
Dua bulan kemudian ...
Arselli baru saja pulang setelah beberapa saat lalu meeting dengan beberapa klien pentingnya. Walaupun dengan sangat terpaksa dia menjalankan rutinitas kerjanya itu meski sedikit tersendat-sendat.
Henry kadang terpaksa harus menunda meeting beberapa hari kemudian apabila bosnya malah kedapatan tengah dikuasai alkohol yang akhir-akhir ini menjadi minuman favoritnya.
Tidak jarang , Arselli ditemukan dalam kondisi tidak sadar di ruangan kerjanya. Karena kurangnya asupan makanan yang masuk ke tubuhnya. Karena lebih banyak alkohol, kafein atau nikotin yang dikonsumsinya.
Ny. Alice sudah beberapa kali ini menanyakan rencana kepulangan Arselli ke tanah air. Mengingat perusahaan yang bisa saja terbengkalai karena presdirnya terlalu sibuk mengurusi masalah pribadinya.
Walau hati kecilnya mengakui, perpisahan mereka secara tidak langsung disebabkan olehnya. Namun, Ny. Alice terlihat samasekali tidak menyesalinya.
" Jika dia benar-benar mencintaimu, dia pasti akan bertahan di sampingmu. Walaupun badai menerjangnya sekalipun. " Ucap Ny. Alice dengan begitu santai padanya.
Arselli sampai tidak habis fikir setelah mendengarnya. Pantas saja Alessya istrinya slalu sedih selama ini, apabila bertemu dengannya. Ternyata ini penyebabnya, ucapan sang ibu memang terlalu tajam mengintimidasinya. Terlalu menyakitkan dan menusuk hati yang mendengarnya.
Dalam keheningan malam itu, Arselli tengah duduk di kursi penumpang belakang mobilnya. Dengan asisten Henry yang mengambil alih kemudinya. Menikmati jalanan dengan banyaknya lampu yang bertebaran. Kerlap kerlip menghiasai gelapnya malam.
" Apa sudah ada perkembangan, Henry. " Saat itu Arselli begitu mengantuk. Namun dia memaksakan diri untuk bertanya, berharap asisten Henry membawa berita baik untuknya.
Asisten Henry menghela nafas untuk beberapa saat sebelum menjawab. Seolah pertanyaan itu begitu berat terdengar olehnya. Entahlah, mencari Alessya mengapa sesulit ini, seperti mencari jarum dalam sekumpulan jerami.
" Belum ada, Tuan. Maafkan saya. " Suaranya tercekat saat itu. Kali ini bukan hanya Arselli yang kecewa melainkan dirinya juga. Dua bulan lebih mereka mencari namun kabar baik tak urung ditemui.
" Apa kau juga melakukan pencarian di negara kita ? Ayah Hans, Diana, Lucas dan yang lainnya. Apa ada kabar dari mereka ? " Kali ini Arselli mulai terdengar tidak sabar. Dia terlihat kalut saat itu.
" Tidak ada, Tuan. " Jawaban yang sama dari yang sebelumnya, kemarin, dan kemarinnya lagi. Asisten Henry begitu yakin Alessya masih di negara ini. Mengingat kartu identitas dan paspornya masih ada di tangannya setelah penyitaan dompetnya saat sebelum pergi beberapa bulan lalu.
Arselli memejamkan mata setelah mendengarnya. Terlihat putus asa dan teramat kecewa.
Memukul-mukul dahinya berkali-kali. Dia sungguh tidak mengerti dengan cobaan yang menimpanya kini.
" Tuan ! " Asisten Henry setengah berteriak kepadanya. Namun yang dipanggil hanya diam saja. Dia menghentikan mobilnya sementara di pinggir jalan yang cukup sepi.
" Tuan ! " Teriaknya lagi setelah beberapa lama. Kali ini lebih kencang karena ingin didengar oleh majikannya.
" Apa ? " Arselli hanya membuka matanya.
" Lihatlah ke depan ! " Henry menunjukkan jari telunjuknya pada papan reklame besar yang tengah dipasang saat itu. Sebuah iklan kosmetik berukuran besar dengan model wanita cantik terpampang di sana. Dan wanita itu adalah ....
__ADS_1
***
Alessya ditemukan pingsan di kamarnya. Hana membawanya ke rumah sakit dengan bantuan Jemy suaminya.
