
Cup
Alessya terbangun dari tidurnya. Tersadar kala menyadari seseorang tengah menciumi telinga dan meremas buah dadanya.
Membuka kedua kelopak matanya yang sedari tadi terpejam, Alessya terkejut kala mendapati Arselli berada di dekatnya.
" Russel ... " Ucapnya lirih pagi itu. Serasa mimpi berubah menjadi nyata. Di pagi hari ini akhirnya bisa bertemu dengan lelaki yang beberapa hari ini begitu dia rindu dan dia damba.
Setelah Ny. Alice mengurungnya untuk beberapa lama di kamarnya. Walaupun hanya saat Arselli sedang berada di villa saja. Selebihnya, Alessya melakukan aktifitas seperti biasanya.
Sepertinya Ny. Alice memang sengaja memisahkan mereka berdua. Bermaksud memberikan hukuman pada putranya, yang telah membuat menantu kesayangan dadakannya itu berlinang air mata.
" Apa kabarmu ? Lama tidak bertemu. " Bisik Arselli di telinga istrinya dengan begitu mesra. Mempererat dekapan tangannya pada tubuh istrinya yang tengah dalam posisi miring membelakanginya.
" Ba-baik. " Jawab Alessya dengan gugup dan terbata.
Lama tak berjumpa membuatnya malu saja, seperti remaja yang malu-malu saat bertemu dengan pacarnya. Pipinya bahkan berwarna merah merona. Antara masih marah, bercampur rindu yang membuncah, dan bahagia karena akhirnya berjumpa.
" Aku merindukanmu. " Bisiknya lagi.
" Ayo kita melakukannya. " Bisiknya menggoda. Alessya menelan ludahnya. Tidak dipungkiri, dia juga menginginkannya.
Seraya menjilati dan menggigiti telinga istrinya hingga berubah warna merah jadinya. Tangannya bahkan menggerayangi tubuhnya ke mana-mana. Menyingkap rok dressnya, dia berusaha menyentuh perut istrinya.
" Ru-russel ... jangan seperti ini. Jangan di sini. " Ucapnya terbata-bata menahan geli yang bergelenyer di tubuhnya.
" Ini ka- " Belum tuntas juga kalimatnya, Arselli sudah terlanjur membungkam bibir istrinya yang saat itu tengah terbuka.
******* bibir manis itu, Alessya mengerang. Menahan kenikmatan yang beradu dengan resah yang berkembang di dalam fikiran. Bagaimana bisa dia merasa tenang, Arselli menggerayangi hampir seluruh tubuhnya dengan begitu liar dan mesra.
Sesekali berusaha menyingkap rok dressnya untuk meraba sesuatu yang ada di sana. Padahal, mereka tengah tidur di kamar mertuanya. Dan Arselli sepertinya belum menyadarinya. Entah terlupa atau apa, hasrat terlanjur menguasai tubuhnya dan membutakan fikirannya.
Dan setiap Alessya hendak membuka mulutnya untuk berbicara, bibirnya langsung dibungkam begitu saja dengan begitu dalamnya. Tak memberi kesempatan baginya untuk berkata-kata.
" Hentikan ! Ini ka- " Terputus lagi ucapannya. Pagi itu Arselli benar-benar garang, tak membiarkan lengah mangsanya.
Kedua tangan Arselli mengungkung tubuh istrinya.Yang masih bertahan dalam posisi miringnya. Sementara bibir dan tubuhnya dikuasai oleh suaminya.
" Russel ... ? Stop ! In- " Pekik Alessya saat itu juga, namun Arselli samasekali tidak mengindahkannya. Dia benar-benar sudah tidak tahan hingga terlupa dimana kini mereka berada. Dia melanjutkan mencumbu leher dan bahu istrinya yang indah dan mulus itu, setelah beberapa detik lalu melepas ciumannya.
