
Cup
Tiba- tiba sebuah ciuman melayang tepat di pipi kiri Alessya. Sebuah ciuman tanda perpisahan dari seseorang teman yang memendam perasaannya di hati. Tidak masalah jika itu dari Arselli, tapi dari bibir Romeo ...???
Alessya terkesiap, terlambat sudah untuk menepis gerakan yang terasa cepat itu. Bingung menghujam tepat ke ulu hati, bukan nikmat dan senang yang terasa namun ketakutan yang terasa luar biasa.
Terlambat untuk menepis dan menolak samasekali, bibir kenyal itu terlanjur membasahi pipi. Marah pun terasa takkan begitu berarti apalagi dengan sigapnya pria itu melangkah pergi setelah berhasil melayangkan ciumannya tadi.
Alessya merenggut.
Bagaimana ini , bagaimana jika Russel mengetahui dan melihatnya . Membuatku seperti pengkhianat saja. Seorang pengkhianat sejati.
Haruskah aku jujur padanya ?
Wajahnya begitu pucat kala itu. Sembari berjalan menyusuri trotoar tempatnya kuliah menimba ilmu. Dengan fikiran yang berkecamuk dipenuhi adegan tadi. Sungguh dia benar-benar menyesali keputusannya tadi, untuk datang menemui Romeo secara sembunyi - sembunyi. Namun apa daya semuanya sudah terlanjur terjadi.
***
Setelah selesai mengikuti mata kuliahnya Alessya bergegas pergi dari tempat itu. Bermaksud untuk menemui suaminya di kantornya menghilangkan rasa gundah akibat rasa bersalah yang menggerogoti jiwanya.
' Serasa berkhianat ' kini semakin menggema di dalam hati. Cintanya hanya untuk Arselli sang suami namun dia seperti dipaksa terseret dalam situasi yang tidak mengenakkan seperti tadi.
Bukan tidak mungkin suaminya mengirimkan mata-mata untuk menguntit dirinya. Mengingat betapa kayanya suaminya dan betapa besar kekuasaan yang dimilikinya. Bisa saja suaminya kini tengah menatap foto ciuman tadi. Hah... semakin paniklah Alessya kini.
Tiba - tiba ponselnya berbunyi .
" Sayyang ... ! " Jawab Alessya terbata ketika membaca panggilan " Russel " di layar ponselnya.
" Kau di mana ? " Arselli bertanya dengan nada begitu dingin dan ketus. Semakin membuat Alessya gusar saja.
" Aku baru keluar dari kampus. Tadinya aku ingin menemuimu. " Jawabnya lemas. Dia bertekad jujur saja, mungkin nanti ...
" Tunggulah, aku akan mengirim seseorang untuk menjemputmu. Jangan kemana-mana. Cukup tunggu saja di sana ... " Ucapnya terdengar begitu posesive.
__ADS_1
" Seharusnya kau menerima tawaranku tadi untuk pergi bersama seorang supir yang setidaknya akan menjagamu nanti ... " Dia terus saja berkata panjang lebar, kemarahan telah sampai di ubun-ubunnya.
" Baiklah ... aku akan menunggu di sini. Bye sayang ... " Alessya berusaha mengakhiri panggilan itu.
Hati Alessya semakin gelisah tidak karuan saja.
Sepertinya tangan suaminya sedang mengepal sembari memandangi foto itu. Fikirannya berkelana liar kemana-mana.
Tanpa sengaja sudut matanya menangkap paper bag kecil yang sedari tadi dia jinjing. Tidak mungkin juga dia membuangnya kan ? Sebuah hadiah dari seorang teman.
Teman seperti apa ? Bayangan Arselli terus saja muncul di benaknya dengan mimik wajah terornya.
***
Asisten Henry mengantar Alessya masuk ke ruangan Presdir Arselli. Sesuai dugaan yang selama ini diam - diam dia fikirkan. Tidak ada seorangpun yang tahu bahwa dirinya adalah istri dari CEO perusahaan ini.
