
Alessya berjalan pelan menuju tempat tidur pria itu , beringsut duduk manja tepat di samping Arselli yang tengah tiduran sembari memejamkan matanya. Menggoyang - goyang tubuh pria itu , berusaha membangunkannya.
" Russel...." panggilnya lembut.
" Hmm ". jawab Arselli.
" Sudah malam , aku mau pulang ya !! " kata Alessya lembut , meminta izin pada kekasihnya untuk pulang , karena waktu hampir larut malam.
" Ya sudah..pulang saja. " Memiringkan posisi tidurnya jadi menghadap ke arah Alessya duduk berada , sembari memeluk guling nyamannya.
" Terus kunci pintunya dimana ? Disembunyiin di mana sih ? " Jawabnya sedikit kesal .Terang saja dia merajuk ingin pulang ternyata pintunya dikunci dan kuncinya dimana ? Hanya Arselli yang tahu dimana kunci pintu itu berada. Jika saja pintunya tidak dikunci sudah sedari tadi dia pulang ,tidak peduli Arselli mengizinkan atau tidak.Dan sekarang pun mungkin dia sudah tidur nyenyak di kontrakan kecilnya.
Arselli tersenyum puas dalam tidurnya , rencananya hampir berhasil membuat gadis itu menginap di apartemennya untuk malam ini. Samasekali tidak ada niat jahat apapun , dia hanya ingin berada di dekatnya dan melihatnya saat dia tertidur nanti.
Untung - untung kalau dia mau diajak tidur bareng , dan " ena - ena "...
Sedikit bergidik membayangkannya sembari tertawa kecil dalam tidurnya. Tidur yang bukan tidur sebenarnya. Berguling - guling kecil memeluk erat guling nyamannya sembari ketawa ketiwi sendiri.
Bergidik membayangkan si singa betina yang agresif dan menggairahkan itu beraksi di atas ranjangnya nanti. Ya itu hanyalah sepenggal fikirannya sebagai seorang lelaki normal yang berhasrat dan bergelora , tapi jauh di lubuk hatinya yang paling dalam dia berjanzi untuk meraih kenikmatan itu secara halal dan baik .Karena Alessya adalah gadis baik - baik dan spesial baginya, bukan hanya kaleng - kaleng. Tidak peduli dengan aral rintang yang membentang nanti.
Semoga aku bisa , terus memperjuangkanmu.
Temani aku , dan terus beri aku keyakinan bahwa aku mampu untuk meraihmu , Alessya.
Alessya melengos , tidak berhasil merayu Arselli untuk memberikan kuncinya.
" Terus aku gimana ? " merajuk manja , fikirnya kepada siapa lagi dia bermanja - manja kalau bukan kepada kekasihnya itu , yang baik hati dan kadang menyebalkan seperti malam ini.
" Udah..nginep saja... " masih memejamkan matanya. Lagi -lagi Alessya melengos.
Emang itu tujuan Lo , kan !!! Kesal. Sedari tadi memang Arselli melarang dia pulang dan menyuruhnya menginap. Tapi dia tidak mau , teringat terakhir kali dia menginap di studio pria itu slalu saja menggoda dan mengerjainya. Jadi kefikiran insiden spidol permanent itu.
Alessya beringsut berjalan menuju sofa .
" Ya udah , aku nginep . Puas ??!! " melemparkan punggungnya ke sandaran sofa yang empuk itu. Menghela nafas perlahan , berusaha tenang. Menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa itu agar terasa lebih santai.
Bola matanya berkeliling menyapu seluruh ruangan apartemen yang mewah itu. Dia sangat menyukai apartemen itu , sesekali fikirannya mengembara jika suatu saat hubungan percintaan mereka berhasil sampai ke pelaminan , mungkin dia juga akan tinggal di apartemen yang indah ini.
Alessya mengerjap , tersadar dari lamunannya. Dia masih tau diri untuk tidak berharap banyak dari hubungan percintaan mereka yang bahkan belum seumur jagung itu dan dengan adanya perbedaan yang sangat jelas diantara mereka. Mengingat dirinya hanyalah rakyat jelata yang tidak punya apa-apa untuk dibanggakan kepada keluarga Arselli.
Arselli senang mendengarnya , beringsut bangun dari tidurannya .
__ADS_1
" Duh beneran Sayang , barusan ngantuk banget . " Pura - pura menggeliat ,berlagak baru bangun dari tidur yang nyenyak. Beringsut berjalan menghampiri Alessya yang sedang selonjoran santai . Duduk di samping gadis itu , memanjangkan sebelah tangannya ke sandaran sofa di belakang kepala Alessya.
" Sayang ? !! " gumamnya pelan , mengernyitkan dahinya. Tersenyum jijik mendengarnya. Pria ini, yang sempat dia temui sebelumnya dengan aura yang dingin, dan wibawa yang tinggi itu, ternyata bisa juga bersikap alay seperti pria lainnya . Tersenyum simpul memikirkannya.
" Kemarilah..." menarik gadis itu untuk lebih dekat dengannya , dan mendorong kepala Alessya dengan tangannya untuk bersandar di bahunya yang kuat dan kokoh. Mendekap erat gadis itu, tanpa sadar jemari Alessya menjelajah lembut di dada bidang pria itu. Wajahnya menengadah menatap pria itu.
" Russel " sembari melukis sesuatu di dada bidang itu. Jemarinya tanpa sadar membuka kancing kemeja yang Arselli gunakan , rasa penasaran menguasai hatinya kala itu , tatkala melihat bulu - bulu halus di dada Arselli yang terlihat di celah kancing kemejanya.