" Stop Russel ! Ini kamar ibu ! " Pekik Alessya saat Arselli mulai mencumbui buah dadanya, yang kancing bajunya sudah berhasil dia buka, membuat Arselli merasa kaget seketika. Saat itu Alessya tengah memakai dress tidur dengan kancing di depannya.
Tiba-tiba ...
" Apa yang kalian lakukan ?! " Tegur Ny. Alice setelah keluar dari kamar mandi. Sepertinya dia kaget mendapati tontonan panas sepagi ini. Dan pemainnya adalah putra dan menantunya sendiri.
__ADS_1
Arselli tersentak, berhenti dari aktifitas panasnya, lalu bangun berdiri. Membalikkan badannya menghadap ibunya yang sudah tampak segar setelah baru saja mandi.
" Ibu- kenapa ada di sini ? " Tanya Arselli berpura-pura.
Alessya mendelik mendengarnya. Sempat mencubit perut Arselli sebelum menundukkan kepalanya.
" Ish .. "
Dan Arselli hanya bisa menjerit kecil sembari meringis. Bukan meringis sakit karena dicubit, melainkan meringis menangisi nasibnya yang terpergok ibunya hampir ena-ena.
Alessya duduk di atas ranjang dengan wajah yang memerah, karena merasa malu yang luar biasa. Tangannya bergerak membenarkan dress tidur yang kusut dan terbuka kemana-mana. Yang tersingkap hingga memperlihatkan paha putihnya. Rambutnya bahkan ikut berantakan. Arselli menggerayangi tubuhnya dengan begitu liar tadi, tanpa memberinya waktu untuk menjelaskan situasi.
" Ini kamarku. Ckckck ... kau ini. Bagaimana kalau sampai anak buahmu tahu tingkah konyolmu ini. " Ny. Alice berdecak tidak percaya setelah melihat tingkah putranya itu.
Dia hanya tidak tahu saja sejauh mana kenakalan putra dan menantunya kalau urusan bercinta. Di dalam mobilpun mereka pernah. Entah di tempat aneh mana lagi yang tidak semestinya. Hanya mereka dan Tuhan yang tahu. Dan asisten Henry sepertinya.
" Ah .. mengganggu saja. " Ucap Arselli. Seraya menjambak frustasi rambutnya. Menarik napas panjang, menghempas tubuhnya duduk di tepian ranjang.
Walaupun begitu, Ny. Alice mengerti dan memahami. Putranya telah diliputi nafsu dan hasrat yang perlu dipenuhi.
" Bukannya belum boleh ? " Sembari melengos Ny. Alice bertanya. Mencoba mencari jalan keluarnya. Bagaimanapun dia harus menjaga calon cucu-cucunya.
" Edward sudah mengizinkannya ibu. " Jawab Arselli dengan tidak tahu malu. Dia mengusap tengkuknya sendiri saat itu. Merengkuh kepalanya dengan kedua tangannya, menahan hasrat membara yang perlu dituntaskan saat itu juga.
Sementara Alessya masih duduk di atas ranjang dengan tertunduk malu. Apalagi sekarang, disaat dirinya merasa menjadi objek obrolan.
Arselli melengos mendengarnya, mendadak merasa kecewa dan hampa. Masa harus gagal juga, padahal sudah hampir saja. Mau tidak mau, walau dengan langkah berat dia beranjak pergi dari sana. Meninggalkan Alessya yang sangat ingin dia ajak bercinta. Merasa tidak mungkin untuk memohon pada ibunya, dan mengemukakan alasannya. Ah ... benar-benar gila, jiwanya merana hasratnya meronta.
" Dan kau Alessya. Ikuti suami gilamu itu ! " Titah Ny. Alice selang beberapa lama, dengan begitu bijaknya. Walau nada sinis terlontar dari bibirnya.
Arselli dan Alessya bersamaan terperanjat. Ada bahagia di sana yang terasa mengocok jiwa dan mengguncang dunia.
Arselli tersenyum puas dan senang, mendengar penuturan ibunya.
