
" Ingat ini baik-baik Alessya. Jangan pernah menemui laki-laki lain di belakangku !! " Ucap Arselli sembari mengigit telinga kiri Alessya dengan cukup keras hingga memerah. Lalu melanjutkan kembali mencium pipi, bibir, leher dan semua yang ada di sana ...
" Aww !! " Alessya meringis menahan sakit. Kala gigitan, kecupan, dan semua sentuhan itu terasa begitu kasar di kulitnya.
Sembari memeluk erat tubuh istrinya yang tanpa sadar sudah berada di bawahnya, tangannya tiada henti berkelana menyentuhnya. Mencari sensasi-sensasi liar di sana, dibalik helaian kain yang sesekali dia singkap dengan begitu mudahnya. Toh Alessya sudah halal menjadi istrinya, dia bebas melakukan apa saja padanya.
Namun tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar cukup keras seolah memberi peringatan penting kepada orang-orang yang mendengarnya.
Tok .. tok .. tok ..
" Bangunlah , kita akan melanjutkannya lagi nanti. Ingat !! Kau harus menebus kesalahanmu dengan cara terbaikmu. " Ujar Arselli dingin pada Alessya setelah bangkit dari tindih-tindihannya itu. Membenarkan dasinya yang sempat melonggar tadi. Meninggalkan tubuh Alessya yang cukup berantakan dan masih terbaring di atas sofa.
Memangnya tadi mereka melakukan apa ?
Tidak terjadi apa-apa, hanya sedikit cakar- cakaran dan jambak-jambakkan tapi mengasyikkan tentunya, sayangnya hanya di satu sisi.
Alessya bangkit lalu terduduk. Kenapa hati ini terasa begitu sakit ? Tanpa sadar air mata menetes di pipinya namun dia hapus segera . Mengusap rambutnya kasar dia terlihat begitu putus asa dan terhina. Arselli berlaku sedikit kasar padanya tadi.
Beginilah nasib istri simpanan.
__ADS_1
Deg
Entah darimana asal muasalnya kalimat itu. Tiba-tiba terngiang di telinganya dan berputar-putar di kepalanya memenuhi isi otak dan fikirannya.
Alam bawah sadarnya yang sedari tadi terkoneksi dengan fikiran Alessya yang diam-diam memikirkan bahwa pernikahannya belumlah diumumkan secara resmi, mengingat ketidaktahuan para pekerja Arselli dengan pernikahan mereka yang sempat dilaksanakan secara mendadak di rumah sakit bahkan tanpa kehadiran sang ibu dari mempelai laki-laki. Sepertinya menjadi faktor utama dari hadirnya kalimat itu di benaknya.
Alessya duduk terdiam dengan tatapan kosong dan hampa, merasa tidak berharga dan berguna.
Setelah ketukan pintu yang cukup keras tadi akhirnya Asisten Henry masuk dan langsung menghampiri. Membisikkan beberapa kalimat di telinga atasannya. Alessya sedikit banyak paham bahwa hal penting telah terjadi bila melihat dari respon wajah Arselli yang tidak biasa bahkan terlihat luar biasa.
" Alessya ikutlah denganku ! " Sembari meraih tangan Alessya menuntutnya berjalan menuju suatu ruangan dimana terdapat tempat tidur di dalamnya. Sepertinya ruangan itu adalah kamar pribadi suaminya apabila dia terpaksa harus menginap di perusahaan karena pekerjaan yang menyibukkan.
" Ada apa ? " Melihat betapa paniknya Arselli memberanikan diri dia bertanya mengenai apa yang terjadi, rasa khawatir terhadap suaminya mendominasi perasaannya kini.
" Tunggulah di sini. Akan ku jelaskan nanti. Ok ? " Jawabnya begitu tegas dan pasti. Tak ingin istrinya khawatir dan berfikiran yang tidak - tidak.
Alessya hanya bisa diam dan menganggukkan kepalanya. Duduk pasrah dalam kesendiriannya di ruangan itu. Dengan hanya memainkan sebuah ponsel sebagai hiburannya kini. Walaupun tidak dipungkiri fikirannya begitu keras berfikir memikirkan apa yang terjadi atau siapa gerangan tamu yang datang mengingat begitu paniknya suaminya tadi.
***
__ADS_1
Nyonya Alice datang dengan kharisma luar biasanya itu. Tatapan tajam mengintimidasi menyapu ruangan dengan pindaian penuh arti. Begitu elegan, cerdas dan berkelas.
Tidak seperti biasanya Nyonya Alice datang ke perusahaan. Tiada angin tiada hujan, Nyonya Alice tiba-tiba menginjakkan kakinya ke perusahaan ini, setelah sekian lama semenjak kematian mendiang suaminya yang berarti ayah dari Arselli Russel beberapa tahun lalu. Kini setelah perusahaan diambil alih oleh Arselli dan semakin maju pesat dengan beberapa anak cabang dimana-mana akhirnya Nyonya Alice kembali menyempatkan waktu luangnya untuk sekedar berkunjung menemui putranya yang sudah cukup lama tidak ditemuinya.
" Apa kabar putraku ? " Tanya Nyonya Alice setelah Asisten Henry mempersilahkan wanita paruh baya itu duduk di salah satu sofa yang ada di sana.
Arselli yang sedari tadi berdiri dengan begitu tegang, akhirnya duduk menghampiri ibunya itu. " Aku baik-baik saja ibu. Ada apa gerangan ibu datang kemari ? Apakah ada sesuatu hal yang penting ? " Dengan canggung Arselli memulai pembicaraan diantara mereka.
" Aku hanya merindukan putra kesayanganku. Sayang sekali, semenjak pernikahannya dia tidak pernah datang untuk sekedar berkunjung menemui ibunya yang sudah tua ini. " Ayolah sebuah sindiran telak pasti tepat menghujam ulu hati. Arselli tahu dengan sangat bukannya dia tidak pernah datang untuk berkunjung melainkan ibunya sendiri yang selalu menghindarinya apabila Arselli datang untuk menemuinya.
" Maafkan aku Ibu, sepertinya kesibukan menjadi benteng diantara kita. " Jadilah mereka sindir menyindir bak berbalas pantun.
" Sepertinya kau terlalu sibuk mengurusi istri simpananmu itu. " Sebuah kalimat yang begitu menyakitkan terucap dengan begitu frontal. Jika Alessya mendengarnya dipastikan air mata akan mengalir deras dari matanya.
" Ibu ... " Dengan nada memelas Arselli seolah memohon untuk tidak menyebut istrinya seperti itu. Walaupun pernikahan mereka belum diumumkan secara resmi. Tapi pernikahan mereka sudah resmi baik secara hukum maupun agama.
" Bukankah memang seperti itu. Dia bahkan belum mendapatkan restu dariku, tapi sudah berani masuk dalam kehidupanmu. " Ujarnya dengan begitu sinis.
Tanpa mereka sadari Alessya berdiri di balik tembok di dekat pintu yang sedari tadi sedikit terbuka, karena terburu - buru sehingga pintu tidak ditutup dengan benar oleh suaminya tadi. Sedikit banyak dia mendengar obrolan itu.
__ADS_1
' Istri Simpanan ' Lagi - lagi kata itu. Kali ini begitu jelas terdengar di telinganya. Dan terucap dengan tanpa ragu dari bibir mertuanya sendiri.