Lola And Loly

Lola And Loly
Penolakan Yang Menyakitkan


__ADS_3

" Kau yakin ? "


Dengan suara terbata, Alessya meyakinkan lagi bertanya. Wajahnya bahkan memerah kala itu. Menahan malu yang luar biasa, karena mendapat penolakan dari suaminya. Ini adalah kali pertama, Arselli menolaknya untuk bercinta.


Bahkan kancing baju bagian depan suaminya sudah terbuka, setelah tadi Alessya membuka dengan begitu lincahnya, sembari merayunya mengira Arselli akan menyambutnya dengan begitu riang gembira dan semangat yang membara. Mengingat Arselli slalu menginginkannya, lebih tepatnya meminta Alessya untuk membantunya.


" Kau yakin- tidak menginginkanku ? " Dengan suara yang terdengar serak dan parau.


Bola matanya berkaca-kaca saat mengucapkan kalimat itu. Kali ini Arselli yang menelan ludahnya beberapa kali. Berfikir berulang kali mengapa dia jadi setega ini.


" Alessya .. kemarilah ! "


Arselli menarik jari tangan Alessya untuk duduk lebih dekat dengannya. Sementara dia masih di posisi tadi, bersandar di kepala ranjang, setelah Alessya tadi membangunkan tidurnya.


Serasa mimpi di siang bolong, tiba-tiba Alessya membangunkan dirinya yang masih tertidur untuk mengajaknya bercinta. Dan benar saja, setelah Arselli melirik ke arah jendela dan ke arah jam dinding berada, saat itu matahari telah bersinar dengan begitu terangnya.


Karena kesalahpahaman semalam, dia mendadak tidak bisa tidur, hingga akhirnya kini dia bangun kesiangan.


" Kau paling tahu betapa aku menginginkanmu, Hmm. Tapi .. kondisimu sekarang sungguh tidak memungkinkan untuk kita melakukannya. "


Arselli bukannya tidak tahu, bahwa dokter sudah memberi lampu hijau kepada mereka untuk melakukan hal yang selama ini mereka tahan. Hanya saja melihat kondisi Alessya sekarang, perut sebesar itu dengan kondisi badan yang tidak terlalu besar, membuatnya tidak tega untuk melakukannya.


" Tapi ... dokter sudah mengizinkannya Russel. dr. Edward mengatakannya dengan begitu jelas padaku. Asalkan kau pelan-pelan melakukannya dan tidak terlalu sering juga. " Jawab Alessya lirih, masih merasa tidak percaya Arselli bisa menolaknya.


Timbul rasa rendah diri di hatinya, mungkinkah suaminya itu sudah tidak menginginkannya lagi, mengingat perubahan badannya yang menjadi seperti ini.


" Sa-yang, tatap mataku ! "


Arselli merangkum dagu istrinya, menatap wajah dan matanya yang terlihat sendu saat itu.


Mungkin Alessya merasa kecewa dengan penolakan suaminya. Dugaan lain bermunculan, mungkinkah Arselli telah berpaling ke lain hati. Berpaling pada wanita lain yang lebih seksi dan menggoda, tidak seperti dirinya saat ini yang gemuk dan tidak bisa melayaninya seperti biasanya.


Kalau di fikir-fikir, Alessya merasa malu sendiri, mengajak suaminya bercinta dengan begitu percaya dirinya. Padahal jika Arselli akhirnya menyetujuinya, dia hanya bisa diam saja tanpa merespon apa-apa. Karena dokter melarang dirinya untuk bergerak dan melakukan hal yang tidak biasa.


Arselli lalu mengecup lembut bibir mungil Alessya. Masih terasa manis seperti dulu, saat pertama kali mereka melakukannya. Memagutnya dengan begitu dalam dan mesra, menyalurkan rasa cinta dan kehangatan yang tiada terkira.


" Aku hanya milikmu, jangan pernah meragukan itu. Kau mengerti ?! "


****

__ADS_1


Siang itu ...


Tanpa terduga, Arselli menghubungi dr. Edward yang saat ini ada di rumahnya. Padahal saat itu, dr. Edward sedang bermesraan dengan istrinya.


Menyuruh dr. Edward untuk segera datang menemuinya, dan berbicara di ruang kerjanya.


Sesaat setelah tiba, dr. Edward mengangkat kedua tangannya, sembari mengernyitkan dahinya seolah bertanya,


' ada apa ? '


Dengan pandangan tajam dan gusar Arselli menatap dr. Edward saat itu.


" Apa yang telah kau katakan pada istriku ? "


" Kenapa kau bertanya seperti itu ? Apa dia tidak bercerita padamu ? " dr. Edward merasa aneh dengan situasi yang tengah dihadapinya saat itu.


Bukankah saat ini harusnya kalian berbahagia, karena sudah mendapat izin untuk bercinta ?


" Bukankah kau tahu itu akan membahayakannya ? " Arselli tengah duduk di sofa di ruang kerjanya, sementara dr. Edward berdiri di dekat jendela.


