Lola And Loly

Lola And Loly
Pekerjaan


__ADS_3

.


.


.


Sore itu ...


Sopir taksi yang akhirnya Alessya ketahui bernama Jemy mengajak Alessya ke sebuah rumah. Karena melihat kondisi Alessya yang lemah dan terlihat seperti sedang sakit.


Selain itu, Alessya juga terlihat seperti orang yang kebingungan ketika ditanya alamat yang ditujunya. Hanya air mata yang terus mengalir dari kedua bola mata indahnya. Terus berderai membasahi pipinya.


" Singgahlah ke tempat ini dulu, Nona. Ada istriku di sana. Kau bisa mengobrol dengannya, jika kau perlu seorang teman untuk berbagi duka yang tengah kau rasakan sekarang ini. "


Tawar Jemy pada Alessya. Tawaran yang terasa lebih sebagai perintah, mengingat kesal dan bingungnya Jemy sedari tadi karena penumpang taksinya hanya menangis saja ketika ditanya alamat yang ditujunya.


Kini, taksi sudah terparkir rapi di depan sebuah rumah yang cukup besar dengan model sederhana. Namun terlihat begitu hangat dan bercahaya. Karena banyak anak-anak yang sedang bermain di sana, di halaman rumahnya yang cukup luas, asri nan hijau.


" Ini rumahmu ? " Tanya Alessya dengan suara serak. Setelah memperhatikan dengan detail rumah itu, ada sebuah plank besar di sana. Bertuliskan sebuah nama Yayasan Panti Asuhan ' Hope '


" Ya, kami tinggal di sini. Istriku menghabiskan hampir semua waktunya di sini. Membantu mengelola panti asuhan ini. Kau mengobrollah dengan dia nanti. Mungkin dia bisa sedikit membantumu. " Ucap Jemy dengan begitu sopan dan lembut.


" Oh iya itu dia. Hana ! " Teriak Jemy pada istrinya ketika melihatnya tidak jauh darinya berada.


Mendengarnya, Hana datang menghampiri Jemy lalu berkenalan dengan Alessya. Dan mengobrol untuk beberapa lama di kursi yang tersedia di teras rumah itu.


" Tinggallah sementara di sini. " Tawar Hana pada Alessya. Sepertinya dia sudah tahu dan mengerti bahwa sekarang ini Alessya tengah bingung harus pergi ke mana.


" Terimakasih ... " Jawab Alessya merasa lega akhirnya.


Alessya masuk ke dalam bangunan itu. Setelah Hana mempersilahkannya masuk beberapa saat lalu. Mengajaknya ke sebuah kamar kecil untuk Alessya beristirahat sementara waktu. Sementara Hana duduk di luar ruangan itu.


Lama Alessya menyendiri dan merenung di dalam sana. Berusaha menata ulang kehidupannya yang hari ini mendadak porak poranda. Dan tentu saja memikirkan apa yang sangat dia butuhkan saat ini. Dan uang menjadi prioritas ingatannya. Demi bekal untuk dia hidup mandiri tanpa bantuan finansial dari suaminya yang dia fikir telah mengkhianatinya.


Keesokan harinya ...

__ADS_1


Alessya keluar dari kamarnya mencari keberadaan Hana.


" Hana ! " Panggil Alessya lirih, setelah Alessya berfikir cukup lama semalaman tadi.


Hana menolehkan kepalanya setelah Alessya memanggilnya. Kebetulan dia bangun sedari tadi, pagi sekali. Setelah mempersiapkan sarapan dan pakaian untuk suaminya Jemy. Yang bekerja sebagai fotographer sekaligus sopir taksi. Pekerjaan yang sangat bertolak belakang.


" Ada apa ? " Hana menghampiri dimana Alessya berdiri saat ini. Tepat di depan pintu kamar tempat Alessya tidur tadi malam.


" Apakah kau bisa membantu mencari pekerjaan untukku ? "


Dengan berat hati kalimat itu terucap. Mencari pekerjaan dalam situasi seperti ini, disaat dia tengah melarikan diri, tanpa identitas atau apapun yang dimilikinya. Sebagai penunjang dalam mencari pekerjaannya. Akan terasa sulit menurutnya, namun apa salahnya mencoba. Menjadi pelayan kafe seperti dulu sepertinya tidak ada salahnya, boleh juga.


Hana tersenyum hampir tertawa mendengarnya. Sepertinya merasa senang mendengarnya.


" Kenapa kau tertawa ? "


Alessya merasa aneh melihatnya. Mencoba mengingat kembali, merasa tidak ada hal lucu yang dilakukan dan diperbuatnya.


" Sepertinya Jemy tengah beruntung kali ini. " Ucapnya datar. Gayung bersambut kau Jemy ...


