
Alessya berjalan menyusuri lorong di gedung di lantai apartement Arselli berada , setelah diberi petunjuk arah dan kode ruangan oleh asisten Henry. Terlihat tangannya menenteng beberapa kantong plastik , sepertinya karena terlalu bingung tadi dia membeli semua makanan yang menari - nari di fikirannya. (Kira - kira abang Arsell suka gak ya...ama martabak , siomay , and batagor ??..hiks...secara tampilan di foto nya bule gitu ).
Toh sekarang dia mempunyai kartu gold ajaib , yang bisa dia gunakan jika berbelanja. Walaupun sebenarnya dia tidak pernah berniat untuk menggunakannya kecuali kalau kepepet .Dan memang sampai sekarang pun kartu itupun belum pernah dia gunakan sama sekali. Karena apa coba ?? Bukan karena tidak mau dianggap materialistis, tapi karena uang cash pemberian Arselli yang dia temukan pada dompet pink pemberian Arselli masih ada, he...baru pemanasan ketawa aza dulu ya...
Matanya menatap lamat kode kamar yang terpampang di setiap pintu apartement. Mencari pintu berkode 909.
" Ketemu..." bibirnya tersenyum tipis membayangkan pria yang tengah berada di balik pintu yang ada di hadapannya itu.
Ceklek
Tiba - tiba suara gagang pintu yang terbuka berbunyi.
Dahi Alessya mengernyit merasa aneh , apakah pada pintunya terpasang sensor ?? Belum sempat tangannya terangkat untuk mengetuk , pintu sudah otomatis terbuka.
Terang saja Arselli tahu Alessya sudah ada di hadapan pintu , ketika Alessya sudah tiba tadi di lobby apartement , asistennya Henry langsung mengirim pesan bahwa Alessya sudah tiba. Sesuai dengan instruksi dari bosnya itu , untuk segera memberi kabar kedatangannya , untuk memberi kejutan tentunya.
Sedari tadi Arselli menunggu di balik pintu , sembari sesekali matanya mengintip melalui lubang kecil pada pintu apartemennya. Ketika Alessya telah berdiri di sana , Arselli langsung membuka gagang pintu apartemennya itu.
Alessya hanya melongo, bagaimana tidak , dia merasa aneh pintu apartement milik Arselli tiba - tiba terbuka , tapi sang kekasih tidak juga keluar menunjukkan batang hidungnya yang mancung untuk menyambutnya , secara ini pertama kali bagi Alessya datang ke apartement kekasihnya itu.
Keterlaluan...tidak ada sambutan sama sekali ??
Beberapa menit bertahan menunggu , berdiri di balik pintu , tidak ingin dianggap tidak sopan telah lancang memasuki apartement seseorang tanpa dipersilahkan , walaupun itu apartement kekasihnya sendiri.Akhirnya kesabarannya habis , kakinya sudah sedikit pegal karena terlalu lama berdiri. Akhirnya dia memberanikan diri mendorong pintu itu , persetan dengan anggapan pria itu nanti.
" Russel... " pelan memanggil nama kekasihnya itu. Mendorong pintu , membungkukkan badannya , mendongakkan kepalanya untuk melihat lebih dalam ke ruangan apartement kekasih kesayangannya itu.
" Russel... " sekali lagi memanggil nama pria itu , dengan kaki yang terus melangkah ke dalam ruangan.Menyimpan kantung plastik yang dia bawa di meja yang dia temukan.
Brukkk..tiba - tiba suara pintu mendadak tertutup sendiri berbunyi cukup keras hingga memekakan telinganya . Alessya sedikit kaget dan takut , apalagi ruangan itu sedikit gelap , karena lampunya padam dan tirai jendela nya sudah tertutup rapat ,padahal masih sore.
" Russel... " Alessya memanggil nama itu lagi , tangan dan kakinya sedikit merinding kala hawa dingin dari AC di ruangan itu mulai terasa menusuk ke kulit tubuhnya. Ketakutan menguasainya kala itu. Dia menggigit kuku di jarinya , hampir menangis karena merasa sesak di dadanya...
