Lola And Loly

Lola And Loly
Moment Langka


__ADS_3

Alessya menatap kepergian mobil Arselli dari balik kaca jendela kamarnya. Pupus sudah harapannya. Bila beberapa menit lalu, tatkala melihat kedatangan dr. Edward ke villa membuat hatinya kembali mengharapkan suaminya untuk meminta maaf padanya. Setidaknya, tidak untuk saat itu, masih ada malam nanti yang mereka bisa lalui bersama dengan memadu kasih penuh cinta dan gelora. Namun, dengan kepergian Arselli tadi membuatnya begitu yakin bahwa Arselli sudah tidak menginginkannya lagi.


Hanya menangis yang bisa dia lakukan saat itu. Rasa kecewa, putus asa dan merasa rendah diri bercampur menjadi satu. Entah apa yang merasukinya saat itu, hingga dia menjadi serapuh itu.


" Apa yang terjadi ? " Tiba-tiba Ny. Alice muncul dari balik pintu. Membuyarkan lamunan dan tangisan Alessya seketika itu juga. Padahal lagi enak-enaknya menumpahkan rasa kesal di hati.


" Ti-tidak ibu. " Jawab Alessya terbata. Segera menghapus air mata dan ingus yang perlahan mengucur dari dalam hidungnya.


Ny. Alice berjalan menghampiri Alessya dan memperhatikan menantunya itu dengan begitu lekat. Mengajaknya bicara tentang apa yang terjadi padanya.


Dan Alessya hanya bisa berbohong saja. Tidak mungkin kan dia menjawab bahwa dia menangisi putranya yang telah menolaknya untuk bercinta.


" Aku- hanya merindukan Ibuku, dan keluargaku. " Jawab Alessya bersandiwara.


" Aku juga sangat merindukan negaraku. " Jawabnya lirih, sok menjunjung patriotisme. Dalam rangka HUT kemerdekaan sepertinya.


" Argh ... kau benar. " Ny. Alice berdesah, memikirkan mereka yang terdampar di negara antah berantah. Ingin kembali ke negara asal mendadak terasa sulit, mengingat kondisi ibu hamil yang masih begitu rumit.


Entah siapa yang pantas disalahkan. Author-kah ? Yang telah membuat Alessya hamil di negeri orang, belum lagi kondisinya yang tidak memungkinkan untuk melakukan perjalanan pulang.


Ny. Alice duduk di samping menantunya yang sedang hamil itu. Mengelus perut buncit itu untuk menenangkannya. Walaupun belum sepenuhnya suka kepada menantunya itu, tapi bagaimanapun juga Alessya kini tengah mengandung anak dari putra kesayangannya. Yang berarti cucunya juga, tiga orang pula. Benar-benar luar biasa.


" Kau yakin hanya masalah itu ? " Alessya menyadari ibu mertuanya mulai sedikit curiga. Namun tidak mungkin baginya untuk bercerita, akan membuatnya malu saja.


Alessya hanya menganggukkan kepalanya. Bingung harus menjawab apa.


" Baiklah. " Ny. Alice sepertinya mengerti. Ada masalah diantara menantu dan putranya. Namun dia tidak bisa berbuat apa-apa. Setelah beberapa lama dan berbicara, Ny. Alice beranjak pergi meninggalkan Alessya.


Namun ... langkahnya terhenti.


" Ibu ... " Panggil Alessya lembut. Ny. Alice membalikkan badannya. Dan bertanya ada apa.


" Bolehkah aku tidur denganmu ? " Tanya Alessya dengan suara terbata.


" Ma-lam ini ? " Dia sepertinya berniat untuk menghindari suaminya.


***


Arselli mengetuk pintu kamar ibunya dengan gusar. Malam ini dia mendadak begitu merindukan istrinya yang sedari tadi menari-nari di fikirannya. Bahkan meeting tadi pun berlalu dengan tidak fokus hanya karena mengingat istrinya. Andai saja Arselli tidak menolaknya tadi, mungkin malam ini akan terasa begitu hangat dan tenang. Karena Alessya tengah tidur di dalam pelukannya.


Ny. Alice membuka pintu kamarnya, sedikit saja. Seolah menghalangi Arselli untuk melihat ke dalam kamarnya. Apalagi memasukinya.

__ADS_1


" Dimana istriku, Ibu ? " Tanya Arselli saat itu juga.


" Dia sudah tidur. " Jawabnya setengah berbisik. Sembari menutup pintu di belakangnya.


" Kalau begitu, aku akan memindahkannya. " Hendak menerobos ke kamar ibunya itu, namun tentu langsung dihalangi oleh ibunya.


" Tidak ! Dia sudah tidur, jangan diganggu ! " Ketus Ny. Alice saat itu.


" Tapi ... " Arselli gusar bercampur kesal dengan situasi yang tengah dihadapinya saat itu.