" Hmm " menatap Alessya , mengangkat kakinya meniru kaki Alessya yang berselonjor ke atas meja kaca.
Menikmati gelenyer aneh tatkala sentuhan lembut itu menghiasi dadanya.
" Hubungan kita, apakah kau serius ? "
" Tentu saja , Alessya. Kau hanya harus percaya padaku."
" Menurutmu , Ibumu akan merestui kita."
Arselli terdiam , sedikit tersentak dengan pertanyaan itu.Dia memutuskan untuk tidak menjawab pertanyaan itu. Alessya sedikit banyak mengerti diamnya pria itu. Ini adalah resiko yang harus ditempuhnya .
" Ibumu pasti sangat menyukai Clara ? Kau tidak menyukainya juga ? " jemarinya masih bermain - main di dada pria itu.
" Kau sudah tahukan...aku hanya menganggapnya adik , tidak lebih. " Menatap nanar lampu yang tergantung di atas.
Tapi aku tidak mencintainya , apakah itu tidak cukup sebagai satu alasan.
Arselli tersenyum kecil.
" Apakah cinta butuh alasan ? Kau fikir kenapa aku mencintaimu ? " menatap tajam Alessya.
" Apa ? " penasaran dengan ucapan Arselli.
" Entahlah , yang aku tahu aku hanya ingin bersamamu " mempererat dekapannya pada Alessya dan memejamkan matanya.
" Makanya , jangan pulang Alessya bukankah kau bilang akan kencan semalaman ? "
" Kencan semalaman hanya seperti ini " ops , menutup mulutnya lalu nyengir kuda tatkala melihat Arselli yang sudah menatapnya tajam .
" Lalu kita harus melakukan apa ? Olahraga malam , apa kau mau ? " mengintimidasi dengan seringai menghiasi bibirnya.
" Tidak !! Aku salah bicara !! " beringsut mundur menjauhi Arselli ,hendak bersandar melemparkan tubuhnya ke pinggiran sopa , yang ternyata masih jauh, sehingga Alessya malah jatuh ke atas sofa itu.
__ADS_1
Karena lengan Arselli masih melingkar erat di tubuhnya , Arselli tertarik sehingga ikut jatuh di atas tubuh Alessya , namun sempat ditahan oleh lengan berotot pria itu , sehingga tubuhnya tidak menindih tubuh Alessya yang ringkih dan rapuh itu.
Percayalah posisi itu membuat mereka salah tingkah . Jantung mereka berdegub kencang tatkala wajah mereka berhadapan , dengan posisi Alessya di bawah dan Arselli di atas bukankah itu akan sangat menggoda iman.
Alessya mendorong pelan dada pria itu dengan tangannya yang mulai membeku , namun tidak ada reaksi samasekali. Arselli bersikukuh dengan posisi itu, hawa panas telah mengalir deras di tubuhnya kala itu. Dia semakin mendekatkan wajahnya.
Alessya semakin gugup dan berdebar , dengan pasrah akhirnya dia memejamkan matanya. Merasakan hembusan nafas pria itu yang panas dan bergemuruh kencang. Mengalirkan hawa panas ke sekujur tubuhnya , yang percayalah saat Itupun Alessya telah menyerah mengendalikan diri dan perasaannya.
Aku benar-benar menginginkanmu Alessya. Maafkan aku , karena tidak bisa menguasai diriku.
***
Diana berdiri mematung di depan pintu kontrakan Alessya dimalam yang mulai larut itu ,dengan hanya ditemani lampu temaram.setelah beberapa lama sebelumnya dia mencoba menghubungi Alessya tapi selalu saja gagal.
Mengetuk pintu beberapa kali.
" Alessya ... kau di dalam ? " berteriak tidak terlalu keras khawatir mengganggu penghuni kontrakan yang lain.
Diana baru saja pulang dari berbelanja di mall bersama Clara.Menemani gadis itu berbelanja perlengkapan yang dibutuhkan pada acara ulang tahunnya nanti.
Kadang dia merasa aneh sendiri, kenapa sampai bisa terdampar jauh berteman dengan Clara yang baru dikenalnya belum terlalu lama ini. Dia merasa aneh dengan sikap Clara yang slalu mengintimidasinya walau secara halus , dan malah cenderung menguasainya.
Terkadang dia merasa Clara sengaja ingin menjauhkan dirinya dengan Alessya. Beribu pertanyaan muncul di benaknya. Curiga menghantuinya , ada apa diantara Clara dan Alessya ?
Dia benar- benar sudah tidak tahan karena sibuk dengan Clara ,menyebabkan dia lama tidak bertemu dengan Alessya sahabat terbaiknya itu. Tapi lagi-lagi kekecewaan yang dia dapatkan. Alessya samasekali tidak ada di tempatnya.
Maafkan aku Alessya , karena melupakanmu.
Fikirannya menerawang beberapa hari ke belakang , dia mencoba mencari Alessya di kampus , tapi teman sekelasnya berkata bahwa Alessya tidak masuk kuliah . Begitu juga di tempat kerjanya , dia tidak bekerja beberapa hari itu.
Beberapa kali ditelfon samasekali tidak ada jawaban , kadang hanya operator yang terdengar.
" Kau di mana , Alessya . Sebenarnya , apa yang terjadi padamu. "
Menatap nanar layar ponselnya , masih berdiri mematung di depan pintu berwarna coklat itu , sembari menjinjing paper bag yang berisi makanan untuk sahabatnya tersayang itu.
❤️
❤️
❤️
__ADS_1
Jangan lupa like , rate , dan vote.
Kritik dan saran ditunggu.