Lola And Loly

Lola And Loly
Sepenggal Kisah Duka


__ADS_3

.


.


.


" Kau belanja sebanyak ini, Alessya ? Baju yang kau pilih bahkan terlalu besar untuk Baby Zyo. Ini akan cukup beberapa tahun lagi, mungkin tiga tahun lagi. " Ucap Diana berkomentar kala melihat Alessya hampir memborong baju di butik pakaian anak yang sekarang ini mereka datangi. Bermaksud memberi hadiah untuk putra pertama Diana hasil pernikahannya dengan Reynald yang baru menginjak usia satu tahun itu.


Sedikit aneh dirasakannya. Kau ini memangnya mau kemana ? Seolah kau akan pergi selamanya saja.


" Apa sih yang tidak untuk keponakanku satu-satunya . " Jawabnya santai sembari masih memilih lagi baju yang lainnya. Sesekali matanya melirik pada Baby Zyo yang ada di gendongan ibunya. Sungguh lucu dan menggemaskan.


" Ciluuuk .... Ba .... !!! " Tangannya memperagakan gerakan Ciluk Baa, bibirnya tersenyum lebar pada bayi berjenis kelamin laki-laki itu.


Baby Zyo tertawa lucu tatkala Alessya mengajaknya bercanda. Sembari mulutnya tidak henti tertawa renyah dan berbeo lucu.


" Ma ... ma ... ma ... " Ucapnya dari bibir mungil yang belum lancar berbicara itu.


" Dia sangat mirip Kak Reynald, Diana. " Ucapnya tanpa henti menatap Baby Zyo, hingga bola matanya terlihat berkaca-kaca. Bahkan genangan air mata seperti tak sengaja bergumul di pelupuk matanya.


" Ah ... kau jadi ingin menangis bukan ? Sudahlah Alessya, kalian bahkan baru menikah selama dua tahun. Kenapa kau begitu cemas ? Aku lihat kak Arselli juga terlihat santai-santai saja. " Diana berusaha menenangkan sahabat sekaligus saudara tirinya itu. Menepuk - nepuk punggungnya pelan sedikit tidak habis fikir dengan kecemasan yang dialami Alessya.


Keluar dari butik pakaian anak, mereka berjalan menuju toko khusus pakaian pria. Menjatuhkan pilihan pada kemeja berwarna biru muda yang sengaja dia beli untuk dihadiahkan kepada ayahnya.


" Kau serius membeli ini untuk ayah ? " Tanyanya merasa heran, karena tidak seperti biasanya.


" Tentu saja aku serius. Kemarin ... Russel memberiku uang bonus yang bisa aku gunakan untuk belanja sepuasnya. " Sedikit pamer pada Diana. Menunjukkan uang tunai dari dompetnya sembari melakukan transaksi pembayaran di kasir.


" Benarkah ? Ckckck ... suamimu kesepian di negeri orang. Dan kau di sini habis-habisan belanja menghabiskan uang hasil kerja kerasnya. " Diana berdecak penuh ketidak percayaan.


" Tapi ... baguslah ! Setidaknya alasan itu lebih baik. Tidak seperti yang aku fikirkan sedari tadi. " Ucapnya terlihat lega.


" Memangnya apa yang kau fikirkan tadi ? " Tanyanya penasaran.

__ADS_1


" Hahaha... tadinya aku mengira kau divonis penyakit mematikan dan kau melakukan semua ini untuk memberikan sebuah kenangan sebelum kau pergi selamanya dari dunia ini. " Sembari tertawa terbahak - bahak Diana berucap. Sekaligus merasa lega karena fikirannya tadi hanyalah khayalannya belaka.


Dan Alessya hanya menatap datar pemandangan yang kini ada di hadapannya. Sembari tersenyum kecut. Tidak menyangka Diana akan berfikiran sejauh itu mengenai dirinya.


Tapi bukankah kematian bisa datang menjemputmu kapan saja ... Tak mengenal siapa dirimu dan berapa usiamu. Tak mengenal kau sakit atau sehat saat itu ...


Sepertinya Alessya mendadak mengingat ibunya yang telah kembali ke pangkuan-Nya.


Berbuat baiklah sebelum kematian menjemputmu.


Berbuat baiklah sebelum sesuatu hal memaksamu untuk meninggalkan kehidupanmu.


Sungguh kita tidak akan pernah tahu, apa yang akan terjadi pada kita nanti.


Kita hanya harus bersiap untuk itu.


***


Kini mereka sedang duduk di dalam mobil di kursi penumpang belakang, dalam perjalanan menuju pemakaman keluarga. Sesuai permintaan terakhir ibunya jika beliau meninggal dia ingin disemayamkan berdekatan bersama orang tuanya yang berarti nenek dan kakek Alessya. Beruntunglah tempatnya berada diantara tempat tinggal Alessya saat ini dan tempat tinggal ibunya beserta keluarga lainnya. Sehingga akan memudahkan mereka untuk sekedar berkunjung berziarah.


