Lola And Loly

Lola And Loly
Hukuman


__ADS_3

MUTLAK !!!


.


.


.


Sesuai titah sang ratu, malam ini Arselli harus tidur di atas sofa. Di sofa sempit di sudut kamarnya. Menikmati dinginnya malam tanpa pelukan dan sebuah kehangatan cinta.


" Adakah hukuman yang lain ? "


Arselli bertanya pada istrinya. Sembari berdiri di samping ranjang, tersenyum manis dan memeluk bantalnya dengan begitu erat. Seolah bantal itu adalah istrinya, Alessya. Menggerak-gerakkan tubuhnya ke samping kiri dan kanan.


Saat itu bayangkanlah dia seperti seorang anak lelaki yang sedang merajuk manja karena ingin tidur dengan ibunya atau ingin tidur dengan baby sitter seksinya.


" Tidak !! "


Alessya yang sedang duduk di atas ranjang menggelengkan kepalanya. Lalu berbaring setelah menyampirkan selimut menutupi setengah tubuhnya. Tidur menyamping membelakangi tempat dimana Arselli berdiri.


Arselli menghela nafas perlahan, menghempas punggungnya pada sandaran sofa. Sofa empuk dengan ukuran yang cukup panjang namun tidak cukup untuk menampung tubuhnya yang tinggi itu. Meratapi nasibnya malam ini yang apes karena harus tidur terpisah dari sang istri. Mengeratkan pelukan pada bantal empuknya yang dia bayangkan seempuk tubuh Alessya.


Musnah sudah rencana kencan bergenre romantis malam ini. Yang dia rencanakan dari siang tadi dengan diawali kegiatan menonton di bioskop berdua dan ditutup dengan adegan romantis di atas ranjangnya.


Yang ada, dia harus menghabiskan malam ini dengan menjalani hukuman dari istri cantiknya untuk melewati malam sepi ini dengan tidur di sofa sempit seorang diri.


" Sa-yang ... "


Panggil Arselli lagi. Masih berusaha merayu Alessya, meredam kemarahannya karena insiden di meja makan saat makan siang tadi. Dimana Arselli tidak sengaja mengejek makanan sang istri yang sungguh tidak dia ketahui bahwa masakan itu adalah masakan dari istrinya sendiri, Alessya sang titisan Singa Betina.


" Apa ?!!! "


Bangun lagi, menolehkan wajah dan setengah badannya ke arah suaminya yang kini telah duduk di atas sofa. Dengan mimik wajah ketus tentunya.


" Bagaimana kalau kita bermain-main ? Aku rela kau berada di atasku, menindih tubuhku ... "


Rayunya terdengar begitu frustasi, bingung harus dengan cara apa lagi untuk melunakkan hati sang istri. Saat itu, dia bahkan tersenyum sembari meringis dan langsung menutup wajahnya dengan kelima jarinya yang direnggangkan, merasa malu dengan ucapannya sendiri yang terdengar putus asa dan memalukan.


" Jadi, selama ini kau anggap itu sebuah hukuman ?!! "


Pekik Alessya dengan wajah yang memerah. Mengingat dirinya dulu sering mengambil posisi itu saat bercinta, karena dulu dirinya yang sering mengajak terlebih dahulu suaminya untuk berehem-ehem ria. Demi memberi cucu pada sang mertua. Jadi, selama ini kau menganggap semua itu adalah hukuman ?!!


OPS dia salah. Ya sudah, terlanjur basah ... Arselli bergegas berjalan menuju istrinya berada. Naik ke ranjang dan menaiki istrinya kemudian, menindih perutnya dengan kepalanya sembari memeluknya. Membuat Alessya terkesima dibuatnya.


" Ayolah sayang .... ya ? "


Sembari tangannya bergerak lincah berusaha menyingkap dress tidur yang tengah dipakai istrinya.

__ADS_1


" Ti-dak !!! "


Jawab Alessya tegas. Menahan pergerakan tangan Arselli di tubuhnya. Membuat Arselli merenggut manja memeluk erat perut langsing istrinya itu.