" Russel ... " Dia masih belum berani jika harus memanggil sayang - sayangan di depan orang lain termasuk asisten Henry. Lagipula dia hanya akan menggunakan kata sayang jika sedang bercanda,merayu, merajuk atau saat merasa sedang tidak nyaman. Namun pengecualian untuk kali ini , walaupun saat ini waktu yang tepat untuk merajuk namun situasi dan tempatnya sungguh tidak mendukung samasekali.
" Henry .. tolong ambilkan tissue basah pada Olivia. " Olivia adalah sekretaris yang duduk di luar di depan pintu ruangannya.
Asisten Henry mengangguk lalu beranjak pergi.Selang beberapa lama datang kembali membawa satu pack tissue basah di tangannya. Lalu memberikannya pada Arselli yang langsung diterima dengan kasar oleh tangannya itu.
Alessya terkesiap melihatnya, perasaannya sungguh - sungguh tidak enak sama sekali.
Dengan kasarnya Arselli mengusap pipi kiri Alessya dengan tissue basah itu. Alessya hanya terdiam menundukkan kepalanya, dia sudah terlanjur ketahuan saat ini. Tanpa belum sempat menjelaskan sedikitpun . Walaupun Arselli belum berkata apa-apa , namun tindakannya ini sudah menjadi bukti pasti bahwa Arselli telah mengetahui bahkan mungkin melihat kejadian tadi.
" Dimana lagi dia menciummu ? " Tanyanya sembari melempar tissue bekas tadi ke tempat sampah di dekatnya.
" Hanya di pipi saja ... " Jawab Alessya dengan begitu lirih. Kepalanya menunduk semakin dalam kala itu. Pucat pasi sudah pasti.
" Hanynya katamu ? " Tanya Arselli dengan begitu pedasnya sembari menekankan kata hanya dalam kalimatnya itu.Sepertinya dia baru saja memasukkan satu kilogram cabe rawit pedas ke dalam mulutnya tadi saking frustasi pipinya istrinya dicium pria lain.
" Aku tidak tahu dia akan menciumku. " Alessya berusaha membela diri, memang benarkan yang dia ucapkan dia tidak berbohong samasekali. Dia tidak tahu Romeo akan menciumnya tadi.
__ADS_1
" Kau fikir seorang pria akan minta izin bertemu seseorang dengan alasan untuk menciumnya. " Nada bicaranya benar-bena mode pedas level akut.
" Russel... yang penting kan aku tidak membalasnya ... " Alessya membela diri.
" Tapi diam-diam menikmatinya bukan ? " Menyindir dengan begitu sinisnya membuat Alessya ketar ketir seketika. Karena dia sungguh tidak menikmatinya. Hanya rasa bersalah yang semakin bercokol di dadanya.
" Lain kali ... " Ucapan Arselli terputus. Tiba-tiba Alessya membungkam bibirnya dengan pagutan kencangnya. Tidak memberi kesempatan pria itu untuk menghindari dan menolaknya . Ada asisten Henry di sana yang langsung membalikkan badannya.
Kali ini Alessya dengan begitu tidak tahu malunya melakukannya.
Selang berapa detik Alessya melepas pagutan itu. Namun tidak bagi Arselli, itu takkan cukup. Segera meraih tubuh istrinya dalam pangkuannya memagut kembali bibir tipis nan mungil itu, menyecap rasa manis buah Cherry dari lipbalm yang menempel di bibir merah merekah itu. Meremas liar punggung Alessya yang terlihat lebih berisi itu.
Ciuman yang cukup lama dan begitu memabukkan jiwa. Apalagi setelah ciuman itu berpindah ke telinga, leher dan ...
Asisten Henry segera pergi setelah merasakan aroma panas yang semakin lama semakin menyiksa hati para penonton kesepian. Sungguh dia ingin segera pulang menemui sang istri ...
Menutup pintu dengan pelan. Dia tersenyum pada Olivia.
" Mereka sedang membicarakan hal penting . " Ujarnya yang hanya dibalas senyum kecut Olivia karena dia samasekali tidak bertanya.
π
π
π
Jangan lupa like , rate dan vote ...
Koment ... koment ... koment ...
Mulai episode mendatang siapkan hati untuk sesuatu yang menyesakkan dan sedikit menguras air mata ....
Love you all ππ
__ADS_1