" Russel..." untuk kali terakhir dia memaksakan memanggil nama itu lagi , Jika tidak ada jawaban lagi , dia akan pergi.
Dwaarrrrrr.......
terdengar kencang
__ADS_1
Seketika lampu menyala , potongan kertas kecil berwarna warna menghujani tubuhnya . Alessya menatap takjub semua itu.
Mendapati Arselli Russel telah berdiri tidak jauh dari hadapannya dengan senyum yang mengembang.
Alessya tertawa bahagia kala itu , beringsut berlari ke arah kekasihnya yang sudah membuka tangannya lebar - lebar untuk menyambut Alessya datang ke pelukan hangatnya.
Alessya memeluk pria itu erat ,membenamkan wajahnya pada dada bidang pria itu dan menyesap aroma maskulin yang melekat di tubuh kekar dan kokoh pria itu.
" Kau menyukainya ? " Arselli bertanya.
" Kau menakutiku , Russel " menengadahkan wajahnya ,menatap mata kekasihnya. Masih tidak melepas pelukan hangat mereka.Mereka masih berpelukan dengan sangat erat dan mesra untuk beberapa saat , melepaskan hasrat di hatinya yang menggebu - gebu.
" Duduklah ." melepas pelukannya , Arselli menyuruh Alessya duduk. Mereka tidak mungkin terus- terusan dalam posisi itu kan?
Alessya duduk, sembari memandang takjub ruangan itu, yang sudah dipenuhi dengan balon warna - warni dan beberapa rangkaian bunga mawar putih di setiap sudut ruangan itu , bunga favoritnya.
Arselli melangkah ke meja makan, sudut matanya melihat kantung plastik yang dibawa Alessya di atas meja kecil tidak jauh dari pintu.
" Kau membawa apa? " setelah Alessya duduk. Membawa dan mengangkat kantung plastik itu menunjukkan pada Alessya.
" Itu makanan , Russel. Aku ingat dulu pernah berjanzi untuk mentraktirmu , dan sampai sekarang... " Beringsut berdiri dari duduknya, berjalan menghampiri Arselli yang sedang memeriksa kantung plastik berisi makanan itu.
" Sepertinya kita akan makan besar malam ini . " Memotong pembicaraan gadis itu , menunjuk ke arah meja makan dimana sudah banyak makanan yang disiapkan Arselli untuk memanjakan gadis kesayangannya itu , yang dia lihat semakin kurus saja.
" Huffhh..." Alessya kaget setelah menoleh ke arah meja makan. Memutar bola matanya menyapu seluruh permukaan meja makan yang lumayan besar itu , dengan berbagai menu makanan yang tersaji di seperangkat piring mewah di atasnya.
" Tidak apa - apa , bukankah kita akan berkencan semalaman " menjawab sarkas dengan senyum terkekeh memamerkan deretan giginya yang rapi , sembari mengedipkan sebelah matanya kepada Arselli.
Arselli hanya tersenyum kecut , menggelengkan kepalanya.Yang benar saja , kencan semalaman hanya untuk menghabiskan makanan.
Tapi tidak masalah kalau makananku adalah kamu , Alessya , beberapa malam pun aku siap.
Tanpak seringai di bibirnya , mengkhayalkan sesuatu.
***
Duarrr ..... duarrr...... duarrr.....
__ADS_1
Setelah menghabiskan waktu dengan makan malam , mereka berdiri di teras balkon apartemen mewah itu , sembari memandang kembang api di langit di sekitar gedung apartemen Arselli. Kembang api yang sengaja dia pesan dari pihak gedung , selama ada uang tidak ada masalah semua hal yang diinginkan pasti akan tercapai dan terkabulkan.
Mata Alessya berbinar memancarkan kebahagiaan. Betapa semua hal yang terjadi dalam hidupnya akhir - akhir ini terasa bagaikan mimpi . Dan itu semua berkat kekasihnya Arselli Russel , yang seorang pengusaha muda kaya raya , tampan , angkuh dan sedikit sombong luluh lantah oleh seorang gadis seperti Alessya yang justru sebenarnya sangat tidak suka berhubungan dengan orang - orang seperti Arselli.
