
Sudah empat hari ini Alessya mengurung dirinya . Mematikan ponselnya, menutup aksesnya dengan dunia luar , untuk menenangkan dirinya. Tidak menyadari betapa blingsatannya kekasihnya di luaran sana , karena tidak bisa menghubungi gadisnya itu.
Alessya duduk di atas karpet tipis di ruangan kamarnya,dengan kaki yang berselonjor , merelaksasi tubuhnya yang jarang mendapat sentuhan manja seperti gadis-gadis lain seumurannya , yang banyak menghabiskan waktunya hanya sekedar untuk memanjakan diri di salon ataupun spa relaksasi.
Sesekali matanya menatap ragu pada benda pipih yang tergolek sembarang, tidak jauh berada dari tempatnya duduk.Menatap layar benda itu sembari memikirkan seseorang nan jauh di sana.Benda itu , sudah sedari empat hari lalu teronggok mati, bersamaan dengan dirinya yang mematikan segala aktifitasnya di dunia nyata.
Ya , Arselli, wajah pria itu jelas terpampang di fikirannya. Menggerogoti hati dan jiwanya. Betapa gadis ini merindukannya setengah mati , merindukan debaran yang selalu hadir kala bersamanya , merindukan gairah yang membuncah di aliran darahnya ,kala pria itu menunjukkan rasa cinta dan sayangnya.
Alessya belum tahu , dia hanya menerka-nerka. Arselli beberapa kali menelfon Alessya dan slalu berakhir dengan mesin penjawab yang didengar pria itu.
Kecemasan merundungi fikiran pria itu. Berulang kali memikirkan pertemuan terakhir mereka , mengingat ciuman terakhir mereka , pria itu yakin Alessya tidak pergi dengan membawa amarah di hatinya. Pria itu ingat betul bagaimana Alessya membalas ciuman nya dengan agresif dan hangat, berbeda dengan dirinya yang selalu lembut.
Kau dimana Alessya , aku merindukanmu.
***
Setelah pembicaraan dengan Reynald tempo hari , Alessya akhirnya tahu dengan pasti bahwa Diana benar-benar saudara tirinya.Oleh karenanya, dia memutuskan untuk menghindari Diana sementara waktu.Untunglah saat ini , Diana terlihat lebih dekat dengan Clara dan terlihat begitu sibuk karena membantu persiapan acara ulang tahun Clara.Jadi perubahan sikap Alessya tidak terlalu terlihat secara signifikan oleh Diana.
Begitupun juga Arselli, Alessya bermaksud menghindarinya juga, karena mengingat Clara juga menyukai Arselli.Alessya samasekali tidak percaya diri bersaing dengannya , untuk meraih cinta sang pangeran tampan nan kaya-raya itu.
Memikirkan acara ulang tahun Clara yang tinggal beberapa hari lagi , dan Arselli juga diundang sebagai tamu spesial Clara, Alessya sudah memantapkan hatinya untuk tidak menghadiri acara tersebut. Memantapkan dirinya agar tidak terlibat terlalu jauh dengan kehidupan mereka yang berkelas jetsett berbanding terbalik dengan dirinya yang sederhana malah cenderung serba kekurangan .
Sekarang Alessya terlihat lebih dekat dengan Meera, selain teman kerja ternyata Meera juga satu universitas dengan Alessya , hanya saja beda fakultas. Meera memiliki persamaan dengan Alessya berasal dari kalangan orang biasa , bekerja keras demi meraih cita-cita dan tetap menjaga martabat dan harga dirinya , dengan bekerja halal.
Siang itu sepulang kuliah, sebelum mereka bekerja, mereka menghadiri sebuah pameran Teknologi. Kebetulan hari itu ada sebuah pameran yang harus dikunjungi ,karena berkaitan dengan mata pelajaran yang diikuti Meera. Alessya ikut sekaligus mengisi waktu luangnya sebelum bekerja ,kebetulan tempatnya tidak jauh dari tempat mereka bekerja.
Kebetulan Arselli juga menghadiri pameran tersebut , karena perusahaannya yang bergerak di bidang teknologi yang memproduksi ponsel dan laptop , merupakan sponsor utama pameran tersebut.
Alessya dan Meera sedang fokus melihat barang-barang yang dipamerkan di sana, melihat alat-alat canggih berharga fantastis , dan terbatas itu. Masih belum menyadari Arselli berdiri tidak jauh dari tempatnya berada. Berdiri kokoh, dengan aura kuat yang terpancar dari wajahnya. Dengan semburat duka di garis mata dan senyumnya. Akibat menahan rindu yang sudah seperti menahun itu.