" Selamat Alessya. " Ucap Hana setelah Alessya sadar dari pingsannya.
" Selamat apa ? " Wajahnya masih terlihat pucat saat itu.
" Kau pasti akan senang mendengarnya. " Ucap Hana kemudian.
" Tentang apa ? Ayolah, jangan membuatku penasaran. " Alessya sedikit memelas pada Hana. Dia sedang tidak ingin bercanda atau bermain tebak-tebakkan saat ini.
" Kau sungguh tidak merasakannya ? Seperti mual, muntah atau menginginkan hal-hal yang aneh ? " Hana bertanya dengan begitu antusiasnya. Merasa aneh dengan seseorang yang tidak peka dengan perubahan di tubuhnya. Tidak menyadari ada kehidupan yang tengah bertumbuh dan berkembang di perutnya.
" Akhir-akhir ini aku sering muntah, mungkin magh-ku kambuh karena pola makanku yang tidak teratur. Kau tahu sendiri kan aku kehilangan selera makanku akhir-akhir ini . "
Jawab Alessya menjelaskan kondisinya.
" Emh ... " Hana hanya ber-emh ria saja.
" Dan hal-hal aneh ? Hal aneh apa yang kau maksud ?" Alessya mencoba mengingat sesuatu. Dan sedikit menganggukkan kepalanya kepada Hana setelah beberapa lama. Kala mengingat sesuatu dan semuanya adalah tentang Arselli suaminya, belahan hati dan belahan jiwanya.
Aku merindukanmu, Russel ...
Apa kau mencariku, Atau kau sudah melupakanku ....
Tapi , apa maksud dengan ucapan Hana ?
" Ya, semacam menginginkan sesuatu yang tidak biasanya mungkin. " Hana mengernyitkan dahinya. Sedikit menahan senyum di ujung bibirnya.
" Memangnya ada apa Hana ? Ayolah jangan membuatku penasaran. " Alessya memelas lagi pada Hana. Menatapnya dengan cukup tajam, karena yang ditanya hanya senyum-senyum saja.
Walaupun hanya baru beberapa bulan bertemu dan berteman. Mereka langsung akrab seperti sahabat atau saudara. Hana adalah orang yang baik, yang begitu tulus, supel, jujur, lembut dan apa adanya.
" Ini adalah keajaiban, Alessya. " Ucap Hana merasa terpana.
" Keajaiban dari Tuhan. Kau harus bersyukur karena mendapatkannya. " Ada air mata di sudut mata Hana saat mengucapkannya.
" Memangnya ada apa ? Apakah karena iklanku yang keluar hari ini. " Alessya tersipu. Mengingat iklannya yang akan launching hari ini. Membuat jantungnya deg deg-an saja.
__ADS_1
Menjadi artis ? OOMMGG ...
Jantungnya berdetak cepat. Sepertinya dia harus bersiap jika Arselli akan menemukannya dalam waktu dekat.
" Kau hamil Alessya ! " Alessya diam terpaku tidak percaya saat mendengarnya. Terdiam beberapa lama.
" Kau bercanda Hana ! " Alessya menanggapinya seakan tidak percaya. Dia menangis masih tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
" Kau tahukan dengan kondisi rahimku. Aku pernah bercerita padamu bukan ? " Sembari berkata dia menangis namun bibirnya tertawa kala melihat sorot mata Hana memancarkan keseriusan di dalamnya. Hana hanya tersenyum padanya sembari menganggukkan kepalanya.
Mereka terdiam cukup lama, Hana memeluk Alessya untuk menenangkannya.
" Ini adalah keajaiban Alessya. Kau harus mempercayainya ... " Ucap Hana sembari mengelus lembut punggungnya.
" Kau harus menjaga anugerah ini dengan sebaik mungkin. " Ucapannya terdengar begitu tulus dan menenangkan jiwa.
Alessya masih diam tak berkomentar apa-apa, menatap Hana dengan tatapan tak percaya. Merasa ini hanya mimpi semu belaka.
Russel ...
Aku mengandung anakmu, anak kita,
buah hati kita, buah cinta kita ... ???
.
.
.
π Bersambung ... π
.
.
.
Jangan lupa like, rate dan koment sebanyak-banyaknya ya ...
__ADS_1