Mereka berdebat cukup lama saat itu. Arselli akhirnya menyerah, ibunya adalah titisan dari induk sang singa betina. Sama-sama buas, ganas dan keras kepala. Sepertinya mereka cocok apabila bekerja sama.


" Baiklah, kalau begitu. Aku juga akan tidur di kamar ini. "


" Tidak. " Tegas Ny. Alice.


Beberapa hari lamanya, Arselli tidak bertemu dengan istrinya. Jangankan untuk tidur bersama dan ena-ena, saat sarapan dan makan malam pun mereka tidak berjumpa. Istrinya dan ibunya seperti berkomplot untuk membalas dendam padanya, tanpa memberinya kesempatan untuk berjumpa. Melepas rindu atau yang lainnya.


Pagi itu ...


" Aku ingin bertemu dengannya, Ibu. Ayolah, jangan memisahkan kami. " Rayu Arselli. Saat itu Alessya tengah menikmati sarapan paginya di atas ranjang mertuanya. Sepertinya Ny. Alice benar-benar memanjakannya.


" Apa ibu yakin ? " Tanyanya gusar. Dengan bertolak pinggang di hadapan ibunya itu.


" Tentu saja. Untuk apa ibu berbohong padamu. " Ny. Alice mengulum senyum memperhatikan tingkah putranya itu. Karena berpisah dengan istrinya Arselli menjadi stress hingga kehilangan urat malunya. Dia bahkan keluar kamar dengan hanya memakai celana pendek saja. Memalukan.


Arselli menyerah saat itu. Baiklah dia akan mencoba lain waktu, mungkin Alessya sudah berubah fikiran saat itu.


Ah singa betina itu, benar-benar !


Empat hari telah berlalu, tengah malam Arselli keluar dari kamarnya, lalu masuk ke kamar ibunya yang ternyata tidak dikunci. Berjalan perlahan bahkan mengendap-endap.


Hatinya menghangat mendapati mereka. Istrinya tengah tidur bersama ibunya sembari berpelukan layaknya seorang ibu dan anak perempuannya. Seiring waktu hubungan antara mertua dan menantu itu menjadi lebih akrab dan dekat sekarang.


Awalnya dia berencana untuk memindahkan Alessya ke kamarnya, namun setelah melihat hal itu, dia mengurungkannya. Moment langka dalam hidupnya, bisa melihat Ny. Alice melunakkan hatinya pada orang lain. Belum tentu lain waktu moment ini akan terulang kembali. Tak apa demi kebahagiaan istrinya dia memilih untuk mengalah saja.


Arselli pun ikut berbaring di sana, di samping Alessya yang tengah tidur miring menghadap ibunya. Memeluknya dari belakang punggungnya dengan begitu hangat dan mesra setelah terlebih dahulu mengecup puncak kepalanya. Dan mengelus perut buncitnya tentunya.


***


Pagi itu ...

__ADS_1


Ny. Alice bangun dari tidur nyenyaknya. Ternyata tidur bersama menantu dan ketiga calon cucunya terasa begitu nyaman baginya. Setelah kepergian suaminya dulu yang merupakan ayah dari Arselli dan Lucas, dia tidak pernah tidur nyenyak lagi seperti ini.


Sepertinya mulai saat ini, dia harus lebih sering tidur dengan menantu dan ketiga cucunya nanti, demi kesehatan tubuhnya. Biarlah Arselli putranya berkorban untuk berbagi istrinya dengan dirinya.


Ny. Alice melirik ke arah menantunya yang masih terlelap tidur. Dia begitu manis dan menggemaskan.


Matanya melotot ...


" Arselli ! Apa yang kau lakukan di sini ? " Tegur Ny. Alice dengan suara pelan. Tak ingin mengganggu tidur menantunya itu, yang akhir-akhir ini slalu tidur malam karena merasa kesulitan.


Memukul kaki putranya yang tengah melingkar menindih paha istrinya. Belum lagi tangannya yang melingkar erat di dada istrinya.


" Mmhh ... " Merasakan pukulan di kakinya, Arselli malah menggeliatkan badannya. Mengeratkan pelukannya pada tubuh istrinya, yang masih tidur nyaman dalam dekapannya.


" Dasar tidak tahu malu !! " Gumam Ny. Alice, meledek kelakuan putranya yang ternyata Bucin itu.


Hilang sudah Arselli yang tanggung, kokoh, dingin dan angkuh di matanya dulu. Semenjak pagi ini, penilaiannya berubah. Ny. Alice memutar bola matanya.


" Kau seperti ayahmu saja ! " Gumamnya pelan. Sembari turun dari ranjang, berjalan perlahan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Mengingat kenangan dulu bersama suaminya yang slalu bersikap seperti itu padanya.


.


.


.


πŸ’ž Bersambung ... πŸ’ž


.


.


.


Menjelang episode2 terakhir ya ...


Maaf ya belum bisa crazy up ...


Real life benar-benar harus dikejar πŸ’ͺπŸ’ͺ

__ADS_1


__ADS_2