Begitupun juga Arselli belum menyadari keberadaan Alessya. Seandainya pria itu tahu, saat itu juga mungkin Alessya tidak akan berkeliaran di tempat itu. Pria itu akan langsung menggiring gadis itu ,untuk berada di sampingnya melampiaskan rindu dan kecemasan yang terpendam di dadanya.
Mereka berjalan menuju ke satu titik yang sama . Menatap kagum benda-benda yang tertata rapi di atas etalase kaca , tanpa memperhatikan sekitarnya.
Brukk...Alessya menabrak seorang pria hingga terpental jatuh.Duh padahal Alessya perempuan bertubuh mungil ,tapi bisa menabrak seorang pria hingga terpental jatuh gitu.hiks..hiks..
Spontan Alessya langsung menundukkan badan dan kepalanya untuk meminta maaf , hingga rambutnya yang terurai panjang sedikit menutupi wajahnya , tanpa melihat wajah orang yang dia tabrak tadi , karena saking takutnya.
" Maaf... maafkan saya..." ucap Alessya.
Seseorang yang bersama Arselli beringsut membangunkan Arselli dan marah-marah pada gadis itu. Dia adalah panitia penyelenggara pameran itu.
" Anda seharusnya lebih berhati-hati Nona ,kalau terjadi apa-apa pada Tuan Muda kami akan menempuh jalur hukum !!! " Sentak pria itu.
" Saya kan sudah minta maaf !! " Alessya menatap pria yang memarahinya.Tidak terima disentak seperti itu , karena sudah meminta maaf dan samasekali tidak sengaja melakukannya.
__ADS_1
Arselli kaget melihat wajah gadis itu , senyumnya berkembang di wajahnya , tatapan matanya yang dingin menjadi hangat seketika, ternyata dia adalah Alessya, kekasihnya yang dia rindukan beberapa hari ke belakang ini. Gadis yang berhasil membuatnya sulit untuk memejamkan mata dalam beberapa hari kemarin .
Arselli lalu menenangkan pria itu.
" Serahkan padaku , biar aku yang menghukumnya ." Memberi tanda pada Alessya untuk mengikutinya , menatap tajam gadis itu,menahan kebahagiaan yang membuncah perasaannya.
Alessya melotot kaget saat manik mata mereka bertemu , beserta rasa senang yang berbaur menjadi satu , bertemu dengan kekasih yang dia rindukan.
" Russel.."
" Jadi dia yang aku tabrak " bergumam lirih.
Beringsut berjalan mengikuti kekasihnya itu.
Meera masih terdiam di tempatnya , karena asisten Henry yang sedari tadi berada di sana , menahannya.
Mereka berjalan ke tempat yang sepi, berjalan beriringan. Alessya sedikit berlari kecil ,mengikuti langkah kekasihnya yang cepat dan besar.
" Kau menghindariku ? "
Alessya hanya terdiam karena merasa melakukannya .
Arselli lalu duduk di tembok dan meraih tangan Alessya.Menarik gadis itu untuk duduk di pangkuannya dan memeluknya erat.
" Jangan menghindariku , Alessya."
" Ponselmu mati. Apa itu bukan menghindariku !! "
" Russel...aku hanya ingin menenangkan diri." Mencoba memberi alasan, tanpa sadar melingkarkan tangannya di leher kekasihnya itu.
" Tinggallah di apartemenku Alessya ." Setelah terdiam beberapa saat.
" Hubungan kita belum sejauh itu. " Menatap dalam mata pria yang berada di hadapannya.
" Menikahlah denganku ? " Alessya kaget Arselli mengatakan hal itu , seolah pernikahan bisa terjadi semudah itu.
" Cih..Menjadi istri simpanan mu? " Tersenyum sinis memalingkan wajahnya dari tatapan Arselli.Walaupun dia hanya bercanda menjawab seperti itu , tapi sangat menyengat di ulu hati Arselli
Arselli kaget , wajahnya langsung pucat .Mendadak Dia ingat ucapan ibunya yang merendahkan Alessya . Dia juga ingat dalam waktu dekat dia akan bertunangan , bahkan ibunya sedang mempersiapkan semuanya .
Arselli melonggarkan pelukannya terhadap Alessya. Seakan memudarkan kehangatan di hati mereka. Alessya mulai merasa aneh dengan sikapnya.Tapi dia tahu diri untuk tidak mengatakannya.