" Kau hanya harus berhati-hati saja. Sebagai dokter kami lebih mengkhawatirkan kondisi psikisnya. Memendam suatu keinginan itu sangat tidak baik untuk kesehatan mentalnya, dan itu akan sangat buruk untuk kehamilannya. Lagipula kondisi istrimu semakin baik dari sebelumnya. Aku fikir sesekali melakukannya tidak akan apa-apa, asal kau berhati-hati tentunya. "


" Aku menolaknya ! " Ketus Arselli sembari menjambak kasar rambutnya. Sepertinya dia sedikit menyesalinya, apalagi setelah melihat mata Alessya tadi.


" Dia- mengajakku bercinta tadi, dan aku- menolaknya. " Jawabnya lirih, malu dan sesal bercampur menjadi satu. Malu karena mengumbar urusan ranjangnya di hadapan temannya yang berperan sekaligus sebagai dokter pribadinya itu.


" Apa katamu ?!! Kau gila !! Ckck ... hebat sekali dirimu, melakukan hal setega itu. " dr. Edward terperangah mendengarnya.


" Aku hanya mengkhawatirkannya, Edward. Bagaimana bisa kau mengatakan hal itu tanpa berkonsultasi terlebih dahulu padaku. " Mencari alasan demi menghilangkan rasa sesal yang makin ke sini terasa kian mendalam.


" Aku fikir kau akan menyukainya, bukannya kau yang slalu merengek padaku untuk memberi izin agar bisa melakukan hal itu ? " dr. Edward mengangkat kedua bahunya merasa tidak paham dengan sahabat sekaligus bosnya itu.


" Tapi itu dulu, sebelum kehamilannya sebesar itu. " Menengadahkan kepalanya menatap langit-langit yang seakan mengejek kebodohannya itu.


Perdebatan itu terus berlanjut, Arselli bersikukuh dengan pendapatnya untuk tidak menyentuh istrinya sampai melahirkan nanti.


Prinsip yang sudah dia pegang teguh sedari awal, janzi yang sudah terlanjur dia ikrarkan. Tak apa berkorban untuk beberapa bulan, demi keselamatan dan kelangsungan hidup istri dan calon anak-anaknya di masa depan.


Namun ...

__ADS_1


Ucapan dokter Edward yang terakhir cukup menyentuh hatinya.


" Membahagiakan ibu hamil sangat membantu dalam perkembangan kesehatan ibu dan anak yang sedang dikandungnya. Dengan memenuhi keinginannya yang sekiranya masuk di akal dan mudah bagi kita untuk memenuhinya merupakan salah satu cara untuk membahagiakannya. " Ucapan dr. Edward begitu monohok tepat ke jantung hatinya.


" Dan tidak ada ruginya bagimu, bahkan yang paling istrimu inginkan saat ini adalah hal yang paling kau tunggu-tunggu bukan ? Ckckck ... aku tidak menyangka kau malah menyia-nyiakan kesempatan ini. Bulan depan saat pemeriksaan kehamilan selanjutnya, dr. Mark belum tentu akan mengizinkannya. Mengingat kondisi kehamilannya yang semakin membesar nantinya. " Ucap dr. Edward sambil berlalu pergi. Meninggalkan Arselli yang tengah melongo memikirkan kebodohannya tadi.


***


Setelah berbicara dengan dr. Edward, Arselli terpaksa tidak menemui Alessya terlebih dahulu, padahal dia sangat ingin meminta maaf dengan segera. Karena ada urusan pekerjaan yang begitu penting. Dan undangan meeting di luar yang harus dia hadiri hari itu dan saat itu pula, padahal hari itu adalah akhir pekan.


Dan malam itu ...


Sepulang dari urusan pekerjaannya ...


" Dimana Nyonya ? "


Arselli bertanya pada salah seorang pelayan wanita di villanya. Dia mencari Alessya karena beberapa saat lalu, setelah mencarinya kemana-mana, tidak mendapatkan dirinya di kamar mereka dan di ruangan lainnya.


" Nyonya Alessya,Tuan ? " Memastikan tuannya itu bukan bertanya mengenai keberadaan ibunya, Ny. Alice.


Arselli mengangguk kesal, karena begitu lama mendapat jawaban.


" Nyonya Alessya sedang di kamar Nyonya Alice, Tuan. " Jawab pelayan wanita itu.


Kalau difikir-fikir pantas juga Arselli kesal pada pelayan wanita itu. Toh mereka berdua sedang bersama di ruangan yang sama, mengapa bertanya balik pula tadi. Membuang-buang waktu saja, fikir Arselli.


Arselli mulai berjalan menuju ke arah kamar Ny. Alice.


" Tapi, Tuan ... " Cegah pelayan wanita itu.


" Apa ?!! " Jawabnya gusar dan kesal tatkala langkahnya harus berhenti tiba-tiba. Dia sudah tidak tahan ingin bertemu dan meminta maaf pada istrinya.


" Kata Nyonya Alice ... malam ini ... Nyonya Alessya akan tidur bersamanya. Dan Tuan ... jangan mengganggunya katanya. " Jawab pelayan wanita itu dengan terbata dan sedikit takut apalagi setelah melihat reaksi yang timbul di wajah Tuannya.


" Apa ? !! "


.


.

__ADS_1


.


πŸ’ž Bersambung .... πŸ’ž


__ADS_2