Lola And Loly

Lola And Loly
Rindu


__ADS_3

.


.


.


Dylan benar, rindu itu berat kau tidak akan kuat ..


.


.


Beberapa hari kemudian ...


Arselli terduduk kaku tak percaya mendengar laporan penting dari asisten kepercayaannya, asisten Henry.


Dia yang saat itu tengah duduk di ruang kerja di villanya, duduk bersandar di salah satu sofa yang ada di sana. Wajahnya begitu kusut. Mata panda menghiasi matanya. Bulu-bulu janggut mulai menghiasi wajahnya. Rambutnya acak-acakan.


Tubuhnya sedikit kurus karena pola makannya tidak beraturan. Baunya sungguh tidak mengenakkan. Aroma asap rokok dan alkohol bercampur menjadi satu. Dia bahkan tidur di sofa yang dia duduki itu. Jika malam tiba, dia tidak ingin ke kamarnya. Karena slalu mengingatkan akan Alessya istrinya. Dia benar-benar hampir seperti orang gila.


" Kau yakin ? Apa kau sudah memastikannya lagi ? " Sembari memijit pangkal hidungnya.


" Sudah, Tuan. Dokter yang memeriksa Nyonya muda saat sakit satu minggu lalu telah memberikan hasil laboratoriumnya. Dia meminta maaf karena terlambat memberikannya, mengingat adanya tugas urgent dari rumah sakit yang mengharuskan dia untuk pergi ke luar negeri. "


Andai kabar ini datang lebih cepat. Mungkin, Alessya masih di sini, tidak bertengkar dengannya. Arselli pun akan cenderung mengalah dan menahan amarahnya terhadap Alessya istrinya.


Arselli tersenyum mendengarnya. Air matanya berbinar di pelupuk matanya. Percayalah jika saat itu dia mengedipkan matanya, air matanya akan tumpah, mengalir indah, seindah hatinya hari ini. Secerah senyuman yang menghiasi bibir tipisnya.


" Coba kau hubungi dokter Edward ? Konfirmasikan hal ini padanya ? " Perintah Arselli pada asistennya. Mengingat hasil penyelidikan semula yang mengatakan bahwa kondisi rahim Alessya tidak memungkinkan untuk memiliki anak.


Dimana dirimu, Alessya ...


Aku merindukanmu ...


" Baik, Tuan. "

__ADS_1


" Bagaimana pencarian istriku, apa kau sudah mendapatkan petunjuk ? " Sembari masih menatap hasil lab yang sedari tadi dalam genggamannya.


" Kami ... masih mencarinya, Tuan. " Ada rasa bersalah dalam nada bicaranya.


***


Alessya menerima tawaran Hana untuk menjadi seorang model. Setelah cukup lama berfikir hampir beberapa hari lamanya.


" Aku fikir aku harus mencobanya. " Ujar Alessya pada Hana dan Jemy saat mereka tengah mengobrol bersama. Mereka baru saja selesai makan malam bersama anak-anak yang tinggal di yayasan milik Hana itu.


Hana menatap Alessya dengan serius.


" Kau yakin, kau tidak terpaksa melakukannya ? " Dia tidak ingin Alessya merasa terpaksa melakukannya. Menuruti keinginannya karena merasa berhutang budi padanya.


" Tentu saja tidak, Hana. Aku sangat membutuhkan uang saat ini. Keberuntungan bagiku jika dengan melakukan pekerjaan ini, aku juga bisa membantu anak-anak ini. " Alessya memeluk seorang anak perempuan


yang baru saja datang berjalan ke arahnya.


Beberapa hari tinggal di yayasan itu, Alessya mulai berbaur dengan anak-anak yang tinggal di sana. Menghangatkan hatinya yang kini tengah terluka.


" Izinkan aku membantu mereka. " Ucap Alessya dengan begitu tulus. Dengan berbuat baik, dia merasa berarti hidup di dunia ini. Berharga bagi sekitarnya, dan berjasa bagi yang membutuhkannya. Dengan ketulusan hati, dan niat yang baik dan suci. Semua dilakukan dengan keikhalasan hati semata. Tanpa ingin disanjung ataupun dipuja. Demi kebahagian hati dan ketenangangan jiwa. Disaat dia kini merasa kosong dan hampa karena jauh dari yang tercinta , keluarga dan sahabatnya.


" Besok kau bisa ikut denganku. Aku pastikan kau akan lulus, Alessya. " Ucap Jemy pada Alessya.


Alessya meringis. Membayangkan dirinya menjadi seorang model. Sungguh di luar ekspektasinya sama sekali.


" Kau yakin menawarkan aku pekerjaan itu ? Padahal jika kau menawarkan pekerjaan sebagai pelayan kafe pun aku tidak akan keberatan. Aku sangat berpengalaman dalam hal itu. " Jawab Alessya dengan jujur.


Ada nada getir di sana. Baru saja kemarin dia bahagia karena dinikahi pria kaya raya. Dan hari ini dia jatuh miskin seketika, tatkala suaminya selingkuh darinya. Lagi dan lagi fikiran buruknya bekerja. Mendominasi hati dan fikirannya. Padahal nan jauh disana, Arselli suaminya tengah cemas setengah mati mencarinya.


***


" Henry ! " Panggil Arselli setelah terdiam beberapa lama.


" Ya, Tuan. " Henry yang saat itu belum beranjak pergi, mendekati atasannya.

__ADS_1


" Kerahkan semua anak buahmu. Kita harus segera menemukannya. " Titah Arselli.


Mengetahui istrinya tengah hamil, kecemasan yang begitu besar semakin melandanya. Saat ini istrinya mungkin begitu lemah dan sangat membutuhkannya.


Mengingat sebelum bertengkar tempo hari, Alessya mengeluh pusing padanya. Alessya bahkan terlihat lemah dan pucat saat itu. Rasa bersalah semakin dirasakannya. Semua masalah ini berawal dari dirinya yang tidak bisa menahan amarah dan emosi yang menguasainya.


" Baik, Tuan. "


" Aku tidak ingin terjadi sesuatu pada istriku. Maupun pada calon anakku nanti. " Ucap Arselli lirih.


Sedikit tersenyum membayangkan istrinya kini. Dia sudah seperti orang gila karena berhalusinasi tentang istrinya, Alessya. Membayangkan Alessya kini tengah mengandung anaknya, buah hatinya, buah cinta mereka. Hasil perjuangan mereka setiap malam yang penuh keringat dan gelora.


" Aku begitu bodoh. Pantas beberapa hari itu dia slalu bertingkah aneh. Mendadak ingin memasak sendiri, memasak mie malam-malam, slalu marah-marah dan banyak lagi hal aneh yang dilakukannya. Ternyata ... dia sedang hamil, anakku ... "


Arselli meracau. Rasa senang, sedih, cemas, takut datang bersamaan. Hatinya kacau dan tidak menentu. Merindukan kekasih hatinya. Ingin menyentuh dan membelainya. Ingin mengecup dan mengelus perutnya, dimana buah cintanya kini tengah bersemayam di sana.


Kembalilah sayangku , aku mohon , aku merindukanmu ...


.


.


.


πŸ’ž* Bersambung ... πŸ’ž


.


.


.


Jangan lupa like, rate dan koment ya ..


oh iya maaf ya kemarin Up-nya lama ...

__ADS_1


Tumben2an proses review lama, biasanya hanya beberapa menit saja.


__ADS_2