Tapi apa mau dikata lagi - lagi bukan kita yang memilih , tapi cinta yang memilih kita. Dan semua adalah permainan takdir semata. Manusia hanya menjalankan sesuai alurnya.
Arselli senang kejutan yang dia buat berhasil , setidaknya dia puas melihat senyuman kekasihnya yang merekah dan sorot matanya yang berbinar. Itulah tujuan utamanya membuat kekasih nya, gadis kesayangannya bahagia. Sebelum waktu dan sesuatu membuat mereka berpisah , setidaknya dia ingin suatu memory indah yang bisa dikenang dalam kisah cinta mereka.
" Tutup matamu ." Bisik Arselli yang tengah berdiri di balik punggung Alessya , sembari melingkarkan lengannya di pinggang gadis itu.
" Apa ? " Menoleh sesaat , refleks matanya terpejam mengikuti suara bisikan yang dia dengar dari belakang telinganya.
Arselli merogoh saku celananya , mengambil sebuah kalung dengan liontin berbentuk bintang yang dihiasi mata berlian berukuran kecil.Sengaja tidak memilih model yang terlalu mencolok memperlihatkan batu mulia itu berada, mengingat kehidupan sosial Alessya yang berbaur dengan orang - orang biasa khawatir akan menimbulkan fitnah atau prasangka.
Melingkarkan kalung indah itu , dileher jenjang Alessya yang indah .Sembari mengecup lembut pipi gadis itu.
Alessya merasakannya, gerakannya ,sesuatu telah menempel di lehernya. Membuka matanya , menundukkan kepalanya , menatap lamat kalung indah itu.
Bibirnya tersenyum terharu menerima hadiah itu.
" Ini indah sekali , Russel . Aku menyukainya. Tapi..ini sangat berlebihan..." Menoleh ke wajah kekasihnya yang sedang menyandarkan dagunya di bahu gadis itu.Memeluk gadis itu dari belakang.
" Aku mencintaimu Alessya ." Berbisik mesra ke arah telinga gadis itu, menghembuskan nafasnya yang lembut ke daun telinga gadis itu. Menimbulkan rasa gelenyer di dada Alessya , yang masih menunduk menatap kalung indah itu.
" Aku juga mencintaimu. " Bisiknya pelan ke udara.
Arselli mendengarnya walaupun pelan. Dia membalikkan tubuh gadis itu , sehingga mereka berhadapan. Sebelah tangannya menyentuh dan membelai pipi gadis itu yang sudah terlihat memerah. Dan sebelah tangannya lagi menarik pinggang gadis itu hingga mengikis jarak diantara mereka.
" Katakan lagi Alessya , aku tidak mendengarnya ". mendekatkan wajahnya ke wajah gadis itu.
Alessya terpaku , dengan posisi sedekat itu tubuhnya bergetar .Dan pria yang dihadapannya yang tengah mendekapnya dengan erat , menuntutnya untuk mengatakan kata pamungkas tadi sekali lagi.
Menarik nafas perlahan memberanikan diri mengungkapkan perasaannya yang terdalam.
" Aku juga mencintaimu.." Bisiknya pelan terdengar sangat jelas oleh Arselli karena saking dekatnya.
Arselli tersenyum ,menggeserkan tangannya yang berada di pipi Alessya ke arah tengkuk gadis itu , menarik wajah gadis itu semakin mendekat. Mengecup kening gadis itu untuk sesaat, menatap dalam mata Alessya yang mulai sayu karena terbawa perasaan suasana , romansa malam nan syahdu .
__ADS_1
Alessya dan Arselli mendekatkan wajah dan bibir mereka . Berbaur menjadi satu meraih kehangatan diantara dinginnya angin malam, diterangi bintang yang berkerlap-kerlip di langit yang gelap nan indah.