Lola And Loly

Lola And Loly
Sebuah Ancaman


__ADS_3

Clara sangat marah mendengar keputusan dari Nyonya Alice. Usaha yang dia lakukan sia - sia belaka , Nyonya Alice ternyata masih meragukannya. Membuat dia naik pitam, marah dan mendendam.


Mempercepat langkahnya untuk segera sampai ke tujuan. Dengan amarah yang bersemayam di ubun - ubun , hentakkan langkah kakinya begitu meyakinkan. Dendam kesumat di hatinya harus segera dilampiaskan siang ini , secepatnya tidak ingin menunda - nunda lagi. Setelah mengetahui Alessya ada di rumah sakit , dia sengaja datang menemuinya , untuk menumpah ruahkan segala amarah dan emosi yang bergemuruh kencang di dadanya , layaknya lava gunung Merapi .


Plak !!! Clara menampar pipi Alessya dengan begitu keras , menyisakan jejak lima jari berwarna merah di pipi mulusnya. Kala itu di lobby Rumah sakit tidak sengaja mereka berpapasan . Alessya tengah bersiap berangkat meninggalkan rumah sakit ditemani oleh Diana , dengan asisten Henry yang mengurus segala administrasi pembayaran dan sebagainya, dikarenakan sibuk Arselli tidak bisa mendampingi Alessya , asisten Henry ditunjuk sebagai gantinya. Sekaligus menjadi supir pribadi mengantar Alessya untuk pulang ke tempat yang telah Arselli siapkan bukan lagi ke kontrakan Alessya sebelumnya.


Tangan Alessya terkepal mendapat perlakuan seperti itu dari Clara. Sudut bibirnya sedikit berdarah. Tamparan Clara begitu keras , mungkin karena bantuan syetan yang terkutuk tenaganya menjadi extra luar biasa kala itu. Benar kata orang , saat marah syetan menguasai tubuh dan hati kita.


" Apa yang kau lakukan, Clara . " Diana melindungi Alessya , tatapannya tajam menghujam Clara. Dia kaget melihat Akessya yang mendadak ditampar hingga hampir jatuh terhuyung apabila tidak segera ditahan oleh Diana. Kemudian Diana mencoba menghalangi Clara yang bisa saja mengulangi aksinya tadi . Menyadari bahwa Clara sedang dikuasai amarah yang begitu menumpuk.


" Dasar perempuan tidak tahu malu. " Ucapan Clara setajam silet menyayat hati Alessya.


" Ini tidak seberapa dibanding dengan ulahmu yang mengusik hubungan kami. " Clara menyalahkan Alessya , karena Arselli membatalkan pertunangan mereka secara sepihak , membuat dia malu dan harga dirinya terasa diinjak - injak.


" Ini bukan salah Alessya , kau sendiri yang bermain kotor. Tidak ada yang bersimpati padamu . " Diana mencoba membela Alessya , karena sedikit banyak dia mengetahui kelicikan Clara demi mendapatkan Arselli.


" Dia samasekali tidak pantas bersanding dengannya Diana. Dia itu bukan siapa - siapa . " Clara menyombongkan dirinya merasa lebih baik dan sempurna dari siapapun.


Alessya tiba - tiba berdiri tegak menghampiri Clara .


" Tapi Dia mencintaiku , bukan mencintaimu. Itu kuncinya , Clara. Kau tidak bisa memiliki hatinya ". jawab Alessya dengan menggebu. Dia mencoba menegaskan , bahwa dia samasekali tidak pernah berniat merebut Arselli dari siapapun, tapi satu alasan yang pasti Arselli mencintainya sedari awal memang seperti itu . Clara tidak menyadari dan menerimanya dari dulu , andai Clara sadar sedari awal hal ini tidak akan terjadi , pertunangan yang tidak diinginkan Arselli ,dan pembatalan pertunangan yang mempermalukan Clara.


Clara merasa kesal mendengar perkataan itu. Amarahnya sudah mencapai puncak , dia tidak terbiasa dikalahkan begitu saja apalagi bersaing dengan Alessya , sangat tidak level fikirnya .