Alessya beringsut berdiri , Arselli juga berdiri , namun beberapa saat kemudian Arselli langsung menariknya lagi ,sehingga Alessya jatuh di pelukannya.
Arselli memeluk Alessya dengan sangat erat.
__ADS_1
" Untuk beberapa saat biarlah seperti ini Alessya. "
Arselli menyatukan tubuh mereka.Merasakan degup jantung mereka. Mengelus punggung gadis itu dengan lembut.Arselli terlihat seperti putus asa.Alessya menyadarinya dan merasa sedih , mengetahui dirinya tidak akan diperjuangkan oleh pria itu.
Kau akan menyerah Russel.Aku tahu itu , aku memang bukan siapa-siapa dan tidak pantas berada di sampingmu.
Seketika hatinya mendadak syahdu, hatinya meleleh.
" Malam nanti berkencanlah denganku , kita habiskan malam ini bersama ." Sembari menatap wajah pria yang tengah memeluknya itu. Mendekap kan tangannya di dada bidang kekasihnya.
Biarlah itu akan menjadi satu kenangan manis diantara kita .
Alessya mengajak pria itu berkencan, mengingat beberapa hari lagi adalah ulang tahun Clara , dia tidak akan hadir dan bertemu Arselli di sana. Dan entah seperti ada firasat di hati Alessya , bahwa setelah acara itu hubungan diantara mereka akan semakin sulit.
Dan entah apa juga yang ada difikiran gadis itu, di satu sisi dia ingin menghindarinya karena sadar dengan posisinya .Dan di satu sisi lain dia sadar dia sangat mencintai pria itu , dan tidak ingin jauh darinya.Jadi , saat itu dia hanya mengikuti kata hatinya. Mengikuti perasaannya yang tidak bisa dia pungkiri lagi.
" Kau yakin ? " Tersenyum senang menatap wajah Alessya , tidak ingin melonggarkan pelukannya , dijawab dengan anggukan kepala oleh gadis itu.
" Hmmm..." jawab Alessya.
Setidaknya aku tidak akan menyesal jika nanti aku harus berpisah denganmu, masih banyak kenangan yang kita miliki.
" Kau akan menjemputku , atau aku yang menemuimu ? " tanya Alessya dengan gaya manja dan seksi , menggambar sesuatu di dada bidang Arselli dengan jemarinya.
" Datanglah ke apartemenku ." Jawabnya tegas.
" Kita bercinta di sana.Semalaman..." Bisiknya , menggoda gadisnya yang sudah memerah pipinya karena mendengar bisikan di telinganya.
" Lepaskan aku...! " mencubit perut pria itu.
" jangan berfikiran aneh-aneh !! " bisiknya pada pria itu
Arselli hanya tertawa, bahagia membayangkan apa yang akan mereka lakukan semalaman nanti .
" Kau sendiri yang bilang , habiskan malam ini bersama ."
" Ah...aku memang slalu kalah bila berdebat denganmu.Awas ya...jangan aneh-aneh."
Arselli menganggukkan kepalanya , meraih kepala Alessya dan mencium keningnya dengan lembut untuk beberapa lama.
Alessya hanya terdiam menatap Arselli. Tanpa sadar kakinya berjinjit , mendorong tubuhnya ,menyatukan bibirnya mengecup bibir pria itu.Wajahnya memerah...
" Aku pulang ya, Aku bersama temanku tadi..." setelah ciuman itu terlepas, Alessya melepas tangan pria itu dari tubuhnya , beringsut berlari menjauh dari Arselli ,melambaikan tangannya berlari menuju Meera yang sedang menunggunya , tanpa menolehkan wajahnya karena malu.
Arselli masih diam terpaku setelah mendapat kecupan hangat dari bibir Alessya. Menatap gadis yang sudah melangkah jauh meninggalkannya. Tanpak seonggok penyesalan di raut wajahnya , sepertinya dia ingin lebih dari sekedar kecupan tadi.Tapi apa daya Alessya telah menjauh seketika dari dirinya berdiri.
__ADS_1
" Aku akan mengirimkan alamatnya , aktifkan ponselmu. " Arselli mengingatkan .
" Aku akan menyuruh asistenku untuk menjemputmu . " Teriaknya lagi ,setelah beberapa lama berfikir mungkin menjemputnya akan lebih baik, dibalas acungan jempol dari Alessya.