" Ayolah sayang ... "


" Ti-dak !!! "


" Ayolah ... "


" Tidak !! "


" Sudah aku bilang, tidak --- tidak --- !!! "


Perdebatan itu terus berlanjut, hingga pada akhirnya, merekapun tertidur pulas kemudian. Dengan masih membawa pertengkaran kecil dalam mimpi indah mereka.


***


Tengah malam buta ...


Arselli terbangun dari tidurnya. Menggerakkan leher dan tangannya untuk menghilangkan pegal di tubuhnya. Menoleh ke arah samping tempat tidurnya, namun tak mendapati Alessya di sana.


Dimana dia ?


Berjalan menyusuri tangga setelah beberapa saat lalu tak mendapati Alessya di kamarnya, toilet dan ruangan lain di lantai dua. Arselli kaget mendapati ruangan dapur yang tengah menyala, mendapati Alessya tengah berdiri di sana, entah sedang apa.


Alessya yang saat itu dalam posisi membelakanginya langsung terlonjak kaget sembari meremas dadanya. Mendapati seorang pria yang tiba-tiba berdiri tidak jauh di belakang dirinya berada, tengah menatapnya tajam dengan pendar tanya jelas terlihat di sana. Untunglah dia tampan ... kalau tidak, dia akan terlihat menyeramkan, di saat dia tiba-tiba ada di belakangku dengan aura dingin dan kelam seperti itu.


" Kau membuatku kaget, Russel ! "


Jawab Alessya setelah tadi menoleh berulang kali ke arah suaminya dengan tatapan tajam dan meneliksik, seolah memastikan bahwa bukan hantu yang mendatanginya. Lihat ekspressi wajahnya, begitu ketakutan.


" Memangnya kenapa, apa kau berfikir aku hantu ? "


Tanya Arselli kemudian, tertawa pelan sedikit meringis memecah keheningan malam, memikirkan dirinya yang tampan tapi dianggap hantu oleh istrinya sendiri. Menebak isi fikiran Alessya secara acak setelah melihat ekspresinya tadi. Dan sudah dipastikan jawabannya bak hantu, tidak bisa dilihat maupun didengar. Karena Alessya hanya diam saja tak mengomentari.


Arselli lalu berjalan menghampiri Alessya yang dia lihat tengah berdiri di depan kompor.


" Kau sedang memasak ? malam-malam begini ? "


Mendengar pertanyaan itu, Alessya hanya diam saja, terlihat malas untuk menjawabnya. Matanya sekilas melirik ke arah suaminya, berputar, kemudian bergidik kecil setelahnya. Hanya terdengar decakan kecil dari bibirnya itu. Seolah berkata Sudah tahu, masih nanya !!


" Apa kau kelaparan Alessya ? " Ada nada khawatir di sana.


" Memangnya tidak ada makanan di lemari pendingin ? Bukankah kau bisa memanggil Robin untuk memasakkan sesuatu untukmu ... " Lanjutnya lagi lebih menunjukkan kekhawatirannya dengan bentuk perhatian tersebut.


Arselli masih berdiri didekat Alessya yang sedang mengaduk mie instant dengan sayuran berwarna hijau yang sedang dimasaknya.

__ADS_1


" Walaupun aku tidak pandai memasak, aku masih bisa memasak mie ini. Apa kau begitu meragukan kemampuanku ? " Ucapnya kemudian setelah menghela nafas beberapa kali, terdengar begitu getir dan menyedihkan, namun terasa lucu bersamaan. Mungkin Alessya hanya pandai memasak mie sama masak Aer AZZA ... he ...


Arselli meringis kecil. Menyadari ada sedikit kesalahan pada kalimatnya tadi.