" Cukup Nona. " Tangan Clara sudah terangkat lagi untuk menampar Alessya kedua kalinya , namun dicekal oleh Asisten Henry , bisa hilang nyawanya jika sampai bosnya tahu dia membiarkan hal ini terjadi.


" Kau ? !! " Clara kaget mendapati asisten Henry berada di sana . Matanya berkeliling ke sekitar lobby , mencari keberadaan Arselli khawatir perbuatannya dilihat oleh pria pujaannya , bisa lebih runyam nanti. Hilang sudah harapan dan cita - citanya . Namanya akan semakin jelek di matanya.


" Tuan Arselli tidak ada di sini . Tapi bukan berarti anda bisa seenaknya nona .Anda harus menjaga sikap anda demi kebaikan anda sendiri . " asisten Henry mengingatkan Clara untuk berhati - hati dan lebih menjaga sikap. Apalagi , titah Arselli sudah jelas kepadanya untuk melindungi Alessya sebagai calon Nyonya muda , calon istri dari Tuan Muda Arselli Russel yang terhormat. asisten Henry menuntun Alessya dan Diana untuk berjalan mengikutinya , segera pergi meninggalkan Clara .

__ADS_1


Clara mengepalkan tangannya erat, matanya menatap tajam Alessya . Tampak seringai licik di bibirnya. Gumaman halus terdengar jelas di telinga Alessya , kala Clara mencondongkan badannya mendekat ke arahnya.


" Tunggulah pembalasanku , saat itu kau akan benar - benar menyesal karena telah berani merebut kebahagiaanku. " Alessya tersentak mendengarnya , walaupun kakinya terus melangkah mengikuti Diana yang menuntun dirinya , dia masih memalingkan wajahnya menatap Clara yang tengah berdiri sembari tersenyum licik menatap dirinya.


***


" Sepertinya kau salah arah asisten Henry." Alessya berusaha mengingatkan saat menyadari mobil yang mereka tumpangi bersama Diana , yang dikemudikan asisten Henry tidak mengarah ke kontrakan tempat tinggalnya.


" Sesuai perintah Tuan Muda, kita akan ke suatu tempat dulu , Nona. " jawab asisten Henry datar.


" Hmm, Baiklah. Tuan muda , ya.." mendengar itu adalah titah dari Arselli , Alessya cukup paham dan mengerti bahwa dia cukup mengikuti instruksi saja ,tidak perlu banyak tanya dan bertingkah macam - macam. Memahami bahwa asisten Henry mengemban tugas sebagai bawahan yang harus patuh dengan perintah bosnya , Dan Alessya tidak ingin dianggap mempersulit pekerjaannya itu.


Mobil berhenti di depan sebuah gedung menjulang tinggi , sebuah apartemen mewah dan berkelas. Tanpa banyak bertanya Alessya dan Diana mengikuti langkah kaki Asisten Henry menuju ke lobby apartemen , masuk ke lift untuk naik ke lantai yang mereka tuju. Mata mereka terpukau melihat kemewahan di lobby apartemen itu. Walaupun kehidupan Diana cukup mewah , dia masih saja sedikit takjub melihat hal ini.


Alessya terpukau saat masuk ke satu apartemen yang dimasuki mereka. Sesuai arahan asisten Henry , mereka masuk dan melihat - lihat ke dalam, ini bahkan lebih mewah dari apartement yang ditinggali oleh Arselli sekarang . Luar biasa dan takjub itu yang terlihat dari pandangannya . Cukup sebagai laporannya nanti kepada bosnya di kantor.


" Nona tunggulah sebentar di sini , Tuan Muda akan segera datang. " asisten Henry memberi tanda bahwa dia akan pergi meninggalkan Apartemen itu. Tidak lupa sebelumnya memberi sinyal pada Diana untuk ikut pergi juga.


***


Alessya sedang duduk di salah satu sofa di apartemen yang diberikan Arselli sebagai tempat tinggalnya untuk sementara sampai akhirnya mereka menikah nanti. Itulah penjelasan yang dia dapat dari asisten Henry tadi , bahwa sementara waktu dia akan tinggal di sini.