" Sebenarnya ... dia sedang mencari seorang model baru untuk agensi model tempatnya bekerja. Menjadi model iklan sebuah kosmetik brand ternama. Sepertinya kau akan cocok. Bagaimana ? Apakah kau bersedia ? "


Hana terlihat begitu senang menawarkannya. Mengingat wajah Alessya yang sangat cantik dan tubuhnya yang cukup seksi. Selain itu, Alessya juga sudah cukup terkenal dengan prestasinya kemarin saat menyelamatkan seorang produser film ternama di negara ini. Menjadi dongkraknya nanti menuju popularitasnya. Seperti yang diceritakan Jemy tadi malam saat mereka tidur bersama. Sepertinya Jemy mendapat tangkapan besar kali ini.


Alessya mengerjapkan matanya beberapa kali, merasa tidak percaya.


" Mo-model ? Apa kau serius ? " Tanya Alessya pada Hana. Menjadi model ? Yang benar saja, sekalipun tidak pernah terbayangkan olehnya. Walau tidak dipungkiri menjadi artis/bintang terkenal pernah menjadi impiannya saat kecil dulu. Tapi saat ini, menjadi model ? Disaat dia tengah menghindari suaminya ? Bagaimana bisa ?


" Tentu saja. Aku serius. Aku sangat membutuhkan uang untuk membantu membiayai panti asuhan ini. Dan aku fikir, kau juga tidak akan keberatan bukan ? Mengingat kepopuleranmu kemarin, Jemy pasti akan mendapat uang yang cukup besar jika


berhasil mengorbitkanmu. " Jawab Hana dengan begitu antusias.


" Bukan itu saja. Kau yang menjadi modelnya, tentu saja bayaran yang besar akan menjadi penghasilanmu. Disaat seperti ini, disaat kau sangat membutuhkan uang untuk hidup mandiri. " Hana memberi saran yang tentu saja akan menguntungkan semuanya. Alessya, dirinya, Jemy suaminya dan panti asuhan juga.


" Fikirkanlah dulu, Alessya. Kami tidak akan memaksamu. Kau yang lebih berhak untuk memutuskan akan kehidupan pribadi dan karirmu. " Ucap Hana, menyerahkan keputusan sepenuhnya kepada Alessya.

__ADS_1


" Jika kau bersedia, beritahu aku. Sebenarnya ... sudah dari semalam aku ingin membicarakan ini padamu. Tapi, Jemy melarangku. Sepertinya kau masih perlu waktu untuk menenangkan diri. "


" Tapi, menjadi model ? " Alessya masih tidak percaya dengan tawaran pekerjaan yang diterimanya. Tiada angin tiada hujan, dia akan menjadi seorang model ? Alessya memijit pelipisnya beberapa kali. Tersenyum kepada Hana yang telah memberikan tawaran pekerjaan padanya. Walaupun Alessya masih belum sregg dan belum memutuskan untuk menerimanya.


***


Alessya memandangi pemandangan yang begitu langka di matanya. Menghangatkan hatinya yang dua tahun ini terasa hampa dan sepi. Anak-anak bermain-main di hadapannya dengan tawa yang merekah indah, dengan wajah secerah sinar matahari pagi, dengan sorot mata binar yang butuh kasih sayang.


Seorang anak ...


Yang selama dua tahun ini dia tunggu dan dia inginkan. Dia dambakan dan dia idam-idamkan, namun tak kunjung jua datang. Sepertinya Tuhan belum mempercayainya sepenuhnya. Hingga pada akhirnya cintanya kandas berakhir dengan pengkhianatan , kata anak menjadi alasan kekurangannya. Ya ... itulah yang ada di fikiran Alessya saat ini, suaminya bermain hati dengan wanita lain yang bisa memberinya putra ataupun putri.


" Aku sangat membutuhkan uang untuk membantu membiayai panti asuhan ini. "


Ucapan Hana terngiang-ngiang di benak fikirannya. Betapa keputusannya kali ini akan sangat berarti bagi semua orang yang tinggal di yayasan ini. Menjadikan dirinya begitu berharga disaat dirinya tidak memiliki siapa - siapa saat ini. Hana dan Jemy cukup baik padanya, membukakan pintu rumah dan hati mereka untuk Alessya tinggali sementara waktu ini. Disaat dia terpuruk dalam kesendirian.


Bukankah ini saat yang tepat untuk membalas budi. Dan sebuah fakta yang jelas pasti bahwa selain alasan lain, dia membutuhkan uang untuk bekalnya saat ini hingga nanti, saat dia sudah siap kembali menemui keluarganya lagi.


Ibu ...


Aku merindukanmu ...


.


.


.


πŸ’ž Bersambung ... πŸ’ž


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa like, rate dan koment yang banyakkk ....


__ADS_2