" Bukan seperti itu, Alessya. Maksudku ... kau adalah nyonya di rumah ini, jika kau lapar kau bisa memanggil koki untuk memasakkan sesuatu untukmu. Tidak ada hubungannya dengan dirimu yang pandai atau tidak pandai memasak. Seorang Nyonya walaupun pandai memasak boleh memerintah koki didapurnya untuk melakukan pekerjaan apapun itu. Begitu pula diriku, sering menyuruh seseorang melakukan sesuatu yang sebenarnya bisa untuk aku lakukan sendiri. Kita hanya berbagi rezeki. Kasihan Robin, dia bisa cemas karena takut akan dipecat jika kau mengambil alih pekerjaannya. "


Arselli mencoba memberi penjelasan, sedikit memberi pengertian pada istrinya yang terlihat menggemaskan malam ini. Apalagi setelah melihat tatapan tajam dari mata indahnya. Tidak ingin kesalahpahaman terus berlanjut.


" Kau begitu khawatir ya, aku akan mengambil alih dapur untuk seumur hidupmu ?Sepertinya kau benar-benar ketakutan setelah membayangkan setiap hari akan memakan masakanku yang tidak layak untuk dimakan bahkan bisa saja menyebabkan keracunan. " Jawabnya terdengar begitu sarkastis sembari tersenyum sinis. Ternyata dendamnya masih berkepanjangan.


Arselli terdiam menyadari Alessya masih marah dengan kelakuannya kemarin siang. memutuskan untuk tidak melanjutkan perbincangan tadi yang hanya akan semakin memancing perdebatan dan pertengkaran.


" Kau memasak mie ? Darimana kau mendapatkan itu ? " Percayalah kali ini obrolan Arselli hanya sekedar berbasa-basi. Namun sedikit meluncur juga akibat rasa penasaran di benaknya. Setahu dia, mie seperti itu tidak pernah tersedia di dapurnya. Karena sangat tidak bagus untuk kesehatan. Dia berfikir koki bisa memasakkan mie sejenis yang lebih enak dan menyehatkan. Dengan bumbu alami di dalamnya, bukan bumbu instant yang sedikit membahayakan jika terlalu banyak dan sering dikonsumsi.


" Kenapa ? Kau mau bilang mie seperti ini tidak bagus untuk kesehatan ? " Jawabnya sinis lagi. Ha ... Alessya sepertinya bukan sedang marah melainkan sensitif saja. Apakah dia sedang M ?


Alessya berjalan perlahan berlalu pergi meninggalkan Arselli yang tengah menggaruk-garuk kepalanya itu. Entah karena gatal ada ketombe mungkin ? Atau karena bingung ?


Tidak lupa membawa semangkuk mie dalam genggaman tangannya hasil pertempurannya di depan kompor tadi.


Sebelum keluar dari pintu dapur, dia singgah di depan lemari pendingin dan mengambil satu wadah berisi beberapa buah jeruk segar berwarna kuning keorangean dengan sebelah tangannya yang masih kosong sembari memeluknya di depan perutnya. Menutup pintu lemari pendingin itu dengan kaki, dia berlalu pergi begitu saja meninggalkan Arselli sendiri di sana.


.


.


.


Flash Back On


Malam itu Alessya mendadak ingin makan mie pedas dengan taburan cabai di atasnya. Bukan mie buatan koki, melainkan mie instant warungan biasa dan murah harganya, namun terasa begitu menyegarkan dan menggugah seleranya. Rasa ingin itu begitu menggerogoti fikirannya. Ada sesak kala membayangkan hanya sekedar mie saja, tapi tidak bisa dia kabulkan membuatnya merasa hampa di dalam dada.


Untunglah sopir pribadi Arselli, Patrick masih belum tidur dan dia bersedia membantu membelikannya di toko yang menjual berbagai makanan serupa yang dia inginkan.


Yang pasti, mie itu adalah sahabat sejatinya sejak dulu, saat dia masih tinggal di kontrakan. Sejak dia masih menjadi seorang rakyat jelata biasa.😍😍😍


Flash Back Off


.


.


.


πŸ’ž Bersambung ... πŸ’ž


Jangan lupa like, rate dan koment ya ...

__ADS_1


Rate ⭐⭐⭐⭐⭐ ya .... 😍😍


__ADS_2