Setelah Diana dan asisten Henry pergi dia mencoba bersantai di apartemen itu.Tiba - tiba pintu apartemen terbuka. Alessya yang masih teringat dengan ancaman Clara , mendadak merinding , bulu kuduknya berdiri. Beringsut bangun dari duduknya berjalan mendekati pintu , untuk melihat siapa yang datang.


" Russel... " Merasa lega setelah melihat Arselli berdiri di dekat pintu setelah menutup pintu apartemennya.


" Ada apa, Kau terlihat tegang sekali ? " Sedikit aneh melihat reaksi Alessya seperti sedang ketakutan.


" Emh , tidak. Aku hanya masih belum terbiasa tinggal di sini. " jawabnya berusaha menutupi rasa takut yang menyeruak begitu dalam di hatinya. Tidak ingin membuat kekasihnya cemas setengah mati , apalagi akhir - akhir ini Arselli terlihat lebih posesif .

__ADS_1


" Benarkah , wajahmu terlihat pucat ? " menatap tajam wajah Alessya , seperti memindai sesuatu , berusaha menemukan sesuatu di wajahnya. Alessya mendadak ingat luka di ujung bibirnya.


Apakah dia melihatnya ? Semoga tidak , bisa runyam jadinya.


" Tidak ! sudah aku bilang , aku belum terbiasa tinggal di sini. " mendengar jawaban itu , Arselli malah semakin menunjukkan hyper protect love nya , dia tidak akan langsung percaya begitu saja. Tapi dia tahu pasti Alessya , tidak akan mudah memaksanya untuk mengutarakan isi hatinya. Kepalanya memang keras sekeras batu alias keras kepala.


" Baiklah , aku akan menginap jika kau terus seperti ini. "


" Apa ? " kaget bukan main , Alessya masih ingat betul jika mereka hanya berdua , yang ketiganya pasti syetan. Sudah dua kali Arselli hampir - hampir tidak bisa mengendalikan diri terhadap dirinya , dan dia tidak ingin hal itu terulang kembali.


" Baiklah , aku akan bercerita. Tapi janzi ya, kau tidak akan marah . " bujuk Alessya berusaha agar Arselli tidak menginap .


***


Arselli mengepalkan tangannya setelah mendengar cerita Alessya tentang Clara. Dia tidak menyangka Clara bisa bertindak dengan bar - bar seperti itu. Setahu dia , Clara adalah seorang gadis yang slalu menjaga martabatnya sebagai gadis keturunan darah biru , walaupun dia sangat faham bahwa keegoisan Clara itu sangat tinggi dan berlebihan .


Arselli menatap pipi dan ujung bibir Alessya , merasa khawatir dengan calon istrinya itu. Memegang lembut dagu Alessya , mengarahkan wajahnya agar bisa melihat lebih jelas lagi luka akibat tamparan Clara tadi.


" Sakit ? " tanyanya lembut.


" Sudah hilang , tadi dikompress sama Diana. " jawabnya salah tingkah , Wajah mereka begitu dekat saat itu hampir berciuman , apalagi dia tidak bisa memalingkan wajahnya karena Arselli memegang dagunya , merasa tidak enak bila menghempas begitu saja .


Dan benar saja...beberapa saat kemudian Arselli menyatukan bibir mereka dengan begitu lembut dan mesra. Sembari tangannya memeluk tubuh gadisnya itu memberi kehangatan diantara mereka berdua.


" Apa kau menyukai apartemennya ? " bertanya diantara sela ciuman hangat mereka .


" Ini terlalu mewah , Russel . " menjawab kala berhasil terlepas untuk sekian detik.


" Kau harus membiasakan dirimu , dengan semua kemewahan ini . " Meraup kembali bibir Alessya kemudian.

__ADS_1


" Emh.." hanya bisa menjawab singkat , kala bibirnya dibungkam dengan lebih rapat lagi , tanpa memberi jeda ataupun jarak bahkan hanya untuk sekedar menghirup udara segar sekalipun. Ternyata kenikmatan juga cukup menyakitkan , butuh pengorbanan untuk meraihnya.


__ADS_2