Walaupun malu, Alessya mengikuti langkah Arselli keluar dari kamar Ny. Alice. Dengan langkah gontai dan lagi-lagi tertunduk malu. Dan tepat beberapa langkah setelah keluar dari pintu kamar itu, Arselli langsung mengangkat tubuh istrinya membawa dalam gendongannya menuju kamar peraduan mereka. Bersiap untuk menerkamnya dan mengajaknya bercinta.
" Jangan berlebihan ! Ingat kondisi kandungan istrimu ! "
Ny. Alice tidak lupa mengingatkan dengan setengah berteriak. Tatkala melihat putranya tengah menggendong istrinya dengan berjalan cepat, setelah mengintip dari balik pintu kamarnya.
***
" Terimakasih ... " Ucap Arselli lirih sembari mengecup lembut kening wanita yang kini tengah terbaring lemah berhadapan dengannya. Alessya menganggukkan kepalanya.
Melepas lelah setelah pergulatan panjang mereka, akhirnya mereka beristirahat di balik selimut tebal dengan tubuh yang masih polos.
__ADS_1
Matahari sudah terbit cukup terang, dan mereka masih tenggelam di balik selimut dan pelukan.
" Apa kau sakit ? " Mencemaskan Alessya yang mendadak terlihat begitu pucat pagi itu, Arselli menyentuh kening istrinya berkali-kali untuk mengecek suhu tubuhnya.
" Tidak. Aku hanya lapar saja ... " Jawabnya lirih. Sembari mengelus perutnya di balik selimutnya. Arselli tersenyum mendengarnya, meminta maaf karena sempat terlupa dengan kehamilan istrinya. Saking terlalu fokus dengan aktifitas tadi.
Arselli lalu menghubungi Robin melalui telfon yang tersedia di sana. Memesan makanan untuk sarapan dan mengantarnya sampai ke pintu kamarnya.
" Makanlah yang banyak ! " Ucap Arselli pada istrinya. Mendekatkan meja makanan ke arah istrinya yang saat itu tengah duduk di sofa dengan memakai jubah tidurnya. Arselli memilih sandwich untuk sarapannya. Menyisakan beberapa menu makanan untuk Alessya yang pasti butuh makanan ekstra.
" Terimakasih ... " Jawab Alessya dengan begitu ceria. Sebelum hamil dan sesudah hamil selera makannya memang slalu luar biasa.
Alessya tersenyum, setelah menyantap sarapannya, tubuhnya terasa bugar, lebih bugar dari sebelumnya.
Menggeser duduknya mendempet suaminya. Tangan Alessya bergerak menyentuh tangan suaminya. Menggenggamnya dengan penuh cinta.
" Russel ... "
" Hmm. " Arselli menatap istrinya.
" Makan siang nanti kau ada di rumah ? " Sorot matanya penuh harap saat itu.
" Hari ini aku libur. Ada yang kau inginkan ? " Membalas genggaman tangan istrinya dengan lebih erat menyalurkan kasih sayang dan cinta.
" Aku ingat, Robin pernah menyajikan masakan khas Timur Tengah waktu lalu. Apa kau ingat juga ? " Arselli mencoba mengingatnya.
" Emh. Saat itu kau bahkan tidak mencicipinya sedikitpun. " Jawabnya setelah berhasil mengingatnya. Saat itu kehamilan Alessya belum diketahui. Namun saat itu adalah salah satu tanda-tanda kehamilan Alessya.
" Siang nanti, sepertinya aku menginginkannya. Bolehkah ? " Sorot matanya mulai memelas saat itu.
" Tentu saja boleh. " Mulai curiga.
" Benarkah ? Tapi ... " Menunduk sok manja.
" Tapi apa ? " Mendadak jantung Arselli berdebar saat itu. Permintaan wanita hamil di sampingnya ini, slalu sedikit aneh dan berbeda dari biasanya.
" Tapi sepertinya ... Anak kita ... Ingin kau yang memasaknya. " Jeng ... jeng ... jeng ...
.
.
.
.
__ADS_1
π Bersambung ... π