ujar ayah Hans kala itu.


" Semoga kau sehat dan panjang umur, Sayang . " Sembari membelai rambut putrinya itu.


" Maafkan ayah karena hanya ini yang bisa ayah lakukan untukmu. " Lanjutnya lagi.


Alessya senang mendengarnya. Menangis bahagia mendapat dukungan sebesar itu. Setidaknya meringankan beban fikiran yang dia pikul saat ini. Perasaannya menggebu, semakin yakin bahwa keputusan yang dia ambil untuk mempertahankan kehamilannya tidaklah salah.


" Terimakasih ... " Ucap Alessya dengan kebahagiaan yang tak terkira. Tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.


Walau berat mereka mendukung keinginan Alessya. Berharap keajaiban itu ada dan Alessya bisa hidup menikmati kebahagiaan bersama suami dan anak-anaknya kelak nanti.


Mereka memeluk Alessya secara bergiliran.Berharap pelukan ini bukanlah pelukan terakhir yang mereka lakukan. Berharap pertemuan ini bukanlah pertemuan terakhir diantara mereka semua.


Berharap kelak mereka bertemu kembali dengan euforia kebahagiaan dalam kehidupan Alessya. Dan dengan mata kepala mereka sendiri, mereka menyaksikannya. Dengan nyata dan bukanlah impian semu belaka.


.


.


.

__ADS_1


πŸ’ž Bersambung... πŸ’ž


__ADS_2