Lola And Loly

Lola And Loly
Saling Menutupi


__ADS_3

Sisa usia kehamilan Alessya terasa semakin berat saja. Perut yang membuncit lebih besar dari yang biasa. Belum kaki yang membengkak karena menahan beban yang begitu beratnya. Kondisi kesehatannya sedikit melemah.


Menghabiskan hari-harinya dengan berbaring di atas ranjang. Belum jarum infus yang menancap di atas pergelangan tangan.


Menginjak usia delapan dan sembilan bulan, Alessya lebih sering ditemani Ny. Alice yang sedikit banyak mengerti tentang kehamilan.


Dan Arselli tetap sibuk dengan pekerjaannya. Walau begitu, dia tetap rutin memantau kondisi kesehatan istrinya.


Ada kegelisahan yang kian tergambar di raut wajahnya. Tergambar dengan begitu jelas betapa Alessya kini begitu menderita.


Arselli yang sedari awal, begitu cemas dengan kehamilan istrinya kembali merasakan kecemasan seperti semula. Seperti saat awal kehamilannya dulu. Dimana dokter memvonis istrinya bahwa kematian menjadi resiko apabila terus memaksakan kehamilan itu.


Malam itu ...


" Russel ... " Memanggil nama suaminya yang hampir terpejam matanya saat itu.


" Hmm. " Berusaha menahan kantuk yang luar biasa. Dia tidak akan melewatkan moment kebersamaan bersama kekasih hatinya itu.


" Kenapa akhir-akhir ini kau terlihat begitu gelisah ? " Alessya membelai wajah suaminya yang kini mulai dipenuhi dengan bulu-bulu halus di sekitarnya. Akhir-akhir ini Arselli terlihat begitu lusuh dengan rona cemas terlihat jelas di wajahnya.


" Aku mencemaskanmu. " Jawab Arselli lirih.


" Kenapa ? " Alessya tersenyum menatap wajah Arselli yang tengah tiduran menghadap ke arahnya. Saling bertatap mata dan bertukar udara.


" Aku takut kehilanganmu. Bisakah kau berjanji padaku ? " Membelai pipi lembut istrinya.


" Apa ? " Alessya mengernyitkan dahinya.


" Berjuanglah untuk tetap hidup, Alessya. " Ujar Arselli penuh harap pada istrinya itu.


Mendekatkan wajahnya, ia mengecup dan menyesap bibir mungil istrinya.


" Jangan pernah meninggalkanku. Kau harus berjanji untuk itu. " Kecupnya lagi, kali ini lebih dalam, lebih mesra dan lebih lama.


" Bagaimana jika- ... " Alessya menelan ludahnya.


" Jika- aku mati saat itu ? " Dengan penuh keberanian dia menanyakan hal yang sudah lama bercokol di dalam dada. Bagaimanapun juga, cepat atau lambat hal itu pasti akan terjadi. Entah kapan dan dimana, kematian itu pasti ada.

__ADS_1


Hanya secercah bocoran saja, jika dokter memvonis kematian kita dalam jangka waktu yang diperkirakan olehnya yang sama-sama manusia belaka. Selebihnya itu adalah takdir dan pengaturan dari Tuhan YME.


Bocoran yang membuat kita lebih bersiap dengan apa yang akan kita bawa saat kembali ke pangkuan-Nya. Bocoran yang membuat keluarga yang ditinggalkan menjadi lebih bersiap melepas kepergiannya. Tapi, lagi dan lagi Tuhan yang berkehendak dan menentukan semuanya.


Arselli ... mendengar pertanyaan itu dari bibir wanita yang sangat dia cinta. Terasa sesak di dadanya, berhenti detak jantungnya, dan membeku aliran darahnya.


" Bolehkah aku ikut ? "


Suaranya sungguh terdengar begitu putus asa. Bibirnya bergetar saat mengucapkannya. Ini adalah mimpi terburuk dalam hidupnya. Tak pernah terbayangkan sedikitpun, wanita yang selalu mengisi detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam, dan hari demi hari-nya akan pergi begitu saja dari hidupnya. Meninggalkannya seorang diri di dunia yang mendadak terasa kosong ini.


Dan kegelisahan itu berawal dari ...


" Itu jenis kelaminnya ... " Ucap dr. Mark saat itu. Alessya begitu senang mendengarnya, begitu juga Arselli apalagi. Jika saat itu ditanya siapa yang paling bahagia ? Maka dialah orangnya ...


" Russel ... mereka anak kita ... " Sembari meneteskan air mata bahagia menunjuk layar monitor USG.


Dr. Mark menatap takjub pemandangan itu. Seorang ibu yang menangis bahagia menyambut kelahiran bayi yang sembilan bulan ini dikandungnya. Berusaha memberikan kehidupan tiga nyawa sekaligus yang bisa saja mengorbankan satu-satunya nyawa yang dimilikinya.


