Lola And Loly

Lola And Loly
Menutupi Luka di Hati


__ADS_3

Melepas kepergian ibunya, Arselli beringsut berjalan dengan langkah besar untuk menemui kembali istrinya Alessya. Merasa lega di hati ketika mendapati Alessya tengah tertidur di atas ranjang yang ada di kamar itu. Dengan kondisi tengkurap menyembunyikan wajahnya di balik bantal. Menyembunyikan wajahnya yang sembab dan memerah karena habis menangis tadi.


Dia berusaha menutupi dirinya yang telah mendengar pembicaraan ibu dan anak itu. Membiarkan suaminya berfikir bahwa Alessya tidak mendengarnya, mengetahuinya dan kini baik-baik saja padahal tengah memendam luka yang teramat dalam di hatinya.


Arselli yang begitu lelah dan merasa tersiksa akibat perdebatan dengan ibunya tadi, ikut berbaring di sana, di samping Alessya dan memeluk erat tubuh istrinya. Mengingat waktu yang menginjak sore, dan pekerjaan yang hampir selesai. Sepertinya tidur untuk sementara waktu di sela pekerjaannya bersama istrinya tidak ada salahnya bukan.


" Maafkan aku ! " Ucap Arselli lirih pada telinga Alessya sembari membelai lembut rambutnya yang terurai kemana-mana karena sedikit berantakan .


Alessya yang tengah lemah dan butuh topangan itu, membalikkan badannya menghadap suaminya, menenggelamkan wajahnya di dada suaminya yang tengah tidur miring menghadap ke arahnya. Masih berusaha menutupi sembab di wajahnya itu.


" Hmm ... Aku yang minta maaf karena menemui Romeo di belakangmu . " Sembari menunduk memeluk suaminya. Pura - pura membahas Romeo seolah itu masalah terakhir yang sedang mereka alami tadi. Berpura - pura tidak mengetahui kehadiran Nyonya Alice tadi.


" Siapa yang datang tadi, apakah rekan bisnismu ? Aku benar - benar ketiduran tadi " Ucapnya dengan begitu lirih menahan tangis di bibirnya.


" Hmm ... " Jawabnya berbohong. Hanya itu yang keluar dari mulut Arselli. Kelegaan dan rasa bersalah yang bersamaan datang. Tanpa sadar air matanya menetes tak tertahan, langsung dia tutupi dengan sebelah lengannya. Berpura - pura seolah dirinya tengah tertidur.


Dan Alessya .. lagi dan lagi air matanya mengalir lolos tak terkendali. Dengan sengguk sedan yang dia tahan sekuat tenaga dengan mengeratkan pelukan kepada suaminya sebagai topangannya.


Masing - masing fikiran mereka berkelana liar secara sembunyi tanpa saling mengetahui apa yang berada di otak dan isi hati. Menahan gejolak di dalam dada, karena dengan berbicara tetap tidak akan ada jalan keluar diantara mereka.

__ADS_1


Biar Arselli yang hanya mengetahui semua ini, setidaknya itu yang ada di fikiran Arselli. Dan biar hanya Alessya yang menanggung luka di hati tanpa ingin membebani suaminya itu yang ada di fikiran Alessya juga. Mereka sama - sama saling melindungi dan saling menjaga.


Fikiran mereka sibuk ke mana-mana tanpa ingin saling membagi rasa duka hanya cinta dan bahagia yang ingin mereka rasakan bersama.


' Jangan biarkan dia hamil dan melahirkan anakmu Arselli !! ' Ucapan itu terngiang begitu jelas di telinga mereka masing - masing. Sebegitu tidak sukanya Nyonya Alice pada Alessya, sehingga jawaban itu yang keluar dari mulutnya ketika Arselli mengutarakan apabila adanya kemungkinan kehamilan pada istrinya.


***


Malam telah tiba, Arselli begitu nyenyak dalam tidurnya. Alessya yang sedari tadi tidak tidur dan hanya melamun saja bangun dari pura-pura tidurnya.


Berjalan perlahan meninggalkan suaminya di sana, menuju pintu bermaksud pergi dari sana. Dia ingin menenangkan diri, dia butuh menenangkan diri.


Berjalan perlahan menelusuri lorong dan lift. Mengabaikan asisten Henry yang tengah menelfon seseorang. Dia pergi dari sana, dari kantor suaminya tanpa ada orang yang menyadarinya. Toh perusahaan sudah sepi karena malam telah tiba.


***


Setidaknya walaupun istri simpanan telah resmi disematkan padanya , dengan rela hati dia menyandanganya.


Hah, bukankah istri simpanan itu identik dengan sebuah pelayanan ekstra. Apakah harus seperti itu dirinya kini ? Dimana biasanya seorang suami yang tak mendapat kepuasan di atas ranjang istri resminya akan berlabuh di ranjang hangat istri simpanannya yang biasanya akan memberikan layanan berlebih dan super menggoda. Haruskah seperti itu? Bathinnya.

__ADS_1


Mengambil sebuah mie instant cup dari salah satu rak di mini market itu. Dia langsung menyeduhnya dengan menggunakan air panas yang tersedia di sana. Memilih salah satu kursi yang berada di pojok dia duduk di sana untuk menikmatinya.


Rasa ekstra pedas yang dia pilih sangat membantu mengobati stressnya kali ini. Setidaknya dia punya alasan untuk menangis kali ini. Akibat dari rasa pedas yang berlebih dan panas bersamaan di lidahnya.


' Jangan biarkan dia hamil dan melahirkan anakmu Arselli !! '


' Istri Simpanan '


Kembali terngiang di telinganya. Sembari menikmati panas dan pedasnya mie itu, lagi - lagi air mata mengalir di pipinya. Kali ini meluncur lebih deras bersamaan dengan rasa pedas dan panas yang menyerang lidahnya. Seolah menganak sungai dan bermuara di cup mie yang sedang dia genggam dan dia nikmati itu.


Tubuhnya ikut bergetar, sengguk sedan yang sedari tadi dia tahan sekuat tenaga akhirnya terlampiaskan saat itu juga. Menangis sedikit kencang dan bersuara menjadi pilihannya kali ini. Sepertinya dengan seperti ini sesuatu yang mengganjal di rongga dadanya akan segera pergi. Pergi bersamaan dengan air mata yang terus mengalir dari matanya. Tanpa berhenti dan berniat berhenti. Dia ingin puas kali ini memecahkan dan melampiaskan emosi melalui mie pedas yang sedang dia nikmati kini. Tanpa menghiraukan tatapan mata dari orang yang berlalu lalang di sekitarnya. Dia sama sekali tidak peduli. Bahagia dan dukanya hanya dia yang rasa tanpa harus membaginya dengan mereka.


πŸ’”


πŸ’”


πŸ’”


Jangan lupa like , rate⭐⭐⭐⭐⭐ dan vote

__ADS_1


Jejak komentar , saran , dan kritik ...


Terimakasih untuk para reader setia ...


__ADS_2