" Kak Reynald bilang beberapa hari lalu kau baru saja dari sana ? " Mengetahui begitu seringnya Alessya mengunjungi makam ibundanya.


" Darimana dia tahu kemarin aku berkunjung ke sana ? " Tanya Alessya, mengingat merasa tidak bertemu dengan Reynald saat itu.


" Esoknya dia ke sana dan melihat ada bunga mawar putih, kau fikir siapa lagi yang akan membawa bunga itu ? " Menduga - duga karena siapa lagi yang berkunjung ke makam Ny. Rossie sembari membawa bunga mawar putih selain Reynald dan Alessya.


" Aku hanya merindukannya ... " Ucapnya lirih.


Setelah beberapa lama akhirnya mobil mereka tiba di area pemakaman.


" Sepertinya kau ingin sendiri. Aku menunggu di mobil bersama Baby Zyo. Ok ? " Diana mencoba mengerti , melihat Alessya yang menahan diri untuk tidak menangis karena ada dirinya. Dia memutuskan menunggu di mobil saja. Kebetulan dia juga khawatir jika harus meninggalkan Baby Zyo di mobil walaupun ada sopir dan baby sitternya.


Alessya pun berlalu pergi setelah anggukan tanda persetujuan diberikannya tadi. Berjalan sendiri ke sana dengan satu ikat bunga mawar putih di tangannya. Berusaha mengungkapkan kerinduan yang tiada kentara, hanya dengan air mata dan do'a.

__ADS_1


" Ibu, aku datang lagi ... " Berlutut di depan pusara itu dan menyimpan bunga yang dibawanya tadi. Dalam tangisan seguk sedannya dia berucap lirih. Airmata begitu deras mengalir membanjiri pipinya.


" Andai kau masih ada ... mungkin kepadamu aku bisa kembali dan berbagi rasa sesak ini. " Dengan suara serak dia mencurahkan isi hatinya.


Ingatannya berputar kembali ke masa enam bulan yang lalu ...


Alessya berlari di lorong rumah sakit diikuti Arselli di belakangnya. Dengan mode panik luar biasa. Dia bahkan hanya memakai pakaian rumahan saja malam itu. Melenggang pergi secepatnya dari rumahnya sesaat sebelum beranjak tidur setelah dia mendapat kabar buruk dari balik telfon yang tiba-tiba saja masuk ke ponselnya.


" Bagaimana ini bisa terjadi ? " Teriaknya bertanya pada keluarganya yang lain.


" Dia tiba-tiba saja jatuh Alessya ... padahal dia begitu sehat saat itu. " Ucap salah satu dari mereka. Kondisi ibu Alessya memang sangat sehat dan bugar, jarang sakit-sakitan. Jika saat ini mendadak masuk ke rumah sakit, tentulah itu sangat mengagetkan semuanya. Terutama Alessya yang merupakan putri semata wayangnya.


Beruntung sekali semenjak pesta kejutan resepsi pernikahan yang diberikan Arselli untuk Alessya, Nyonya Rossie akhirnya menuruti permintaan Alessya untuk tinggal bersamanya apalagi setelah mengetahui Alessya pindah dari apartemennya ke rumah yang lebih besar. Tidak ada alasan baginya menolak keinginan putrinya itu. Karena begitu banyak kamar kosong di lantai satu rumah mereka. Karena lantai dua adalah ruang pribadi khusus sepasang pengantin itu yang sedang dimabuk cinta saat membelinya.


Hampir enam bulan lamanya mereka tinggal serumah. Banyak kenangan yang sempat mereka ukir bersama. Bahkan Ny. Rossie paling tahu bagaimana usaha Alessya demi mendapatkan seorang anak. Merasakan kecemasan dan kekhawatirannya. Walaupun tidak sampai mengetahui apa alasan sebenarnya putrinya itu begitu ingin hamil.


Dan tepat saat Nyonya Rossie tiba-tiba jatuh dan dibawa ke rumah sakit, saat itu beliau sedang berkunjung ke saudaranya untuk satu minggu lamanya. Dan baru saja dua hari menginap, Ny. Rossie tiba-tiba dikabarkan seperti itu.


Dengan kekuasaan yang dimiliki Arselli, mudah baginya untuk meminta fasilitas dan dokter terbaik demi menangani kesehatan ibu mertuanya itu. Hanya saja Tuhan berkata lain ketika ...


" Mohon maaf , Nyonya Rossie mendapatkan serangan jantung tadi. Detak jantungnya telah berhenti. Nyawanya sudah tidak bisa ditolong lagi ... " Ucapnya sedikit terbata dan penuh keraguan. Walaupun ini bukan hal pertama bagi dokter itu untuk memberikan kabar duka tersebut. Tetap saja setiap kali dia melakukannya, detak jantungnya selalu sama berdebar-debar kencang.


.


.


.


πŸ’ž Bersambung ... *πŸ’ž


Jangan lupa tinggalkan jejak.


Like , rate dan vote* ...

__ADS_1


__ADS_2