" Nyonya, tunggulah di sini. Dan Tuan, Anda harus menebus vitamin ini. "


dr. Mark berjalan meninggalkan ruangan itu. Langsung diikuti oleh Arselli yang sudah diberi tanda tadi untuk berbicara berdua saja. Tanpa sepengetahuan Alessya tentunya.


Pengalaman dengan dr. Mark dahulu, slalu ada kabar mengejutkan nan menyakitkan. Apabila ada pertemuan secara rahasia, dapat dipastikan tema pembicaraan pun rahasia pula.


" Kondisi istri Anda benar-benar memburuk. Anda harus bersiap dengan segala kemungkinan. " Ucap dr. Mark datar. Ada rasa bersalah tersirat dan tersurat di wajah dan suaranya.


" Apa benar-benar tidak ada harapan ? " Penuh harap Arselli saat itu. Berharap keajaiban yang pernah mereka bicarakan dulu memang ada, walaupun hanya satu persen saja.


" Walaupun tipis, berdo'alah ! Kehidupan dan kematian adalah mutlak milik Tuhan. Seburuk apapun kondisi istri Anda, jika takdirnya hidup maka dia akan hidup. Namun, sebaik apapun kondisi istri Anda, jika takdir hidupnya berakhir maka itu tidak bisa dicegah lagi. " Ucap dokter itu terdengar bijak dan berusaha menasehati. Sekedar memberikan harapan walaupun terdengar semu belaka.


Bugh !!


" Lalu mengapa kau mengatakan itu padaku ?? " Teriak Arselli saat itu, sembari memukul tembok yang ada di dekatnya. Melihat reaksi itu, dr. Mark kaget, namun tetap berusaha untuk tenang dan melanjutkan pembicaraannya.


" Ada tiga nyawa di perut istri Anda. Dan itu harus dijaga semaksimal mungkin. Jangan sampai pengorbanan istri Anda sia-sia. " dr. Mark berusaha mengingatkan Arselli. Bagaimanapun benar adanya semua itu. Pengorbanan Alessya begitu besar, dan jangan sampai sia-sia hanya karena emosi semata.


Sampai saat itu, Alessya masih belum mengetahui kondisinya. Dia hanya mengetahui kondisinya baik-baik saja dari hasil pemeriksaan dr. Edward beberapa hari lalu.

__ADS_1


***


" Bolehkah aku ikut ? " Tanya Arselli terdengar begitu putus asa.


Alessya tertawa getir mendengarnya. Dua bulan ini dia berpura-pura kuat dan tangguh. Dia bukan tidak tahu vonis dokter itu. Dia hanya berpura-pura tidak tahu selama ini.


" Kau bercanda sayang ... " Sembari meneteskan air matanya. Menghapus air mata itu dengan jarinya, Alessya berusaha tersenyum.


" Anak-anak pasti sangat membutuhkanmu. " Ucapnya tegar.


" Lagipula ... aku bisa bosan jika kau terus mengikutiku. " Suaranya bahkan terdengar serak saat itu.


Arselli bingung melihatnya. Melihat Alessya tiba-tiba saja menangis seperti itu membuatnya bertanya-tanya.


" Hey ... kenapa kau menangis, wahai Alessya ? " Bak pujangga cinta yang melantunkan puisi dengan begitu indahnya. Arselli menggoda istrinya saat itu.


Alessya tertawa mendengarnya. Saat ini adalah waktu yang tepat untuk jujur kepada suaminya.


" Maafkan aku ... " Ucap Alessya saat itu juga, tak ingin menunda-nunda.


" Untuk apa kau meminta maaf ? " Mengelus rambut Alessya, Arselli mulai merasa aneh dengan ucapan istrinya.


" Sebenarnya aku sudah tahu, Russel. " Jawab Alessya saat itu.


" Apa yang kau ketahui ? " Arselli berdebar saat itu. Suasana dramatis tadi membawanya ke dalam pembicaraan serius ini. Dan dia mengerti arah pembicaraan ini.


" Mengenai kondisiku. " Jawab Alessya terisak.


Seketika Arselli seperti membeku. Pucat, terdiam seribu bahasa, tak tahu harus berkata apa.


" Darimana kau mengetahuinya ? " Bibir Arselli bergetar. Dua bulan ini dia berusaha menjaga rahasia ini dengan sebaik mungkin, agar Alessya bisa tenang menyambut kelahiran bayi mereka tanpa beban fikiran yang dipikulnya.


Tapi, ternyata semua hanya sia-sia belaka. Alessya ternyata sudah mengetahuinya dan dengan pintarnya berpura-pura menutupinya.


.


.

__ADS_1


.


πŸ’ž Bersambung ... πŸ’ž


__ADS_2